
“Kenapa kau baru muncul, kemana saja kau selama ini! apa kau tau aku telah melewati banyak hal untuk bisa sampai kesini,” ucap Akira.
“Huh … untung saja aku punya mereka yang terus membantuku,” sambungnya.
“Eh, kenapa kau tidak jadi marah-marah,” balasnya sedikit kaget.
Akira ikut heran. “A’ahh ... sepertinya tidak ada alasan untukku marah padamu, kerna aku sudah lama mengingat semua yang terjadi tentang kenapa aku bisa berada di sini, dan lagi pula aku sendiri dulu bilang sudah sangat siap,” jawab Akira dengan santai.
“Ternyata kau sudah pandai bicara ya,” jawabnya sambil berjalan menuju tas Akira.
“Loh kenapa kau diam teruslah bicara,” sambungnya.
“Anu ... kenapa kau mengobrak-abrik tasku?” tanya Akira heran.
“Aha ha ... Maaf aku hanya ingin meminjam bajumu, tapi sepertinya semua baju milikmu terlihat kono,” ejeknya sambil tersenyum.
“Eh apa, bukannya itu sudah jelas, justru sekarang kaulah yang terlihat aneh dengan jaket seperti itu,” balas Akira.
“Itulah kenapa aku bisa berakhir dipenjara, saat aku sampai ke negeri ini mereka semua malah menangkapku kerna mencurigakan.”
“Oh ya, kita belum sempat berkenalan, aku Harley Zinan,” sambungnya mengajak Akira bersalaman.
Akira menyambutnya. “Lalu bagaimana caranya kau bisa berakhir dipenjara?” tanya Harley.
“Kami dijebak,” jawabnya menatap serius dan menceritakan kejadian sebenarnya pada Harley yang terus memilih baju Akira untuk dia kenakan.
“Ha ha ... benar-benar menyedihkan sekali yang kau alami, aku turut bersedih soal itu,” ucapnya terus menepuk pundak Akira.
“A’ahh ... apa boleh buat,” jawabnya tertunduk lesu.
“Emm ... apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini?” sambungnya menatap Harley penasaran.
Harley tersenyum. “Dari pada menanyakan hal itu, seharusnya kau menanyakan di mana teman-temanmu.”
Akira baru menyadari bahwa Chio, Shiro dan Ayumi tidak berada bersamanya, dia seketika berdiri dan melihat kesekitar dari balik jeruji besi, namun tidak ada satupun di antara mereka yang di penjara itu Chio dan lainnya.
“Kau tahu di mana mereka?” tanya Akira terlihat panik.
Harley menggeleng. “Mustahil aku mengetahuinya, namun yang pasti sepertinya kalian semua dipisah dan masing-masing di antara kalian di tempatkan dipenjara yang berbeda,” jawabnya.
Akira memukul dinding, dia terlihat sangat kesal. “Kalau tanpa mereka apa yang harus aku lakukan?!”
__ADS_1
“Hah ... kau ini sudah terpaku pada bantuan mereka, sudah saat kau minta bantuanku, kalau bukan untuk itu kenapa juga aku datang ke sini,” ucapnya sedikit menyombongkan diri.
“Benar! Cepat buka portal menuju mereka!” teriak Akira merasa sangat senang.
“Mustahil,” jawabnya dengan muka datar.
“Eh apa?”
“Kau pikir aku bisa terus melakukannya, yang benar saja itu membutuhkan banyak energi, dan lagi tidak mungkin kita melakukannya di hadapan yang lain!” teriaknya.
“A’ahh ... maaf-maaf,” balas Akira sambil mengarahkan tangannya ke depan, meminta Harley untuk tenang.
“Hah ... kau ini, yang pertama harus kita lakukan adalah melarikan diri dari sini, namun kita butuh bantuan orang lain.”
“Cepat kau ajak bicara orang yang ada di sebelah penjara kita ini, dia dari tadi sudah menguping pembicaraan kita,” sambungnya berbisik sambil menunjuk dengan ibu jari.
Perempuan yang tengah duduk bersandar di jeruji besi dan membelakangi mereka seketika terkejut. “Maafkan aku telah menguping pembicaraan kalian, aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya,” ucapnya seketika berpaling menghadap Akira dan Harley.
“A’ahh ... sama sekali bukan salahmu, kami bicara terlalu keras dan penjara kita bersebelahan, apa lagi cuma di dinding dengan jeruji besi bukannya tembok,” jawab Akira.
Perampuan itu mengangguk dan tersenyum. “Perkenalkan namaku Retania, panggil saja Rin!” ucapnya menyorong tangannya lewat celah jeruji besi.
“A'ahh ... Muhammad Akira dan dia Harley Zinan,” jawab Akira menyambutnya bersalaman dan merasa heran.
“Oh ya tunggu sebentar aku punya sesuatu untuk kita makan, aku yakin kau pasti belum makan,” sambungnya sambil merogoh tasnya.
“Ambilah.”Akira memberikannya kue dan wadah minum.
Rin sedikit ragu mengambilnya. “Kalau kau bagaimana?”
“Tidak usah dipikirkan, aku masih punya banyak, sepertinya penjaga itu tidak mengambilnya,” jawab Akira tersenyum.
Rin ikut tersenyum. “Aku sangat cemas ketika melihat para penjaga membawamu dalam keadaan pingsan, namun syukurlah kau baik-baik saja.”
“Sudah lama aku tidak dicemaskan oleh seseorang, jadi aku sangat senang mendengarnya, dan lagi, terima kasih ya,” jawab Akira membuat Rin tertunduk malu merah merona.
“Loh, aku setiap hari mengkhawatirkanmu,” sahut Harley.
“Eh maksudku siapa yang tidak senang kalau ada seorang perampuan mencemaskan dirinya,” balas Akira.
“Oh ya, kalau kau setiap hari mencemaskanku, kenapa baru sekarang kau muncul,” sambungnya merasa kesal.
__ADS_1
“Kerna orang itu bilang kau baik-baik saja he he ...” jawabnya.
“Maksudmu paman yang aku tabrak pakai sepeda dulu?”
“Yah yah itu.”
“Ha ha ... kalian berdua sangat dekat sekali, apa kalian sudah lama saling kenal?” tanya Rin.
“Ya!” jawab Harley.
“Tidak” Jawab Akira.
Rin merasa bingung sedangkan Harley terus mengoceh tak terima jawaban Akira. “Jangan dengarkan dia, aku hanya pernah dua kali bertemu dia,” ucap Akira.
“Anu ... dari tadi aku sudah mendengar kalian berancana melarikan diri, apa aku boleh ikut bersama kalian?” ucap Rin.
“A’ahh ... tentu, memang itu yang kami inginkan, kami membutuhkanmu dalam rencana ini, jadi, kau mau pergi bersama kami?”
Rin terlihat sangat senang hingga matanya berkaca-kaca. “Terima kasih! Aku akan berusaha melakukan apa saja yang kalian pinta!”
“Syukurlah kalau begitu, tapi, aku mau tanya sesuatu padamu terlebih dulu, apa kau penduduk asli negeri ini?” tanya Harley menatapnya tajam.
“Tidak, aku bukan penduduk negeri ini, aku berasal dari negeri Soma,” jawab Rin.
“Sudah kuduga, rasanya tidak mungkin mereka memenjarakan rakyat mereka sendiri,” jawab Harley nampak sudah lama memikirkan itu semua.
“Kenapa kau bisa pergi ke negeri ini, dan bagaimana negeri itu sekarang?” Akira sangat penasaran.
“Kami melakukan perjalanan ke negeri ini berharap mendapat bantuan dari mereka terhadap negeri kami, namun saat kami berhasil sampai, kami semua malah ditangkap dan dipenjarakan, tidak hanya itu, kami semua malah di pisah,” jawab Rin.
“Kalau begitu apa kau bisa menceritakan semuanya pada kami?” pinta Harley.
Rin mengangguk. “Negeri Soma sekarang adalah negeri para penjahat.”
Akira tersentak mendengarnya. “Aku tarik pertanyaanku, kita lanjutkan nanti saja setalah keluar dari sini,” potong Harley ketika dia melihat ke sekitar penjara.
“Ada apa?” tanya Akira.
Harley menoleh dan menatap mereka berdua. “Kita harus segera menyusun rencana agar bisa kabur dari penjara ini, kalau tidak kita akan berakhir menjadi budak seperti mereka yang di bawa itu,” ucapnya mengalihkan pandangan kepada orang-orang yang telah dilepaskan dari penjara dan di giring keluar bangunan.
Akira dan Rin seketika terdiam memandangi mereka yang mana kaki mereka di rantai bersama berjalan berurutan.
__ADS_1
-Bersambung-