The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Sebuah petunjuk


__ADS_3

"Saat kecil aku pernah merawatnya karna para pengurus tidak ada yang mau mengurus anak penyakit mental sepertinya, Devan adalah anak yang sensitif jadi dia mudah menangis dan marah pada orang lain. Aku ingat waktu dia bermain di taman teman-temannya yang lain tidak ada yang mau bermain dengannya malah mereka terkesan cuek dan menjauhi Devan. Aku sangat sedih melihat anak itu hingga suatu ketika ibu panti memanggil nya dan aku mengantarnya di sana kami berbicara soal asal usul Devan.


Ibu panti mengatakan kalau saat itu dia menemukan Devan di depan minimarket di dalam tas besar, kedua orang tuanya rupanya tak menginginkan dan ingin membunuh anak itu karna cacat tapi ibu panti menyelamatkan hidupnya."


"Jadi dalam tas itu...tunggu mereka memasukan bayi ke dalam tas besar itu!"ucap Akira terkejut melihat anggukan kepala wanita itu.


"Aku juga menemukan beberapa barang, ku pikir akan berguna menyimpannya jika orang tua Devan kembali mengambil putranya tapi itu hanya angan-angan bodohku. Sebentar aku akan mengambilnya..."


Setelah Nia pergi, Haru langsung berbisik pada teman-temannya.


"Tapi bukannya insiden kebakaran itu sudah lama terjadi?kenapa alasan pemilik panti menutup panti itu seperti ada yang janggal."


Pertanyaan Haru membuat mereka termenung.


"Mungkin kau benar, mereka sengaja menutupi sesuatu tapi yang pasti panti itu benar-benar telah bangkrut dan katanya anak-anak di pindahkan ke tempat yang lebih layak."


"Ku pikir dulunya panti itu memang tak layak bagi anak-anak, saat aku bertemu Devan pertama kali dia terlihat sangat kurus dan pipi nya tirus."


"Tapi katanya Devan itu memang tak di pedulikan oleh orang-orang di sana."


Mereka bertiga merasa setuju dengan pemikiran mereka masing-masing.


...


Tak lama Nia kembali membawa tas besar berwarna coklat, entah apa yang ada di dalam tas itu katanya semua barang itu dulu dimiliki Devan saat ia di telantarkan di depan panti dengan tas coklat itu.


"Boleh aku membukanya?"tanya Asa.


Nia hanya menganggukkan kepalanya.


Asa lalu melirik kearah dua temannya seolah memberikan kode agar mereka bertiga saling mendekat untuk melihat sesuatu di dalam tas coklat itu bersama.


Dan saat tas itu di buka....mereka melihat banyak sekali barang berupa pakaian, bingkai tapi tak memiliki foto, alat-alat bayi yang terlihat baru, dan hal yang menarik adalah sebuah kalung berinisial S.


"Kalung ini milik Devan?"tanya Haru, tetapi wanita paruh baya itu diam karna dirinya sendiri tak mengetahui apa-apa tentang asal usul Devan sebenarnya.


Namun ketika Akira menyentuh kalung itu, tiba-tiba kedua matanya terpejam dan ia mendapat penglihatannya.


"Kau kenapa?"tanya Nia yang binggung dengan sikap aneh Akira juga dua temannya yang sedikit terkejut.

__ADS_1


"Aku...melihat seseorang."


"Siapa?"tanya Asa.


"Kau baik-baik saja kan?"tanya Haru dengan ekspresi khawatir.


Akira mengangguk, dia lalu menjelaskan tentang apa yang ia lihat.


"Aku melihat seorang pemuda dan wanita tua, waktu Asa memperlihatkan foto Devan aku tau dia karna mengingat wajahnya jadi pemuda dan wanita itu telah bertemu Devan dan kini bersamanya.


Tampaknya kedua orang itu berada di masa lalu Devan dan ada sebuah hubungan yang sangat erat ..seperti.....


ikatan... persaudaraan?"


"Huh?apa Devan dulunya bukan anak tunggal?"


"Sepertinya begitu, kita belum tau semua tentangnya."


"Maafkan aku karna tak bisa banyak membantu kalian, ku harap kalian bertiga segera menemukannya, aku yakin saat ini keadaannya baik-baik saja."ucap Nia membuat Haru menatapnya aneh.


"Kau berbicara seperti itu seolah tau apa yang di alami sekarang bukan hanya di masa-masa panti. Katakan padaku?apa alasan sebenarnya panti itu bangkrut?"


Skakmat!


"Bisa ku tebak kau dan pemimpin panti itu menyembunyikan rahasia besar, aku juga tak tau tapi percuma kalau kami terus memaksamu karna kau pasti tak akan memberikan jawabannya, jadi kami akan mencarinya sendiri dan kami akan menemukan Devan bersembunyi sekarang."


Pemuda berahang tegas itu mengucapkan perkataan dengan nada mutlak, tanpa yang lain ketahui bahwa Haru tengah menantang wanita itu untuk membongkar rahasianya dan bisa jadi Nia menangkap umpannya karna meski kejahatan telah bersembunyi selama ribuan tahun masih ada bau yang tercium dari jarak jauh bahkan singa yang kehausan masih sanggup berjalan bermil-mil demi mencari sumber mata air.


Dan hal itu membuat Nia tampaknya makin gelisah, karna meski rahasia itu masih tersimpan rapat tapi suatu hari ada seseorang yang datang membuat ia harus mengungkapkannya.


Dirinya sudah menerima resiko untuk ikut dalam jeruji besi namun ada janji yang harus ia tepati.


Bagaimana pun janji itu adalah sumpah setia, walau seseorang yang berjanji tak melihat tetapi semua dunia mengetahui ibarat kapan gerhana tiba-tiba terjadi.


Janji yang salah, mengikat seseorang dalam kegelapan membutakan warna terang...


Sayangnya wanita paruh baya itu adalah salah satunya.


...

__ADS_1


"Dia tetap kukuh tak mengatakan apapun pada kita."


"Biarkan saja, kita juga bukan seseorang yang selalu berpegang teguh pada pendirian masing-masing."


Ucapan Akira ada benarnya, meski manusia terlahir mempunyai akal akan tetapi hati dan otak manusia terkadang bertentangan, hal itu membuat pertanyaan dimana sebenarnya letak nurani atau di namakan kebaikan murni?


Ada orang jahat menjadi baik, ada orang baik bisa menjadi jahat.


Itu tergantung niat dan pengaruh lingkungan mereka, maka dari itu tidak ada yang sempurna di dunia fana ini.


"Akira katamu kau mendapat penglihatan saat menyentuh kalung itu, apa kau mengingatnya dengan jelas?"tanya Asa membuat Haru penasaran.


Sementara itu Akira menghela napas kemudian menatap satu persatu temannya.


"Kupikir....aku masih mengingatnya dengan detail."


"Itu hebat!"


Akira berdecak sombong.


"Aku sudah seperti tokoh pahlawan di Marvel bukan?"


"Yak bukan berarti kau mempunyai kekuatan bisa melihat masa depan kau bisa menjadi pahlawan seperti mereka."


"Bilang saja kau iri padaku."ucap Akira dalam mode tengilnya.


Haru mendengus, ada-ada saja pemikiran random temannya itu tapi kenapa dia juga membalasnya?malah dua pemuda itu sekarang asik membahasnya soal pahlawan favorite mereka.


Asa yang melihatnya hanya terkekeh kecil sambil mengelengkan kepalanya, dua temannya itu seperti kembali menjadi bocah ketimbang orang dewasa. Lihat saja karna sifat mereka berdua kini tak mencerminkan pemuda matang di usia sepatutnya.


Tiba-tiba Haru berceletuk di tengah topik tokoh marvel mereka.


"Akira kalau kau mempunyai kekuatan telepati alias bisa membaca pikiran orang lain maka itu sangat keren dan aku akan mengakui kalau kau menjadi pahlawan terhebat lebih hebat dari pada pahlawan marvel."


Mendengar itu entah kenapa Akira terdiam, pemuda bermata biru safir itu menatap kearah Asa.


"Sebenarnya...


Aku bisa melakukannya."

__ADS_1


"......."


"APA!!!"


__ADS_2