
No one knows the exact moment when a friendship was formed, but it is this silent moment of oblivion that causes the pain when we have to say goodbye.
Tidak ada yang tahu saat yang tepat ketika persahabatan terbentuk, tetapi saat terlupakan yang diam-diam inilah yang menyebabkan rasa sakit ketika kita harus mengucapkan selamat tinggal.
Pagi hari tampak tiga orang dalam restoran sedang berbicara serius.
Sebenarnya Akira yang menelpon kedua temannya, dan kampus mereka masih di liburkan semenjak kejadian mengerikan tsb.
"Aku tau bukan Jio pelakunya pasti ada yang menfitnahnya."ucap Akira.
"Jadi maksudmu kemaren Jio di tuduh oleh orang lain saat adikmu ada di sana?"tanya Haru.
Akira mengangguk.
"Lalu kenapa Jio tak membela dirinya?atau mengatakannya yang sebenarnya, walau ucapan lisan memang tak cukup untuk membuktikan kejadian lalu tapi seharusnya dia mencoba membela atas dirinya sendiri bahwa dia benar-benar tak melakukan itu."ucap Asa.
Akira mengetuk meja, mata birunya berpendar ke penjuru kelas dan terhenti pada dua temannya.
"Bagaimana kalau kita menyamar saja jadi anak SMA dan kesekolah Jio untuk mengetahui sesuatu di sana."
"Bukankah Jio di skors?"
"Tidak, dia belum di skors tapi besok jadi kita bisa mencari tau."
"Oke setidaknya hal itu bisa mengusir kebosanan di rumah."ucap Haru.
Sebenarnya rencana liburan ini keluarganya mengajaknya untuk pergi jalan-jalan tapi Haru yang sedang tak mood menolak ajakan itu dan berakhirlah dia sendirian di rumah.
Asa?
Sebaiknya jangan tanya alasan gadis itu.
...
Dan di sinilah tiga trio itu.
"Akira kau cocok sekali memakai seragam SMA."puji Haru.
Bagaimana tidak ukuran tubuh dan wajah baby face Akira sangat cocok dan membuat anak itu terlihat seperti anak baru yang masuk ke sekolah SMA.
Sementara akira menaikan alisnya mendengar pujian Haru, namun saat dia melihat Asa, dia sedikit tersentak karna Asa begitu cantik.
"Ehem!jika kalian berpacaran di sana lebih baik aku pergi."ucap Haru.
__ADS_1
Haru juga terlihat sangat tampan dengan almamater SMA, dia lebih terlihat seperti seorang senior di akhir semester atau ketua OSIS.
"Aku jadi teringat akan momen masa-masa SMA rupanya dulu ataupun sekarang kita masihlah sama saat memakai seragam ini."ucap Haru tersenyum penuh arti.
"Maksudmu?"
"Itu artinya kita menolak tua Akira."
Asa memutar bola matanya malas mendengar jawaban Haru sementara anak itu.
Jangan tanyakan bagaimana ekspresi lugunya yang mampu menyita perhatian orang yang lewat.
"Ayo! Ingat ketika masuk bersikap seperti biasa jangan sampai membuat orang curiga!"ucap Haru memberi peringatan, karna dia yakin orang-orang tak akan mengenali wajah baru mereka.
"Baik."
Mereka lalu masuk ke dalam gerbang SMA, tapi baru melangkah saja mereka sudah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Asa kenapa mereka melihat kearah kita bertiga?"bisik Akira pelan.
Asa hanya mengeleng seolah tak peduli berbeda dengan Haru yang mulai melancarkan aksi tebar pesona ya.
"Apa mereka bertiga anak baru?"
"Ya sepertinya begitu aku belum pernah melihat mereka."
"Disana juga ada pria yang sangat tampan!"
"Yang di tengah sangat manis."
Begitulah ocehan-ocehan yang mereka dengar dari para siswa lain di sekolah Jio.
Akira sedikit menunduk karna malu sementara Asa hanya menatap datar kedepan.
Haru?
Oke sekarang pemuda itu sedang memberikan tangan tangannya pada siswi lain yang memintanya, benar-benar seperti calon idol trainee saja.
Di sisi lain Jio yang tengah berjalan koridor sedikit binggung dengan krumunan yang berada di depan lapangan gedung sekolahnya.
Dirinya cuek akan pergi tapi saat dia melihat suilet yang sangat ia kenal membuatnya buru-buru menghampiri gerombolan itu.
"Akira!"
Akira dan dua temannya terkejut saat mendengar suara itu.
__ADS_1
Sret!
Jio langsung menarik tangan kakaknya itu kasat dan berjalan keluar dari krumunan itu hingga membuat Akira mengikutinya.
"Hei tunggu! Jio!kau mau bawa kemana dia!"teriak Haru sontak mengikuti Jio begitu halnya Asa yang berada di belakangnya.
...
Di halaman belakang sekolah.
"Kenapa kakak ada di sekolahku?"tanya Jio dengan tatapan mengintimidasi membuat Akira gugup.
Sementara Haru dan Asa juga ada di sana hanya mendengarkan dan diam tanpa berani menyela karna aura Jio benar-benar mengerikan sekarang.
"J-jio kakak tau membuatku marah tapi kakak hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi..."
"Tentang kejadian kemarin?sudah aku bilang untuk tidak ikut campur kan, kau lihat sendiri kau kemarin drop! aku bisa menyelesaikannyanya sendiri tanpa bantuanmu kak."ucap Jio.
Akira menatap Jio tajam.
"Aku kakakmu wajar jika aku khawatir terhadapmu, lagi pula kenapa kau tak menjelaskan semuanya padaku?aku tau kau masih menutupinya, seorang kakak mana yang tidak ikut campur ketika adiknya berada dalam masalah!"
"Aku diam bukan berarti bisa di tindas oleh orang lain, yang menfitnahku seseorang dan aku berusaha mencari taunya karna itu jangan ikut campur karna aku tau semua yang terjadi."ucap Jio memotong ucapan Akira.
Kakak adik itu saling bertatapan tajam seolah tak ada yang mengalah dengan argumen mereka berdua.
Haru dan Asa saling berpandangan.
"Akira, mungkin maksud Jio dia sudah lebih dewasa untuk menyelesaikan urusannya sendiri."ucap Haru akhirnya membuka suara.
"Dan dia tak ingin kau ikut campur kedalam urusannya."lanjut Asa.
"Tapi dia selalu ikut campur urusanku?kenapa saat aku ingin ikut campur dia malah melarang ku, dan kalian juga membelanya?
Sayang sekali walaupun banyak orang yang mencegahku hal itu usaha yang sia-sia karna aku akan tetap mencari tau kebenarannya, aku tidak bisa diam kau tau itu Jio, kau adik yang sangat mengecewakan saat memendam perasaanmu dan tak mau memiliki seorang pun sandaran kau bilang bersumpah menjagaku kan?
Maka aku juga bersumpah sama, karna itu aku tak membiarkanmu berada dalam kesepian lagi."ucap Akira.
Untuk sesaat mereka tertegun dengan ucapan Akira.
Pemuda itu memang lemah fisik tapi hatinya kuat bagai baja.
"Apa arti persaudaraan dan persahabatan?hanya aku yang tau sementara kalian belum mengerti, Jio kita kakak adik yang saling mengenal lama dan membagi duka dan bahagia, seandainya semua kejadian yang terjadi padamu berbalik padaku apa yang akan kau lakukan?"
...
__ADS_1
Practicing silence does get on your nerves. You will talk less. However, therein lies your learning. You'll understand more about other people."
Berlatih untuk diam memang membuatmu kesal. Kau akan lebih sedikit berbicara. Namun, di situlah letak pembelajaranmu. Kau akan lebih banyak memahami orang lain.