
"Apa yang harus kukatakan ya?"ucapnya.
Saat ini Haru sedang chatting dengan Marsha.
Iya si adek kelas yang jadi gebetannya sekarang.
Entah gimana ceritanya,semenjak sering bertemu Marsha dan adek kelasnya itu minta no hpnya disitu Haru ngerasa aneh.
Dia mulai kepikiran Marsha terus,mulai dari mandi,makan,dan tidur.
Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?
Selalu merindukannya dan terngiang-ngiang wajah eloknya uhuy!
"Aku gak ngerti ternyata cinta itu bisa seaneh ini,seakan menarik seorang untuk jatuh kedalamnya dan selalu memikirkannya tiap saat,tapi disisi lain aku merasa takut karna cinta bisa membuat orang buta akan segalanya,aku bukan pemuda sempurna dan masih mengobati mentalku karna depresi jika aku merasa sakit itu berpengaruh pada mentalku karna aku belum bisa melupakan rasa sakit dihatiku.Mungkin sekarang aku berada di zona nyaman akan tetapi aku tidak tau kedepannya seperti apa,apa aku harus membalasnya atau mengabaikannya?"tanya Haru pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamarnya diketuk.
Buru-buru pemuda itu beranjak dan berjalan kesana dan membuka pintu kamarnya yang dikunci.
Kebiasaan Haru yaitu mengunci pintu kamarnya.
"Mama?"tanya Haru binggung,tumben sekali ibunya itu datang kekamarnya sebelumnya memang sikap Seina telah berubah tapi ...
Sulit dijelaskan oleh Haru bahkan Author sendiri.😌
"Kamu baru pulang dari kampus kan?pasti capek,mama bantuin bersihin kamar kamu sebentar ya."ucap Seina membuat Haru memandang sekelilingnya,dia meringis karna kamarnya sendiri seperti kapal pecah dengan buku yang berserakan dilantai dan beberapa pakaian lemari yang tak lipat rapi berhamburan keluar,dia memang pecinta kebersihan tapi sekali dia mendapat tekanan dan membuat pikirannya pusing membuatnya tak sadar membuat kekacauan dikamarnya sendiri.
Mungkin ini karna dia lupa meminum obatnya.
"Maafin Haru ma karna kamar Haru berantakan."ucap Haru merasa tak enak sekaligus bersalah.
Seina mengeleng kecil dia tersenyum lembut pada putranya.
"Tidak apa-apa mending kamu mandi bau asam!"ucap Seina pura-pura menutup hidungnya membuat Haru melotot tak terima.
"Haru anak ganteng dan wangi gak mungkin bau ma."
__ADS_1
"Kata siapa gak bau?tuh banyak keringatan."
Haru mendengus,dia memilih mengalah dan lalu pergi kekamar mandi untuk melakukan ritualnya,saat dikampus dia memang sempat bermain basket dengan Akira tapi dia lupa untuk menganti pakaiannya.
Bahkan Asa yang biasanya diam terus mengoceh pada Akira karna takut anak itu kembali sesak namun namanya Akira anak itu sama keras kepala sepertinya,dan mereka berdua hanya bermain sebentar untungnya Asma Akira tidak kambuh karna Haru menolak bermain lebih dari lima belas menit.
Seina lalu mulai membersihkan kamar putranya itu,tapi saat dia menyapu dibawah tempat tidur,dia sedikit binggung karna ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
Seina yang penasaran lalu berjongkok dan mengambil sesuatu dibawah tempat tidur itu,dia menatap tak percaya dengan barang dipegang tangannya.
Yaitu sebuah botol obat yang masih terisi setengah.
Apa selama ini putranya mengonsumsi obat itu diam-diam tanpa pengetahuannya?
"Obat apa ini?tidak mungkin kan Haru mengonsumsi obat-obattan terlarang...."ucapnya mulai berpikir negatif.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Haru yang baru selesai mandi dengan rambut basah.
"Haru apa kau meminum obat ini?"tanya Seina hati-hati.
Haru yang melihat ibunya memegang obatnya itu hanya menatapnya datar.
"Kalau iya memangnya kenapa?"tanya Haru tenang berbanding balik dengan Seina yang terkejut.
"APA KAU SUDAH GILA!!!"
"Jika aku tak meminum obat itu mungkin dari dulu aku sudah kehilangan kewarasan ma!"ucap Haru sedikit terkejut dengan bentakan ibunya.
Tidak taukah kalau dirinya baru sembuh dari depresi berat dan sekarang ibunya itu membentaknya kembali seolah-olah dia yang salah.
Ketika memori masa lalunya kembali muncul dia membutuhkan obat penenang itu agar kepalanya tak sakit.
Oleh karna itu Daniel masih memberinya obat dengan syarat dia tak boleh mengonsumsinya berlebihan atau overdosis.
Seina tetap tak percaya,dia mengira putranya meminum obat terlarang itu.
__ADS_1
"Jika mama berpikir bahwa aku berani macam-macam dibelakang mama dengan mengonsumsi narkoba itu salah karna aku masih sayang pada mentalku dan kewarasanku,apa mama tau selama ini aku menjalani depresi berat ketika kehilangan ayah?mama tidak tau kan?aku sungguh merasa bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik tapi itu hanya membuatku berada dalam penyesalan yang sia-sia karna hidupku masih tak tenang.Kadang aku berpikir apa gunanya mempunyai keluarga jika keluarga itu hanya tempat luka bagiku,bahkan saat aku terpuruk mama dengan cepat melupakan ayah dan menikah lagi tak memperdulikan kehadiranku yang masih ada disampingmu seolah-olah aku adalah kesalahan besar yang membuat ayah pergi!kalau mama merasa aku beban keluarga maka buang saja aku dari dulu karna aku sudah menyerah pada semuanya!"
Seina tertegun mendengar ucapan putranya,dengan gemetar dia mencoba memeluk Haru yang tanpa sadar telah menangis karna kecewa terhadap sikapnya selama ini tapi Haru malah menghindar.
"Maafkan mama nak...maafkan..."
"Itu sudah terlambat ma,aku memang menerima perlakukan mama yang berubah lembut sekarang tapi aku hatiku masih merasa kecewa karna mama akan lupa dan dengan mudahkan menorehkan luka yang mendalam lagi."
"Haru...mama ingin memperbaiki semuanya,apa tidak ada kesempatan kedua bagi mama?"
"Apa mama pikir kesempatan itu masih ada jika hidup hanya satu kali?dulu saat aku hampir mati saja mama tak peduli dengannya dan hanya sibuk dengan Hana."
"Kau..."
"Siapa sangka bahwa aku masih mengingat semua itu kan?"ucap Haru sambil terkekeh.
...
Semenjak ada Hana ibu Haru tak pernah memperhatikan putranya,hal itu membuat pribadi Haru yang dulu ceria berubah pendiam jika berada dirumah.
Umur Haru saat itu enam tahun,dimana dia belum merelakan kepergian sang ayah.
Karna dirumah tak ada yang bermain dengannya akhirnya dia memutuskan untuk pergi bermain keluar dengan mengayuh sepeda kecilnya.
Suasana jalan agak sepi membuat Haru merasa nyaman karna ketenangan itu.
Karna merasa Haru telah lama bersepeda diluar dia memutuskan kembali sebelum dimarahi ibunya karna terlambat pulang sampai sore.
Hingga tiba-tiba...
Bruk!
Entah dari mana motor itu muncul dibelakangnya tanpa melihat dulu didepan hingga menyerempet sepeda Haru dan membuat Haru kecil jatuh dan lututnya terluka.
Sang pengendara yang sadar tampak khawatir dan buru-buru menolong Haru yang pingsan lalu membawanya kerumah sakit.
Disitulah Haru tau kalau ibunya melihatnya tapi tak bergeming sedikitpun atau bahkan menolongnya dari kejauhan saat membeli sayur di supermarket.
__ADS_1