
Akira memandang sekitarnya karna merasa bosan, jujur saja dia sudah mengantuk karna sudah lama menunggu.
Kedua temannya juga merasa hal sama hingga Haru mulai berbicara.
"Sepertinya ini sia-sia."ucap pemuda bermata brown itu.
Mereka duduk di sofa merah yang terdapat meja bundar berukuran kecil.
Bar juga mulai agak sepi karna beberapa telah pulang, atau mabuk.
Akan tetapi seorang bertender tak menengur mereka walau ini sudah sangat larut malam.
"Apa kita pulang saja?"tanya Asa membuat Akira menghela napas.
"Tunggu sebentar lagi, sebentar aku ingin pergi ke toilet dulu."ucap Akira.
"Mau kuantar?"tawar Haru.
"Tidak usah."
Ya kelamaan minum yang pastinya itu bukan Alkohol hingga membuatnya tak mabuk membuat Akira tak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya.
Dan ketika ia masuk ke dalam toilet dia melihat seorang pria botak yang ada di dalam sana.
Akira tak memperdulikannya dan dia segera menuntaskan hasratnya, setelah selesai dengan urusannya dia lalu berbalik untuk keluar, tapi pria botak itu sudah berdiri di depan pintu hingga menghalangi jalan keluar.
"Maaf...aku ingin lewat."ucap Akira tak di hiraukan pria itu, malah pria itu memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"Cocok sekali..."
"Huh?"ucap Akira tak mengerti dengan gumaman pria itu.
Tapi alangkah terkejutnya saat pria itu mencoba mendekatinya sambil mengeluarkan sapu tangan yang telah di beri oleh obat bius.
"T-tunggu kau mau apa..."
"Sayang sekali kau menjadi targetku malam ini..."ucap pria itu lalu mengunci pergerakan Akira dengan memeluk pemuda itu dari belakang dan membekap mulutnya.
'Sial aku tak boleh menghirupnya...'ucap Akira dalam hati tapi itu terlambat perlahan kesadarannya melemah dan sebelum dia benar-benar tertidur dia mendengar suara gebrakan pintu yang sangat keras.
"KAKAK!"
Tunggu...
Itu...
Jio?
__ADS_1
Bagaimana bisa dia ada di sini?
...
Flashback on.
Jio POV.
Malam ini akua merasakan perasaan aneh, entahlah hal itu membuatku sedari tadi tak nyaman.
Dan saat aku melihat teman-temanku yang masih asik berbicara, aku merasa harus pulang karna ini sudah sangat malam.
Ya terkadang aku juga menyukai hal seperti kebebasan saat remaja, walau sekarang aku sudah kuliah tapi aku tak pernah meninggalkan tanggung jawabku sebagai mahasiswa malahan aku selalu mendapat nilai sempurna karna aku sudah berjanji pada ibu untuk dapat membagi waktuku untuk belajar dan bermain.
Apalagi kakakku....ya aku tak menyangka bahwa bayi besar itu sudah lulus dan bekerja sekarang, tapi bagiku kakakku masihlah sama, sedewasa apapun dia nanti aku akan selalu menjaganya seperti seorang kakak walaupun aku adiknya.
Karna aku sangat menyayanginya...
Aku menyayangi dia dan keluargaku.
Merekalah yang membuatku mengenal arti kasih sayang, kenangan berharga ketika kecil hingga sekarang.
Siapapun yang berani mengusik keluargaku terutama kakakku, aku tak akan pernah melepaskannya.
"Aland aku harus pulang."
Sementara Aku hanya mengeleng mendengar ucapannya, lalu menyampaikan jaketku ke pundak sambil berdiri.
"Kau yakin ingin pulang sendiri?"tanya Hans lagi.
"Aku bisa pulang sendiri, tak perlu khawatir dan lagi aku ingin bertemu dengannya."
"Oh jadi kau sudah merindukan kakakmu?so sweet sekali."ucap Hans terkekeh tapi yang lain hanya diam.
Ya sudah tau kan kalau rata-rata teman Jio memiliki sifat yang sama sepertinya berbeda dengan Hans yang bobrok.
Jio mendengus sebelum dia pergi Aland mengatakan sesuatu yang membuatnya sedikit terkejut.
"Aku mendapat pesan dari Raven, kalau kakakmu saat ini berada di bar dekat kota."
"Tunggu?bagaimana dia bisa ada disana?"tanya Hans juga sedikit terkejut.
"Apa kita perlu menjem-"
"Kalian tidak usah, biar aku yang menjemput kakakku sendiri."potong Jio dingin.
Tatapan berubah tajam hingga ingin memenggal siapapun yang lewat di depannya hingga membuat Hans bergidik ngeri.
__ADS_1
'Mereka berdua itu benar-benar kakak adik kan?tapi kenapa kakaknya seperti malaikat dan adiknya seperti titisan iblis.'
...
Tak berselang lama sampailah Jio di bar, dia memandang sekitarnya dengan tatapan intimidasi, mungkin seseorang tak percaya bahwa dia masih kuliah karna memiliki tatapan seperti itu tapi itulah Jio.
Dia tak segan-segan menghajar atau menghancurkan hidup orang saat orang itu mengusik kehidupannya.
Hingga matanya menangkap suilet dua sosok familiar dia depannya.
Dengan langkah lebar dia mendekati sosok itu dan menepuk pundaknya hingga membuat sosok itu terkejut.
"Astaga siapa....oh Astaga Jio!"pekik Haru melotot tak percaya melihat Jio berdiri di belakangnya dengan tampang yang menyeramkan.
"Dimana kakakku?"ucap Jio menekankan kalimatnya hingga membuat siapa saja merinding dengan aura anak itu.
"Akira...hm dia pergi ke toilet ya dia sedang di toilet sekarang."ucap Haru entah kenapa menjadi gugup.
Tanpa banyak berkata lagi Jio langsung pergi ke toilet menghiraukan penjelasan Haru.
"Astaga dia tak pernah berubah dari dulu jika itu menyangkut kakaknya, semoga Akira baik-baik saja dengan monster itu."
"Monster?apa maksudmu?"tanya Asa binggung.
"Adiknya Akira, bukankah dia tampak seperti monster ketika marah?"ucap Haru balik bertanya.
Asa mengelengkan kepalanya saja, dalam hati dia sedikit khawatir dengan kekasihnya tapi dia juga terhibur dengan ucapan Haru yang mengatakan Jio seperti monster ketika marah.
Sayangnya Haru belum tau atau pernah melihat sifat yandere Asa itu seperti apa.
Ya kejadian di mana Asa menunjukkan sifat aslinya di balik sifat misteriusnya selama ini.
Bahkan dia memiliki alter ego yang menyimpan rapat rahasianya dan membuatnya menjadi sempurna.
Dia sangat tidak suka dengan orang yang menyainginya apalagi mengambil apa yang harus menjadi miliknya.
Yaitu Akira.
...
Because they say home is where your heart is, where you go when you're alone, where you go to rest your bones. Not just where you lay your head, not just where you make your bed. As long as we're together, does it matter where we go?
Togetherness is expensive and priceless. So lucky for those who can afford it. Namely people who care about togetherness with family and those closest to them.
Karena mereka bilang rumah adalah tempat hatimu berada, tempat Anda tuju saat Anda sendiri, tempat Anda pergi untuk mengistirahatkan tulang Anda. Bukan hanya tempat di mana Anda meletakkan kepala, bukan hanya tempat Anda merapikan tempat tidur. Selama kita bersama, apakah penting ke mana kita pergi?
Kebersamaan itu mahal dan tak ternilai harganya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang mampu membelinya. Yaitu orang-orang yang peduli pada kebersamaan dengan keluarga dan orang terdekatnya.
__ADS_1