The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Saksi itu adalah Asa


__ADS_3

Setelah selesai ketiganya langsung pergi kestudio Akira.


Awalnya Haru menolak karna masih mengurus restoran namun karna tak mau temannya itu merajuk jadi dia menelpon asistennya untuk menghandle semuanya.


Clek!


Bersama suara pintu yang terbuka ketiga orang yang berada di luar itu masuk.


"Studiomu tak pernah berubah, apa kau tak ingin merubah dekorasinya sedikit sesuai fansionmu itu?"ucap Haru yang baru masuk langsung mengomentari.


Sementara Akira memutar bola matanya malas lalu duduk di sofa panjang yang ada di sana diikuti Asa yang berjalan di belakangnya tadi.


Melihat temannya itu mengacuhkannya membuat Haru sedikit kesal dia lalu duduk di kursi yang biasa Akira duduk setelah mengambil menuman dingin di lemari dingin dalam studio Akira.


Ya studio anak itu memang di lengkapi ruang bersantai kecil selain alat musik, jika hal itu biasanya membuat ruangan penuh alias berantakan tapi studio Akira sangat berbeda, justru studio Akira menjadi rapi dan nyaman.


Maka tak heran jika anak itu betah menginap di ruangannya sendiri karna ada ruangan lain untuk tempat tidur dan beberapa cemilan atau makanan di kulkas yang biasanya di siapkan oleh Jio, keluarganya anak itu sangat melarangnya untuk makan-makanan cepat saji oleh karna itu Akira jarang memesan makanan.


"Akira aku ingin bertanya."


"Bertanya apa?"


"Apa Jio pernah ke studiomu."


"Pernah tapi hanya beberapa kali saja saat anak itu mengantar bekal makanan."


"Wah adikmu dari dulu memang sangat perhatian, berbeda dengan adik perempuan ku Hana dia mulai sibuk dengan teman-teman dan sering kali boros shopping."


"Kau juga."timpal Akira."


"Aku tidak, aku temanmu yang paling hemat tau."


"Oh ya apa kau lupa kau kemaren memberi laptop terbaru padahal kau punya tiga laptop."tanya Akira membuat Haru kicep.


"Kakak sama adik tidak jauh bedanya."lanjut Akira.


Haru lalu mengangkat tangannya pertanda dia menyerah kemudian ekspresi nya kembali serius.


"Jadi bagaimana kita membantu para polisi itu?soal pemuda tentang Arsa...."ucap Haru.


"Kita harus menemukan saksi kejadian itu, apa malam ini kita pergi ke bar sana untuk memastikan sesuatu?"tanya Asa.


"Itu ide bagus, tapi terlalu beresiko jika penculik itu masih ada disana, bukankah kita nanti terlihat mencurigakan sekali?"ucap Haru.


"Intinya jangan sampai ketahuan, sebaiknya kita menyamar."ucap Akira mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


Mereka bertiga terdiam seolah-olaj hanyut dalam pikiran masing-masing, sampai Asa bersuara membuat Akira menyimak penuh perkataannya.


"Sepertinya aku pernah menjadi saksi penculikan."


"Apa!"


...


Flashback on.


Malam hari itu Asa pulang seorang diri setelah dia membeli beberapa buku untu refensi menulisnya.


Hingga sampai dia di pertigaan jalan.


Tanpa sengaja dia melihat suilet seseorang yang berjalan tak jauh darinya.


Namun tiba-tiba ada mobil hitam mencegah seseorang itu dan keluar beberapa pria berbadan besar lalu membekap mulut pemuda itu dengan kain hingga pemuda itu pingsan dan di gotong kedalam mobil.


Asa yang melihat itu memandangnya datar tapi jauh dari hati dia terkejut dan khawatir.


"Astaga apa yang harus kelakukan?mereka sudah sangat jauh apa aku harus menelpon polisi?tapi bagaimana jika polisi tak percaya padaku karna hanya aku yang melihat kejadian itu semua."gumam Asa.


"Sepertinya penculik itu hanya mengincar remaja tapi apa motif mereka hanya itu?aku melihat tato mawar di setiap lengan pria berbadan besar itu.


Pasti ada sebuah organisasi tersembunyi dan aku baru saja menjadi saksinya..."


...


"Mereka memakai tato mawar?"tanya Haru binggung.


Asa hanya mengangguk kepala lalu menatap Akira yang tengah berpikir.


"Kau benar, jika penjahat itu berkelompok pasti mereka juga mempunyai organisasi rahasia.


Kita sudah menemukan satu petunjuk tapi Asa apa kau masih ingat lokasi pemuda itu di culik dan mobil itu mengarah kemana?"tanya Akira seperti detektif Conan.


"Malam itu aku melihatnya tak jauh dari bar, jalan pemuda itu juga sempoyongan sepertinya dia habis mabuk dan ingin pulang, soal mobil sedan itu dia mengarah ke jalanan kecil seperti memasuki gang kiri di samping bar.


Setelah itu aku tak melihatnya, maafkan aku seharusnya aku mengejar atau membuntuti mereka namun karna terlalu kalut aku jadi sedikit bodoh."ucap Asa menyalahkan dirinya.


Akira mengeleng lalu menepuk kepala gadis itu.


"Wajar saja jika kau masih shock, itu bukan salahmu Asa."ucap Akira lembut.


"Ehem!hei bisakah kalian tak berpacaran saat membicarakan pembicaraan serius."ucap Haru karna setiap kali kedua temannya itu bersama dia seolah-olah menjadi obat nyamuk di sana.

__ADS_1


Akira memandang binggung Haru sedangkan Asa gadis itu menunjukkan ekspresi datarnya seolah tak peduli.


"Haru..."


"Hm?"


"Apa kau masih belum bisa melupakan Marsha?"


Pertanyaan Akira membuat Haru diam seribu bahasa.


Sementara Asa sedikit terkejut dengan keberanian Akira menanyakan hal itu pada Haru.


"Kau tau teman, kau telah kehilangan dua orang yang paling kau sayangi tapi kau masih mempunyai kami.


Aku tidak ingin melihatmu murung atau sedih seperti dulu itu sangat menyakitkan Haru....."ucap Akira.


"Apa maksudmu?menyakitkan mana orang yang merasakan di banding seorang yang hanya melihatnya?"ucap Haru tak mengerti.


"Kau tau Haru, kau adalah temanku kita sudah berteman dari kecil dan aku sangat mengenalmu begitu juga denganmu yang mengetahui semua tentang ku.


Ada pepatah kalau soulmate itu satu jiwa yang berada di dalam dua tubuh, karna itu aku juga merasakannya....


Emosimu...


Itu sangat buruk."ucap Akira membuat Asa binggung tapi tidak dengan Haru.


Haru merasa tersentak mendengar perkataan Akira.


Sebegitu berharganya ternyata dia bagi Akira walau mereka berdua hanya teman.


Dan rupanya Akira merasakan hal sama dengannya.


Bagaimana bisa?


Mungkin itu hal yang sulit di jelaskan.


...


The universe gave each of our souls a twin, which is a reflection of our own soul. No matter how far these souls are separated, they will always find their way to each other.


I would describe a soulmate as a 'soul nurturing partner'. One who nourishes your soul, thereby promoting insight and growth.


A Soulmate is someone who, when you meet, without thinking, without letting your neocortex play a role in the decision; you feel an instant familiarity, a sense of connection, a longing.


Alam semesta memberi setiap jiwa kita kembar, yang merupakan cerminan jiwa kita sendiri. Tidak peduli seberapa jauh jiwa-jiwa ini dipisahkan, mereka akan selalu menemukan jalan satu sama lain.

__ADS_1


Saya menggambarkan soulmate sebagai 'pasangan yang mengasuh jiwa'. Seseorang yang memelihara jiwamu, dengan demikian meningkatkan wawasan dan pertumbuhan.


Soulmate adalah seseorang yang, ketika kamu bertemu, tanpa berpikir, tanpa membiarkan neokorteks-mu berperan dalam pengambilan keputusan; kamu merasakan keakraban instan, rasa koneksi, kerinduan.


__ADS_2