The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Alhudari Bik dari Nageri Ilmu


__ADS_3

“Wah ternyata cuma para budak jelek,” ucap raja itu sombong.


“Ap-apa,” ucap Akira dan Chio kaget.


“Cih … aku kira kau seorang wanita dengan bulu mata yang lentik itu,” balas Shiro menyeringai.


“Hoo … menarik, aku sudah lupa dengan orang-orang yang mengejekku, seingatku mereka semua telah mati dimakan singa,” balas raja itu lagi menatap tajam.


“Cih … aku pikir kau yang melakukannya ternyata cuma pakai hewan peleharaan, eh singa itu bukannya sejenis kucing ya paling sekali pukul langsung mati,” balas Shiro lagi sambil tersenyum.


Raja itu terlihat tak peduli dan hanya melihat kuku tangannya. “Dia bicara apasih gak jelas, yakan Hozy?” tanyanya sambil menoleh.


“I-iya!” teriak Hozy.


“Cih … kalau kalah minta bantuan ya,” balas Shiro lagi membuat raja itu kesal.


“Shiro sudah cukup, maafkan kami Raja, kami tidak bermaksud, kedatangan kami cuma ingin meminta izin untuk mencari tahu tentang cerita Alhudari Bik di kota ini,” ucap Ayumi di antara mereka.


“Astaga kau ini, kenapa tidak bilang kalau ada musafir wanita di antara mereka,” ucap raja pada Hozy.


Hozy kaget. “A-aku pikir raja sudah tahu.”


Raja itu berjalan mendakati Ayumi. “Jadi kau mau tahu tentang itu, boleh saja, lagi pula aku sangat kenal dengan orang yang bisa menceritakannya pada kalian.”


“Lalu dimana orang itu wahai raja,” sahut Chio.


Raja tersebut tak menoleh sedikit pun pada Chio. “Siapa namamu wahai adinda yang cantik jelita.”


“Ehhh ....” Chio dan Akira.


“Eh anu … Ayumi Fauziah,” jawab Ayumi berusaha mundur.


“Cih … tidak usah berkenalan, cepat beri tahu saja kami dimana orang itu,” sahut Shiro.


“Nama yang indah mari ikuti aku ke meja makan kita perlu ngobrol dulu soal dirimu yang sudah jauh-jauh datang kesini,” jawab raja tak mengheraukan, membuat Shiro semakin kesal.


“A’ahh … tidak perlu, kami sangat ingin tahu tentang cerita itu,” jawab Ayumi.


“Oh baiklah, aku akan mengantarkanmu padanya.”


“Hozy, Akiko kalian tinggal disini saja ya.”


“Baiklah …!” ucap Hozy dan Naya tampak semangat, tentu saja Hozy kali ini bersemangat kerna bisa bersama dengan Naya


“Dan kalian para budak baru ikutlah bersamaku sebagai pengawal, kecuali orang ini!” tunjuk raja pada Shiro sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


“Budak lagi!” Akira dan Chio tersentak.


“Cih …” Shiro semakin kesal dibuatnya.


“Tidak bisa! Aku juga harus ikut, kalau kau tak mau mengantar biar kami saja yang mencarinya.”


“Hoo … kalau begitu aku tak mengizinkan kalian untuk bertemu dengannya,” jawab raja itu lagi.


“Shiro … turuti saja apa yang dia pinta, kau tinggallah dengan Hozy disini,” ucap Ayumi.


Shiro menoleh ke arah Hozy dan dilambai oleh Hozy sambil tersenyum takut. “Cih … baiklah, terserah saja.” Walau kesal dan tak terima kerna itu permintaan Ayumi Shiro pun menyetujuinya.


Raja itu pun mengantarkan mereka menuju  rumah  yang yang berada di kawasan istananya. Saat itu Akira dan Chio berjalan dibelakang Ayumi dan raja. “Ternyata masih di Istana,” ucap Akira pada Chio.


“Aku kira kita akan berjalan keluar.”


“Kalian berdua cepat bukakan pintu ini!” perintah raja itu, lalu Akira dan Chio pun dengan sigap membukanya.


“Daichi, apa kau lupa kalau mau masuk rumah orang harus ketuk pintu dulu,” ucap seorang laki-laki sedang membereskan meja makannya.


“Jadi namanya Daichi,” ucap Chio berbisik pada Akira.


“A'ahh ... sepertinya begitu.”


“Tamu, sudah lama aku tdak mendapatkan tamu,” jawab orang itu sambil berpaling.


“Perkenalkan namaku Chio, dia Akira dan dia Ayumi, kami datang dari negeri seribu patung.”


“Kalian seorang musafir!? Lalu negeri Seribu Patung, aku tidak tahu kalau ternyata ada suatu negeri lagi setelah negeri Sabbat ini.” orang itu sedikit terkejut.


“Berkat barang peninggalan Thalib kami berhasil menuju kesini,” jawab Chio.


“A’ahh … kami ingin mendengar cerita Alkhudari Bik dari paman. Saat di negeri asal, kami hanya tahu tentang Thalib sang musafir, dan ketika kami sampai di negeri Sabbat, kami baru dengar ternyata ada juga cerita tentang Alhudari Bik dari negeri Ilmu,” jawab Akira.


“Perkenalkan namaku Akiyama seorang menteri sekaligus paman dari Daichi raja di kota ini,” ucapnya sambil menyalami mereka.


“Duduklah, aku akan menceritakannya pada kalian,” ucapnya mempersilahkan.


Akira dan lainnya pun duduk bersama dikursi empuk itu bersebelahan dengan Daichi. “Apa dia sudah melayani kalian dengan baik?” tanya Akiyama.


“Yah cukup bagus ha ha ….” Jawab Chio sedikit canggung.


“Kalian pasti sudah tahu bagaimana para penduduk memperlakukan kalian saat menuju istana ini,” ucap Akiyama lagi.


“Yah mereka semua sangat dermawan, tidak hanya di kota ini di kota Megumi pun sama,” jawab Ayumi.

__ADS_1


“Itu sudah jadi kebiasaan kami yakan Daichi?” bukannya jawaban yang didengar melainkan suara dengkuran.


“Dia tertidur!” Chio tak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Hah … dasar anak ini kebiasaannya buruk sekali. Sudah tidak perlu kalian heraukan dia, kita lanjutkan saja pembicaraan kita.”


Akiyama memegang dahinya dan menggeleng melihat Daichi yang tertidur. “Sampai mana kita tadi?”


“Anu … tentang kebiasaan kalian,” jawab Akira sedikit tertawa.


“Benar, itu semua adalah kebiasaan yang di ajarkan oleh Alhudari Bik, kami orang-orang dari negeri Matahari Ekhad pun datang kesini kerna permintaan dari Alhudari Bik sendiri kepada raja kami dimasa lalu,” ucapnya.


“Itu Artinya orang-orang di kota ini berasal dari negeri Matahari Ekhad?” tanya Ayumi.


“Tidak semuanya, kebanyakan dari mereka memang penduduk asal, aku dan Daichi pun baru saja berada disini kerna perintah ayahandanya.”jawabnya dan mereka terlihat bingung.


“Dari pada bingung sebaiknya langsung aku ceritakan saja bagaimana Alhudari bisa sedekat itu dengan raja kami di masa lalu.”


“Saat itu Alhudari Bik telah sampai di negeri kami yaitu negeri yang terbuka dan selalu senang melihat orang-orang yang datang ke negeri Matahari Ekhad. Alhudari datang dengan berkuda, para orang-orang yang melihat dari jauh langsung berdatangan menuju Alhudari, bahkan ada yang berlari dengan cepat hanya untuk mengambil tali kuda supaya bisa menggiring kuda itu menuju istana bersama dengan Alhudari yang berada di atas tunggangannya, melihat para warga yang senang dengan kedatangannya Alhudari turun dari kudanya dan ingin menemui mereka semua.”


“Seseorang dari mereka berkata: ‘Wahai sang pengelana, tidak sepantasnya kau turun dari tungganganmu hanya untuk menemui kami, naiklah kembali dengan nyaman biarkan kami semua membantumu menemui raja’.”


“Alhudari menjawab: ‘sungguh murah hatinya kalian ketika seorang tamu kalian manjakan dan layani dengan baik, tapi lebih murah hati lagi ketika sang tamu yang memanjakan tuan rumah yang di datanginya, naiklah wahai saudaraku, biar kau bisa menunjukkan ke arah mana istana raja itu’.”


“Orang itu seketika di buat kagum dengan apa yang dilakukan Alhudari, walau merasa tak enak, namun kerna permintaan Alhudari sendiri, orang itu pun menyetujuinya. Saat diperjalanan pun Alhudari selalu menciumi tangan para orang tua yang dia temui, hal itu lagi-lagi membuat kagum para penduduk hingga akhirnya rombongan orang-orang yang mengantarkan itu sampai di istana raja.”


“Sungguh Akhlak yang mulia yakan Akira,” ucap Chio.


“A’ahh … pantas saja dia digelar dengan Alhudari Bik dari negeri Ilmu,”


“Menurut kalian bukankah dia sedikit mirip dengan Thalib, maksudku tentang caranya memperlakukan orang tua,” sahut Ayumi.


“Tidak salah Ayumi, menurut cerita mereka memang punya hubungan yang kuat,” jawab Akiyama.


Akira dan Ayumi mengangguk. “Lalu bagaimana setelahnya?” tanya Chio.


“Tentu saja raja kami menyambutnya dengan sangat baik, bahkan karena hari itu sudah sore, raja kami menyuruhnya untuk tinggal di istana. Sifat Alhudari yang terbuka dengan menceritakan semua negeri-negeri yang telah dia lalui membuat hubungan keduanya semakin erat.”


“Saat itu Alhudari menceritakan tentang negeri yang baru saja dia lalui dan hal itu membuat raja tak habis pikir. Alhudari mengatakan bahwa ini untuk pertama kalinya dia disambut baik oleh penduduk dan raja, tidak seperti sebelumnya yang nampak berhati-hati dengannya, mereka semua terlihat takut dan menjauh, namun dia sama sekali tidak diusir dari desa itu, saat itu seorang anak kecil berdiam bersama kakaknya berduaan saja, dia pun bernaung disana dan diterima dengan baik sampai dia melanjutkan pergi ke negeri ini, hanya itu saja satu-satunya oang yang menerimanya.”


“Apa paman tahu negeri itu?” tanya Akira sangat penasaran.


“Alhudari bilang negeri sebelumnya itu adalah negeri Soma.”


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2