
Pernah bermimpi buruk?
Mimpi menyeramkan, biasanya selama fase tidur REM, yang bersifat normal dan umum pada anak-anak usia di bawah 10 tahun. Juga dapat terjadi pada remaja dan orang dewasa.
Intinya jika dia cari tau fase dimana kita tidur itu seperti pemutaran film awal bioskop mengunakan roll adegan film yang di putar.
...
Seorang pemuda memasuki sebuah rumah minimalis itu dengan pandangan kosong.
Di genggaman tangan kirinya terdapat sebilah pisau yang siap menusuk siapapun.
Sweater putih milik pemuda itu terdapat noda merah entah dari mana asalnya, rambutnya basah dan wajahnya begitu datar dengan tatapan tanpa jiwa.
Dia seperti di kendalikan oleh sesuatu dan berjalan terus ke dalam rumah itu, hingga saat ia berdiri di depan pintu terdengar teriakan seseorang dari dalam.
"Akira..."
Bersamaan suara lirihan serta ringisan itu menyapa indra pendengarnya, tatapan yang semula kosong berubah tajam.
Wajah itu menjadi marah.
Sambil mengengam kuat pisau di genggamannya Akira langsung mengejar sosok wanita yang tengah bersimpuh di atas lantai karna luka yang belum mengering di kaki kanannya.
Sedangkan wanita itu mencoba berdiri walau dengan susah payah dan berlari dari Akira untuk menghindari pemuda yang akan membunuhnya malam ini.
"Maafkan aku Akira maafkan aku...kumohon ampuni nyawaku!"ucap wanita itu tertahan seperti gumaman berkali-kali.
Ringisan juga keluar dari bibirnya saat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh sebelum mencapai tangga.
Akira yang melihat itu tanpa ada rasa iba pun hanya menatap datar akan hal itu.
Apa yang di alami wanita itu adalah sebuah dosa, dan Akira mencoba menghentikan dosa itu apa itu salah?
Ya dengan cara menghakimi seseorang.
Langkahnya perlahan mendekat kearah wanita itu.
Sementara wanita itu sudah kembali pasrah apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
"Asa..."ucap Akira sangat pelan tapi masih di dengar oleh wanita itu.
Kini pemuda itu berada tepat di hadapan wanita itu, dengan perasaan marah Akira mencengkram rambut wanita itu.
"Aku akan membunuhmu...aku akan membunuhmu."ucapnya.
Sayangnya wanita itu sudah menyerah untuk memberontak karna rasa sakit pada tubuh dan hatinya.
Detik selanjutkan Akira mengarahkan pisau itu ke ujung kepala wanita itu hingga darah segar tiba-tiba keluar dan mengalir banyak sehingga mengotori lantai yang semula putih.
Dia melakukan berkali-kali tanpa ada berlawanan dari korbannya, sementara sang korban berteriak keras dengan suaranya yang mulai serak dan tak terdengar teriakan lagi karna dia telah mati.
Di balik dinding seseorang menyaksikan hal itu semua, dengan tatapan tak percaya serta isakan yang tertahan karna dia menutup mulutnya sendiri dia memandang kecewa kearah pemuda yang ia anggap sebagai sahabatnya.
__ADS_1
"Sudah cukup untuk bersembunyi Haru..."tiba-tiba suara Akira berubah dingin bersamaan tatapan kejam mengarah pada pandangan mereka yang bertemu.
Hal itu membuat Haru tersentak sekaligus ketakutan.
Kedua kakinya melemas hingga dia kini bersimpuh di lantai memandang kosong kearah genangan wanita yang barusan di bunuh oleh Akira.
Setelah selesai dengan urusannya, langkah Akira kini berjalan kearah pemuda yang tengah bersimpuh di lantai tanpa pemuda itu sendiri sadari.
Saat Haru memandang genangan merah itu tiba-tiba pandangan mendapati dua sepatu di depannya, kini dia menjadi sangat terkejut karna Akira sudah berada di hadapannya dengan tatapan kosong dan dingin.
Tidak ada ekspresi atau senyuman di wajahnya.
Hanya datar.
"Kenapa...kenapa kau melakukan ini?apa salah kami berdua Akira?kita adalah sahabat...kenapa kau tega melakukannya bahkan pada orang yang kau cintai!"
Bentak Haru muak dengan sikap Akira.
Dirinya tak mengerti karna semua itu terjadi begitu saja.
Membingungkan tapi sekaligus mengejutkan.
Kejadian ini tak pernah terbayang dalam hidupnya sekalipun.
Akira...
Sahabatnya.
Menjadi orang yang saat ini tak mempunyai hati nurani sama sekali.
Kepuasaan apa yang ia cari?
Kemana sifat baik dan nurani temannya itu?apa selama ini Akira dengan baik menutupi kedoknya?
Jika ini hanya mimpi buruk tolong bangunkan Haru!karna dia terlalu kecewa, ya dia lebih kecewa pada dirinya sendiri karna tak berhasil melindungi atau menyelamatkan sosok temannya.
"Haru..."
Haru mendongak saat temannya itu memanggil namanya, bisa ia lihat tatapan kosong tanpa jiwa itu.
Itu bukan Akira.
"Maafkan aku..."bersamaan ucapan terakhir yang keluar dari mulut Akira, pemuda itu kembali melakukan aksi nya yaitu membunuh temannya yang sudah tak berdaya di depannya dan pasrah menerima tusukan pisau di bagian perutnya hingga darah segar kembali mengotori lantai dan semakin banyak.
Akira menghela napas.
Bukan kepuasaan atau rasa lega yang ia dapat, rasa bersalah pun tak dapat ia rasakan.
Setelah membunuh kedua temannya dan melihat dua orang itu terkapar di lantai dengan lantai merah pekat.
Giliran Akira yang kini bersimpuh dan tak membuang pisaunya masih menggenggamnya erat seolah itu adalah barang berharga satu-satunya.
Dia menyenderkan kepalanya di ujung batas tangga.
__ADS_1
Dengan wajah pucat dan tatapan kosong air matanya mulai keluar dari matanya.
Bibirnya bergetar sambil mengucapkan.
"Ini hanya mimpi buruk...."
...
"Hah!"
Kedua mata pemuda itu terbuka paksa saat ia mendapat mimpi buruk sekaligus mengerikan dalam alam bahwa sadarnya.
Dia tak mengingat detail jelas mimpi itu tapi jika ada adegan atau kejadian mengerikan pasti akan terus terbayang dalam kepalanya.
Akira memandang kearah samping, dimana Jio sudah tidak ada.
Ini sudah pagi.
Jantung Akira kembali berdegup kencang seolah dia masih berada dalam mimpi.
Mimpi itu seolah sangat nyata.
Kenapa dia bisa memimpikan hal mengerikan itu?
"Kakak!"
"Aaa!"
Mendengar teriakan sang kakak membuat Jio terkejut, dia langsung menghampiri Akira yang menatapnya ketakutan dan menolak pelukannya.
"Kau kenapa kak?apa yang barusan terjadi?"
Ucap Jio yang tak bisa memeluk kakaknya karna Akira terus memberontak.
Akira memandangnya Jio dengan tatapan tak bisa di artikan sebagai apa, lalu dia menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Aku tidak enak badan, tolong beritahu dua temanku bahwa aku akan istirahat sebentar."ucap Akira lalu kembali berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal membalik badannya membelakangi adiknya.
"Tapi..."baru saja Jio ingin bertanya lagi tapi Akira dengan cepat memotongnya.
"Jangan biarkan mereka masuk atau menemuiku."
Ucapan terakhir Akira membuat Jio terdiam dan sedikit heran.
Tapi sekilas dia melihat wajah kakaknya yang pucat membuatnya percaya dan yakin kalau kakaknya benar-benar sakit.
"Istirahatlah dan cepat sembuh kak."ucap Jio.
...
Jangan sampai kehilangan jati dirimu yang sebenarnya karena kuasa kegelapan. Setiap orang adalah bulan, memiliki sisi gelap yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun.
__ADS_1
Mungkin kamu harus tahu kegelapan sebelum bisa menghargai cahaya. Tanpa kegelapan, bagaimana kamu bisa tahu cara menghargai hari-hari yang cerah?
Selama hari-hari yang gelap kamu akan menemukan siapa kamu sebenarnya.