
Falasback on
Saat itu Osama memperlihatkan sebuah kotak yang berisi peninggalan Thalib. “Inilah peninggalan Thalib satu-satunya yang masih tersisa yaitu buku hariannya,” ucap Osama membuka kotak hitam itu hingga membuat mereka semua tercengang.
“Hanya saja kami tidak mengerti apa isi tulisannya, kerna dia menulisnya dengan bahasa yang berbeda dengan kita, aku juga tidak begitu yakin dengan kalian apa bisa membacanya,” sambungnya.
“Anu ... apa aku boleh liat isinya paman? tanya Akira.
“Ambil saja, kerna ini sudah jadi milik kalian, sudah saatnya yang muda seperti kalian yang harus menjaganya.” Jawab Osama membuat mereka kegirangan.
Setelah mendengar jawaban Osama, Akira pun mengambil dan membukanya, lalu tiba-tiba terperangah kaget dan tak menyangka. “Bahasa Arab!,” ucapnya membuat yang lain tak menyangka Akira tahu bahasa tulisannya, “bukan, ini cuma tulisannya saja dalam bentuk huruf arabiyah, namun kenyataannya ini seperti bahasa yang kita ucapkan, orang menyebutnya Arab Melayu,” sambung Akira mulai mengerti, sedang mereka masih kelihatan bingung.
Melihat mereka yang terperangah diam, Akira pun membuka salah satu lembarannya. “Coba kalian lihat dari dekat,aku akan membacakan yang ini,” ucap Akira seraya menunjuk salah satu baris tulisan dari buku itu lalu meletakkan dipahanya menghadapkan kedepan kearah mereka semua.
“Dengarkan baik-baik aku yakin kalian pasti mengerti,” ucapnya dan mereka pun mengangguk.
...***...
...***...
“Matahari kini telah kembali bersinar cerah diatas bumi para penduduk yang tak kenal lelah. Raja yang terlihat agung selalu mereka puja dan banggakan sebenarnya adalah Raja yang haus akan kesombongan dan kekayaan. Ketika kemakmuran dan kelimpahan melanda negeri mereka, mereka semua menari dan bergembira menghadap sang cahaya. Ketika semua itu lenyap oleh kerakusan raja yang selama ini mereka dukung, mereka akan menyalahkan pada malam dan awan mendung yang tak mendukung,” ucap Akira membacakan sebuah tulisan yang Thalib rangkai.
Mendengar itu membuat mereka mengingat sesuatu. “Wah indahnya ... bukankah ini seperti syair yang biasa para penyair tampilkan dipasar,” ucap Ayumi terlihat senang.
“Entahlah apa ini syair atau bukan, tapi ini justru lebih indah dan mempunyai makna yang luas dibanding syair-syair yang dibuat oleh para penyair jalanan didesa ini,” jawab Osama juga senang.
Mendengar mereka menyebut syair Akira pun ingat saat dia pertama kali kepasar dan bertemu Chio, mengingat itu membuat matanya berkaca-kaca.
“Aku sedikit mengerti tulisan ini, huruf-huruf yang berbeda-beda ini cuma terdiri dari beberapa huruf saja, jika kita bisa mempelajari huruf yang ada ini kita pasti bisa membacanya,” ucap Chio.
“A’ahh ... Chio benar, kalian semua bisa belajar bahasa ini, huruf-huruf yang kalian lihat ini adalah kumpulan huruf Hijaiyah, tidak akan sulit untuk mempelajari dan menghafalnya, aku yakin dengan ketekunan dan semangat besar suatu ilmu pengetahuan Insya Allah pasti akan kalian kuasai,” jawab Akira seraya tersenyum pada mereka.
“Horee ... ada ilmu baru ha ha ...” seru Ayumi membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
Saat itu paman dan ibunya bertatapan kemudian mengangguk bersama seolah merasa sangat yakin akan sesuatu hal. “Akira, ajari aku dan ibuku tentang Islam begitu juga ayahku, kami semua sudah sangat menantikan ini, kami selalu berharap ada seseorang yang datang seperti Thalib untuk mengajarkan agama itu, namun sampai selama ini tidak ada seorang pun yang bisa. Akan tetapi tidak apa-apa, selagi kami masih hidup kami tidak akan melupakan niat kami ini, maka dari itu tolong sempurnakan keyakinan kami pada yang maha kuasa Tuhan kalian Allah,” ucap paman penuh keyakinan di hatinya, itu terlihat dari matanya yang berlinang air mata begitu juga ibu Osama.
“Akira, saat aku mulai mempercayaimu dan melihat Ayumi yang berubah dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari Islam, hatiku merasa iri, hampa, jiwaku tanpa haluan, dan semua terasa gelap, tapi tidak seperti Ayumi yang seketika jatuh cinta pada satu kali dengar dan langsung mengisi hatinya yang kosong, sedangkan aku tidak merasakan itu sama sekali. Hampir setiap aku melihat kalian berdua saat seperti ini maupun saat kalian Shalat berjamah ataupun saat kau lantunkan Azan, saat kau lantunkan bacaan dalam Shalat kalian, aku merasa hatiku menangis, mataku selalu tak kuat menahan air mata, aku ingin, aku ingin bisa shalat bersama kalian. Maka dari itu Akira tolong ajari aku tentang Islam dan biarkan cinta itu datang secara perlahan memasuki hatiku ..."
“Chio aku lebih iri padamu yang seperti itu,” potong Akira terlihat sedih.
“Kenapa kau harus iri Akira, saharusnya akulah yang iri pada kalian berdua,” jawab Chio heran.
Akira menggeleng. “Aku iri kerna Allah sering datang dan mengetuk pintu hatimu,” ucap Akira berkaca-kaca membuat Chio terperangah mendengarnya, “setiap kau merasakan itu Allah kembali datang mengetuk lebih keras, kau tahu kenapa Allah melakukannya, kerna dia ingin kau bersamanya,” sambung Akira seraya menunjuk dan menyetuh dada Chio, hal itu membuat kedua mata mereka berlinang air mata.
“Kau mau tau perasaan yang kau rasakan saat itu dan juga mungkin sekarang. Itu adalah perasaan cemburu saat melihat orang kau cintai sedang bersama orang lain, dan itu adalah perasaan cemburu melihat Allah sedang bersama kami, kau juga ingin bersamanya, makanya kau bilang ingin Shalat bersama kami agar kau juga bisa bersamanya. Rasa cemburu muncul kerna rasa cinta Chio, dan kau tidak tau bahwa perasaan yang kau rasakan selama ini adalah perasaan cinta,” sambung Akira seraya menatap Chio bangga.
Chio dibuat tak kuasa menahan air matanya sedangkan Ayumi, Osama, dan Ibu Osama, mereka semua tersenyum bangga dan meneteskan air mata, sedangkan Shiro dia tersenyum melihat mereka bahagia.
Setelah itu Osama, ibu Osama dan Chio memeluk Islam dengan dipimpin oleh Akira untuk mengucap Syahadat, kini mereka bertiga telah melangkah bersama Akira dan Ayumi kejalan yang diridhainya, bahagia dan haru tentu saja tak lepas dari semuanya.
“Oh ya, katanya kau mau gantikan namaku, tapi sampai sekarang gak jadi-jadi,” ucap Ayumi.
“A’ahh ... aku lupa soal itu, kerna kita sibuk dengan pencarian informasi itu,” jawab Akira membuat Ayumi cemberut, “he he ... maaf-maaf, lagi pula nama kau sudah sangat bagus tinggal tambahin aja.”
“A’ahh ... benar!”
“Emmm ... sebenarnya nama Ayumi sudah sangat bagus jadi aku tambahin nama belakangnya saja begitu juga dengan Chio.” Akira pun berusaha berpikir dan mengingat-ingat nama yang bagus.
“Ayumi Fauziah dan juga Chio Alfahrezi gimana mau gak?”
Chio dan Ayumi saling menatap dan tiba-tiba berteriak dihadapan Akira. “Hebat ...!” teriak mereka membuat Akira menutup telinga kerna merasa sunging.
“Itu sangat bagus, aku sangat senang dengan nama itu,” ucap Ayumi.
“Benar! Begitu juga denganku Akira,” sahut Chio.
“Alhamdulillah kalau kalian suka, sekarang nama Paman dan Nenek siapa?” tanya Akira menatap mereka.
Osama dan ibunya saling bertatap dan mengangguk. “Namaku Thalib Osama dan ibuku Inayah, nama kami berdua adalah nama pemberian Ayahku sesuai wasiat orang tuanya,” jawab Osama sambil memandang Akira.
__ADS_1
Akira sedikit kaget. “A'ahh ... aku rasa nama Paman dan Nenek tak perlu di ubah kerna nama itu sudah menciri Khaskan seorang muslim.”
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Osama dan Akira mengangguk.
Disisi lain nampaknya Ayumi dan Chio sedang memanas-manasi Shiro yang dari tadi cuma diam dibelakang mereka dan tidak ikut berbicara, seolah-olah ingin menghindari hal yang dibicarakan mereka dari tadi, namun ketika Ayumi dan Chio berucap untuk ikut mereka dia selalu membantah dan bertingkah tak peduli dengan menyuruh mereka untuk diam kerna berisik.
“Adahal lagi yang ingin aku bicarakan, ini tentang utusan kedua yang telah tahu tentang buku itu, dia sudah mengetahui itu dari Ayahku siang tadi, bahkan sampai mengancam akan membunuh adiknya jika tidak memberitahu kebenarannya. Tidak hanya itu, Ayahku juga tidak sengaja menyebutkan soal kalian yang jadi penerus Thalib,” ucap Osama membuat mereka semua tersentak kaget.
“Itu artinya kita semua akan dalam bahaya, dan buku peninggalan Thalib ini bisa saja dihancurkan lagi oleh tetua,” sahut Ayumi dari belakang.
“Benar! Maka dari itu kita harus membuat rencana selagi utusan itu tidak datang kesini memintanya,” jawab Osama.
“Cih ... kalau begitu kita sudah tidak punya waktu bisa saja dia akan datang malam ini,” sahut Shiro kesal.
“Tapi ... ada yang aneh,” ucap Akira memegang dagunya, “jika dia sudah tahu siang tadi seharusnya dia sudah datang dan mengambil paksa dari Pamankan? Lalu kenapa paman bisa mengetahui itu lebih dulu sedangkan dia sendiri balum datang untuk mengambilnya,” sambungnya heran.
“Benar juga kata Akira, itu artinya apa dia sedang menunggu sesuatu hal terlebih dulu,” sahut Chio dari belakang.
Osama tersenyum. “Tidak sama sekali, aku tahu ini kerna adik Ayahku melihatnya bersama dengan pengawal cuma sedang berhura-hura di suatu kedai makan tidak jauh dari tempat Ayahku, melihat itu dia segera pergi menemuiku dan menceritakan semuanya, mendengar itu tentu saja aku sangat marah, akan tetapi dia menyuruhku untuk menunggu kalian saja dan menyerahkan peninggalan itu pada kalian lalu rahasiakan darinya.” ucap Osama bercerita dan mereka semua pun mengerti.
“Itu artinya kita masih punya banyak waktu,” jawab Chio.
“Benar, kerna Rafu siutusan kedua hanyalah orang bodoh yang suka menunda-nunda dan berhura-hura terlebih dulu ketika dia menemukan kebenaran suatu hal,” jawab Osama tersenyum.
...●●●●...
Malam itu saat dirumah Osama mereka masih berkumpul bersama dan sudah hampir larut malam, ini tidak lain kerna mereka semua saling bertukar pikiran untuk membuat rencana supaya bisa menyelamatkan buku peninggalan Thalib dan juga menghidari hal lainnya.
Mereka semua nampak berusaha berpikir untuk menemukan jalan keluar hingga Akira mengusulkan sebuah ide. “Aku punya satu cara agar bisa menang, hanya saja kita semua harus bertaruh dengan dua hal,” ucap Akira.
“Bertaruh, rencana macam apa itu?” tanya Chio heran.
“Begini, jika seandainya kita juga ikut kena tangkap oleh utusan tetua itu dan mendapat persidangan yang disaksikan para warga maka kita bisa menjalankan rencana ini, hanya saja kita harus membungkar semuanya dihadapan para warga,” ucap Akira membuat mereka bertambah heran.
Flasback of
__ADS_1
-Bersambung-