
Pagi itu di negeri Sabbat Akira dan lainnya mulai melakukan rapat kembali untuk memperjelas semua informasi yang talah mereka dapatkan. Kerna saat itu harinya cerah mereka pun pergi ke perbukitan yang berada di luar gerbang kota Megumi.
Dari atas bukit itu bisa terlihat jelas di bawahnya perkebunan dan persawahan milik para penduduk. Dari sana juga mereka bisa melihat indahnya pemandangan dari hutan yang telah mereka lalui dan luasnya wilayah negeri Sabbat.
“Aku sudah mencatat banyak hal mengenai Thalib yang pergi menuju negeri kita tanpa peta, dan juga tentang Alhudari Bik di buku yang baru saja aku beli,” ucap Chio.
“Tunggu dulu, emang uang kita berlaku disini?” tanya Ayumi.
“Tentu saja tidak, mereka punya alat tukar sendiri yaitu koin emas yang di buat oleh anggota kerajaan, aku juga sempat bertanya saat itu pada Daichi soal uang yang kita bawa, dia bilang uang yang kita miliki sama sekali tidak berharga,” jawab Chio.
“Lalu bagaimana kau bisa membelinya?” tanya Ayumi lagi.
“Kami menjual semuanya pada pandai besi di seberang rumah Gozali, ternyata hanya dapat dua keping emas,” jawab Akira sedikit tertawa.
“Ehh ... hanya di hergai segitu,”
“Menyedihkan sekali bukan, kata paman Kanzo padahal Thalib pernah menyuruh orang-orang di negeri kita membuat alat tukar dengan koin emas, supaya hal itu juga nanti akan berlaku di luar negeri kita, namun nyatanya semua emas yang di dapat akan dibuat menjadi sebuah patung,” ucap Chio merasa kasihan.
“Cih ... kenapa kau terlihat mengasihani seperti itu, bukannya kau juga bagian dari mereka,” sahut Shiro sambil duduk bersandar di pohon.
“Itu dulu!” bantah Chio berteriak tak terima.
“Ha ha ... sudah-sudah mari kita mulai saja rapat kita,” ucap Akira.
“Huh ... baiklah.” Chio berusaha untuk tenang sambil mengelus dadanya dan bernafas perlahan.
“Seperti yang kubilang tadi aku sudah mencatat hal-hal yang penting tentang cerita Thalib saat melanjutkan ke negeri kita tanpa peta, namun sepertinya tidak ada yang perlu kita bahas kerna sudah sangat jelas dan pastinya kalian sudah mengerti,” sambung Chio menjelaskan.
“Lalu bagaimana dengan cerita Alhudari kemarin?” tanya Ayumi.
“Menurutku semua itu sudah cukup untuk kita melanjutkan perjalanan ke negeri Matahari Ekhad!” Chio tersenyum merasa sangat yakin dengan apa yang dia pikirkan.
Mendengar itu sedikit membuat Akira terkejut dan dilihat oleh Shiro. “Tapi ... bukankah kita harus mencari tahu lebih banyak lagi,” jawab Ayumi.
__ADS_1
“Kau mendengarnya sendirikan Ayumi, menteri itu bilang negeri mereka adalah negeri yang sangat terbuka dan selalu menerima para musafir atau orang-orang yang datang, kau setujukan Akira?”
Akira tersentak. “A’ahh ... tapi apa yang dikatakan Ayumi juga benar.” Saat itu Shiro masih memperhatikan Akira.
“Tidak salah sih, tapi ... ada satu hal lagi yang menarik dari pembicaraan kita kemarin, di dalam cerita Alhudari itu, dia bilang kalau negeri Matahari Ekhad adalah negeri pertama yang menyambutnya dengan baik tidak seperti negeri Soma.” Chio nampak sangat percaya diri dan bersemangat.
“Dari situ sudah bisa di lihat dengan jelas, ada kemungkinan Alhudari berasal dari negeri sebelum Soma,” sambungnya.
“Yah ... sekarang aku baru mengerti, itu artinya perjalan kita hanya perlu melalui dua negeri lagikan?!” Ayumi ikut bersemangat.
“Maka dari itu kita semua sebaiknya segera menyiapkan keperluan untuk melanjutkan perjalanan menuju negeri Matahari Ekhad, untuk masalah peta kita tidak perlu khawatir kata paman Daichi mereka bisa saja nanti mengantarkan kita ke ....”
“Cih ... apa yang sedang kau pikirkan.” Shiro menatap tajam pada Akira yang duduk termenung sendiri di rerumputan yang menjadi alas mereka duduk bersama di bawah pohon rindang itu.
Akira kembali tersentak. “A’ahh ... tidak maksudku ....”
Ayumi dan Chio pun ikut menoleh pada Akira. “Apa kau tidak setuju dengan pendapat kami?” tanya Chio.
“Emm ... kalian masih ingat dengan kalimat yang tertulis dibuku peninggalan Thalib mengenai raja yang serakah?” sambungnya, namun Ayumi dan Chio malah terdiam berusaha mengingatnya.
“Cih ... dasar kalian ini pelupa sekali, aku saja masih mengingatnya dengan jelas. Dia bilang apa kalian masih mengingat apa yang dikatakan Thalib dalam bukunya tentang raja yang haus akan kesombongan dan kekayaan,” ucap Shiro menjelaskan.
“Oh tentang itu, sekarang aku ingat jadi apa maksudmu Akira?” tanya Ayumi.
“Hoo ... tumben sekali kau mau menjalaskan tanpa wajah tidak terpaksa seperti itu,” sahut Chio mengejeknya.
“Cih ... diamlah!” Shiro memalingkan wajah.
Akira tersenyum melihatnya. “Biar aku buka saja halamannya agar kita bisa mengingat kembali.” Akira membuka buku itu dan meletakkannya di paha menghadapkan ke mereka semua.
“Ayumi tolong bacakan,” pinta Akira.
“Matahari kini telah kembali bersinar cerah di atas bumi para penduduk yang tak kenal lelah. Raja yang terlihat agung selalu mereka puja dan banggakan sebenarnya adalah raja yang haus akan kesombongan dan kekayaan. Ketika kemakmuran dan kelimpahan melanda negeri mereka, mereka semua menari dan bergembira menghadap sang cahaya. Ketika semua itu lenyap oleh kerakusan raja yang selama ini mereka dukung, mereka akan menyalahkan pada malam dan awan mendung yang tak mendukung.” Ayumi membacanya sampai selesai hingga membuat Chio terdiam memikirkan.
__ADS_1
“Apa maksudmu ini berhubungan dengan negeri Matahari Ekhad?” tanya Ayumi.
“A’ahh ... benar, aku rasa Thalib ingin menyampaikan sesuatu tentang negeri itu, misalnya saja tentang mereka yang menari menghadap sang cahaya dan mereka yang menyalahkan pada malam dan awan mendung, mungkin maksudnya adalah penyambah matahari,” jawab Akira.
“Cih ... jadi menurutmu mereka adalah orang-orang dari negeri Matahari Ekhad,” sahut Shiro.
“A’ahh ... tapi aku masih belum yakin, maka dari itu aku ingin mendengar pendapat kalian soal ini.”
“Kau benar Akira, tidak salah lagi mereka adalah orang dari negeri Matahari Ekhad,” sahut Chio sangat yakin.
“Ada kemungkinan besar bahwa saat Thalib datang ke negeri itu raja mereka telah berganti, secara waktu antara Thalib dan Alhudari Bik memiliki rentang waktu yang lumayan jauh. Walaupun dikatakan bahwa Alhudari adalah gurunya, namun saat Thalib sampai di negeri Sabbat ini, dia bilang bahwa Alhudari telah tiada,” sambungnya.
“Hemm ... dari apa yang ditulis Thalib ini sepertinya hanya dia yang tahu sifat asli dari raja itu,” jawab Ayumi memegang dagunya.
“A’ahh ... masih banyak hal yang tidak aku mengerti dari itu semua, namun apa yang dikatakan paman Daichi juga tidak bisa kita kesampingkan menganai dia yang baru saja tinggal di negeri ini, dari situ juga bisa di pastikan kalau negeri mereka baik-baik saja,” ucap Akira.
“Balik lagi soal waktu, Thalib telah lama meninggal dunia bahkan saat ayah paman Osama masih remaja, kita telah berada di zaman yang sangat jauh dari mereka. Maka dari itu talah banyak perubahan terjadi.” Jawab Chio dan mereka mengangguk.
“Kuakui aku salah, aku terlalu buru-buru padahal kita harus mengumpulkan semua informasi sebanyak mungkin sampai kita yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, kita harus mempelajari setiap kemungkinan yang ada dan selalu berhati-hati,” sambungnya.
“Cih ... akhirnya sadar juga kau sekarang,” balas Shiro seolah sudah tahu semuanya.
“Apa kau bilang!” Chio marah.
“Tidak bukan apa-apa, aku baru sadar tenyata kau bodoh juga,” ejeknya.
“Kau ...!” teriak Chio seraya melompat ketubuh Shiro dan menguncinya.
"Cih ... apa sedang kau lakukan, ha ha ... lepaskan ha ha ...." Shiro tak bisa menahan kerna Chio menggelitiki pinggangnya.
Melihat mereka bertengkar seperti itu membuat Akira ikut mengerjainya hingga Ayumi pun mentertawakan mereka.
-Bersambung-
__ADS_1