The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Bab 84 Kematian Marsha


__ADS_3

There are only two big things in life, love and death. When we are ready to accept both, it means we are ready to face anything.


Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.


However....


The ending isn't always bad. Most of the time it's masquerading as a start.


Cuma ada dua hal besar dalam hidup ini,cinta dan kematian. Ketika kita siap menerima keduanya, berarti kita siap menghadapi apa saja.


Kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati di dalam diri kita saat kita hidup.


Akan tetapi....


Akhir tidak selalu buruk. Sering kali itu menyamar sebagai permulaan.


...


Pagi di kampus, Haru berjalan seorang diri menyusuri sepanjang koridor entah kemana arah tujuannya.


Hingga pemuda itu sampai di depan kelas, membuat perhatian semua orang dalam kelas menatap kearahnya.


"Apa ada Marsha?"


"Em...maaf dia tak masuk hari ini."


"Tidak masuk?apa dia sakit?"tanya Haru lembut namun tersirat nada khawatir.


Murid yang tadi menjawab pertanyaan merasa kikuk di depan Haru, siapa yang tak gugup jika di hadapanmu sekarang adalah senior kampus yang populer.


"Kami tidak tau."


Berakhir jawaban itu Haru mengucapkan terima kasih dan berpamitan.


Entah kenapa perasaan tidak tenang hari ini, dia juga tak tau harus melakukan apa mungkin menanyakan alamat rumah Marsha pada teman dekatnya.


Tanpa sadar di tengah lamunannya membawa langkahnya sampai di kelasnya.


Akira menatap heran kearah Haru.


"Haru kau kenapa?"tanya Akira.


"Aku hanya sedang binggung."ucap Haru lalu duduk dan memutar kursinya menghadap meja Akira.


Bagaimana pun tempat duduk mereka dekat.


Asa yang diam hanya mendengar.


"Binggung kenapa?"

__ADS_1


"Apa kau pernah merasa cemas terhadap orang yang kau sukai saat dia tak berada dalam jangkauanmu?"


"Iya, itu sering."ucap Akira jujur dan mendapat tatapan dari Asa.


"Itulah yang kurasakan hari ini, aku mencemaskan gadis ku."


"Gadismu siapa?"


"Marsha."


Akira membulatkan matanya karna Haru menyebut nama pacar diam-diamnya.


"Jadi kau sudah punya pacar?"tanya Akira terkejut.


"Kukira kami belum terlalu dekat dan hanya sebatas senior dan adik kelas, namun seiring waktu aku melihat bentuk ketulusannya, kami berdua bukan pacar karna tak pernah mengutarakan perasaan langsung tapi kami hanya berteman Akira."


"Teman?tapi kau seperti menyukainya, jika dia menyukaimu dari awal kenapa kau tak pernah membalasnya?"


Pertanyaan Akira membuat Haru terdiam.


Haru lalu menghela napas seolah memikirkan sesuatu.


"Kau tau kan aku, aku penderita bipolar dan aku takut depresiku berpengaruh pada hubungan tidak sehat atau membuat sikapku temperamental."ucap Haru jujur.


"Memendam perasaan saat kalian suka juga salah bagaimana jika suatu hari kau terlambat mengutaran perasaanmu padanya, penyesalan itu selalu datang terlambat bukan?"


Ucapan Asa telak sedikit mencubit hati Haru.


Pemuda tampan itu lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Lalu aku harus apa?tolong bantu aku!sebenarnya aku sedikit mencemaskan dia karna tak masuk kampus hari ini."


"Bagiamana kalau kita nanti mendatangi rumahnya saja, cari tau alamat rumahnya pada teman dekatnya."ucap Akira sama seperti yang di pikirkan Hari sebelumnya.


"Oke nanti kalian berdua temani aku."


Asa yang mendengarnya mendengus seolah tak terima karna gadis itu hanya malas saja sementara Akira mengangguk kan kepalanya antusias.


...


Sepulang sekolah Haru dan kedua temannya pergi kerumah Marsha yang kebetulan dekat hanya dengan berjalan kaki.


Mereka tidak hanya bertiga tapi ada satu orang lagi yaitu seorang gadis yang merupakan tetangga Marsha bernama Karin.


"Tadi malam sampai pagi aku juga tak mendapat kabarnya, biasanya dia chat denganku untuk berangkat ke kampus bersama tapi seolah-olah dia menghilang  aku tak pernah melihatnya keluar rumah semenjak itu."ucap Karin.


"Apa kau tak mencoba untuk mengunjungi, siapa tau dia sakit kan?"


"Kemarin aku ingin tapi karna ada urusan aku tak bisa."

__ADS_1


"Ya setidaknya kita akan tau setelah menjenguk nya sekarang, mungkin saja Marsha sedang tidak enak badan kita harus berpikir positif."ucap Akira.


Mereka kembali berjalan dengan pemikiran masing-masing.


Hingga tanpa sadar mereka sampai di depan sebuah rumah agak besar bercat abu-abu.


Karin lalu membuat gerban dan membunyikan bel rumah Marsha.


Tak lama mereka menunggu terlihat seorang wanita berumur tapi tetap awet muda dan cantik menghampiri mereka dengan mata sembab.


"Oh nak Karin...."ucap wanita itu terisak lalu memeluk Karin hingga membuat mereka semua binggung.


"Bunda apa ada?kenapa bunda menangis di mana Marsha?"


"Marsha.....kemarin dia mengalami kecelakaan saat pulang kampus dan meninggal hiks...putri bunda sudah tiada Karin hiks...dan kami kini berduka atas kehilangan sebelum dia makamkan."ucap bunda Marsha dengan terbata membuat semua orang dia sana terkejut terutama Haru.


"A-apa?itu tidak mungkin kan...."


...


Apa yang Haru rasakan saat ini adalah perasaan sama seperti ia kehilangan sosok ayahnya.


Kehilangan bukan hal tak biasa karna pada umumnya sering terjadi hingga menjadi wajar karna manusia tak pernah abadi atau berumur panjang.


Ada yang berumur singkat atau sehari tetapi umur panjang jarang di temui.


Akan tetapi sedikit perbedaan dan kondisi, membuat kepalanya pusing karna ketika ia mempunyai pikiran berat itu akan berdampak pada mental dan tubuhnya.


Akira yang menyadari itu berusaha menyadarkan Haru tapi seolah tuli Haru tetap mencengkram kepalanya sendiri berharap rasa sakit itu berkurang.


Walau nyatanya bukan rasa sakit fisik yang menyiksanya tapi sebuah rasa sakit tak kasat mata menyiksa batinnya.


Ya sepertinya hari itu Haru menunjukkan bahwa dia bisa lepas kendali.


Entah Tuhan begitu senang memberinya ujian hidup, dari dulu dia seolah tak peduli dengan rasa sakit sekarang meluapkan semuanya.


Kehilangan Marsha merupakan kelemahan terbesarnya, Tuhan adalah pemenang segalanya dan berhasil mengalahkan sosok kuat yang merupakan topengnya yang ia pakai bertahun-tahun.


Ya setidaknya Haru tak pernah kuat.


Dia bukan orang sekuat itu untuk berdiri tegak di saat kehilangan orang yang ia sayangi dan terdekatnya.


Dia manusia yang paling lemah.


Sayangnya tanpa orang lain tau, dia telah menyadari itu selama ini.


Diamnya bukan berarti menerima semua yang terjadi tapi diamnya adalah atas kelemahannya.


"Kau tau Akira, Tuhan senang sekali mempermainkan diriku mulai sekarang aku akan terus menerima bahkan saat terdesak pun aku akan tetap menunggu permainannya karna aku tak sekuat itu untuk mengubahnya,

__ADS_1


Dan jika aku menentangnya semua hal itu sama dan tetap sama hingga perasaan sama itu terjadi berulang kali dan membuatku muak."


__ADS_2