
“Apa yang baru saja terjadi! Petarung bertubuh besar itu jatuh keluar panggung hanya dengan satu kali dorong!” teriak pembawa acara itu sedangkan para penonton saling bertanya-tanya.
“Sulit dipercaya, tapi peraturan adalah peraturan! Petarung itu dinyatakan kalah, dan Kafa silemas adalah pemenangnya!” sambungnya membuat sipemilik Shiro itu hanya bisa terperangah.
Kafa pun berpaling dan berjalan turun menuju Chio dan lainnya yang masih tak menyangka. “Huaaahhh ... aku sudah tidak tahan, ayo kita segera pulang.”
Chio terperangah menatapnya. “Apa yang baru saja kau lakukan?”
“Apa Itu sihir seperti penyihir istana?” tanya Arata ikut tak percaya.
“Sudah tak perlu dipikirkan, yang terpanting sekarang kita sudah menang, ayo kita rayakan ini dulu!” Dorong Niky pada Arata dan Chio agar mereka naik ke panggung itu.
“Apa kita tidak jadi pulang Huaahhh ...” tanya Kafa.
“Cih ... kau curang,” sahut Shiro.
“Tapi ... terima kasih sudah menang,” sambungnya mengajak bersalaman.
Kafa menatapnya. “Huaaahhh ...”
“Huaaahhh ...” Shiro ikut menguap.
Kafa tersenyum. “Ternyata Chio lebih kuat darimu,” ucapnya seraya berjalan menuju yang lain.
Shiro tersentak sadar. “Cih ... apa yang barusan kau lakukan!” teriaknya.
Kafa tak menghiraukan terus berjalan sambil sesekali menguap, sedangkan shiro hanya bisa menatap kesal kerna tak mengerti.
“Sesuai dengan pertaruhan malam ini, kini petarung bertubuh besar dan Shiro akan menjadi milik saudagar Chio!” teriak pembawa acara itu.
“Mari kita sambut, inilah pemenang kita malam ini! Chio dan kelompok petarungnya!” sambungnya dan para penonton yang tadinya heran mulai bertepuk tangan.
Kafa mengahampiri petarung bertubuh besar yang sedang berdiri di depan panggung lalu mengajaknya untuk naik dan merayakan bersama, dia tersenyum dan mengikutinya.
Keesokan harinya Chio dan lainnya pun kembali mengerjakan pembangunan itu, saat itu Chio dan Shiro berjalan bersama menuju tempat tersebut. “Cih ... bukannya kau itu sudah jadi bosnya, tapi kenapa kita masih tinggal di penjara,” ucap Shiro.
“Yah mau bagaimana lagi, aku masih belum sepenuhnya menjadi bos, mungkin setelah Akiyama mengetahui kemenangan ini akan berbeda, jadi kau sabar saja,” balasnya.
“Cih ... kalau terus tinggal di tempat itu, lebih baik aku tetap bersama mereka, aku bisa melakukan apa saja semauku.”
“Apa! Emangnya kau tak mau lagi bersama kami, aku sudah memikirkan banyak cara untuk membawamu kembali, jadi diam saja!” Chio memarahinya dan Shiro hanya bisa kesal seraya memalingkan wajah.
Hingga saat itu Akiyama pun datang bersama Arata menemui mereka semua yang sudah dipinta untuk berkumpul. “Ha ha ... aku bangga sekali dengan kinerja kalian semua, begitu juga dengan Chio yang sudah berhasil membawa Shiro kembali,” ucap Akiyama.
“Cih ... dasar, kalau dari awal kau tak menjualku ini tidak akan terjadi,” balas Shiro.
“Yah aku pikir kau tidak berguna,” ejek Akiyama.
“Cih ... tidak tau diri.”
“Aku harap kau memegang janjimu, sesuai kesepakatan, mulai sekerang kau harus menggaji mereka,” ucap Chio.
__ADS_1
“Tenang saja aku sama sekali tidak keberatan akan hal itu, lagi pula kerna hal itu mereka jadi bekerja dengan sangat baik, itu suatu kauntungan yang berlipat ganda untukku,” jawabnya dengan santai.
“Cih ... kalau begitu kau juga harus menyediakan tempat tidur layak bagi mereka,” sahut Shiro.
“Tentu mereka akan mendapat tempat tidur yang nyaman, tapi dengan uang gaji mereka sendiri,” balasnya.
“Cih ... apa ini caramu memperlakukan mereka yang telah bekerja keras untukmu!” Shiro sangat marah.
“Kau ini masih saja belum bersyukur, apa kau tahu, di tempat lain mereka jauh lebih sakit dari keadaan di sini, kalian semua berterima kasihlah pada Chio yang mau memikirkan kalian,” ucap Akiyama pada mereka.
“Cih ... aku tahu betul kau itu punya banyak uang, tapi kau malah ...”
“Tidak apa-apa, kami sudah sangat bersyukur mendapat kebaikan sebanyak ini, ini sudah jauh lebih dari cukup bagi kami, kita hanya perlu melakukannya perlahan-lahan, begitukan Chio?” potong Yogi seraya menepuk pundak Shiro.
Chio mengangguk. “Terima kasih kerna sudah ikut membela mereka.”
“Cih ... terserah kau saja,” ucapnya seraya memalingkan wajah.
“Aku dengar dari Arata, tidak hanya shiro yang kalian kalahkan, lalu di mana orang itu?” tanya Akiyama.
Petarung itu pun maju dan seketika membuat Akiyama terkejut. “Ap-apa! Bagaimana bisa kalian berhasil mengalah petarung terkuat ini!”
Chio dan lainnya pun ikut terkejut mengetahui itu. “Petarung terkuat!’ teriak Chio.
“Cih ... dia orang yang paling dibanggakan pemilikku dulu,” sahut Shiro.
“Benar, orang itu sangat menyukai dia, tapi sekarang kau akan bersamaku, maukah kau menjadi petarung terbaikku,” pinta Akiyama.
“Lalu bagaimana dengan Shiro?” tanya Chio.
“Aku sudah tidak peduli dengannya, terserah kau saja mau diapakan dia,’ balas Akiyama.
“Cih ...” Shiro nampak tak peduli.
“Kalau begitu, bagaimana dengan kesepakatan tentang hadiah pertarungan nanti?” tanya Chio lagi.
“Oh maksudmu tentang itu, jika yang dimenangkan adalah uang maka itu akan jadi milkku, tapi jika seorang budak maka itu akan jadi milikmu, apa itu?”
Chio menatap tajam. “Oh ternyata kau masih mengingatnya ya?”
Akiyama tersenyum. “Tentu, kesepakatan itu masih berlaku, tapi jika Shiro yang menjadi budak petarungku, namun sekarang aku punya dia dan bukan Shirokan.”
Mereka semua terkejut dan seketika kesal dengan ulah Akiyama. “Cih ... kau benar-benar licik, kalau begitu biarkan aku juga menjadi petarungmu,” pinta Shiro meski sangat kesal.
“Maaf saja, aku masih belum membutuhkanmu,” jawab Akiyama dengan mudahnya.
Shiro mengepalkan tangannya, namun Chio menahannya dengan wajah santai sambil tersenyum, begitu juga dengan Yogi, Niky dan Arata. “Huaaahhh ...” Seperti biasa Kafa selalu berbaring santai di tumpukan pasir.
“Baik aku terima itu,” ucap Chio membuat Akiyama heran.
“Hoo ... apa yang kau mau?” tanya Akiyama.
__ADS_1
“Biarkan kami membentuk kelompok petarung juga, dengan catatan kami berada di bawah naunganmu agar kami bisa dengan mudah diterima jika ada saimbara, namun semua keuntungan yang didapat murni akan jadi milik kami semua.”
“Hah ... ya ampun kau memang selalu mengejutkanku, baiklah, terserah kalian saja, namun aku harap tidak ada kerugian yang ditimbulkan, dan kalian semua harus tetap bekerja dengan baik,” jawab Akiyama dan kemudian pergi bersama petarung barunya.
“Lagi-lagi kita membuat kesepakatan dengannya, apa kau tidak takut kalau dia akan berkhianat lagi,” ucap Niky seraya menepuk pundak Chio.
“Masalahnya, apa yang dikatakan Akiyama benar, kita hanya membuat kesepakatan dengan Shiro dan tidak menduga hal ini,” jawab Chio.
“Cih ... kalian terlalu meremehkannya, dia itu sangat licik,” sahut Shiro.
“Nampaknya kita harus berhati-hati setelah ini,” ucap Arata.
“Jika ada sesuatu menganai pekerjaan, beri tahu saja aku,” ucap Yogi dan diangguki Chio.
“Cih ... jika kalian semua benar-benar serius ingin ikut saimbara pertarungan itu, serahkan saja padaku sebagai petarungnya, aku sudah sangat tahu seluk beluknya,” sahut Shiro.
“Kalian semua tidak usah cemas, aku Niky si ganteng juga akan siap menjadi petarung!” ucapnya dengan penuh percaya diri.
“Baik aku rasa semua sudah lengkap, aku dan Arata bisa menjadi pemilik dan juga yang akan mengatur kalian, sedangkan Paman Yogi akan mengatur pekerjaan di sini, bagaimana menurut kalian?” tanya Chio dan mereka semua setuju.
“Huaaahh ... aku harap aku tidak terlibat masalah ini,” ucapnya dan mereka semua seketika menatap Kafa menyeringai.
Hingga bebapa hari kemudian mereka ikut saimbara pertarungan kecil dan selalu menang baik Niky maupun Shiro, hasil dari kemenangan itu pun digunakan untuk mereka semua.
Pekerjaan pembangunan di tempat itu pun telah selesai, hingga Akiyama memerintahkan mereka untuk membangun bangunan di tempat lain kerna banyak mendapat permintaan dari para saudagar kaya, Akiyama pun sangat sering menceritakan kehebatan Chio kerna kebanyakan mereka menanyakannya. Kini nama Chio dan kelompoknya pun mulai dikenal banyak orang.
Hari itu mereka mulai membangun yang tak jauh dari tempat sebelumnya. “Ayo semua mari kita berkeja dengan baik, Akiyama sudah mengakui kalian, jangan sampai kepercayaannya hancur begitu saja, semakin dia mengandalkan kita,maka kita akan semakin diuntungkan!” teriak Chio pada mereka.
“Siap!” jawab mereka semua lantang dan bersemangat.
“Apa yang kau lakukan! Bukan begitu caranya!” teriak Chio.
“Cih ... sudah kubilang aku tidak cocok dengan ini!” jawabnya kesal.
“Shiro cepat kerjakan saja itu dengan baik, kau mau aku potong gajimu hah!”
“Cih ... baiklah!” Shiro nampak sangat menahan rasa kesalnya sambil terus menyusun bata.
“Yang lain juga jangan malas-malasan!” teriak Chio pada Niky dan Kafa.
“Baik!” jawab keduanya serentak sambil sesekali menguap.
“Bos Chio ini pekerja baru kita!” teriak seorang laki-laki yang mendapat tugas berjaga di depan.
“Bos!” teriak Akira, Rin dan Harley serentak nampak tak percaya.
“Ehh ...!” Chio ikut terkejut ketika melihat Akira di hadapannya.
Flashback of
-Bersambung-
__ADS_1