The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Chapter 5 : Kepercayaan bagian 1


__ADS_3

"Kenalkan namaku Akira, Muhammad Akira," ucapnya menyodorkan tangan dari kejauhan mengajak bersalaman.


Semua orang terdiam mendengar apa yang Akira ucapkan mengenai perkenalan dirinya, saat itu semua kecurigaan Chio dan Shiro terungkap bahwa dia memang bukanlah Ken.


“Cih ... Siapa kau sebenarnya dan kenapa kau selama ini telah berpura-pura menjadi Ken yang kami kenal, apa sebenarnya kau inginkan?!” tanya Shiro.


“Dari mana kau berasal dan apakah semua yang kau lakukan itu adalah kehendakmu?” tanya Chio mengalihkan, membuat Shiro terperangah menatapnya.


Saat itu Akira hanya diam sejenak kemudian menghela nafas. “Apa kalian yakin ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saat kalian mendengar semuanya, mungkin kalian tidak akan mempercayaiku.”


“Apa kau pikir berdirinya kami disini hanya ingin mengetahui bahwa kau bukanlah Ken saja, beritahukan kami semuanya, masalah percaya atau tidak biar kami yang menilai,” jawab Chio menatapnya serius.


Melihat Chio bersikap begitu Akira pun berjalan dan duduk di kursi meja makan yang mana sekaligus tempat Ken dulu menerima tamu. “Kemarilah dan duduk bersamaku, aku akan menceritakan semuanya,” pinta Akira pada mereka.


Chio berjalan lebih dulu mendekati,  sedangkan Shiro dia masih waspada dan menatap Akira tajam. “Shiro kita dengarkan dulu apa alasannya, biar kita semua tahu apa yang dia inginkan,” ucap Chio berbalik memandang, “Ayumi kau juga,” sembungnya meminta, kemudian mereka semua duduk di tiga kursi yang tersisa.


Saat itu Akira mencaritakan semua kejadian yang menurutnya berhubungan dengan dikirimnya ke dunia ini, mereka semuanya mendengarkan dengan seksama, Chio nampak ingin mempercayai itu, akan tetapi Shiro, dia sama sekali tidak ada niatan untuk percaya, hingga Akira selasai bercerita.


*Braakk!


Shiro memukul meja dengan keras. “Semua yang kau katakan hanyalah omong kosong! Tidak mungkin itu bisa terjadi, mustahil seseorang dari tempat yang jauh tiba-tiba bisa berada disini. Sudah jelas kau hanya mengada-mangada! Ini pasti hanya akal-akalanmu agar kami menerimamu di sini!” ucap Shiro sangat marah seraya meremas kerah baju Akira dan mengangkat kepalan tangannya.


“Kenyataan sebanarnya sudah pasti kau adalah orang jahat yang ingin melakukan sesuatu terhadap Ken dan kami,” sambung Shiro.


Akira tidak melawan. “Apa menurutmu aku orang bodoh yang bertaruh dengan carita mustahil seperti itu hanya untuk mendapatkan kepercayaan kalian,” jawab Akira menatap tajam berkaca-kaca, sedangkan Shiro menggertakkan gigi serta mengeraskan kepalan tangannya.


“Shiro hentikan! lepaskan tanganmu darinya, menyakitinya seperti itu tidak akan menyelasaikan masalah!” teriak Chio melerai.


“Lalu apa yang ingin kau lakukan, mempercayainya begitu saja, apa menurutmu dia ini pantas untuk kita percayai!" teriak Shiro lebih keras terus menatap marah Akira.

__ADS_1


“Jadi menurutmu dengan memukul dan menghajarnya bisa menyelasaikan masalah! apa kau tidak berfikir jika dia hanya ingin mendapatkan kepercayaan kita dengan mudah, dia bisa saja mengatakan aku kerabatnya Ken atau aku adalah adik atau kakak dari Ken, dengan begitu kita bisa percaya dan dia bisa leluasa melakukan apa pun yang dia mau di desa ini!"


"Apa lagi dengan wajahnya yang sangat mirip dengan Ken, sudah pasti para penduduk tidak akan curiga, tapi apa yang dia ceritakan, sesuatu yang sama sekali tidak bisa kita pikirkan dengan mudah, sesuatu yang sama sekali tidak mungkin!” balas Chio membuat Shiro tak bisa membantah.


“Cih ... terserah kau saja, yang pasti aku tidak akan tanggung jawab jika terjadi sesuatu, kaulah yang akan menanggungnya,” jawab Shiro sambil melepas Akira dan berlalu pergi bersandar di depan pintu.


"Yah ... aku yang akan tanggung jawab."


Chio tidak tahu apa yang ingin dia lakukan saat ini, dia ingin mempercayai kerna rasa penasarannya terhadap Akira. Apa lagi yang dia ceritakan adalah hal yang sulit dimengerti dengan akal sehat, jika Akira hanya ingin berniat jahat, kenapa dia harus menceritakan hal seperti itu, bahkan berasal dari dunia berbeda yang sama sekali belum pernah Chio dengar.


Itulah yang terus berputar dikepalanya, namun sisi lainnya menginginkan untuk tidak mempercayai begitu saja, apa lagi nasib Ken tidak tahu keberadaannya dimana, saat ini tidak ada pilihan lain untuk Chio selain pergi meninggalakan Akira sementara.


“Hahh ... untuk saat ini kami tidak bisa mempercayaimu begitu saja, tetapi, kami akan memperbolehkanmu untuk sementara tinggal di rumah ini,” ucap Chio memandang Akira dengan sedkit rasa simpati.


Akira tidak bisa memaksakan apa pun kepada mereka untuk mempercayainya. “Terima kasih atas kebaikan kalian.”


“Cih ... terserah apa yang ingin kalian lakukan, hanya saja aku ingin pergi, kerna aku sudah muak melihatnya,” ucap Shiro berpaling dan berjalan pergi.


“Jika yang kau ceritakan itu benar, lalu apa yang kau maksud dengan mencari bulan Ramadan, dan apa hubungannya dengan menghancurkan semua patung ini?”


Ucapan Ayumi membuat Shiro terdiam di tempat, membuat Chio tersentak tak percaya kerna pertanyaan itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya, sesuatu yang sama sekali tidak dia sadari dan dia lirik, akan tetapi, justru membuat Ayumi penasaran dengan siapa sebenarnya Akira.


“Apa maksudmu bertanya seperti itu! bukankah sudah jelas bahwa yang dia katakan itu adalah kebohongan besar!” ucap Shiro berbalik menghadap mereka dan berteriak dari luar.


“Iya Ayumi sudah tidak ada lagi yang bisa kita tanyakan padanya, kita tidak bisa mempercayai ceritanya begitu saja, apa lagi dari dunia yang dia sebut Jepang, kita sama sekali tidak tahu itu,” sahut Chio.


“Kalian memang tidak bisa mempercayainya, tapi aku bisa! kerna ... akulah yang pertama kali bertemu dengannya,” jawab Ayumi menatap mereka berdua kemudian tertunduk tidak berani memandang.


Chio berubah serius. “Itu artinya kau tau apa yang terjadi sebelumnya? siapa dia dan apa yang telah terjadi dengan Ken?”

__ADS_1


Ayumi nampak tidak siap untuk menceritakannya, dia menunduk kemudian menarik nafas dalam-dalam hingga dirinya merasa siap.


“Ken ... dia sudah meninggalkan kita semua, dia telah menyusul jakeknya, dan itu ... hanya aku yang tahu.”


Mendengar jawaban Ayumi membuat Chio terdiam menatapnya tak percaya.


“Saat itu aku mengajaknya untuk pergi ke tebing dan mendoakan kakek, ada banyak hal yang terjadi, hanya saja ... saat itu aku tidak sengaja terjatuh dari tebing dan diselamatkannya, dia berusaha keras menyelamatkanku, dan yang terjadi malah dia yang terjatuh hingga hilang terbawa arus," ucapnya hampir tak kuasa.


Maafkan aku! semuanya ini adalah kesalahanku! jika seandainya Ken tak perlu menyalamatkanku, maka sekarang pasti dia masih ada di sisi kalian!” sambungnya sambil menangis seraya menundukkan kepala, sedangkan Chio hanya bisa terdiam mendengarkan semua itu.


“Lalu ... setelah itu aku selalu pergi ke tebing untuk mencarinya! aku hanya bisa berharap bisa menemukannya, dan ternyata ... aku menemukan Akira di atas tebing dalam keadaan pingsan! saat aku menemukannya dia benar-benar mirip dengan Ken! aku sangat senang! akan tetapi aku sendiri tak percaya bahwa dia adalah Ken, apalagi Ken sudah hilang terjatuh terbawa arus dan itu sudah hampir tiga hari berlalu. Aku tetap membawanya ke rumahku, dan saat itu dia terbangun dan tidak mengenaliku, saat itu juga aku pun yakin bahwa dia memang bukanlah Ken,” sambungnya bercerita.


“Lalu kenapa dia bisa bertingkah seperti Ken?” tanya Shiro menatap marah.


“Entah apa yang terjadi dia merasakan sakit kepala yang hebat dan kembali pingsan. Seperti yang dia ceritakan ingatannya berubah. Mengatahui hal itu membuatku menginginkan kehadiran Ken lagi! aku ingin dia berada di sisi kita lagi! tetapi, justru selalu menyakitiku! itu hanya membuatku sakit hati kerna setiap kali melihat Akira malah membuatku mengingat hal yang menempa Ken.”


“Kau pantas menerimanya, atau mungkin itu masih belum cukup,” potong Chio pelan menatap sedih padanya.


Ayumi bertambah sedih. “Maafkan aku Chio, aku tau apa pun yang kulakukan tidak akan bisa menebusnya.”


Chio menggelengkan kepala. “Aku sama sekali tidak menyelahkanmu tentang kematian Ken, kerna dia sudah memilih untuk menyelamatkanmu, hanya saja ... aku sangat kecewa terhadapmu, kita sudah lama saling kenal tapi kau malah membohongi kami semua, kau tidak memberitahukan semuanya sedari awal, dan kau bahkan memanfaatkan perubahan ingatannya hanya untuk mengisi kekosongan hatimu."


"Jika seandainya kau memberitahu kami, pastinya ini bisa dicegah, dan masalah seperti ini pasti tidak akan muncul.” Chio nampak berkaca-kaca, dia berusaha membendung air mata meninggalnya sahabat baiknya, dan kekecewaannya terhadap Ayumi.


“Maafkan aku, maafkan aku, ini semua terjadi kerna diriku, aku mengaku salah,” jawab Ayumi sambil terus menangis.


Rasa kecewa Chio nampak sangat besar hingga dia sama sekali tidak ingin menatap Ayumi lagi, Shiro yang melihat hal itu segera mengajaknya untuk segara pergi.


“Chio, tidak ada gunanya lagi kita mendengarkannya, ini semua sudah jelas, sudah saatnya kita pergi,” pintanya mengajak pergi dan Chio pun menyetujuinya, setelah itu mereka meninggalkan Ayumi dan Akira begitu saja.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2