The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Mengambil resiko


__ADS_3

"Kita harus menemui ketua sekte itu untuk mengetahuinya."


Ucapan Haru membuat mereka berdua terkejut.


Itu sama saja memasukan diri sendiri ke dalam kandang singa.


"Tidak itu akan berbahaya jika Akira menemuinya."ucap Asa mengungkap ketidaksetujuannya.


Haru menghela napas, tatapan seriusnya berubah lembut.


"Tidak ada cara lain, bahkan saat tikus berada di situasi terdesak karna terperangkap dalam jebakan kucing dia mengunakan cara licik yaitu pura-pura mati hingga kucing enggan memakannya.


Kita harus berani mengambil resiko."ucap Haru.


"Aku ingin semuanya cepat selesai dan aku setuju dengan perkataan Haru."ucap Akira tiba-tiba.


Keputusannya sudah mantap dan kedua temannya telah melihat keseriusan di wajahnya.


Asa mengeryitkan dahinya lalu dia menghela napas panjang.


"Ingatlah untuk tak ceroboh atau memancing bahaya itu datang ke arahmu Akira, karna aku benar-benat khawatir segala sesuatu terhadapmu, namun sisi lain aku percaya bahwa kau bisa melaluinya karna bersama kami berdua. Jangan mengambil keputusan atau langkah sendiri karna kau masih mempunyai seorang teman terkadang tanpa kau sadari kau telah egois tapi aku yakin bahkan kau bisa mempercayai kami sebagai bantuanmu."ucapan Asa telak menampar relung Hati Akira.


Ya terkadang dia bisa menjadi orang bodoh hanya untuk melindungi orang terdekatnya.


Karna trauma di masa lalunya dia pernah kehilangan orang-orang ia sayangi.


Akira berdiri dari tempat duduknya membuat kedua temannya heran.


"Kita harus pulang..."


"Oh kau ingin pulang?"


"Hm, setelah itu kalian juga aku tau bahwa kalian memiliki urusan-urusan penting."


"Tapi Akira..."


"Aku sudah baik-baik saja, nanti akan ku kabari jika aku sudah sampai di rumah."ucap Akira karna dia akan memilih menaiki taksi.

__ADS_1


"Tunggu kau benar-benar....kenapa tidak ku antar saja?"tanya Haru menaikan alisnya heran.


"Aku tau setelah itu kau akan pergi ke restoran mu dan Asa pergi ke perusahaan untuk mengurus pembukuan buku barunya, jalan kalian berdua cukup searah dan aku tak mau kalian berdua bolak-balik karna mengantarku nanti.


Aku janji setelah sampai rumah akan langsung menelpon salah satu dari kalian."ucap Akira.


Mendengar ucapan itu membuat kedua teman Akira akhirnya mengangguk, ya walaupun bagaimana mereka tetap lah seorang dewasa yang kini memiliki tanggung jawab masing-masing.


Tapi waktu itu tak bisa di daur ulang, ada kala yang sibuk menghabiskan waktu dengan perkerjaan tanpa kau sadari perlahan yang kehilangan moment bersama teman-temanmu.


"Akira..."gadis berambut pendek dengan warna mata coklat hanzel itu mendekatinya lalu mengecup pipinya.


"Hati-hati by."ucap Asa pelan sambil mengusap pipi pemuda bermata biru yang kini lebih tinggi darinya, dulu Akira lah yang lebih kecil sekarang keadaan berbalik Asa sedikit pendek dan mungil walau tinggi mereka berdua menurut Haru hampir sama.


Dan proporsi tubuh Akira makin ideal walau wajahnya tampan dan manis ketika ia tersenyum menampilkan lubang cacat di kedua pipinya hingga membuat orang lain mengigit jari karna gemas.


"You to."


Haru yang melihat itu berdecak kesal ayolah dia masih jomblo di sini karna author begitu kejam padanya.


"Ya ya...aku ingat."ucap Haru mengalah.


Setelah itu mereka akhirnya berpisah tentu saja Haru yang bersikeras membayar taksi yang di tumpangi Akira walau pemuda itu sudah menolak berkali-kali akhirnya luluh juga karna permintaan Asa.


Namanya cinta, pasti bucin.


"Nak di jalan mana?"pertanyaan supir membuat lamunan Akira buyar, dia sudah menaiki mobil dan masih dalam perjalanan.


Dia menoleh kearah samping jendela di mana pemandangan kota selalu ramai dengan rutinitas kendaraan mobil padat dan beberapa mahasiswa yang menyebrang jalan raya.


Ada beberapa warga lokal juga berjalan-jalan di pinggir dengan membawa hewan peliharaan yaitu anjing.


Membuat Akira tersenyum tipis melihatnya.


"Tolong lurus saja karna aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dulu pak."jawab Akira.


...

__ADS_1



Dan di sinilah Akira berada sekarang.


Sebuah tempat tenang, di mana tak banyak keramaian atau kebisingan manusia, hanya ada suara aliran air dan kicauan burung yang bersembunyi di antara ranting pohon.


Pemuda bermata biru safir itu tampak sangat menikmati pemandangan alam di sana dengan menyenderkan kedua tangannya ke atas jembatan dan dia menatap ke arah danau di bawah jembatan hingga kepalanya sedikit tertunduk.


Di saat ini tidak ada yang dipikirkannya seolah-oleh beban di pundaknya sedikit ringan karna dia telah memilih atau berada di tempat healing yang cocok untuk melepas penatnya.


Memori atau penglihatan yang selalu mengganggunya tidak ada sama sekali.


Dia merasa menjadi burung bebas yang di lepaskan ke alam liar setelah berapa lama terkurung dalam sangkar emas.


Itulah yang di rasakannya saat ini.


Sebuah perasaan yang sulit di jelaskan tapi dengan kata hanya kita yang bisa merasakannya.


Akira adalah anak sulung, meski begitu kedua orang tuanya masih protektif padanya di banding pada adiknya.


Dia tidak protes atau mengeluh malah dia menikmatinya karna dia yakin bentuk kasih sayang orang tuanya tidak akan pilih kasih walau dengan cara itu karna setiap yang ia rasakan dalam hidupnya telah membuatnya menjadi orang yang paling beruntung dan bersyukur di dunia.


Sebuah momen lalu atau sekarang tidak akan kembali oleh karna itu dia akan menerima perilaku kedua orang tuanya karna setiap orang tua pasti sedikit tak merelakan anak pertamanya tumbuh dewasa begitu cepat sama halnya adiknya yang telah besar dan berpikir dewasa.


Dirinya tau adiknya sangat menghormatinya sebagai kakak, bukan berarti dia berlaku tak sopan karna kadang memanggilnya tanpa embel kakak karna Akira tau bahwa mereka tetap menjadi saudara kecil yang tak terpisahkan waktu itu.


Sifat Jio memang tegas dan dewasa, dia memang bisa berpikir bijak tapi masih kekanak-kanakan oleh karna itu tak peduli mencontoh atau seseorang yang membimbing kita itu tua atau lebih muda karna sesuatu tak akan bisa di ulang kembali ketika penyesalan.


Tanpa ada rasa hormat dan menghargai dunia akan menjadi kacau dan sikap empati atau toleran akan hilang.


Oleh karna itu setiap warna berbeda tapi jika di campur menjadi menarik seperti pelangi.


Berbeda dengan putih dan hitam saja yang di campur akan menjadi abu-abu dan sedikit tak menarik.


Kehampaan seseorang itu terlihat dari mana dia berkembang dan menyikapinya.


Dan kebahagiaan seseorang itu terletak pada siapa dia mewarnai dunia.

__ADS_1


__ADS_2