
Keesokan pagi.
Andre berjalan di koridor bersama si kembar tanpa memperdulikan pandangan orang lain kearah mereka, hal itu sudah biasa bagi mereka bertiga yang selalu menjadi pusat perhatian.
Siapa tau bukan jika seorang berandalan kampus ternyata memiliki pengemar diam-diam karna ketampanannya.
Tujuan Andre adalah rooftop kampus untuk melakukan rutinitasnya yaitu membolos.
Dan seperti biasa si kembar juga akan ikut membolos saat pelajaran pertama, tetapi begitu mereka sampai di sana Andre di buat binggung saat melihat pemuda yang di temui nya kemarin berada di rooftop bersama kedua temannya.
Si kembar yang berada di belakang Andre juga binggung melihat itu.
Namun tak dapat di pungkiri rasa aneh seperti menemui tantangan baru membuat mereka senang.
"Wah kalian bertiga berani sekali menginjakkan kaki di sini."pancing Andre.
"Hei! ini rooftop sekolah bukan tempat markas mu sendiri!"ucap Haru yang terpancing akan ucapan Andre.
Sudah Andre duga bahwa Haru adalah orang yang mudah terpancing dengan ucapannya.
"Andre kita harus berkerja sama!"ucap Akira tiba-tiba membuat Haru dan Asa menepuk jidat mereka sendiri.
"Berkerja sama?untuk apa?"tanya Andre binggung.
Akira menatap si kembar dengan tatapan polosnya.
Membuat Bisma mengigit pipi dalamnya menahan gemas melihat mata biru itu.
"Ini tentang buku benang merah itu, soal Gavin dan Kepala sekolah."ucap Akira.
"Maksud Akira adalah sebuah teror yang mengerikan bagi siapapun yang menemukan buku benang merah itu, dan kepala sekolah adalah penyebabnya."
"Teror apa?"
"Teror tentang kematian seseorang, Roy Marten hanya beruntung selamat."ucapan Akira membuat mereka terdiam.
"Apa kau mempunyai bukti kalau paman ku bersalah?"tanya Bisma.
Akira mengangguk, dia merogoh sakunya membuat Asa dan Haru binggung.
"Ini surat dan rekaman yang di berikan kepala sekolah pada Gavin."ucap Akira.
Dia memberikan rekaman dan kertas berwarna kuning karna telah lama di simpan kepada Andre.
__ADS_1
"Tunggu, dari mana kau mendapatkannya Akira?"tanya Haru penasaran.
"Gavin menyimpannya di rumah, dan saat itu aku kerumah Gavin dan bertemu dengan adiknya."
"Kau pergi ke rumah Gavin sendirian?!"ucap Haru tak percaya seolah terkejut.
Akira hanya mengangguk, dia lalu memandang kearah Bella.
"Dan aku tau kalau buku benang merah itu sekarang ada denganmu."ucap Akira menunjuk Bella membuat gadis itu tersentak.
"Aku tak menyangka kau bisa tau semuanya, awalnya kami akan berpihak pada paman kami tapi sepertinya ini hal yang jauh lebih menarik dari pada memihak siapa."ucap Bisma dengan senyuman tipisnya.
"Apa maksudmu?"tanya Asa.
"Kami akan membantumu Akira, tapi jika kau telah memenuhi permintaan kami."ucap Andre.
Haru menatap Andre curiga, sejujurnya dia bukan tipe yang mudah percaya akan tetapi saat ini semua keputusan berada di tangan Akira.
"Jadi apa itu?"tanya Akira.
"Kalian bertiga harus memenuhi tantangan kami, yaitu masuk ke dalam sekolah terbengkalai yang berada di belakang kampus kita."ucap Bisma.
"Oke."jawab Akira enteng membuat mereka semua melongo.
"Yak bocah!apa kau tak takut huh?"
"Aku sudah pernah melihat makhluk tak kasat mata, bahkan aku meminjamkan tubuhku pada Gavin, jadi untuk apa takut?itu hanya masalah kecil."ucap Akira.
Haru mengusap wajahnya kasar, temannya ini walaupun polos seperti bocah lima tahun tapi dia adalah pemuda yang cukup pemberani dengan hal-hal tak masuk akal itu, sedangkan Haru dia berani tapi takut jika berhadapan langsung atau di ganggu oleh makhluk halus yang bahkan tak bisa di lihatnya.
Katakan saja Haru itu penakut tapi tak mau mengakuinya, dasar tsundere!
Sedangkan Asa, kita tau pasti bahwa pusat dunia gadis itu adalah Akira.
Dia pasti tak akan menolak permintaan itu demi Akira.🤭
"Wah ternyata kau sangat pemberani Akira, aku tak menyangka nya....dan ya kesepakatan kita masih tinggal enam hari lagi, mungkin aku ingin membantumu."ucap Andre.
"Kesepakatan apa?"
Pertanyaan Haru membuat Akira terkekeh.
__ADS_1
Haru adalah teman yang menyenangkan, dia pemuda friendly dan ceria tapi di sisi lain setiap sifat karakter yang sempurna pasti ada satu hal kekurangannya.
Haru tak mampu mengendalikan emosinya hingga dia tak bisa keluar dari fase depresinya waktu itu, untung saja ada Akira.
"Tentu saja kesepakatan rahasia, kau masih ingat kan kalau aku cerita saat di kantin waktu itu."ucap Akira.
"Jadi kau memang berurusan dengan Andre?"
Melihat anggukan dari sahabatnya itu lagi-lagi membuatnya Haru menghela napas kasar, temannya yang satu itu memang penuh kejutan.
Pikiran yang mudah di tebak akan tetapi terkadang kejadian yang di alami pemuda bernama Akira itu akan selalu ada kejutan, Haru juga tak tau bahkan saat pertama kali mengenal Akira anak itu seolah seperti magnet yang menarik semua orang.
"Jadi kau meminta bantuan apa dariku?"
Pertanyaan Andre membuyarkan lamunan mereka.
"Aku hanya ingin buku benang merah, setelah itu aku janji semuanya akan kembali normal."ucap Akira.
Andre melirik kearah Bella, dan gadis itu seperti mengerti lalu merogoh tas ranselnya sendiri.
"Apa kau yakin Akira?"tanya Asa.
Bukan apa-apa, hanya saja gadis itu masih terlalu khawatir terhadap pacarnya.
Bagaimana jika sesuatu terjadi jika Akira menyentuh buku benang merah itu?
"Semuanya akan baik-baik saja Asa."ucap Akira pada Asa.
"Hei bocah aku memperingatkan mu untuk hati-hati pada pamanku karna dia adalah orang yang sangat licik."ucap Bella sambil memberikan buku itu pada Akira.
Akira lalu menerimanya, sejenak dia menatap buku benang merah yang kini berada di tangannya lalu tersenyum.
"Sudah aku bilang kan?tidak terjadi apa-apa."ucap Akira pada dua temannya.
"Benarkah?kau tidak merasakan apapun?"ucap Haru penasaran.
"Aku harus mengurus sesuatu dulu, jika benang merah ini di potong maka semua teror itu akan musnah dan menghilang, aku yakin kalau kepala sekolah sudah mendapat karma atas perbuatannya sehingga dia tak berkutik saat ini, kebenaran ini memang tak pernah terungkap tapi seiring berjalannya waktu sebuah perbuatan buruk akan berbalik membalas pada orang yang telah berbuat, seperti pepatah seseorang yang menyimpan bangkai pasti akan tercium bau busuknya pula."
...
"A friend cannot be called a friend until he is tested in three circumstances: 1) When you need him, 2) How he behaves behind your back, and 3) How he behaves after your death."
“ Seorang teman tidak bisa disebut sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga keadaan: 1) Pada saat kamu membutuhkannya, 2) Bagaimana sikap yang ia tunjukkan di belakangmu, dan 3) Bagaimana sikapnya setelah kematianmu.”
__ADS_1