
Tin...tin...
Tak lama datang mobil berwarna putih yang kini berada di perkarangan rumah Asa.
"Akhirnya dia datang juga."ucap Asa melihat pemuda berjaket coklat itu keluar dari dalam mobil.
Di sisi lain pemuda yang memiliki kedua mata emerald itu menatap malas kearah gadis berambut pendek yang menunggunya seperti tuan putri.
Haru jadi berpikir, Akira itu raja dan Asa ratunya lalu dia adalah babu alias prajurit kedua orang itu.
Apa dia justru orang beruntung berteman dengan raja dan ratu itu?
Entahlah Haru tak terlalu memikirkan nasibnya, dia hanya memikirkan kebahagian dirinya sendiri dan kedua sahabatnya sekarang.
Dia telah belajar untuk melupakan masa kelam, masa lalunya telah berlalu dan sekarang adalah babak di masa depan yang baru saja di mulai.
...
"Kenapa kau..."
Ucapan Haru terpotong oleh ucapan Asa.
"Masuklah dulu baru aku memberitahu semuanya agar kau tak terus bertanya."
"Yak itu kan karna kau tak memberitahu ku sebelumnya!"ucap Haru protes tapi di hiraukan oleh Asa.
Lalu gadis itu berjalan meninggalkan pemuda bermata emerald yang berusaha menahan emosinya.
Ya benar kata Akira, jika Haru marah akan terlihat mengerikan karna orang periang itu selalu memendam perasaannya, maka akan lebih menyeramkan lagi orang dingin atau pendiam ketika marah walau hanya menunjukkan ekspresi seperti terganggu dan death glarenya.
Tak mau ambil pusing, atau sebut saja Asa itu gadis paling anti berdebat alias irit bicara bahkan kalau itu terjadi pasti hanya Haru yang berteriak seperti orang gila di depan sebuah es.
Karna Haru masih ingin di sebut waras jadi dia lebih memilih mengalah dan mengikuti gadis berambut pendek itu.
Alasan Asa dulu memotong rambutnya pendek simple dan aneh, katanya dia sangat tak suka ketika berlatih memanah rambut panjangnya selalu menghalangi penglihatannya.
__ADS_1
Ya meskipun dia seorang gadis tapi entah kenapa dia sangat suka dengan tantangan fisik maka tak heran Asa itu pernah menjadi ketua taekwondo semenjak SMP dulu.
"Haru!"
"Hah?"
Oh rupanya Haru tadi melamun memikirkan masa-masa mereka bertiga.
"Duduklah!"titah Asa dan lagi Haru menurut bukan terpaksa karna dia memang ingin duduk kebetulan di sana ada sofa empuk kan.
"Carikan aku informasi tentang pemegang wasiat kedua orang tuaku."ucap Asa.
"Huh?wasiat!"beo Haru.
Asa mengangguk, dia lalu menceritakan semuanya dengan rinci, singkat, padat dan jelas untunglah IQ Haru di atas rata-rata jadi dia menangkap permasalahan tentang pemegang kekuasaan atas tanah dan Vila dari wasiat kedua orang tua Asa yang di berikan pada putrinya saat berumur 20 tahun, namun sang bibi baru saja memberitahu Asa tentang semua itu.
"Jadi kau pemiliknya sahnya bukan?kenapa tidak meminta bantuan dari orang yang dulu menjual tanah pada orang tuamu sebelum mereka mendirikan Vila di hutan Nagawasaki itu?"tanya Haru.
Asa yang mendengar itu mulai menyadari sesuatu tapi walau pendapat temannya itu benar entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan menghalangi mereka.
"Maksud mu sebelum itu kedua orang tuamu ingin pergi ke tempat orang kaya itu?"tanya Haru di jawab anggukan kepala oleh Asa.
"Ini kasus yang rumit jika kita belum mengetahui siapa yang membelinya, kau tenang saja aku pasti akan membantumu Asa, oh ya apa kau sudah dapat kabar dari Akira?dari kemaren aku sama sekali tak mendengar tentang kabarnya."
"Aku belum tau."
Tepat setelah Asa mengatakan itu tiba-tiba hpnya berdering menampilkan panggilan dari seseorang yang mereka berdua cari.
Akira.
'Halo Akira?kau dimana!?Apa!!!'
...
"Ini cukup mengejutkan Akira kau tau itu kan!"
__ADS_1
"Kenapa kau tak memberitahu atau mengabari ku melalui pesan by?"ucap Asa dengan nada khawatir saat mereka berdua sampai di rumah Akira, kebetulan ketika itu Akira baru saja pulang dari rumah sakit karna ayahnya memaksanya dan membiarkan sang bunda untuk menjaga sang adik yang masih koma.
Katanya anak itu terlambat makan dari semalam karna menunggu Jio yang operasi waktu itu.
Membuat keluarganya yang lain cemas dengan keadaannya sendiri dan akhirnya menyeret sang anak untuk pulang ke rumah, karna jika itu Akira pemuda itu memang selalu mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
"Maaf Haru, Asa...aku..."
"Lupakan saja, aku tak mau kau kembali makin sedih saat mengingatnya, apa yang terjadi telah berlalu Akira kau itu kakaknya oleh karna itu kau harus kuat menerimanya dan kalau sampai adikmu bangun lalu tau kakaknya terus terpuruk selama ini dia bisa-bisa mendatangiku dan langsung membunuhku!"potong Haru berubah mencairkan suasana hati temannya itu.
"Ya itu benar, Haru akan menjadi target pembunuhan berencana selanjutnya karna aku juga ikut andil di dalamnya."ucap Asa menyeringai licik membuat Haru bergidik ngeri melihatnya.
Sementara Akira mulai tersenyum.
Ah memang rasanya menyenangkan jika mempunyai sahabat, mereka datang menghibur mu di kala duka dan membuatmu tersenyum.
Ketika kebahagian datang sahabatmu juga akan merasa senang bahkan mereka tertawa dengan leluconmu yang tak lucu.
Mereka lah yang paling mengerti dirimu di banding orang lain, karna itu manfaatkan waktumu ketika merenung tentang temanmu, kau bisa berpikir untuk menilai dia temanmu atau hanya temanmu.
Dan jika kau telah menemukan apa itu arti dari perasaan dekat, maka temanmu itulah yang di namakan sahabatmu.
Aku menemukan pepatah ini, seseorangĀ mengajarkan apa itu artinya menjadi pertemanan akan tetapi dia sendiri tak pernah berpengalaman untuk belajar dari kebodohan saat di manfaatnya temannya sendiri.
...
A friend is someone who understands your past, believes in your future, and accepts you for who you are.
"A loyal friend laughs at your not-so-good jokes and sympathizes with your troubles when they aren't so bad.
Never leave friends. Friends are all we have to help us through this life - and they are the only things out of this world we can look forward to seeing in the future.
Seorang teman adalah seseorang yang memahami masa lalumu, percaya pada masa depanmu, dan menerimamu apa adanya.
Seorang teman setia menertawakan leluconmu yang tidak begitu bagus dan bersimpati dengan masalahmu saat tidak terlalu buruk.
__ADS_1
Jangan pernah meninggalkan teman. Teman adalah satu-satunya yang kita miliki untuk membantu kita melalui kehidupan ini - dan mereka adalah satu-satunya hal dari dunia ini yang dapat kita harapkan untuk dilihat di masa depan.