
Pagi ini mereka melaksanakan rapat kembali untuk memperjalas informasi yang telah mereka dapatkan, rapat ini mereka laksanakan dirumah Chio. Saat itu mereka telah berkumpul dan duduk melingkar bersama, dihadapan mereka pun terdapat banyak cemilan dan minuman yang telah disiapkan, dibalakang Chio pun ada sebuah papan tulis yang mereka buat seadanya yang mana dipindahkan kerumah Chio.
“Kemarin malam kita talah mendapatkan petunjuk mengenai cerita legenda Thalib yang sebenarnya dari Paman Osama, saat ini kita telah mendapatkan tiga bagian cerita nyata yang ada didesa kita, yang pertama adalah mengenai Thalib yang tiba di negeri Sabbat, kedua mengenai negeri itu sendiri, dan yang terakhir adalah cerita Thalib yang tinggal dinegeri kita,” ucap Chio menjelaskan.
“Rasanya sulit juga bagi kita merahasiakan ini dari orang lain, tapi apa boleh buat kita harus mengikuti perintah Paman,” sahut Ayumi.
“Beberapa dari panduduk mungkin saja mereka bisa mempercayai cerita ini, apa lagi dengan kesan Thalib yang pernah menatap di sini, bahkan untuk makamnya saja masih ada bukan, itu bisa jadi nilai tambah untuk membuat mereka mempercayainya,” jawab Akira.
“Tapi tetap saja akan berbahaya jika kita menceritakannya pada orang lain, pastinya yang tahu ini kebanyakan dari kalangan seusia Kakek,” jawab Chio.
“Cih ... dari pada membahas itu lebih baik kita membahas rencana selanjutnya,” ucap Shiro menjadikan mereka semua mengangguk.
“Oh ya, sebelum itu aku tak menyangka kalau Kakek dan Nenek yang menceritakan pada kita, ternyata ada hubungan darah dengan Paman,” ucap Ayumi.
“Yah aku juga tak menyangka mengenai itu, padahal saat bertemu di panti jompo waktu itu mereka memang seperti Ayah dan anak,” jawab Chio.
“A’ahh ... apa lagi soal paman yang bersusah payah untuk menyelamatkan ayahnya dari hukuman larangan itu, beruntunglah katanya tetua kedua bisa meringankan dan menerima usulan Paman untuk ditempatkan di panti jompo,” balas Akira.
“Yah, dan sekarang sudah jadi tempat yang bagus untuk kita berbakti pada orang tua, sebagai seorang yatim piatu aku merasa bersyukur bisa mendapat hukuman bekerja disana,” jawab Chio.
“Cih ... nanti setelah ini kau akan pergi kesana terus kerna pastinya kau sudah tidak akan lagi pergi mengikuti upacara,” ucap Shiro malas.
“Ha ha ... tapi aku sangat senang kerna sudah bisa lepas dari semua itu, aha ha ... astaga batapa bodohnya diriku dahulu,” jawabnya seraya tertawa bahagia membuat Shiro sedikit kesal.
“Ha ha ... kau benar Chio, dulu kita memang bodoh, sekarang kita sudah lepas dari kebodohan yang keterlaluan!” balas Ayumi ikut tertawa sedangkan Shiro bertambah kesal.
“Ha ha ... sudahlah nanti kedengeran Shiro dia bisa jadi bimbang nanti. Oh ya Ayumi kau keliatan tambah cantikya sekarang ha ha ... tapi aku kasian dengan Shiro yang sekarang tidak akan bisa lagi memilikimu,” balas Akira juga menambah kemarahan Shiro, namun Ayumi justru berpaling malu sedang Chio menatap heran pada Akira yang berucap seperti itu.
“Cih ... Be-berisik!” teriak Shiro kesal kerna dari tadi mereka terus menyinggungnya, namun justru wajahnya memerah malu kalau menyangkut soal kecantikan Ayumi.
“Apanya, orang kami bicaranya pelan,” balas Chio.
“Cih ... sudah kubilang saatnya kita membahas rencana kedepan!” teriaknya lagi membuat mereka semua tertawa.
“Oh ya Akira, kau bilang kemarin ada yang ingin kau bicarakan mengenai kata Sabbat?” tanya Chio mengingatkan.
“A’ahh ... benar, ini tentang nama dari negeri itu sendiri yaitu Sabbat, kata ini bisa di artikan dengan makna berhenti. Sabbat sendiri adalah nama hari yang tidak lain disebut Sabtu,” jawab Akira.
“Nama hari, apa maksudmu?” tanya Ayumi.
“A’ahh ... benar sekali aku baru sadar, mulai sekarang kita akan menentukan waktu dengan tujuh nama hari,” jawab Akira bersemangat dan segera menuju papan tulis lalu menuliskan tujuh nama hari itu hingga selesai.
“Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu ...” ucap Ayumi dan Chio heran membaca tulisan yang Akira tulis.
“Ini adalah tujuh nama hari tersebut, mulai sekarang kita akan menggunakan ini untuk mengetahui waktu setiap hari,” ucap Akira.
__ADS_1
“Hemm ... itu artinya jumlah hari yang terhitung hanya sampai tujuh hari, lalu akan kembali ke awal nama hari Ahad,” jawab Chio.
“Cih ... aku tidak mengerti coba kau terangkan lebih jelas,” ucap Shiro.
“Di duniaku sana terdapat tujuh nama hari yang tentunya berasal dari nama angka dalam bahasa Arab. Ahad yang berarti satu, Senin atau Isnain yang berarti dua, Tsalatsa atau Salasa yang berarti tiga, Arba’a atau Rabu yang berarti empat, Khamisi atau Kamis yang berarti lima, Jum’at adalah hari ke enam yang berasal dari kata Jumu’ah yang berarti ramai, ramai disini maksudnya dimana seluruh umat Islam diwajibkan melaksanakan Shalat Jum’at dan itu berlaku untuk kaum laki-laki. Lalu yang terakhir adalah Sabtu atau Sab’at yang berarti tujuh, nama lain dari Sabtu juga adalah Sabbat yang berarti dia berhenti, Sabbat sendiri berasal dari bahasa Ibrani,” ucap Akira menjelaskan.
“Haa ...!,” teriak Ayumi seraya menunjuk Akira.
Saat itu Akira kaget sekaligus bingung apa yang ingin Ayumi katakan. “Itu artinya kau sudah lama tidak melaksanakan Shalat Jum’at, dasar kau ini laki-laki tak tahu malu!” ucap Ayumi mengejeknya membuat Akira merasa malu.
“Ehh ... tunggu, tapi kau kan selalu melaksanakan Shalat dan tidak pernah lalai,” sambungnya mulai bingung sendiri.
“A’ahh ... benar Ayumi, sejak aku dikirim kedunia ini aku mulai saat itu tidak melaksanakan Shalat Jum’at, tapi bukan berarti tanpa alasan, Shalat jum’at sendiri harus dilaksanakan secara berjamaah paling tidak harus empat puluh orang muslim, tidak hanya itu Shalat Jum’at memiliki peraturannya sendiri dibanding Shalat wajib lima waktu biasanya, hari jum’at sendiri juga disebut hari rayanya umat islam selain dua hari raya yang telah aku ceritakan padamu.”
“Itu artinya kita tidak akan bisa melaksanakan itu selama tidak terpenuhinya syarat tersebut?!” sahut Chio merasa tidak percaya.
“Benar Chio, kita tidak bisa melaksanakannya selama semua itu tidak terpenuhi, yah kita harap Allah selalu mengampuni kita berdua kerna keterbatasan ini,” jawab Akira sedih.
“Cih ... aku sudah paham masalah kalian, lalu masalah hari yang kau bicarakan itu untuk apa?” tanya Shiro.
“A’ahh ... benar, kerna dinegeri kita ini tidak mengenal istilah tahun dan bulan maka kita akan menggunakan hitungan seminggu, dan tujuh nama hari itu akan jadi acuannya. Walupun begitu, ketepatan hari yang akan kita buat belum tentu benar, akan tetapi kita akan dipermudah dengan cara ini,” jawab Akira.
“Kalau begitu ... maka kita akan memulai dengan hari Ahad lalu sampai hari Sabtu dan kembali lagi pada hari Ahad,” ucap Chio mulai mengerti.
“Yah, kami semua setuju,” jawab Ayumi dan anggukan dari Shiro.
Akira tesenyum. “Kalau begitu selanjutnya mengenai buku peninggalan Thalib ini,” ucapnya seraya mengambil satu buah buku terletak di atas papan tulis.
“Jujur, aku sama sekali tidak mengerti dengan tulisannya,” jawab Chio.
“Cih ... apa boleh buat kita juga harus belajar darinya,” sahut Shiro seolah tak mau.
“Yah paman Osama sendiri tidak bisa membacanya, beruntung Akira bisa mengerti dengan mudah,” jawab Ayumi.
“A'ahh ... kalian tenang saja aku akan mengajarkannya secara perlahan pada kalian agar kita semua bisa paham bahasa mela ...”
*Brakkk ...!!
Beberapa orang tiba-tiba muncul dengan mendobrak pintu rumah Chio bahkan mereka semua membawa senjata jenis tombak.
“Diam ditempat dan jengan bergarak kalau tidak ingin celaka!” teriak salah satu dari mereka memperingatkan membuat Akira dan lainnya kaget tak bisa berbuat apa-apa.
Dari luar terdengar pembicaraan yang menyebutkan utusan kedua. “Lapor utusan kedua! Mereka semua ada didalam!” ucap salah satu dari mereka.
“Sudah kubilang untuk memanggilku utusan pertama!” teriaknya diiringi dengan terlemparnya satu orang dari luar hingga masuk kedalam rumah Chio, sontak saja Akira dan yang lainnya terkejut ketika salah satu dari mereka tersungkur tepat dihadapan Chio.
__ADS_1
“Oh astaga maafkan aku telah menandangmu, aku tak sengaja, jika saandainya kau tadi tidak memanggilku utusan kedua ketidak sengajaan ini tidak akan terjadi,” ucap orang itu seraya masuk kedalam dan membangunkan anak buahnya berdiri.
Orang itu membisiki anak buah yang dia tendang tadi. “Sudah kubilangkan untuk memanggilku Rafu si utusan pertama dihadapan orang-orang,” ucapnya berbisik, namun tetap terdengar oleh Akira dan yang lainnya.
“Maaf tuan aku salah,” jawab orang yang ditendangnya seraya menahan sakit.
Rafu berjalan mendekati Akira dan lainnya. “Perkenalkan namaku Rafu si utusan pertama, kedatanganku disini ...”
“Cih ... kau ini utusan kedua atau utusan pertama membuatku bingung saja!” potong Shiro terlihat kesal.
Rafu mendakatinya. “Tadi kau bilang apa?” tanyanya balik.
“Cih ... aku bilang kau ini! utus ...” jawab Shiro seketika terhenti ketika sebuah pukulan mendarat diperutnya.
Tentu saja hal itu membuat Shiro terduduk lemas menahan sakit. “Shiro ...!” teriak Akira dan yang lainnya Khawatir.
“Sudah kubilangkan panggil aku utusan pertama jika didepan orang-orang seperti kalian ini ...” ucapnya seraya menggosok rambut Shiro yang terlutut dihadapannya.
“Cih ... bagaimana jika aku memanggilmu begitu dihadapan semua warga,” balas Shiro seolah mengejek.
“Shiro ...!” teriak Chio dan Ayumi melarangnya melawan.
Rafu tersenyum. “Lakukan saja bocah anak orang kaya,” jawabnya juga mengejek Shiro hingga membuatnya kesal tak bisa membalas apa-apa.
“Hemm ... sampai mana tadi. Oh iya, kedatanganku disini untuk menangkap kalian semua atas dasar pemberontakan dan juga atas penganiayaan terhadap empat orang yang telah dilakukan orang ini,” ucapnya tegas seraya menunjuk Akira, membuat mereka semua terperangah kaget.
“Pemberontakan? Apa yang sedang kau bicarakan, kami tidak melakukan apa-apa!” jawab Ayumi membantah.
“Benar! apa lagi penganiayaan, itu semua salah!” sahut Chio.
“Yah yah yah ... kalian bisa mengingatnya sendiri nanti dipersidangan. Cepat tangkap mereka!” ucap Rafu memberi perintah dan kemudian Shiro, Ayumi, dan Chio ditahan oleh anak buahnya.
Saat itu Akira malah sedang memegang buku peninggalan Thalib. “Dan sekarang kau yang telah melakukan penganiayaan terhadap empat orang, cepat serahkan buku itu,” ucap Rafu.
“Maaf aku tidak bisa memberikan barang berharga ini pada kalian, jika ingin menangkapku maka tangkap saja aku, tapi tolong biarkan buku ini tetap bersamaku,” jawab Akira.
Rafu tersenyum. “Oh barang berharga ya ...” balasnya seraya berpaling maju menjauh, “kalau begitu aku ambil dengan paksa!” teriaknya sambil menendang kearah wajah Akira.
Bukannya Akira yang dia tendang melaikan hanya dinding belakang Akira kerna berhasil menghindar, namun kejadian itu justru membuat buku itu jatuh dihadapan Rafu.
“Hoo ... hebat juga kau ini bisa menghindari itu, tapi tidak ada gunanya sekarang, cepat tangkap dia juga,” pintanya seraya menunduk mengambil buku itu tepat dihadapan Akira yang sudah ditangkap mereka.
Rafu pun membuka buku itu dan melihat isinya kemudian menyeringai. Akira, Chio, Ayumi, dan Shiro yang baru saja di tangkap dan dibawa menjauh dari tempat itu tiba-tiba juga ikut menyeringai seolah mereka semua sudah tahu dan merencanakan sesuatu hal dibalik kejadian ini.
-Bersambung-
__ADS_1