
"Jio menurutmu aku seperti apa?"tanya Akira tiba-tiba membuat Jio heran.
Bukankah kakaknya mau tidur?
Tak mendapat jawaban dari sang adik membuat Akira duduk dari rebahannya dan menatap Jio.
"Kau seperti matahari."
"Kenapa matahari?"
"Entahlah hanya..."
"Hanya apa?"Akira makin penasaran karna Jio memotong ucapannya sendiri.
Jio terkekeh melihat raut penasaran kakaknya.
"Sekarang aku tanya bagaimana aku menurut kau?"
"Tapi kan Jio belum menjawab pertanyaanku!"rengek Akira.
"Nanti aku jawab setelah kau menjawab pertanyaanku."ucap Jio.
"Baiklah kalo kata Jio aku matahari berarti Jio seperti bulan."
"Bulan?"
"Ya!yang bersinar terang dimalam hari dan menjadi ciptaan tuhan yang sangat indah ditengah malam."
Jio tertegun.
"Kalau kau adalah matahariku,yang bersinar dan mewarnai hariku di dunia."
"Ah Jio so sweet sekali,apa kau sudah punya pacar?"tanya Akira penasaran membuat Jio binggung.
"Tidak."
"Kenapa?kan Jio ganteng!"
"Aku tidak tertarik melakukan hubungan itu,aku masih fokus belajar dan menjaga seseorang yang tulus menyayangiku kelak."
"Huh? seseorang?!"
"Kak..."
"Hm?"
"Jangan pernah tinggalkan aku,karna ketika bulan kehilangan mataharinya maka bulan tak akan pernah muncul dimalam hari karna dia tak bisa bersinar terang tanpa mataharinya."
"Jio..."
"Aku akan melindungimu darinya,percayalah padaku!dia tak akan membawamu lagi."ucap Jio.
__ADS_1
"Tapi Jio akan terluka!aku tak mau melihat Jio terluka..."ucap Akira.
"Tenang saja,jika kau tak bisa melihatku terluka didepanmu maka aku akan tetap melindungimu dari belakang karna aku lebih baik terluka ketimbang kehilangan seseorang yang ingin kujaga selamanya karna aku akan menyesal seumur hidup jika tak menjaganya dengan baik."
"Jangan bicara seperti ini,kumohon...."Akira ingin menangis tapi dia tahan, Jio yang mengerti lalu mengusap-ngusap punggung Akira untuk menenangkan kakaknya itu.
"Maaf membuatmu sedih dan sakit hati tapi aku ingin berbicara jujur dan mengungkapkan segala perasaan yang kurasakan saat ini,jadi tolong kak jangan menyembunyikan sesuatu yang bahaya dan itu menyangkut dirimu.Aku selalu gelisah,aku tidak bisa tidur,dan aku selalu mencemaskanmu,kadang aku bertanya pada diriku sendiri kenapa disekian banyaknya orang selalu kau yang menjadi target orang-orang egois seperti mereka?
Dia juga orang jahat!padahal kakakku orang yang baik dan tulus,kebaikan yang ia lakukan tanpa sadar menjadi bumerangnya sendiri karna itu aku takut...
Aku takut suatu saat tak bisa melihatmu atau bertemu denganmu.Hatiku mati karna tak sanggup kehilanganmu karna aku akan menjadi orang yang berbeda jika tak ada dirimu.Setiap malam saat aku memandang wajah kakakku aku selalu berdoa dan berharap dia selalu sehat,aku bersyukur karna bunda menghadirkannya kedunia untuk menemaniku,kau yang pertama kali membuatku tertawa dan sedih dan kau adalah orang pertama yang kusayangi sepenuh hati lebih dari orang tua kita.
Mungkin emosi ini juga darimu karna dulu aku selalu tertutup dan tak bisa mengeluarkan emosi apapun tapi kau telah merobohkan dinding besar tak kasat mata itu,dan aku kalah...sekarang aku merasa sangat membutuhkanmu dan ingin melindungi dari orang-orang jahat disana.Oleh karna itu aku ingin menjadi kuat dan dewasa untuk kakakku...bernama Akira....."
Pecah sudah tangis Akira setelah mendengar ucapan yang begitu tulus dan segala keluh kesah yang adiknya pendam selama ini.
Dia langsung memeluk adiknya begitu erat begitu halnya Jio yang juga meneteskan air matanya lalu mencium kening kakaknya.
Sebenarnya dia juga tau kegelisahan Jio selama ini,oleh karna itu adiknya selalu protektif menjaga pertemanannya sehingga hanya Asa dan Haru yang menemaninya saat dia ingin pergi keluar atau saat belajar.
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa kebaikan yang dibalas entah itu keberuntungan atau kesialan selalu menimpa hidupnya,sebagai anak pertama akira berjanji ingin menjaga keharmonisan keluarganya akan tetapi tentu tanpa Jio dia tak bisa melakukannya sendiri dan dia bukan siapa-siapa walaupun semua orang mengenalnya.
Karna tak ada yang tau kelemahanmu kecuali dirimu sendiri atau keluargamu.
Tok tok tok!
Mendengar suara pintu kamar diketuk Jio lalu melepaskan pelukan kakaknya.
"Jangan menangis...aku sedih jika melihat air matamu...kau tampak jelek!"ucap Jio sambil terkekeh melihat pipi dan hidung Akira yang memerah.
"Ya..."
Jio lalu beranjak dari sana dan membuka pintu kamar mereka.
"Lho bunda kenapa?"
"Lama sekali bunda kira kalian berdua tidur,oh ya suruh kakakmu kebawah tadi ada tamu yang ingin bertemu kakakmu katanya."
"Tamu?"
"Iya."
Perasaan Jio mulai tak tenang saat mengetahui siapa tamu itu.
...
Disisi lain.
"Asa kamu mau kemana?"tanya sang bibi melihat putrinya itu turun dari tangga dengan pakaian rapi.
"Kerumah Akira."
__ADS_1
"Oh...eh sebentar!bibi bikin kue kamu bawa ya ketetangga kita."
Melihat bibinya kedapur Asa lalu duduk disofa untuk menunggu bibinya.
"Akira....aku merindukanmu."ucapnya sambil memandang kearah bingkai kecil diatas meja.
Didalam foto itu ada tiga anak kecil yang saling bergandengan tangan dan tersenyum bahagia,foto itu ia ambil saat paud.
Bersama Akira kecil yang mengemaskan dan Haru kecil yang keras kepala.
...
"Ada kepentingan apa anda kesini?"tanya Jio sinis setelah bundanya pergi menghidangkan teh untuk tamunya.
Disana ada Akira dan Jio ditambah seorang yaitu seorang pria berbadan atletis bernama Alex itu membuat Akira terkejut karna kedatangannya yang tiba-tiba.
"Kepentinganku?adalah apa yang ku mau saat ini dihadapan ku.Akira ikut denganku!"ucap Alex tegas tanpa ada nada bantahan membuat Jio berdecih tak suka.
Lain halnya Akira yang gugup dengan aura dua orang itu hingga dia memainkan jarinya sendiri.
"Kau tak berhak untuk mengatur kakakku!"
"Oh ya?apa aku harus merebut hak asuhnya sekarang karna dia menjadi anak angkatku?"
"Kau!"
Jio berdiri karna emosi membuat Akira yang berada disampingnya terkejut dan langsung memeluk lengan adiknya yang tampak mengepal ingin meninju wajah angkuh Alex.
"Akira tidak mau ikut om,tapi...perjanjian itu..."
"Lupakan perjanjian itu,kau tak boleh ikut dengannya!"sentak Jio menatap kakaknya.
"Ayolah aku hanya meminjamnya sebentar bukan untuk selamanya bukan?"
"Kakakku bukan barang ingat itu!bahkan walau kau menyita perhatiannya semenit saja aku tak sudi!"
"Posesif sekali....ah rupanya kita memiliki sifat sama,bagaimana kalau aku merebutnya untuk selamanya?"ucap Alex tiba-tiba mengeluarkan revolver dan membuat kedua anak itu terkejut.
Akira menatap takut karna Alex menodongkan pistol itu tepat dihadapan Jio adiknya.
"Tidak...jangan...tolong..."ucap Akira dengan nafas yang mulai tak beraturan.
Dia memegang dadanya erat.
"Kakak!"ucap Jio panik melihat asma kakaknya itu kambuh.
Dia menatap tajam kearah Alex.
"Ini semua gara-gara kau!"
"Oh ya?sepertinya begitu..."
__ADS_1
Dorr!!!
"TIDAK!!!"