The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Side story(Kenangan pertama)


__ADS_3

Pertemuan itu seperti menemukan sesuatu yang menarik, bisa di anggap baru atau hal kejutan di hari ulang tahun.


Tetapi setiap pertemuan ada perpisahan begitu pepatah sering mengatakan atau menulis tintanya dalam sebuah buku.


Asa gadis kecil yang masih berusia 9 tahun itu duduk di teras belakang rumah sendirian sambil melamun.


Entah apa yang di lamun kan gadis kecil itu tapi wajah yang tampak mungil dan cantik itu tak mengeluarkan ekspresi apapun selain kedua mata hazelnya yang menatap kosong ke depan.


Memang paras gadis walau masih seusianya yang begitu kecil bisa di bilang Asa itu gadis yang sempurna tapi ingatkan lagi kata pepatah bahwa di dunia itu tidak ada yang sempurna kecuali sang pencipta bukan?


Rambut coklat yang sependek bahu kecilnya di biarkan terurai tak lupa poin manis yang menutupi keningnya mulai tergerak mengikuti arah angin sepoi-sepoi.


Bulu mata yang lentik, hidung mancung, dan bibir pink alami menambah kesan aura kecantikan gadis itu bahkan jika ada yang melihatnya pasti akan menyebutnya boneka hidup.


Ya secantik itu rupanya sosok Asa selama ini.


Namun saat gadis itu terus memandang kearah depan, kalau di teliti gadis itu ternyata tengah memperhatikan sesuatu yang bergerak di semak-semak yang cukup lebat di halamannya tapi tertata rapi oleh beberapa tumbuhan bunga di sekitarnya.


Hingga...


Srek!


Saat sesuatu itu mulai muncul, Asa langsung berdiri dan kedua kaki kecilnya berjalan dengan ekspresi datar andalannya kearah sesuatu itu.


...


Di sisi lain, sebuah rumah bercat abu-abu yang tak jauh rumah Asa.


Terlihat seorang anak laki-laki yang baru keluar dari rumah itu dengan membawa beberapa kantong makanan di tangannya.


Wajah cerah dan ceria anak itu terlihat begitu bahagia, kedua kakinya melangkah dengan membuat lompatan kecil sehingga orang akan mengira betapa mengemaskan anak itu.


Ya meski mereka tau bahwa kedua orang tuanya selalu mengelus dada sabar karna harus pasrah jika mempunyai anak lucu yang sayangnya hyperaktifnya overdosis.

__ADS_1


Namanya Akira Justine Hoshino.


Mempunyai iris mata berwarna biru safir seperti sang bunda, membuat hati orang lain akan damai saat menatap kedua mata bulat polos itu,


Alis tebal, rahang sedikit tegas tertutup dengan double skin nya yaitu pipi gembulnya yang memerah lucu seperti bakpao bulat.


Dan jangan lupakan saat anak itu tersenyum akan menampakan lubang cacat di kedua pipinya berbeda dengan Jio terlihat lebih manly di banding sang kakak.


Sementara Asa jika gadis itu tersenyum akan terlihat gigi kelincinya imut tapi sayang sekali Asa itu tipe gadis yang jarang tersenyum atau tertawa padahal Akira sendiri merasa gemas saat melihat gigi kelinci milik Asa nampak meskipun dirinya juga lebih mengemaskan karna mempunyai dimple manis itu.


"Satu-satu aku sayang ibu...dua-dua..."


Bibir mungil itu terus mengerak menyanyikan irama lagu anak kecil dengan suara imutnya.


Tak lupa sesekali dia mengambil jajan di kantong yang seperti tas pinggang berbentuk beruang coklat.


Membuka bungkusan itu dan memakan cemilan coklat yang ia sukai.


Hingga saat dia sampai depan rumah alias jalanan dekat gerbang rumahnya, entah kemana tujuan anak itu atau hanya pergi jalan di sekitar komplek rumah saja dia melihat seseorang berjongkok di dekat semak-semak memunggunginya.


Di tambah ekpresi penasaran dengan kedua alis yang menukik tak lupa bibir nya monyong seperti bebek.


Mata biru anak itu berkedip saat seseorang itu mulai berbalik menghadapnya yang kebetulan Akira berada di belakangnya.


Dan akhirnya Akira mengenali sosok itu.


"Asa!"


Bahu Asa terlihat tersentak, gadis itu langsung menoleh, tampak wajahnya lebih terkejut dan pucat entah kenapa.


"Asa sedang main apa?kok gak ngajakin Akira main!"omel anak itu dengan nada mengadu tapi kedua matanya membulat saat melihat kedua tangan Asa yang berwarna merah pekat.


"Asa kamu habis ngapain?kok main cat merah sih lihat tanganmu kotor kan!"ucap Akira.

__ADS_1


Asa terkejut karna Akira melihatnya, ia ingin menyembunyikan tapi sudah terlanjur nampak dan sekarang kedua tangannya di pegang oleh tangan Akira, bocah itu menariknya ke arah halaman depan rumahnya.


"Ayo cepat bersihkan sebelum bibi lihat dan memarahi mu!"ucap Akira menyuruh Asa membersihkan tangannya dan tangannya sendiri yang terkena warna merah itu ke kran air yang ada di sana.


Asa hanya diam tapi dia melakukan apa yang di minta Akira.


Dan setelah mereka berdua selesai mencuci tangan Akira kembali menarinya ke arah bangku yang kebetulan ada di sana dekat dengan perkarangan rumah Akira yang seperti taman.


Wajar saja karna perkarangan Akira itu cukup luas di banding rumah per kompleks an lain.


Kalau Asa dia memiliki rumah tingkat 3 maka tak heran rumahnya juga besar.


"Asa duduklah aku membawa beberapa cemilan kesukaanmu, tadi ayah memberiku uang saku yang banyak!"ucap Akira mulai bercerita dan Asa pasti senantiasa mendengarkan anak laki-laki.


Karna lucu saja, kenapa dia bisa jatuh cinta dengan pemuda yang banyak mengeluarkan ekspresif ketika ia bercerita seperti Akira.


Pemuda manis, dengan sikap polosnya yang mampu memikat hati seseorang dan itu adalah Asa.


"Oh ya Asa kenapa tanganmu bisa merah?kamu main cat ya tapi kok gak bawa alat lukis?"tanya Akira masih penasaran dengan hal tadi.


Asa sejak kecil memang pintar melukis dan Akira tau sedikit kebiasaan gadis itu tanpa dia tau bahwa Asa tadi membunuh seekor hewan yang berada di dalam semak-semak yang ia lihat tadi.


Yaitu seekor kucing yang saat ini mati mengenaskan tanpa kepala, untunglah Asa berhasil menyembunyikan kucing kecil itu di dalam semak semak lagi hingga Akira tak melihatnya.


Asa tersenyum tipis dan mengeleng, sedikit lucu mengingat apa yang ia lakukan tadi.


Tentu dia melakukan dengan sadar dan rasanya sangat menyenangkan.


Akhirnya dia bisa melampiaskan atau mengusir rasa kebosanannya dengan membunuh hewan lucu itu tapi Asa tak peduli baginya itu rasa senangnya dan dia tak senang jika Akira sampai tau atau takut padanya nanti.


...


People who know that they are not important will certainly think more and more about other people. Conversely, people who feel they are important will only think about themselves. Be concerned, don't just approach and just want to know. It looked unattractive, then left, it was so selfish.

__ADS_1


Orang yang tahu jika dirinya tidak penting tentu akan semakin banyak memikirkan orang lain. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya penting hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Pedulilah, jangan hanya mendekat serta cuma ingin tahu. Itu terlihat tidak menarik, kamudian pergi, itu sangatlah egois.


__ADS_2