The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Rencana pergi ke Vila


__ADS_3

"Asa?kenapa dia meneleponku malam-malam begini?"


Tak mau ambil pusing dan menjawab rasa penasarannya akhirnya dia mengangkat panggilan gadis itu.


"Halo? Ada apa?"


'Akira sudah tidur kan?'


"Iya dia sudah tidur bagaimana kau tau?"


'Besok kita bertiga akan pergi ke Vila orang tuaku jadi bersiaplah.'


"Hey tunggu...tapi..."


Tut!


"Sial!dia selalu menutupnya lebih dulu!benar-benar gadis aneh...."gumam Haru sambil menatap layar ponselnya.


...


Pagi hari telah muncul mengantikan rembulan di malam hari.


Cahaya terang masuk kedalam kamar salah satu pemuda yang terbuka, menampakkan seseorang yang duduk di atas ranjang dengan rambut yang semerawut seolah habis bangun tidur.


Di sekitar kamar bisa di bilang rapi walau tadi malam mereka berdua membuat kekacauan dengan memakan Snack dan minuman saat bergadang namun entah siapa yang membersihkannya dengan cepat hingga tempat itu jauh lebih rapi, tak ayal bahwa sebutan kamar anak laki-laki selalu kotor berbanding balik dan akan terlihat perbedaan besar di kamar Haru.


"Haru bangun!"suara serak khas bangun tidur itu terdengar sambil mengundang tubuh temannya yang masih bergelung dalam selimut.


Tapi beberapa kali dia mencoba membangunkan Haru, pemuda tampan itu tetap tak bergeming alias masih terlelap dalam mimpi indahnya hingga membuat pemuda bermata biru safir itu mendengus kesal hingga akhirnya mengambil ponsel di atas nakas untuk melihat apa ada pesan yang masuk.


Dan ternyata ada itu pesan dari Asa, buru-buru Akira membukanya dan melihat sederet kalimat yang membuatnya sama sekali tak mengerti apa maksud kekasihnya itu.


"Akira."


Suara Haru membuatnya terkejut, kapan pemuda itu bangun dan kini menatapnya dengan pandangan binggung kenapa?


"Apa huh?"


"Kau sudah bangun dari tadi?"tanya Haru.

__ADS_1


Akira hanya menganggukan kepalanya.


Haru menghela napas sambil menyugar rambutnya kebelakang, pemuda itu meski bangun tidur masih saja terlihat keren dan manly.


"Nanti kita akan pergi ke vila, Asa memberitahuku semalam jadi kita harus bersiap-siap sekarang."


"Hm."


...


Tak membutuhkan waktu lama bagi dua pemuda itu untuk menyegarkan kembali penampilannya.


Dengan setelan ala best friend mereka mengunakan jaket berwarna hitam yang sama dan sepatu putih.


Hanya kaos mereka yang berbeda warna, karna Akira mempunyai dua pakaian baru hadiah dari ayahnya jadilah Akira memberikannya satu pada Haru.


Ayolah meski Haru pernah menginap beberapa kali di rumahnya malah sering waktu kecil tapi pakaian pemuda itu justru tak akan muat lagi karna proporsi tubuh Haru makin tumbuh tinggi dan besar begitu halnya Akira yang memiliki tubuh pria yang cukup ideal walau tak memiliki otot besar seperti lengan tangan Haru dan Jio.


Apa Akira tak ingin pergi ke gym?dia pernah mencobanya dan berakhir pingsan karna asmanya kambuh semenjak itu Jio selalu melarang kakaknya pergi ke gym kecuali jika mengajarkan joging di pagi hari dengan senang hati adiknya itu akan menemaninya.


"Pagi semua!"sapa Akira saat sampai di meja makan, dia melihat dua orang paling ia sayangi tengah menyiapkan sarapan siapa lagi kalau bukan bunda cantiknya dan calon istrinya uhuk!


"Pagi dear."


"Hei ini masih pagi jangan menebar kasmaran, harusnya aku mengajak Hasya juga."gumam Haru di kalimat akhir.


"Ah kau kan sudah mempunyai pawang Haru, aku heran kenapa ada gadis yang ingin berpacaran dengan lelaki buaya darat sepertimu."


"Huh?apa kau bilang?!aku ini hanya terlalu tampan jadi wajar kan aku tebar pesona tapi soal hati tentu aku akan menjaganya dengan baik dan membuat baper orang-orang yang iri melihatku jika aku memiliki pacar karna perlakukan manisku."ucap Haru percaya diri.


Kalimatnya itu hampir saja membuat Akira muntah dan Asa hanya memutar bola matanya malas tak peduli.


"Ayo kalian sarapan dulu, habis ini kalian bertiga ingin pergi kemana?"tanya Rena.


Akira melirik kearah dua temannya untuk meminta bantuan, bagaimanapun ini ajakan kekasihnya kan?jadi kekasihnya itu harus pandai mencari alasan dan juga Haru.


Tiba-tiba Haru yang pertama kali mengangkat bicara.


"Kami akan pergi jalan-jalan,ya liburan teman seperti itu. Karna beberapa minggu ini kan kami bertiga sibuk masing-masing dengan pekerjaan yang menumpuk tiada habisnya, jadi untuk menghilangkan rasa stress dan ingin healing jadilah kami bertiga merencanakan liburan bersama, mungkin ke pantai, atau ke mall."ucap Haru sedikit berbohong.

__ADS_1


Rena mengangguk mengerti, dia memandang lembut kearah Asa.


"Asa jaga dirimu dengan baik, putraku ini masih bayi tapi dia pintar sekali melindungi orang yang ia sayangi."ucap bundanya Akira sambil mengelus pucuk putranya itu yang kini masih asik mengunyah kimbap enak buatannya.


Asa tersenyum manis dan memandang ke arah Akira yang tak sengaja juga bertatapan dengannya.


Pemuda itu salting melihat senyuman gadisnya.


Sementara Haru mengelengkan kepalanya lalu memijat keningnya seolah menikmati drama romansa di depannya dengan ekpresi dramatis.


"Kalian cocok sekali menjadi pemeran Couple di film."ucapnya.


Mereka semua akhirnya makan kecuali Rena yang sibuk menyiapkan bekal untuk Jio dan suaminya karna dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk putra bungsunya itu.


...


Tak lama mereka selesai sarapan, Asa memutuskan untuk langsung pergi begitu halnya Akira dan Haru.


Mereka mengunakan mobil Haru dan Akira yang menyetir karna anak itu ingin bersama Asa yang duduk di sampingnya sementara Haru duduk di kursi belakang kayak orang jomblo padahal mah dia gak jomblo lagi karna punya Hasya kan.🗿


"Vila mu benar-benar dekat hutan Nagawasaki?"tanya Haru memastikan.


Asa hanya mengangguk sambil bermain ponselnya.


"Memang kenapa Haru?"tanya Akira.


Haru mengeleng.


"Aku hanya berpikir, di Jepang banyak hutan angker terutama salah satu hutan bunuh diri, dan kalau hutan ini...bukankah hutan itu sedikit terpencil?sama seperti hutan saat Hana pergi berkemah."ucap Haru.


"Aku mengerti tapi ya semoga aja perjalanan kita lancar."ucap Akira di angguki Haru.


Sedangkan Asa hanya diam memikirkan sesuatu.


...


Life is not like a novel, where we can repeat the first page whenever we want. In real life, when a story is no longer fun, starts to hurt, we can't repeat it from the first page anymore. But that's okay, because we can always create a new chapter, a new page. Always can.


Hidup ini tidak seperti novel, yang kita bisa mengulang halaman pertama kapanpun kita mau. Dalam kehidupan nyata, saat sebuah kisah tidak lagi asyik, mulai menyakitkan, kita tidak bisa mengulanginya dari halaman pertama lagi. Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat bab baru, halaman baru. Selalu bisa.

__ADS_1


__ADS_2