The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Chapter 3 : Ingatan yang Telah Kembali bagian 1


__ADS_3

Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira masih berubah menjadi seorang yang bernama Ken namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.


"Aku sengaja bermalam kerna ingin memperhatikanmu Ken, kau bertingkah aneh dari siang tadi, yang pertama, aku melihat raut wajahmu seolah baru pertama kali melihat patung sebanyak itu, yang kedua kau meminta maaf atas ucapanmu yang mangatakanku bodoh, padahal kau tidak pernah sekalipun meminta maaf akan hal itu, aku seolah melihat orang yang berbeda. dan yang terakhir kau bahkan lupa dengan paman Osama yang sering membantumu dan itu sangat mustahil," ucap Chio terus memperhatikan.


"Apa mungkin yang dikatakan Shiro itu benar bahwa dia bukanlah Ken yang kami kenal, jika itu benar lalu siapa dia?" ucapnya terdiam sejenak seolah tak percaya.


"Tidak, aku tidak bisa seperti ini, sebaiknya aku harus menyelidikinya sendiri agar aku bisa yakin. Yah ... aku akan mengikutinya hari ini ke mana pun dia pergi," sambungnya berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dia lihat itu belum pasti, walau beberapa kejanggalan terpampang jelas di otaknya.


Suasana pagi hari ini akan cerah lagi, itu terlihat dari langit yang membiru tak berawan. Chio pun sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti dan menyelidiki keseharian Akira, bahkan dia langsung pergi pulang ke rumah tanpa memberi tahu Akira terlebih dulu, Saat ini pun dia sudah berada di dekat rumah Akira dan memperhatikan kediamannya dari jauh sambil menunggunya untuk keluar beraktivitas seperti biasa.


"Ini sudah sangat pagi tapi dia bahkan belum keluar dari rumahnya apa yang sedang dia lakukan," ucap Chio sambil memperhatikan sekeliling, "atau sebaiknya aku liat kedalam rumahnya saja, apa dia ada didalam atau sudah keluar dari rumah." Chio ingin melangkahkan kaki, namun Akira sudah keluar dari rumahnya hingga membuat Chio kembali bersembunyi dibalik pohon.


Akira menutup pintunya dan melihat sekeliling sambil menghirup udara segar. "Aku kira Chio masih ada dirumah ternyata sudah lama pulang, sepertinya dia sangat sibuk," ucapnya kemudian berjalan pergi.


"Dia sudah pergi, sebaiknya aku mulai mengikutinya sekarang."


Matahari sudah semakin meninggi menjelang siang, Chio pun terus mengkuti Akira ke mana pun dia pergi, padahal disepanjang jalan Akira hanya berjalan keliling desa seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan darinya, namun Chio terus memperhatikan dengan seksama, hingga Saat itu mareka sampai di suatu jalan di mana orang sangat ramai berlalu lalang keluar masuk dari pasar.


Hal itu membuat Chio sulit mengenali Akira berada, matanya tertuju lurus ke depan untuk mencari, dan akibatnya dia malah menabrak orang yang sedang membawa keranjang belanjaan.


Mereka berdua pun terjatuh, Chio yang menyadari dirinya salah segera menolong orang tersebut. "Maaf bibi aku tidak sengaja," ucapnya singkat sambil membantu, namun bibi itu hanya diam nampak kesal dan segera pergi.


Chio pun sama dia hanya fokus kepada Akira yang telah hilang dari pandangan, dia segera berlari keluar dari keramain, namun pada akhirnya dia hanya kehilangan jejak.


"Akhh ... kemana dia pergi, padahal aku hanya lengah sebentar, kemana aku harus mencarinya, kalau begini aku hanya bisa menyusuri jalan ini dan bertanya."


Chio pun hanya bisa mencarinya dengan menelusuri jalan itu sambil sesekali bertanya kepada orang yang lewat, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dan memutuskan untuk beristirahat.


"Akhh panasnya! Kalau seperti ini, rasanya haus sekali," ucapnya mendongak keatas dan meletakkan tangan di dahi sambil duduk di bangku bawah pohon yang rindang.


"Kemana perginya kau Ken, sudah kucari kemana-mana namun tak kunjung ketemu, rasanya aku mau pulang dan menyerah saja," sambungnya mulai merasa malas.


*Brukkkk ...!


"Ehh ada apa," ucapnya kaget mendengar suara orang jatuh, kemudian melihat kesekitar dan menemukan seorang nenek yang terjatuh kerna terlalu banyak membawa barang-barang, tanpa pikir panjang dia segera menghampiri.

__ADS_1


"Aduh ... jadi berhamburan kemana-mana," ucap nenek itu sambil mengambil buah dan barang yang berhemburan.


Chio langsung berjongkok di depan nenek itu dan mengambil keranjang yang ada, lalu memasukkan buah dan barang itu kedalamnya.


"Nenek tidak apa-apa kan, kenapa banyak sekali yang dibawa padahal ini sangat berat?" tanya Chio heran.


Dia menatap Chio. "Oh nak Chio, maunya pergi sama anak nenek tapi kelamaan nunggu jadi pergi duluan, takut nanti pasarnya udah keburu tutup."


"Emang anaknya kemana Nek? udah Nek biar Chio aja yang mengumpulkan semuanya, lebih baik Nenek istirahat dulu disana," pinta Chio menyuruh nenek itu duduk di bangku bawah pohon.


"Iya terima kasih nak Chio."


tak perlu menunggu lama Chio sudah mengumpulkan semuanya, dan langsung menghampiri nenek itu. "Nenek tinggalnya dimana biar Chio bawakan semuanya."


"Tidak perlu nak Chio, rumah nenek udah dekat."


"Udah gak papa Nek, Chio juga mau ke arah sana."


"Baiklah kalau maunya gitu," jawabnya sambil berdiri kemudian keduanya berjalan menuju rumah nenek itu.


"Nah kita sudah sampai, letakkan saja semuanya disitu," pinta nenek itu sambil menunjuk.


Osama tiba-tiba datang dan menghampiri mereka. "Ibu ... kenapa perginya duluan, kan sudah kubilang untuk menungguku dulu," ucapnya pelan.


"Chio ambilkan buah pisang itu," pinta nenek itu.


Chio kaget kerna baru tau bahwa nenek itu ternyata ibu Osama, padahal dia sudah sering bertemu dan membantunya, tapi tidak tahu menahu bahwa nenek itu ada hubungan darah dengan Osama.


"Oh iya Nek." Tanpa perlu bertanya lagi untuk apa, dia langsung mengambilkannya.


"Ohh ada Chio ternyata," ucap Osama baru menyadari.


*Ptukk ...!


pukul nenek itu dikepala Osama dengan pisang. "Aduhh Bu!"

__ADS_1


Melihat kejadian itu Chio hanya bisa menahan tawa.


"Kau yang kelamaan, kalau tidak segara berangkat keburu pasarnya tutup, untung ada Chio yang membantu membawakan."


"Iya maaf Bu, aku kan juga masih banyak pekerjaan di tempat tetua, ini pun sudah minta izin untuk pulang," jawabnya dengan suara pelan.


"Kasih pisang itu ke Chio."


Kemudian Osama memberikan pisang itu ke Chio, dia menyambutnya dengan sopan.


"Terima kasih paman.


"Oh iya, saat kesini apa Nenek atau Paman melihat Ken?" sambungnya bertanya.


"Apa nak Ken ada masalah, aku tadi melihat dia berjalan pulang, saat itu kami berpepasan dan aku ingin menyapanya, namun dia malah berlalu begitu saja didekatku tanpa menyapa, padahal dia sering menyapaku lebih dulu," jawab nenek itu  merasa khawatir.


"Nak Chio jika nak Ken punya masalah kamu harus membantunya, dia kan baru saja berduka atas meninggal kakeknya," sambungnya menasihati.


"Bagaimana bisa dia melakukan hal itu, padahal aku dan dia sering bertemu dan membantu nenek, atau jangan-jangan dia juga tidak ingat dengan nenek seperti paman Osama waktu itu, lebih tepatnya dia seperti tidak mengenal mereka," gumam Chio dalam hati.


"Ada apa Chio, apa kalian sedang bertengkar" tanya Osama heran melihat Chio terdiam sekaligus mengkhawatirkan mereka berdua.


"Tidak aku hanya sedang mencarinya," jawab Chio kaget.


"Iya Nek aku akan membantu dan menjaga Ken agar dia tidak berbuat masalah, emm ... baiklah aku pergi dulu terima kasih pisangnya Nek, Paman."


Paman dan nenek itu mengangguk kemudian Chio pun berjalan pergi sambil memikirkan Akira yang sedikit aneh, setelah merasa jauh dari rumah paman itu, dia segera berlari menuju rumah Akira.


...●●●●...


Matahari nampak terus meninggi dan bersinar terang dengan cahayanya yang terasa sangat panas ketika menyentuh kulit, suara binatang dipohon-pohon yang rindang terdengar sangat nyaring seolah menandakan bahwa tidak akan ada hujan yang datang pada hari ini, suasana cerah hari ini akan terus berlanjut sampai malam tiba.


Tetapi, panasnya sinar matahari ini akan menambah derita tiga orang laki-laki yang terkapar di sebuah gang sempit. Cahaya matahari perlahan  masuk menyinari gang itu dan memperlihatkan dengan jelas bagaimana ketiga orang tersebut terkapar bebak belur.


Terdengar suara lengkah kaki berjalan berlalu pergi dari ketiga orang yang bebak belur itu, tangan yang memerah serta Chio yang berjalan perlahan mengahampiri.

__ADS_1


Jantungnya terus berdetak keras, pupil mata mengecil dan bola mata terbelalak membesar kerna merasa terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.


-Bersambung-


__ADS_2