The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Bab 77 Siapa pelakunya?


__ADS_3

Don't look at the past with sorrow, it won't come back. Face the present wisely and welcome the visions of the future with trepidation and determination.


Janganlah menatap masa lalu dengan berduka, ia tak akan kembali lagi. Hadapilah masa sekarang dengan bijaksana dan sambutlah bayangan masa depan dengan keraguan dan dengan disertai keteguhan hati.


...


"Maafkan aku...maafkan aku hiks..."


Untuk pertama kalinya Andre dan kedua temannya melihat Akira menangis terisak karna kematian seseorang.


Padahal seseorang itu bukan orang baik, orang itu juga pernah membunuh nyawa orang lain tak bersalah.


Tapi Akira masih merasa bersalah atas kematian Bastian walaupun itu sebenarnya bukan salahnya.


"Akira ini bukan sepenuhnya salahmu, kita semua berada disana dan tak bisa mencegahnya.


Ini semua sudah takdir..."ucap Bisma berusaha menenangkan anak itu.


Dirinya bukan seorang yang takut melihat orang lain mati di depannya sebaliknya dia pernah menghadapi sebuah kematian.


Terkadang seseorang tau apa tentang takdir?


Hanya bisa berucap tanpa membuktikan karna takdir itu hanya mampu di gerakkan oleh sang pencipta tapi manusia masih berbicara takdir.


Segala kesialan dan keberuntungan hanya Tuhan yang tau bukan manusia.


"Takdir?kau tau apa takdir seseorang?masa depan bisa di rubah dengan seseorang merubah sikapnya menjadi baik, Bastian masih mempunyai masa depan yang panjang tapi dengan bodohnya kita membiarkan diri pergi begitu cepat tanpa ada penyesalan.


Kalian ini siapa?tau apa tentangnya?"cerca Akira pada mereka.


Tatapan yang lembut dan polos itu berubah tajam menatap kearah mereka.


Asa yang melihatnya ingin mendekati Akira tapi pemuda itu memilih menjauh atau pergi dari sana setelah mereka melihat para dokter membawa jasad Bastian.


"Hei Akira kau mau kemana!"teriak Haru tak di gubris oleh sang empu.


"Ini semua salahku."lagi-lagi Asa berucap seperti membuat Haru binggung.


Sebenarnya siapa pelaku yang membunuh kakak Bastian?


...

__ADS_1


Di sisi lain Akira pergi ketaman belakang rumah sakit seorang diri.


Tempat itu adalah tempat yang nyaman untuk menyendiri dan dia membutuhkan itu untuk sedikit menenangkan pikiran dan perasaannya yang sedang berkecamuk saat ini.


Dia memegang dadanya erat, untunglah asmanya tak kambuh lagi.


Akan tetapi apa yang terjadi hari ini membuat hatinya sangat di landa gelisah.


Entah kenapa...


Dia masih membela orang itu.


"Aku tak ingin orang lain tau bahwa seseorang yang kucintai melakukannya tapi dia bisa membocorkan rahasianya sendiri, entah kenapa aku tak bisa percaya pada orang lain selain Asa...


Tapi dia juga sebenarnya telah melakukan kesalahan besar yang membuatku kecewa berat, semua emosi dan kekosongan di hatinya membuatnya gelap mata...


Padahal dulu aku selalu menyakinkan nya agar berubah tapi dia selalu saja seperti ini, aku tau dari dulu dia ingin melindungi hanya caranya saja yang salah.


Maafkan aku Bastian."


Ucapan Akira tanpa sadar di dengar oleh Asa, ya gadis itu mendengar semuanya karna sebelumnya Asa mengikuti Akira.


Asa tak pernah ingin membuat Akira kecewa, dia selalu berusaha membuat pemuda itu tersenyum dan bersamanya tapi...


"Aku membenci Bastian seharusnya aku membunuhnya bersama kakaknya, sifat Yandere ku mungkin di ketahui oleh Akira tapi ada sesuatu yang belum kau ketahui...


Yaitu obsesiku sejak kecil memilikimu Akira."


Alasan mengapa Asa kehilangan kontrol atas emosinya hanya satu...


Yaitu dirinya tak mau kehilangan sosok yang menjadi tujuan hidupnya.


Di dunia ini masa lalu kelam telah membuatnya menjadi pribadi tertutup.


Ketika dirinya telah lelah dah muak pada dunia, ada satu orang terus berada di sampingnya dan membuatnya bertahan.


Dan mungkin jika dia kehilangan penobang itu dinding es yang membendung kegelapan dalam dirinya akan keluar dan menghancurkan hidup orang lain.


Intinya Akira adalah kunci untuk mengendalikan emosi Asa saat gadis itu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.


Bak seperti film psycho yang memiliki alter ego yaitu dua kepribadian yang bisa mengambil ahli satu karakter atas sikap dan sifatnya.

__ADS_1


...


Di sisi lain.


"Haru, apa yang kau pikirkan?"tanya Bella.


"Menurutmu apa Akira di ancam oleh pelaku untuk menyembunyikan indentitasnya?"


Pertanyaan Haru membuat yang lain sedikit terkejut.


"Maksudmu seseorang yang membuat kakak Bastian?para polisi sudah menyelidikinya, katanya tidak ada bekas atau jejak pembunuh seolah-olah kakak Bastian yang bunuh diri di tempat."ucap Bisma.


"Bunuh diri?jadi kedua kakak adik itu sama-sama bunuh diri karna tak mau di tangkap oleh polisi?tapi ada yang sedikit janggal kenapa Akira dan Asa selalu mengatakan maaf saat melihat  kematian Bastian...


Pasti ada yang di sembunyikan."


"Untuk itu aku tidak ingin ikut campur."ucap Andre tiba-tiba.


Pemuda itu beranjak pergi dari sana membuat pikiran Haru makin bercabang.


"Haru kau adalah teman mereka kau pasti bisa membuat mereka mengatakan yang sebenarnya, Andre benar kita tidak seharusnya ikut campur untuk masalah kalian ini karna kami bukanlah teman dekat kalian bertiga."ucap Bisma yang mengerti, dia lalu menatap Bella seolah mengkode gadis itu ikut bersamanya.


"Tunggu kalian ingin kemana?meninggalkanku sendiri di sini?rupanya sifat kalian tetap sama."ucap Haru mendengus.


"Ya seharusnya kau mencari mereka, karna kau tak pernah cocok dengan kami, walau sebenarnya sih kau memang tak cocok dengan siapapun."sarkas Bella dengan nada dingin biasanya gadis itu.


Haru melotot mendengar itu, gadis secantik Bella ternyata memiliki mulut yang sangat manis, seperti racun dari bisa ular yang menyembur lawan jika lawannnya lengah.


Si kembar lalu meninggalkan Haru seorang diri.


Sementara itu Haru lalu mengacak rambutnya sendiri.


"Ini rumit...kapan aku terbebas dari masalah?aku hanya ingin semuanya selesai dan pulang kerumah meski pasti Hana akan merecokiku untuk mengajakku bermain anak perempuan yang membuatku menjadi babysister di usia sangat muda.


Aku tak sabar menantikan hari kelulusan dan mungkin aku akan langsung melamar Marsha sebelum gadis itu di ambil oleh orang yang lebih tampan dariku."ucap Haru dengan racauan absurdnya.


...


Each of us must face our own fears, must come face to face with them. How we deal with our fear will determine where we will go with the rest of our lives: to experience the adventure or be constrained by fear of it.


Kita masing-masing harus menghadapi ketakutan kita sendiri, harus berhadapan muka dengan mereka. Bagaimana kita menangani ketakutan kita akan menentukan ke mana kita akan pergi dengan sisa hidup kita: untuk mengalami petualangan atau dibatasi oleh ketakutan akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2