The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Kita Semua Akan Jadi Musafir Bagian Akhir


__ADS_3

Akira dan lainnya terbelalak ketika pandangan mereka semakin jelas memperlihatkan Shiro dengan wajah kesal dan marah manatap tajam pada mereka bertiga. “Shiro!” teriak mereka bahagia.


Shiro melajukan kudanya dengan cepat seolah ingin menebarak mereka. Chio dan Ayumi berusaha untuk lari, namun kebingungan, sedangkan Akira dia trus menatap Shiro senang. Saat Shiro semakin dekat dia seketika berhenti dengan mengangkat kedua kaki depan kudanya seperti ingin menginjak Akira, akan tetapi Akira sama sekali tidak bergeming.


“Cih … dasar kau ini, apa kau sudah berniat mati,” ucapnya seraya turun dari kuda.


“Bro!” teriak Akira seraya memeluknya.


“Hey lepaskan! Aku tak sudi dipeluk olehmu!”


“Shiro kau beneran mau ikut kami!” teriak Chio juga ikut memeluk Shiro.


“Cih … dasar kalian ini, mana mungkin aku meninggalkan kalian dengan Aira yang lemah ini, bisa-bisa kalian semua mati ditengah jalan,” jawabnya meremehkan.


“A’ahh … maka dari itu aku ingin kau ikut kami, ha ha … kami akan merepotkanmu,” jawab Akira melepaskan pelukannya dan diikuti Chio.


“Cih … dasar kau ini tak tahu malu,” ucapnya kesal, “apa ini, apa kalian mencuri kuda warga dengan rencana Chio, cih … kalau begini gagal rencanaku untuk berkuda bersama Ayumi dan membiarkan kalian berlari mengejar kami sampai mati,” sambungnya tersenyum licik.


“Kau ini! apa kau juga mau aku sembelih seperti Arnius!” teriak Chio marah dan ditahan Akira.


“Tetua kedua dan paman Osama yang memberikannya. Emm … ngomong-ngomong kenapa kau berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut?” tanya Ayumi dan Shiro terdiam beberapa saat.


“A’ahh … yah bro kenapa?” sahut Akira.


“Cih … kau ini, apa kau harus menanyakan itu juga, seharusnya kau bersyukur dan diam saja tak perlu menanyakan hal itu, sudah kubilangkan kalau aku tidak ikut pastinya kalian semua hanya akan mati ditengah jalan,” jawabnya sombong.


“Hah … dasar! palingan gak bisa jauh dari Ayumi.” Sahut Chio seolah tak peduli dan Shiro hanya diam juga tak peduli.

__ADS_1


“Dari pada membahas itu aku ada sesuatu untuk kalian." Chio mengambil sesuatu dari tasnya, "nah kerna Shiro sudah datang jadi aku akan kasih ini untuk kalian semua,” sambungnya seraya mengeluarkan barang yang terbuat dari lempengan besi dan itu seperti sebuah jam saku yang mempunyai penutup, benar saja ini adalah jam matahari dalam bentuk saku dan dibagikannya masing-masing satu di antara mereka.


Akira membuka penutupnya dan seketika sebuah tongkat kecil keluar dari tengahnya yang berlobang, seketika itu juga sebuah bayangan terbentuk sedang menunjuk kearah jam sore, Akira mencoba mencari arah yang tepat hingga bayangan itu kini menunjuk angka sembilan yang tertulis di situ.


“Apa ini …” Akira manatapnya bangga.


“Benar, kau ingat waktu datang kerumahku untuk menanyakan soal desa, kau tak sengaja melihat sebuah benda yang mirip dengan inikan, aku sengaja membuat ini untukmu, namun kerna kita sangat sibuk aku jadi berhenti membuatnya, sampai saat aku masuk Islam aku melanjutkannya dan membuat lima buah untuk kita dan juga untuk Osama, aku juga bilang padanya untuk membuat lebih banyak supaya bisa dibagikan kepada para muslim didesa agar mereka bisa mengira kapan waktunya Shalat,” jawab Chio menjelaskan dan Akira memandangnya haru.


“Terima kasih semuanya kalian adalah sahabat pertamaku di dunia ini,” ucap Akira berkaca-kaca menatap mereka.


Melihat Akira yang seperti itu membuat Shiro mengingat pembicaraan dengan ayahnya. “Shiro apa yang memutuskanmu untuk tidak ikut dengan mereka,” tanya Ayahnya saat Shiro sedang duduk menghadap jendela melamun.


Shiro menoleh heran. “Kenapa Ayah bisa tahu?”


“Aku sudah mendengar semuanya, dan lagi ada kabar bahwa mereka akan pergi hari ini, apa kau takut kerna tidak ingin meninggalkan kami, atau kerna kau bukan bagian dari mereka dan mungkin tidak akan bisa membantu apa-apa?”


“Kau salah Shiro, mereka sangat membutuhkanmu kerna kau adalah orang yang kuat dan bisa diandalkan, kau harus melindungi teman-temanmu, jaga mereka semua, kerna kau adalah yang paling tua dari mereka, aku yakin kau pasti ingin bersama mereka,” ucap sang ayah meyakinkan.


Shiro terdiam menatap Ayahnya kerna merasa tak percaya. “Shiro, ayahmu benar, kau sudah dewasa, kau berhak memilih ingin seperti apa, kami tau kau tidak ingin pergi kerna tidak ingin meninggalkan kami sendirian tanpamu, tapi tanang saja kami akan baik-baik saja, aku tahu dihatimu ingin ikut bersama mereka,” sahut ibunya.


“Aku lihat selama ini kau pasti mencintai Ayumikan, maka dari itu pergilah kejar cintamu sebelum si Akira sainganmu itu mengambilnya!” jawab ayahnya terus meyakinkan.


“Kalian ini ... aku sudah dewasa tak perlu lagi kalian semangatin seperti itu, kalau terus begini aku serasa jadi anak kecil,” ucapnya Shiro tersenyum sombong.


"Cih ... dasar! bukannya seperti itu gayamu," jawab sang ayah meledek.


“Ya ampun, bagaimana mungkin aku berucap kepada orang tuaku seperti itu, dasar kalian ini," jawabnya.

__ADS_1


Shiro tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan kembali kerumah ini setelah berhasil membantu mereka,” sambungnya bersemangat.


“Yah … kau masih anak kecil ayah dan ibu jadi kau harus kembali kesini,” jawab ibunya.


Mengingat kejadian itu membuatnya ingin meneteskan air mata, namun dia berusaha menahannya. “Cih … dasar! belum apa-apa udah mau nangis, dasar si Aira cengeng!” ejek Shiro sambil menaiki kudanya.


“Siapa yang nangis! lagi pula siapa Aira, aku Muhammad Akira lah!” bantah Akira menyapu mata dengan pergelangan tangan.


Ayumi dan Chio tertawa sedang Shiro dia tersenyum. “Baiklah! Sebaiknya kita segera berangkat sebelum terlalu siang,” ucap Chio segera menaiki kudanya dan diikuti Ayumi.


“A’ahh … Chio benar,” jawab Akira juga ingin menaiki kudanya, namun tiba-tiba dia tersentak menyadari sesuatu hingga terdiam ditempat.


Shiro yang melihat Akira terdiam membuatnya kesal. “Cih … kenapa kau diam saja, cepatlah naik, atau jangan-jangan kau ini tidak bisa berkuda!”


“Ano … bagaimana caranya menaiki kuda ya?” jawab Akira sambil menggaru pipinya tanda bingung.


“Ehh ....” teriak Ayumi dan Chio heran.


...●●●●...


Saat itu mereka berkuda dengan cepat seraya tertawa bersama melihat Shiro yang terlihat risih kerna terus dipeluk Akira kencang, sedangkan kuda milik Akira diikat pada kuda milik Chio.


“Cih … kenapa harus aku yang bersama dengannya!” teriak Shiro kesal sedangkan Ayumi dan Chio tertawa melihat kelakuan mereka berdua.


Akira, Chio, Ayumi, dan juga Shiro kini telah memulai perjalan mereka menuju negeri Sabbat untuk mencari petunjuk lainnya tentang peradaban Islam agar bisa menemukan bulan Ramadan. Dengan hanya bermodalkan sebuah peta dan buku peninggalan Thalib mereka semua berangkat dengan penuh keyakinan dihati.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2