The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Ken bagian akhir


__ADS_3

Dua kali upacara telah berlalu, yaitu 20 hari setelah kejadian di mana kakek Ken meninggal dunia.


Setelah kejadian itu Ken sekarang tinggal sendirian dirumahnya, dia pun terus bekerja di kedai ramen untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari, tidak jarang juga kerna malas memasak sendiri, Ken selalu mampir ke rumah Chio saat siang hari hanya untuk numpang makan, hal itu kadang membuat Chio sedikit kesal, tetapi, Ken selalu punya cara untuk Chio bisa menerima kehadirannya, yaitu dengan membawa ramen dari kedai untuk dimakan bersama.


Terkadang juga Ken mengajak Chio untuk mampir ke rumah Shiro untuk melancarkan aksinya, beberapa kali berhasil, kerna ayah dan ibunya adalah orang baik, hanya saja Shiro kadang mengusir mereka ketika ibunya tidak melihat, namun lagi-lagi Ken selalu punya cara, dia kadang meminjam barang milik ayah Shiro dan selalu mengembalikan saat waktu siang, dengan begitu dia mendapat kesampatan untuk diajak makan bersama.


Shiro selalu jadi penghalang mereka, padahal dia adalah orang yang terpandang sangat kaya, hanya saja dia sangat pelit terhadap Ken dan Chio, sampai-sampai dia sengaja makan lebih awal agar ketika Ken dan Chio datang ke rumah dia bisa segera mengajak mereka pergi.


Setelah kakeknya meninggal, Ken juga menjadi pribadi yang berbeda, sekarang dia berubah menjadi orang yang tidak peduli dengan semua penduduk, itu karena mereka yang ternyata tidak peduli saat kakeknya hilang, mereka semua acuh dan hanya mementingkan diri mereka sendiri, mulai saat itu setiap kali Ken melihat orang yang kesusahan di depannya atau meminta pertolongan padanya, dia juga berlaku sama, yaitu acuh dan tidak memperdulikan.


Hari itu Chio sedang berjalan-jalan bersamanya. "Bagaimana pekerjaanmu dikedai ramen?" tanya Chio.


"Seperti biasa, itu melelahkan, lalu bagaimana dengan barang yang kau buat, apa sudah selesai?" jawab Ken balik bertanya.


"Yah ... sedikit lagi, nanti pasti akan kutunjukkan padamu."


Saat itu seorang pria berjalan pincang di depan jalan yang mereka lalui, seketika itu juga Chio berlari menghampiri. "Sini Paman biar aku bantu berjalan sampai rumah."


"Ah tidak usah aku bisa sendiri, kakiku hanya terkilir," jawabnya sambil tersenyum.


"Cih!" ucap Ken seraya berpaling, namun terdengar oleh Chio.


"Ada apa Ken?"


"Ah tidak, sepertinya aku harus segera pulang, aku ketinggalan sesuatu." jawabnya beralasan dan segera pergi, sedangkan Chio menatap heran.


Di arah jalan pulang Ken malah berpapasan dengan beberapa preman yang sedang memalak seseorang, orang itu sepantaran dengan dirinya disebuah gang sempit jalan menuju rumah.


Saat itu dia berjalan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan mereka, bahkan tidak ada sedikit pun niat dihatinya untuk menolong orang itu, sifatnya yang begitu justru malah menarik perhatian para preman tersebut.


"Wah wah wah ... ada mangsa lagi nih, gimana nih teman-teman apa kita palak juga dia," ucapnya seraya menghadang Ken.


"Waduh jangan deh bos mending kita jadikan kawan, dari sikapnya saja acuh, bukankah sama jahatnya dengan kita semua," jawab salah satu dari mereka.


"Waduh ... jahat kok bangga aha ha ha ..." seru yang lain mengundang gelak tawa.


"Loh itu kan Ken bos, dia yang menghajar Guni sampai babak belur," ucap salah satu teman Guni.


"Oh jadi dia ya orangnya, keren juga nih, bisalah kita ajak main bersama nanti," jawab sang bos.


"Dengar-dengar nih bos kakek dia sudah meninggal kerna jatuh di tebing, ada yang bilang itu semua kerna Ken yang selalu memarahinya, sehingga membuatnya tidak tahan dan bunuh diri," seru yang lain lagi.


"Kalau begitu kita harus menjadikan dia sebagai kawan bos."


Perkataan mereka membuat Ken tertunduk dan sangat marah hingga mengepalkan tangannya, akan tetapi yang diucapkan para preman itu juga membuatnya tersadar bahwa semuanya memang kesalahannya.


"Hebat juga kau ini, wajar sih kau berbuat seperti itu, apa lagi kakekmu itu yang pikun dan kaya orang gila itu kan," ucap bosnya.


"Diam kau preman tak berguna!" Perkataan tersebut membuat Ken naik pitam dan langsung menonjok wajah bos preman itu hingga tersungkur.


"Kurang ajar! apa yang kalian tunggu cepat hajar dia!" teriak bosnya sambil menahan darah di hidung, untuk memberi perintah pada anak buahnya yang terdiam membeku.


Mereka seketika itu berlari mengahajar Ken yang sendirian sampai membuatnya merengkuk di tanah menahan setiap pukulan dan tendangan, sedangkan orang yang dipalak itu hanya mengambil kesempatan untuk kabur dari mereka, Ken pun saat itu melihatnya, saat dimana raut wajahnya ingin kabur dan sama sekali tidak berniat untuk menolong.


Sifat Ken yang gegabah dan tak bisa menahan emosi lagi dan lagi hanya membuatnya terluka, beruntunglah secara kebetulan Ayumi sedang lewat di gang itu untuk menuju rumah Ken.


"Bos-bos, liat ada orang yang berjalan ke sini, kalau dia melihat kita sedang melakukan ini, nanti bisa dia laporkan ke tetua, bakalan dapat hukuman kita bos. Ayo semuanya kita harus kabur!" teriak salah satunya membuat mereka semua berhenti dan melarikan diri.


Ayumi pun melihat mereka yang berlarian meninggalkan seseorang sedang tergelitak. dia mencoba memperhatikan siapa orang yang tergelitak itu.


"Ken!" teriak Ayumi seketika berlari menghampiri.


"Apa yang kau lakukan Ken, apa tidak pernah cukup bagimu untuk membuat masalah!" teriaknya.

__ADS_1


Ken hanya diam tak menjawab, sesekali dia batuk-batuk kerna beberapa pukulan mengenai perutnya.


"Ayo kita segera pulang ke rumah biar aku bisa membersihkan luka-lukanya," ucap Ayumi sambil membantunya berdiri, walau sedikit kesusahan, namun Ayumi berhasil membawanya.


Sesampainya di rumah Ken, Ayumi menyuruhnya duduk di kursi tamu dan hanya bisa membersihkan luka-lukanya dengan air hangat, sesekali Ken merengek kesakitan.


Mendengar suara Ken yang seperti itu justru malah membuatnya semakin kesal atas apa yang di perbuat Ken.


"Bagaimana sakitkan?" ucap Ayumi mengejek.


"Yah sedikit," jawab Ken merengek.


Mendengar jawaban begitu membuatnya tambah kesal, sehingga menyentuh lukanya dengan keras membuat Ken berteriak keras.


"Adududuhh ... pelan-pelan Ayumi pelan-pelan!"


"Apa kau ini tidak pernah jera, kau selalu saja begini, sifatmu yang begitu harus di ubah!"


"Yang mana?" tanya Ken dengan mudahnya.


"Hishh ... kau yang lemah, tidak kuat, bodoh, bertingkah berani, suka marah-marah, emosian, gegabah, tidak berguna, kau tidak berguna, menyusahkanku saja, selalu menyusahkanku, kau membuatku cemas, khawatir, keluh, kesah, risau, takut, kenapa kau selalu membuatku takut Ken!" teriaknya berkaca-kaca.


Mendangar semua ocehan Ayumi membuatnya tersentak dan terdiam membisu. "Ken ... Aku ingin kau berubah, aku tidak ingin melihatmu terluka lagi, aku mohon Ken!" sambungnya.


Mendengar Ayumi yang menangis memohon padanya malah membuatnya tersenyum dan sedikit tertawa sambil menunduk.


"Kenapa kau malah tertawa!" ucap Ayumi merasa heran dan cemberut.


"Tidak, bukan apa-apa," jawabnya seraya menahan senyum.


"Aku bilang apa!" teriak Ayumi serta mencubit paha Ken.


"Aw aw aw ... baiklah lepaskan dulu ini sangat sakit!" teriak Ken kemudian Ayumi pun melepaskan cubitannya.


"Aku akan bersedia memelukmu jika kau sudah berubah!" jawab Ayumi seraya berpaling cemberut.


"Ha ha ... aku cuma bercanda Ayumi, terima kasih kerna selalu mengkhawatirkanku, aku janji akan berubah dan tidak berbuat seperti ini lagi."


"Benar, kau harus janji," balas Ayumi mengangkat kelingkingnya.


"Yah ... janji," jawab Ken mengaitkan kelingking mereka.


"Oh ya, kenapa kau membawa bunga?" tanya Ken setelah melihat beberapa bunga terletak di atas meja.


Ayumi mengambil bunga itu dan meletakkan dipahanya. "Aku ingin mengajakmu ketebing untuk mendo'akan kakek, ini sudah dua kali upacara kita tidak kesana."


"Kau benar, setelah kejadian itu, aku jadi sangat sibuk bekerja di kedai ramen, bukan tanpa alasan, aku hanya ingin sedikit melupakan apa yang telah kulakukan terhadap jakek," jawabnya berubah sedih.


"Sudahlah Ken ... ini bukan salahmu, kita semua salah kerna tidak terlalu perhatian terhadap kakek, sehingga dia bisa keluar rumah dan tersesat, kita semua malah tidak tahu manahu akan hal itu," jawabnya mencoba menghibur, akan tetapi Ken hanya masih terdiam sedih.


"Bagaimana kalau kita sekarang berangkat ke tebing, di sana kita bisa mendoakan kakek dan berbincang-bincang sambil melihat pemandangan luar."


"Emm ... baiklah, tentu saja aku mau, apa lagi berduaan bersamamu he he ..." jawab Ken sumringah, sedangkan Ayumi dia tertawa melihat raut wajah Ken yang aneh.


Sepanjang perjalanan mereka berdua tidak habisnya bercanda dan bercengkerama hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Ken pun berjalan mendekati tongkat milik kakeknya yang dia tancapkan dan meletakkan bunga yang diberikan Ayumi, setelah itu mereka berdua berdiam dan menunduk bersama sesaat.


Setelah selasai berdo'a Ken duduk didekat tongkat itu dan menyuruh Ayumi untuk duduk disebelahnya.


"Apa kau pernah berpikir untuk keluar dari negeru ini dan memulai kehidupan baru di negeri orang yang mungkin kau jumpai?" tanya Ken memulai percakapan seraya memandang indahnya dunia luar.


"Apa maksudmu?" jawabnya heran.

__ADS_1


Ken tersenyum dan memandangnya. "Aku terus-menerus memikirkan semua itu, apa lagi setelah kepergian kakek."


"Apa yang membuatmu berpikir begitu, bukankah ini adalah tempatmu di besarkan?"


"Kau memang benar ini adalah tempatku di besarkan, tetapi juga di buang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuaku, semuanya memang sangat indah di negeri ini, tapi samua penduduk adalah orang-orang yang sangat bodoh dan tak punya hati, mereka semua adalah orang yang tidak berguna!" jawab Ken penuh amarah dan kebencian.


"Apa kau tau bagaimana bunyi peraturan di negeri kita yang tidak meperbolehkan penduduknya untuk keluar dari negeri ini kecuali meminta izin, kau tau, semuanya hanyalah omong kosong," sambung Ken terus merasa marah.


"Apa kau yakin benar-benar ingin pergi dari sini, kau juga tau kan bagaimana kisah yang melegenda di negeri kita tentang dunia luar?"


"Yah aku tau semuanya, akan tetapi, itu tidak akan menyurutkan langkahku, aku sudah membulatkan tekadku."


Tiba-tiba Ayumi berdiri di depannya dan di depan tongkat yang di tancapkan Ken. "Lalu apa alasanmu ingin melakukan itu," teriak Ayumi.


Ken mendongak memandangnya. "Maaf Ayumi banyak alasan yang tidak bisa kuberitahukan padamu," jawabnya kemudian menunduk.


"Jika begitu maka aku harus ikut bersamamu!" jawab Ayumi tegas.


"Apa kau yakin ingin ikut bersamaku, ini tidak akan mudah."


"Yah aku sangat yakin!"


"Baiklah, tapi aku tidak akan selalu bisa melindungimu."


"Kau pikir dirimu itu kuat, heh ... mana mungkin aku mau berlindung dari orang yang tidak berguna sepertimu."


Seketika itu Ken tertawa. "Aha ha ha ... mukamu serius sekali, kau terlihat jelek," jawab Ken mentertawakan.


Mendengar perkataan Ken membuatnya marah dan kesal. "Ap-apa kau bilang aku jelek, cepat hentikan tawa busukmu itu!"


"Aha ha ha ... tidak bisa, ini benar-benar lucu aha ha haa ..."


Ayumi tidak bisa berkata-kata lagi dia sangat kesal dan marah melihat Ken mentertawakannya. "Ahh ... sudahlah!" ucapnya berubah cemberut serta berpaling dan menghetakkan kaki.


Ken hanya memejamkan matanya yang berair kerna tidak bisa menahan tawa. "Aha ha ... baiklah maafkan aku ..." ucapnya membuka mata ingin melihat Ayumi yang cemberut, namun justru membelalakkan matanya ketika melihat Ayumi terjatuh bersama dengan tanah yang ambruk.


Itu disebabkan oleh tongkat yang manancap ditanah, ia tak bisa lagi menahan beban Ayumi ketika berdiri tepat diujung tebing itu.


"Ayumi ...!" teriak Ken seketika menangkap tangan Ayumi dan berhasil manahannya.


"Ken tolong selamatkan Aku ... aku sangat takut," pinta Ayumi berleraian air mata sedang tergantung di ujung tebing.


"Bertahanlah Ayumi, aku pasti menyelamatkanmu, cepat berpeganglah pada baju dan pundakku!" pinta Ken yang sedang bertiarap manahannya.


Ken berusaha mengangkat tubuh Ayumi agar tangannya bisa menjangkau pundak dan baju Ken, Ayumi pun berhasil memegangnya.


"Sekarang merayaplah dan terus berpegangan ditubuhku dan berusahalah naik ke atas," pinta Ken lagi yang terus mendorong ke atas sedangkan dia justru malah semakin turun menghadap derasnya aliran sungai.


Ayumi hampir berhasil naik dan bisa memijakkan sebelah kakinya, akan tetapi dia malah terpelesit sehingga Ken mau tidak mau menariknya dengan keras ke atas secara cepat, namun nahas justru Ken lah yang terjatuh kebawah.


"Ken ...!" teriak Ayumi berhasil naik ke tebing dan segera berpaling menghadap aliran sungai, hanya saja tidak ada sedikit pun tanda-tanda keberadaan Ken, dia lenyap begitu saja.


Kerasnya suara aliran sungai membuatnya tak mendengar apa-apa, Ken seolah hilang begitu saja terbawa derasnya aliran sungai bawah tebing yang dipenuhi bebatuan.


"Ken!" teriak Ayumi sekencang-kencangnya dengar berlerai air mata.


Suasana petang hari itu kini manjadi saksi bisu hilangnya Ken tak tau entah kemana, dia telah hilang bersama dengan kakeknya ditempat yang sama.


Suara tangisan Ayumi terdengar sangat nyaring, membuat orang yang mendengar merasakan getaran di hati. Suara tersedu-sedu Ayumi terdengar bergema menyayat hati, perasaan itu hanya bisa dirasakan oleh Shiro yang terpaku membisu terdiam menatap semuanya dari balik pohon.


Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ketika melihat Ken yang terjatuh dari tebing dengan jelas di depan mata.


Flashback Of

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2