
"Maafkan aku Asa karna salah bicara, tapi janji jangan di ulangi."
Asa menyenderkan kepalanya di bahu tegap Akira sambil menganggukan kepalanya kecil, lalu tatapan berubah tajam memandang kearah depan.
"Aku janji."ucapnya menyeringainya sambil mengelus belakang kepala kekasihnya.
Haru satu-satunya orang yang melihat itu karna posisi Akira yang menungguinya dan pandangan Asa yang tak jauh di depannya sekali lagi dia merasa takut.
Kalau Asa memang gadis yang pendiam yang berbahaya, dia bisa membuat ribuan racun yang mematikan dan ketika ketenangan di usik dia seperti air yang tiba-tiba datang ombak besar untuk menghanyutkan orang yang mengganggunya.
"Dasar pasangan yang aneh, kenapa aku harus terjebak di antara mereka berdua?!"
...
"Bagaimana cara kita menemukannya?"
Pertanyaan itu berhasil membuat sandiwara baik yang di lakukan Asa berhenti.
Asa berdehem keras melirik Haru tajam membuat pemuda itu memalingkan wajahnya dan bergulir gelisah agar matanya tak terkunci atau bertatapan pada mata coklat hanzel itu.
"Asa apa kau pernah menghubungi polisi tentang kasus hilangnya kakakmu secara tiba-tiba?"tanya Akira.
Asa diam sejenak bukan karna ia berpikir untuk mengingat kejadian masa lalunya akan tetapi dia memperhatikan wajah kekasihnya itu.
Benar-benar bucin.
"Tidak, karna aku tak percaya pada polisi."jawab Asa sekaligus memberikan alasannya.
Dua pemuda itu tertegun, Asa seolah menutupi kasus kakaknya tapi dengan terangan saat menangkap Rico gadis itu membeberkan sebuah alasan mengapa ia ingin menemukan kakaknya, jawabannya adalah...
"Selama dia pernah menjadi bagian keluargaku walau kami tak memiliki ikatan darah aku mulai berpikir mengapa aku peduli?jawabannya adalah itu."
Aneh memang tapi Akira menangkap maksud kalau Asa sebenarnya masih memiliki simpati pada orang yang dulu pernah hadir di masa kecilnya apalagi sosok itu di angkat sebagai kakaknya oleh kedua orang tua Asa.
"Apa kau sama sekali tak mempunyai perasaan rindu pada kakakmu bernama Devan itu?"tanya Haru.
Asa langsung mengeleng, memang benar dia tak merasakan perasaan itu jujur saja ketika waktu kecil Devan bukankah sosok kakak sempurna atau dekat dengannya bukan berarti ia menghina hanya saja dia menerima Devan sebagai seorang kakak dalam hidupnya apa adanya walaupun pemuda itu jelas tak memenuhi peran seorang kakak karna kekurangannya, lagi pula untuk apa gadis sepertinya mencampuri urusan orang tuannya saat ia tau sebuah kebenaran tentang Devan yang berada di panti.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus mengetahui di mana panti yang dulu Devan tinggali...dengan begitu kita akan menemukan sebuah petunjuk atau sesuatu."ucap Akira.
Haru mengangguk setuju dengan ucapan temannya itu, sedangkan Asa hanya diam.
"Apa kau tak mendapat sebuah penglihatan lagi?"tanya Asa penasaran, karna setahu dirinya setiap Akira bisa melihat sekilas bayangan masa depan pasti pemuda itu memberitahunya apa yang terjadi.
"Untuk sekarang tidak, ku harap nanti aku mendapatkannya walau itu rasanya menganggu..."ucap Akira.
"Soal atau tentang dia jangan di paksakan Akira, karna aku tak mau kau melihatnya."gumam Asa masih di dengar oleh mereka berdua.
Setelah mengatakan itu Asa pergi ke ruang bawah tanah meninggalkan kedua pemuda yang masih berada di sana.
"Akira gadismu itu benar-benar aneh, maksudnya ucapannya tak bisa ku mengerti entah apa yang di pikirannya."ucap Haru.
Akira menganggukan kepalanya.
Ya...
Asa itu memang susah di tebak.
...
Entah bagaimana pria itu terjebak di tempat sempit itu, awalnya semua itu adalah ulah dari sang pemilik tempat besar tsb.
Pria baruh baya itu terlihat jelas tak berdaya karna duduk terikat di kursi kayu dengan lilitan borgol di sekitar tubuhnya hingga membuat pergerakannya terbatas, bahkan jika pria itu mencoba memberontak bukannya lepas justru rantai besi itu akan membuat seluruh tubuhnya mati rasa karna bergesekan langsung dengan kulit.
Alasan seseorang tak memakai tali tambang biasa yang di gunakan untuk menyiksa korbannya adalah karna pria itu tamu spesial, tapi tetap saja hukuman berat untuk pria itu menanti.
Prok..prok prok!
Suara tepuk tangan dan langkah kaki menggema di penjuru ruangan membuat Rico menyipitkan matanya melihat seseorang yang datang menemuinya di tempat ini.
Sebuah tempat...
Yang tanpa ia sadari adalah tempat khusus untuk penyiksaan.
"Apa aku meninggalkan mu terlalu lama?aku hampir lupa kalau ada tamu spesial yang menunggu ku di ruang bawah tanah."ucap Asa, tangan kanannya membawa botol air yang entah untuk apa.
__ADS_1
"KAU! TERNYATA KAU YANG MEMBAWAKU KE TEMPAT GELAP DAN KUMUH INI! APA MAU MU HAH!!!"
"MAU KU? HAHAHAHA...DASAR KAKEK TUA BANGKA TAK TAU DIRI! BAHKAN DALAM KONDISI MU SEKARANG KAU TETAP ANGKUH! AKAN KU TUNJUKKAN KEKUATAN KU SEBENARNYA PADA MU SAMPAI MEMBUAT MU MENGEMIS AMPUN PADA KU! TAPI INGAT LAH AKU BUKAN GADIS LUGU YANG BAIK! BAHKAN SAAT KAU BERSUJUD DI BAWAH KAKI KU ATAU MENANGIS DARAH SEKALI PUN AKU TAK AKAN MENGAMPUNI MU!" Ucap Asa dengan keras membentak kakek tua itu hingga membuat Rico tersentak dan para penjaga yang menunggu di luar mendengar teriakan nona mudanya menjadi gemetar.
Ada pepatah jangan sampai kau membangunkan singa yang tertidur, karna saat ia terusik maka ia akan mengaum marah pada hewan kecil yang mengganggunya, meski itu kancil hewan yang terbilang cerdik sekalipun pasti akan di makan oleh sang singa.
"Rupanya kau salah memilih lawan pak tua..."ucap Asa berjalan mendekat pada sebuah meja satu-satunya di sana sambil mengambil sebuah gunting besar yang biasanya di gunakan tukang kebun untuk memangkas rumput liar.
Mata Rico yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Asa bergulir panik.
Apa yang Asa lakukan padanya?
Kenapa dia baru menyadari kalau dia telah membuat kesalahan besar?
Memang benar kata pepatah kalau penyesalan itu selalu datang terlambat saat terakhir seseorang melihat dunia, dan jika orang itu masih mampu melihat dunia esok maka itu di sebut kesempatan kedua.
Srek!
Srek!
Srek!
"AAAA SAKIT! ARGHHH AMPUN!!"
"Hahaha... bagaimana?menyenangkan bukan?kau seharusnya waspada padaku karna aku selalu mencari korban bodoh seperti mu untuk kesenangan ku!"ucap Asa tanpa berperasaan memotong-motong jari tangan Rico sampai habis.
Jika di film psikopat itu menyiksa korbannya dengan mencabut kuku tangan seseorang satu-persatu maka berbeda dengan Asa, kara baginya akan jauh lebih menarik seseorang tidak mempunyai bagian organ tubuh yang masih berfungsi sehingga membuatnya gemas untuk langsung memotongnya.
Byur!
"AAAAAAAAAA!!!"
Rico makin berteriak menjadi-jadi karna rasa sakit luar biasa yang belum pernah ia rasakan, kalian tau air apa yang Asa bawa dalam botol tadi?
Itu bukan Air garam, melainkan Air bensin yang baunya sangat menyengat kini memenuhi ruangan itu membuat Asa selanjutkan ingin membakar sosok Rico hidup-hidup.
Bukankah itu sama saja dengan mati perlahan yang menyiksa.
__ADS_1
Sedangkan Rico membulatkan matanya saat Asa menyalakan korek api yang sejak kapan di pegangnya, mungkin gadis itu tadi menyembunyikannya di dalam saku roknya.
"Selamat tinggal pecundang...." Gadis itu lalu menyeringai dengan tatapan dingin tak lepas padanya membuat tubuh Rico terpaku dan pasrah dengan kejadian selanjutnya.