
Akira menghela nafas bosan karna suasana hening di mobil sejak tadi.
Wajar saja karna dia yang menyetir dan fokus melihat pemandangan di depan mulu, sedangkan temannya asik menyelami pikiran masing-masing kecuali Haru yang dari tadi mengotak-atik ponselnya mungkin berbalas pesan dengan pegawai toko atau adiknya.
Akira tau hubungan Haru dan adiknya itu mulai dekat walau dulu mereka sempat renggang karna sebuah kesalahan pahaman.
Hingga akhirnya sebuah ide terlintas di kepalanya.
Tin!
Tubuh Haru dan Asa berjengit kaget lantaran Akira tiba-tiba menyalakan klakson mobil.
"Akira!kau hampir membuatku jantungan!"omel Haru tapi malah membuat pemuda bermata biru tertawa lalu memandang kearah Asa yang juga menatapnya.
"Aku bosan, bagaimana kalau kita bermain truth or dare?"usul Akira mendapat gelengan kepala dari Haru.
"Di dalam mobil?ayolah itu tidak masuk akal dan bagaimanapun caranya memutar botol?"
"Berpikirlah unik Haru, maka kau akan menemukan jalan keluar tak terduga. Maksud ku kita akan menyebut nama orang yang dia tunjuk sesuai hitungan pertama sampai empat?itu berlaku saat namanya bergiliran di tunjuk dan jika ia salah maka dia harus memilih truth or dare!"ucap Akira menjelaskan hingga akhirnya pemuda pirang itu menganggukkan kepalanya setuju.
"Baiklah!hanya sampai empat kan?itu mudah."
"Aku akan cepat!"
Kedua pemuda itu memberikan tatapan menantang seperti rival, sementara Asa hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua temannya yang entah kenapa masih tetap seperti bocah walau mereka sudah dewasa dan memiliki pekerjaan masing-masing.
Lagipula tidak ada salahnya ketika orang dewasa pun masih bermain, ibarat kau menggambar sebuah permainan zaman dulu mengunakan kapur putih di jalan aspal, ketika beberapa anak yang berlalu lalang di sana, mereka melompat untuk memulai permainan, lalu giliran pria tua berkacamata yang habis pulang kerja tapi dia juga ikut melompat ringan di belakangnya agar menutupi rasa malunya sedikit, begitulah cara orang mengingat kenangan masa kecilnya.
Mengesampingkan rasa pemikiran dewasa untuk menghilangkan rasa penat saat beban berat di pikul.
Sebuah hiburan sederhana yang membuat orang lain tersenyum.
"Satu-dua-tiga mulai!"ucap Akira sambil menunjuk Asa cepat.
"Akira Asa!"ucap Asa lalu melirik kearah Haru yang tengah menepuk tangannya.
"Wah rupanya dia tau permainan ini."
Tanpa aba-aba Asa menunjuk Haru.
"Asa, Asa, Haru!"
Beruntung Haru lolos dan membalas menunjuk Asa.
__ADS_1
"Haru, Haru, Haru, Asa!"
Asa menunjuk Akira.
"Asa, Asa, Asa, Asa, Akira!"
Akira menunjuk Asa.
"Akira, Asa!"
Tetap menunjuk Akira.
"Asa, Asa, Akira!"
Tetap menunjuk Asa.
Sedangkan Haru mulai tak mempunyai perasaan enak.
"Yak!kalian berdua seperti bermain dua orang saja!kapan giliranku!"protesnya.
Bisa-bisanya kedua temannya itu melupakan dirinya yang paling tampan ini.
Melihat celah karna Haru lengah Akira tiba-tiba menunjuk Haru di hitungan keempat.
"Hei kau kena!kau menyebut namaku lebih dari empat hahaha...."
"Ini tidak adil."
"Jangan marah Haru lagi pula ini hanya sebuah permainan."
Sementara itu Haru mendengus kesal, bisa-bisa ia terkecoh dengan tipuan kecil Akira, temannya itu memang terkadang mempunyai sifat jahil yang membuat orang naik darah.
"Pilih apa?"tanya Akira.
"Dare aja."
"Oke darenya dari dua orang ya karna hanya kita bertiga yang main."
"Kau serius?kenapa tidak mengatakannya dari awal!"
Habis sudah hidup Haru.
"Kau sih gak bertanya."jawab Akira santai.
__ADS_1
Bisakah Haru menampol temannya ini ke Antartika!
Dia lalu menghela napas sambil memutar bola matanya malas, akhirnya pemuda bermata emerald itu pasrah saja.
"Cepat katakan apa dare darimu?"
"Kau harus telpon Hasya dan minta izin besok datang ke rumah orang tuanya!"
"Hah!kau kira aku ingin melamarnya!"
"Jadi kau tidak mencintainya dengan tulus?wah wah Haru aku akan memberitahu...humph!"ucapan Akira terhenti karna tiba-tiba saja pemuda pirang itu membekap mulutnya karna kesal.
"Bukan itu maksudku tapi aku tidak mau jadi pemuda gak bertanggung jawab untuk menghidupi dan membangun sebuah keluarga hanya mengandalkan cinta.
Cinta yang tulus adalah rela berkorban itu artinya kita harus bekerja keras dulu baru mendapatkan apa yang kita inginkan."ucap Haru bijak sedangkan Akira hanya mangut-mangut mengerti.
Wah walau bercanda Haru itu selalu menganggap sesuatu dengan serius, katanya dia memegang sebuah komitmen di mana prinsip dalam kamusnya dia ingin menjadi pemuda yang tak ingin berkata tanpa bertindak saja.
Di sisi lain dia memang pemuda humoris yang mempunyai selera jahil, ibarat Haru dan Akira itu menjadi partner crime-nya yang korban mereka adalah orang lain yang introvert.
Hanya ada satu orang yang mempunyai sifat introvert di antara ketiganya yang ketara yaitu Asa.
...
Akhirnya setelah permainan truth or dare itu mereka sampai di depan sebuah bangunan besar dan mewah.
Sebelumnya Haru telah melakukan apa yang suruh Akira dan Asa, jika dare dari Asa itu sangat mudah. Gadis itu hanya minta di belikan es bubble tea nanti anggap saja itu sebagai traktiran nanti kalau gadis meminta kapanpun dan soal dare Akira, Haru benar-benar melakukan dan entah kapan dia bisa berkunjung ke rumah Hasya kedua insan itu sepakat untuk mengenal keluarga masing-masing lebih dekat karna untuk jaga-jaga kalau Haru melamar Hasya suatu hari nanti begitulah rencana di pikiran Akira.
Sungguh pekerjaan yang mulia sekali mempunyai teman seperti Akira.
"Kita baru sampai, hah...ternyata cukup jauh!"gumam Haru sambil merenggangkan otot tangannya ke atas, dia melihat ke samping jendela di mana hari juga mulai gelap.
"Kalian berdua menginaplah di sini, perjalanannya memang cukup melelahkan aku juga tau dari bibi bahwa meskipun seseorang telah membeli Vila ini tapi dia sama sekali tak mengunakannya walau ia memang mempunyai surat kepemilikan tanah asli, tapi itu belum sah karna aku belum memutuskan untuk menandatangi nya."ujar Asa menjelaskan.
"Jadi pak tua itu masih di tempat persembunyiannya?tidak di sini."ucap Haru.
"Kau sepertinya bersemangat sekali untuk bertemu dengannya Haru."celutuk Akira.
Haru mengangkat bahunya acuh sambil menatap Akira.
Tidakkah temannya itu tau bahwa kasus kepemilikan tanah dan Vila itu aneh, wajar jika ia tertarik untuk mengetahui lebih dalam atau mengali informasi.
"Kau tau Akira, seseorang bisa sangat bodoh hanya demi mencapai cepat ambisinya, tapi bukan aku yang terburu-buru namun pak tua itu karna dia membuat rencana yang sangat kacau untuk menjebak kita, baiklah kita sekarang kita akan menikmati alurnya dan santai."
__ADS_1
"Haru benar, maka dari itu selama ada celah kita terus bergerak, tidak ada yang bisa menghentikan kita bertiga."