
Dorr!!!
Tiba-tiba mereka mendengar suara tembakan dari dalam hal itu membuat mereka terkejut sekaligus khawatir.
"Aku akan keluar!"hingga ucapan terakhir Billy untuk memutuskan keluar dari mobil membuat Akira dan yang lain panik.
"Kakek!"
Mereka lalu keluar dan mengejar Billy yang berlari kearah gudang.
Sesampainya di sana, mereka melihat beberapa polisi keluar dengan membawa para sandera, hal itu membuat Billy semakin cemas karna tak menemukan cucunya, hingga cukup lama ia mencari dan pencarian telah berhasil, dia melihat Arsa yang berjalan lesu dengan pakaian yang kumuh dan compang-camping.
Tubuh cucunya semakin kurus membuatnya menatap prihatin sekaligus hatinya teriris saat mengetahui kondisi cucunya yang katanya mengalami sedikit trauma saat di temukan, Arsa juga bilang para penculik itu tak segan memukul mereka jika mereka tak menuruti perintahnya.
Intinya Arsa sangat tertekan namun dia tak menyangka bahwa kakeknya akan membawa polisi untuk menyelamatkannya, di situ Arsa sadar dan merasa bersalah karna selama ini berlaku buruk pada sang kakek.
Dengan memeluk sang kakek dia menangis dan meminta maaf, membuat orang-orang disana memandang mereka dengan tatapan berbeda.
Sementara itu.
Mata Akira tak sengaja memandang kearah kantong mayat yang baru saja di bawa keluar oleh tiga polisi.
Dan saat polisi itu membuka resleting kantong mayat itu.
Srettt...
"Hah..."
Nafas Akira tertahan sekaligus terkejut melihat wajah jasad itu.
"Hei Akira, ada apa?"tanya Haru binggung dengan temannya yang tampak terpaku.
"Dia..."
"Hah?siapa?"
Akira mengeleng pada Haru, tetapi dia berjalan mendekati ketiga polisi yang masih mengurus jasad Jaguar.
Ya seorang pria berbadan besar yang pernah Akira temui tapi dia sama sekali belum tau namanya.
"Boleh aku bertanya?"
"Ya?"
"Apa suara tembakan itu dari kalian yang menembak orang ini?"tanya Akira lirih.
"Benar, tadi saat kami masuk, banyak sekali mereka yang melawan kami, dan ketika kami berhasil membekuk mereka semua salah satu dari mereka mengancam akan membakar para sandera, dan sebelum itu terjadi akhirnya kami mengeluarkan senjata untuk memberi mereka peringatan, hingga ada salah dari mereka yang ingin kabur akan di tembak oleh salah satu anggota kami tapi pria berbadan besar itu menghadang dengan tubuhnya hingga dirinya sendiri yang tertembak."
__ADS_1
"Jadi dia tak melarikan diri tapi mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anak buahnya sendiri?"
Pertanyaan Akira hanya di balas anggukan oleh polisi itu.
Akira lalu menghela napas.
Hingga dirinya tak mampu membendung air matanya walau bukan pertama kali ia melihat kematian seseorang di depan matanya melainkan kematian penjahat dan menbuat para polisi itu binggung dengan sikap pemuda itu.
"Seharusnya.... seharusnya kalian bisa menahan tembakan itu, semua ini tak akan terjadi.
Dia tak akan mati.
Aku belum ingin dia mati walaupun tak mengetahui namanya."
...
Kematian seseorang memang tak dapat di hindarkan, entah beberapa kali kita melihat duka dan tangisan di dunia ketika satu persatu orang terdekat kita meninggalkan kita, tapi ingatlah bahwa kekuatan hatimu masih ada membuatmu untuk bertahan di sini.
Kamu yang sama sekali tak menyerah, kamu sungguh luar biasa seperti orang hebat terdahulu! ya tanpa kau sadari kau sangat hebat melebihi kemampuan orang-orang itu.
...
"Akira kau kenapa?sejak tadi kau jadi diam sejak kejadian kemarin malam?"tanya Jio penasaran.
Ya bagaimana dia tak curiga, saat malam itu kakaknya pulang dengan mata sembab dan memeluknya sambil meracau kata maaf berulang kali torlantar dari bibirnya.
Tak ingin penyakit asma kakaknya kambuh dia mencoba menenangkan kakaknya hingga sampai sang kakak tertidur di sofa dan dia mengangkat Akira untuk memindahkan ke atas kasur karna takut badan kakaknya pegal besok pagi.
"Jio...."
"Hm?"
"Jangan pergi hari ini."
"Apa kakak ingin aku membolos?apa kakak tidak pergi ke studio?sebenarnya ada apa denganmu?"tanya Jio beruntun.
Akira mengerucutkan bibirnya, menangis semalaman membuat matanya bengkak dan hidungnya tersumbat hingga membuatnya susah nafas dan suaranya menjadi serak.
"Aku jelek tau, aku tidak mau keluar atau kemana-mana hari ini...
Jio temani kakak ya?please?!"
Mendengar ucapan Akira membuat Jio menghela nafas.
"Baiklah tapi hanya untuk hari ini, sudahlah jangan menangis lagi kau nanti bertambah jelek."
"Is Jio...kakak menangis karna sebuah alasan."
__ADS_1
"Aku tau, tapi kau tak mau mengatakan alasan itu padaku?bisakah kau memberitahuku sekarang?"
Permintaan Jio membuat Akira terdiam cukup lama.
Dia lalu memandang adiknya itu.
Ya mereka masih memakai piyama karna baru bangun tidur, walau sebenarnya Jio ingin mandi karna harus kekampus hari ini tak dia terpaksa membatalkannya.
Jika melihat kakaknya sedih itu adalah kelemahan terbesar Jio.
Akira menunduk sambil memilin piyama adiknya.
"Aku juga tak tau apa yang membuatku sangat sedih malam itu, tapi kejadian yang mengerikan seolah terekam jelas dalam ingatanku."
"Apa kau bermimpi buruk?"
"Ya aku harap itu hanyalah mimpi buruk, tapi sayangnya itu nyata.
Jio beberapa dari manusia telah kehilangan seseorang apa takdir akan terus seperti ini?dan itu juga terjadi bagi kita?"
"Kita tak pernah tau kak, apa maksudmu kehilangan seseorang?apa temanmu..."
"Bukan...kami hanya sekali bertemu bahkan tak mengetahui nama tapi melihat kematiannya membuatku sangat sedih, entah kenapa ada yang hilang di sini."ucap Akira sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Hatimu mungkin merasa kosong tapi bukankah bisa terisi ketika kau memulai perubahan untuk merubah takdir?
Kak aku tidak tau emosi apa yang kakak rasakan, intinya aku adalam orang yang minim memiliki emosi dan merasakannya sendiri, seperti kertas kosong tapi kertas itu hanya di isi dengan coretan pensil tapi tidak spidol berwarna."
"Jio kau bukan orang seperti itu, kau sebenarnya orang yang menyenangkan hanya saja kau sulit mengekspresikan di depan orang lain, aku mengerti tentangmu kau juga mengerti bagaimana diriku?
Hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sangat sulit kau penuhi. Bisakah suatu saat kau tak pernah meninggalkanmu seperti orang lain jika takdir itu memang nyata?"
Jio terdiam.
Tapi kemudian dia tersenyum.
"Jika itu permintaan kakakku, maka aku akan berusaha menyanggupinya.
Aku bisa melakukannya."
...
Destiny is not just standing still, he is waiting for us to play his story.
Destiny is like this, very interesting. At first you wanted to travel north, but instead he made you fly south, and even moved voluntarily.
Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya.
__ADS_1
Takdir memang seperti ini, sangat menarik. Semula kau ingin berkelana ke utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke selatan, bahkan berpindah dengan sukarela.