
Mendengar kabar dari Arata itu, Chio pun segera berdiri dan menyambut surat tersebut lalu membaca keras. “Sepertinya aku tidak bisa leluasa lagi memberikan bantuan kepada kalian, Beberapa penjaga istana sepertinya sedang mengawasiku, mereka sering terlihat berkeliling di setiap sudut istana yang kutinggali, beberapa dari mereka juga adalah pengawal kelas atas yang ditunjuk oleh menteri untuk melindungi adikku Kanechi.”
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun sepertinya mereka tengah mewaspadaiku yang kini berada di negeri ini. Sebaiknya kalian datang menemuiku besok agar aku bisa menjelaskan lebih rinci, Ayumi juga sudah sangat ingin bertemu kalian berdua, dia juga selalu bertanya soal Akira dan masalah yang kalian hadapi saat ini, lebih baik kalian sendiri menjelaskan kepada dia agar dia bisa mengerti. Tertanda Daichi,” sambungnya terdiam.
“Cih ... lagi-lagi masalah baru muncul,” ucap Shiro kesal.
Harley tersenyum. “Sepertinya pangeran itu punya pengaruh besar dalam pemerintahan negeri ini, sampai-sampai mereka sangat mewaspadainya.”
Chio menatap Harley. “Seperti yang kuceritakan sebelumnya, Pangeran Daichi adalah orang yang pantas memimpin negeri ini, kitalah yang harus memabantunya menggulingkan kerajaan yang sekarang, lalu menjadikan dia sebagai raja baru.”
“Besok penjagaan mereka akan berkurang kerna ada acara peribadatan mingguan, kalian bisa pergi ke sana menemuinya secara langsung, masalah pekerjaan di sini biar aku yang tangani bersama paman Yogi,” sahut Arata.
Chio tersenyum pada Arata. “Terima kasih banyak Arata, kau sudah sangat banyak membantu kami.”
Arata ikut tersenyum. “Tidak usah di pikirkan, kita samua saling membantu, aku mendukung kalian juga kerna pangeran Daichi.”
“Baiklah semuanya besok kita akan pergi ke istana untuk menemui Daichi sekaligus berkumpul bersama Ayumi lagi,” ucap Chio bersemangat.
“Yosh! Aku juga akan ikut, kerna sekarang aku adalah bagian dari kalian,” ucap Harley.
“Cih ... ngaku-ngaku,” sahut Shiro.
“Tidak, dia benar, Zinan akan jadi bagian dari kita sakarang, kerna dia dan Akira datang untuk melamar pekerjaan, maka kalian semua cepatlah bekerja sekarang!” bentak Chio membuat Harley dan Akira kaget.
“Ehh ...!” teriak keduanya.
Sedangkan Shiro menggeleng dan Arata menepuk jidatnya. “Hah ... mulai lagi.”
...●●●●...
Keesokan harinya, saat itu Chio, Akira, Shiro dan Harley telah sampai di istana dan di sambut oleh dua pelayan wanita. “Apa di antara kalian ada yang bernama Chio?” tanya salah satu pelayan.
“Yah saya sendiri,” jawab Chio.
“Mari ikuti kami,” jawabnya.
“Bagaimana dengan para penjaga?” tanya Akira.
“Kami tidak tahu, kami hanya di perintahkan untuk mengantarkan kalian menemuinya,” jawabnya.
“Sudah ikuti saja,” bisik Chio.
“A’ahh ...”
Setelah mereka masuk dan berjalan di salah satu lorong istana. “Kami juga diminta untuk mengantarkan salah satu diantara kalian untuk menemui Ayumi,” ucap pelayan tadi.
“Cih ... biar aku saja,” jawab Shiro seketika.
“Kalau begitu kami akan menunggu di sini,” sahut Akira.
__ADS_1
“Cih ... duluan saja!” ucap Shiro segera mengikuti salah satu pelayan itu yang telah berjalan lebih dulu.
“A’ahh ... baiklah,” balas Akira.
“Apa dia selalu begitu?” Harley heran menatapnya.
“Sudah biarkan saja,” balas Chio.
“Mari,” pinta pelayan itu lagi mempersilahkan dan mereka pun mengikuti.
Kini Akira, Chio dan Harley telah sampai di pintu ruangan Daichi. “Ini ruangannya, silahkan kalian masuk saja,” ucap pelayan tadi.
“Berhenti sebentar!” teriak seorang laki-laki berjalan menghampiri mereka dengan pakaian hitam sedikit mewah.
“Siapa mereka, dan kenapa kau membiarkan mereka masuk?” tanyanya pada pelayan tadi.
“Mereka tamu pangeran Daichi, aku diperintahkan untuk mengantar mereka,” jawabnya sedikit takut.
“Dasar kau ini! bukannya memberitahukannya kepadaku dulu malah langsung di bawa ke sini,” balasnya.
Pelayan itu bingung. “Tapi tuan bukan siapa-siapa.”
“Diam saja dan lihatlah! Mereka ini bisa saja orang jahat!" bentaknya.
Akira dan lainnya pun hanya bisa terdiam heran. “Kalian semua lihatlah tangangku,” pintanya seraya mengangkat telapak tangan di depan wajah mereka, lalu melambaikan ke kiri dan ke kanan.
Akira dan Chio saling menatap heran. “Anu ... paman sedang apa?” tanya Chio.
“Tidak mempan!” Dia terbelalak.
“Apa yang kau lakukan pada mereka!” teriak Daichi datang dari arah belakang pelayan itu.
Laki-laki itu terkejut dan segera berpaling menghadap. “Maaf tuan, saya hanya menyapa mereka sekaligus menguji apa mereka orang baik-baik,” jawabnya senyum-senyum sendiri.
“Tidak usah kau pikirkan mereka hanya teman-temanku, tidak ada yang mencurigakan, jadi jangan ganggu kami,” balas Daichi.
“Iya tuan, kalau begitu saya pergi dulu,” jawabnya segera pergi dengan perasaan kesal.
“Syukurlah sepertinya dia gagal melakukan itu pada kalian,” ucap Daichi.
“Itu?” Chio heran.
Harley tersenyum dan berjalan mendekati pelayan tadi. “Bukan gagal, hanya saja ... itu tidak bekerja pada kami,” ucapnya seraya menepuk pundak pelayan itu, hingga dia tersentak sadar dan kebingungan.
“Tunggu siapa paman tadi?” tanya Chio kaget.
“Harley apa dia yang melakukannya?” tanya Akira ikut kaget dan Harley mengangguk.
“Dia salah satu penyihir kerajaan, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan hingga membuat orang jadi linglung seperti itu,” jawab Daichi terlihat sangat cemas.
__ADS_1
“Jadi itu salah satu sihir mereka?” balas Chio penasaran.
“Sebaiknya kita bicarakan di ruanganku saja,” pinta Daichi.
“Pelayan kau bisa pergi dan bawakan bebarapa cemilan,” sambungnya.
“Ba-baik!” jawabnya meski masih terlihat bingung dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya.
Sementara itu Shiro telah sampai di ruangan memasak dan bertemu Ayumi. “Shiro! Alhamdulillah aku sudah lama ingin bertemu kalian!” ucapnya berlari menghampiri.
“Tunggu mana yang lain?” tanyanya heran melihat arah belakang Shiro.
“Chio sedang menemui Daichi.”
“Chio, lalu bagaimana dengan Akira?!” Ayumi nampak cemas.
“Cih ... dia baik-baik saja, sakarang dia juga bersama Chio, kami tidak sengaja bertemu dengannya kemarin saat dia mau bekerja di tempat kami,” jawab Shiro sedikit kesal.
“Syukurlah kalau kalian sudah kembali bersama, kalau begitu segera kita susul mereka,” jawabnya sangat senang dan terburu-buru.
“Apa kau ini cuma mencemaskan mereka, setidaknya kau menanyakan tentangku lebih dulu bukan mereka,” balas shiro.
“Selama kita terpisah aku terus-terusan jadi budak petarung, dan ini sangat berbahaya, saharusnya kau cemaskan diriku juga,” sambungnya.
“Aku tahu itu! kau melakukannya atas dasar kemauanmu sendiri, aku sudah sangat hafal bagaimana sifatmu,’ balas Ayumi membuat Shiro terdiam.
“Sudahlah, biar aku saja yang menyusul mereka,” sambungnya beranjak pergi.
“Tunggu dulu, kita akan pergi ke sana, tapi ada satu hal lagi yang ingin kuberitahu,” tahan Shiro.
“Kau jangan terlalu dekat-dekat lagi dengan Akira, dia sudah punya kekasih bernama Rin,” sambungnya membuat Ayumi sedikit terkejut.
“Ya terserah dia saja, lagi pula kitakan cuma temenan, sudahlah, ini bukan hal penting,” ucapnya terburu-buru pergi.
“Cih ...” Shiro kesal dan kemudian menyusulnya.
Saat itu keduanya sudah sampai di depan pintu ruangan Daichi. “Ingat ya, jangan dekat-dekat lagi dengan Akira,” ucap Shiro lagi mengingatkan, namun Ayumi nampak tak peduli soal itu.
“Jadi Harley adalah orang yang mengirim Akira ke dunia ini,” ucap Daichi terdengar Ayumi yang sedang ingin membuka pintu.
Ayumi pun seketika membuka pintu dan memandangi mereka semua, lalu dia melihat tajam dan menghampiri Harley yang tengah duduk santai di kursi.
“Ayumi jadi kau ...”
*Plakk!
Akira seketika terhenti ketika melihat Ayumi menampar keras pipi kiri Harley, melihat pemandangan itu mereka semua seketika terkejut dan terdiam hening.
-Bersambung-
__ADS_1