The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Tanda bintang


__ADS_3


Pemuda itu terus menatap kearah cermin di mana di sana ada pantulan wajahnya yang memucat entah kenapa.


Tapi perhatiannya atau fokusnya lebih tertuju pada tanda di belakang daun telinganya.


Dia merasa sedikit resah.


Sudah berbagai cara dia ingin menghilangkan tanda itu tapi tetap saja tanda itu masih melekat persis tato pada umumnya yang sulit di hilangkan bahkan bekasnya.


Akira menghela napas, dirinya tak tau kenapa akhir-akhir ini tubuhnya menjadi lemas dan cepat lesu, soal asmanya juga tidak kambuh tapi kenapa...


"Aw..."


Tiba-tiba dia meringis saat merasakan sesuatu yang panas menyentuh telinganya.


Tapi ada hal yang tak kalah mengejutkan dan membuatnya sedikit shock.


Mata biru pemuda itu membulat saat melihat pantulan dirinya dalam cermin baru saja bergerak sendiri.


Itu sangat berbeda.


Tunggu...


Itu tadi...


Apa?


Jangan-jangan itu halusinasinya karna dia melihatnya hanya sekilas.


Tok tok tok.


Ketukan pintu membuat Akira tersadar dari lamunannya, mata biru yang semula tajam menatap ke arah cermin berubah teduh dan polos.


Dalam hati dia berkata


'Mungkin belum waktunya...'


Entah apa maksudnya.


...


Clek!

__ADS_1


"Kau lama sekali kak."ucap Jio yang berdiri di hadapannya dengan handuk yang tersampir di bahu kirinya.


"Kau mau mandi?ayolah Jio ini sudah malam nanti badanmu sakit."nasehat Akira.


"Badanku terlalu lengket karna aku habis latihan basket, tenang saja aku mandi pake air hangat kok kau tidur saja dulu."jawab Jio langsung menyelonong masuk setelah kakaknya itu keluar.


"Anak itu memang....sebenarnya siapa kakak dan adik sih?"gumam Akira binggung.


Tapi dia juga tak terlalu memperdulikan, baginya Jio adiknya yang selalu baik dan perhatian padanya.


Dia jadi semakin menyayangi adiknya itu.


Setelah mengganti pakaian dengan sweater dan celana biru yang senada dengan sweater nya itu Akira mendudukkan dirinya di meja belajar Jio.


Dirinya masih belum mengantuk.


"Aku tidak mengerti kenapa sekarang aku mudah melupakan sesuatu, tapi anehnya itu dari masa laluku."ucapnya berbicara sendiri.


Dengan menopang dagu di meja dia menatap kearah bingkai foto yang ada di atas meja belajar Jio.


Di sana foto dua anak kecil yang saling merangkul satu sama lain, jika satu tersenyum sangat manis dengan binar bahagia di matanya maka satunya nyaris tak tersenyum dan menatap serius ke arah kamera.


Akira jadi terkekeh mengingat ayahnya dulu yang memaksa Jio berfoto tapi anak itu selalu menunjukkan wajah datarnya.


Tatapan Jio juga selalu tajam dan mengintimidasi hingga membuat orang lain salah paham.


Terkadang dia juga binggung kenapa sifatnya tak sama dengan Jio, bahkan beberapa orang sering mengatakan mereka berdua seperti kakak adik yang memiliki perbedaan besar dalam kepribadian seperti kebalikan.


"Dia dari dulu tak pernah berubah, adikku memang berbeda dengan yang lain, ya dia selalu nyaman pada zonanya dan hanya aku yang bisa memasuki zona itu hingga membuat beberapa orang mungkin tak menyukainya, tapi dia adalah adikku dan aku akan tetap menyayanginya sebagai seorang kakak...."


Clek!


"Kak kenapa kau belum tidur."tanya Jio heran melihat kakaknya itu duduk di meja belajarnya.


"Aku hanya belum mengantuk..."jawab Akira seadanya.


Setelah Jio menganti pakaiannya bedanya dengan kaos putih dan celana pendek berbeda dengan sang kakak yang selalu memakai pakaian hangat di malam hari.


Dia lalu mendekati sang kakak dan menyerahkan handuknya.


"Tolong keringkan rambutku."


"Baiklah aku duduk di atas kasur dan kau duduk di bawah karpet ya."

__ADS_1


Jio menuruti ucapan Akira.


Dia lalu duduk di atas karpet tebal sambil bersandar di tepi ranjang sementara Akira duduk di atas ranjang itu lalu mengeringkan rambutnya mengunakan handuk kering itu.


"Jio menurutmu bagaimana jika aku menjadi jahat?"


Tiba-tiba di tengah keheningan itu Akira melontarkan pertanyaan yang cukup aneh.


"Apa kau bosan menjadi baik?"tanya Jio balik bertanya.


Dia tau kok kakaknya itu memang orang yang paling baik, dia selalu mendahulukan orang lain di banding dirinya sendiri dan hal itu membuat Jio kagum pada kakaknya tapi di sisi lain dia juga membencinya.


"Kau membenciku karna aku terlalu baik kan?"ucapan Akira membuat Jio tersentak, dia menoleh sedikit melihat wajah kakaknya.


"Aku menyukaimu, segala apa yang ada dalam dirimu termasuk matamu itu yang selalu melihat seseorang dengan tulus dan polos.


Hal itu membuat orang lain nyaman dekat denganmu tanpa kau sadari dan jujur saja aku membencinya.


Jika kakakku baik maka aku akan mengikutinya dan kalau kakaknya buruk aku juga akan mengikuti karna aku ingin selalu bersamamu tak peduli kau melakukan kejahatan atau kebajikan.


Ya hanya kaulah segalanya bagiku."


"Tapi Jio bukankah kejahatan itu sesuatu yang sangat buruk, aku selalu melakukan hal baik tapi entah kenapa sesuatu itu makin membosankan."


"Aku tau dirimu masih berusaha berada di dalam cahaya tapi tak taukah kau bahwa sedikit keluar dengan untuk melihat kegelapan adalah hal yang paling menantang dan membuat kita merasakan suasana yang berbeda. Kak kita memang di ajarkan menjadi orang baik tapi sedikit menuruti ego itu tidak apa-apa karna sebagian manusia lebih egois dari seseorang yang munafik."


Ucapan Jio di resapi oleh Akira, dia tau adiknya pernah berada dalam kegelapan itu dan dialah yang mengeluarkannya tapi bagaimana jika karakter protagonis menjadi antagonis untuk sebentar.


Bukankah karakter protagonis tidak selalu baik dan antagonis tidak selalu jahat.


"Ini sudah malam lebih baik kita tidur."ucap Jio berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, entah kenapa dia merasa tak nyaman jika berbicara seperti ini pada kakaknya.


Bukannya dia ingin membawa pengaruh buruk pada kakaknya tapi dia hanya mengingatkan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan dan egois untuk kebaikannya sendiri.


Tapi ucapan Akira selanjutnya membuatnya sedikit tak percaya dengan apa yang di katakan kakaknya itu.


"Jio mulai hari ini tolong ajari aku mengenal apa itu kegelapan ya, sepertinya aku sangat tertarik, aku memang tak bisa menjadi sepertimu tapi aku bisa melakukannya dengan karakterku sendiri." ucap Akira sambil menyeringai.


...


The person you think is stupid and insignificant is someone who has come from God, who may learn happiness from sorrow and knowledge from darkness.


It would be a mistake to think that horror is always associated with darkness, silence and solitude. Everything has magic even darkness and silence.

__ADS_1


Orang yang kamu pikir bodoh dan tidak penting adalah seseorang yang datang dari Tuhan, yang mungkin mempelajari kebahagiaan dari kesedihan dan pengetahuan dari kegelapan.


Adalah suatu kesalahan jika menganggap horor selalu terkait dengan kegelapan, keheningan, dan kesendirian. Segala sesuatu memiliki keajaiban bahkan kegelapan dan kesunyian.


__ADS_2