The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Chapter 8 : Kita Semua Akan Jadi Musafir Bagian 1


__ADS_3

Sore hari mulai semakin gelap berganti senja, Akira dan lainnya pun sudah dibebaskan oleh Osama dari tali yang mengekang tangan mereka. Beberapa orang tua yang di tempatkan dipenampungan itu pun telah di bebaskan, banyak dari mereka yang kembali pulang kerumah bersama keluarganya, dan ada juga yang masih tetap bertahan di tempat itu kerna memang tidak punya keluarga dan juga merasa sudah nyaman.


Saat itu Akira dan lainnya masih berkumpul ditengah desa hanya sekedar berbincang bersama Osama dan kakek.


"Bagaimana Kakek bisa tahu kalau kami sedang disidang di tempat ini?" tanya Ayumi.


"Oh itu aku diberi tahu oleh Zen, Haruka dan Naoto, mereka berlarian ke arahku dengan raut kecemasan, pas kutanya ternyata mereka liat kalian di sidang ditempat itu soal pemberontakan dan penganiayaan, mendengar itu tentu saja aku sudah bisa nebak apa yang akan kalian lakukan, jadi aku bersama para orang tua disana segera pergi membantu kalian," jawab kakek.


"Syukurlah kalau begitu, sekarang mana mereka, Zen dan lainnya?" tanya Chio.


"Mereka sudah kusuruh untuk segera pulang kerna sudah mau malam," jawab Osama.


“Untuk sementara sepertinya aku ingin tetap berada disana kerna banyak teman-temanku,” sahut Kakek tiba-tiba pada Osama.


“Loh, Ayah kenapa malah bicara begitu, aku dan ibu ingin serumah lagi bareng ayah, kerna kita sudah lama tidak bersama serumah,” jawab Osama.


“Iya aku tau hanya untuk sementara saja, nanti aku pasti kasih tau untuk menjemputku dari tempat itu.”


“Baiklah kalau mau Ayah begitu, nanti aku antar ketempat penampungan itu.”


“Dari pada disebut penampungan lebih baik kita sebut Panti Jompo,” sahut Ayumi.


“Panti Jompo!” jawab Osama dan Kakek serempak.


“Didunia Akira orang-orang menyebutnya begitu,” ucap Chio.


“A’ahh … Panti Jompo adalah tempat untuk para orang tua yang tidak punya keluarga, tetapi banyak juga orang-orang yang sengaja mengantarkan orang tuanya ke tempat itu hanya kerna tidak ingin merawat orang tuanya sendiri,” jawab Akira sedih.


“Memang begitulah kebanyakan dari manusia yang tak tahu balas kasih, kita sebagai seorang anak harus bersyukur kerna mereka telah merawat kita, bayangkan saja jika itu juga akan terjadi pada anak-anak kita yang tidak merawat kita saat sakit, pasti sebagai orang tua akan merasa sedih, namun beberapa dari mereka juga memang tidak ingin direpotkan oleh anak-anaknya sehingga dia tidak melawan dan berpasrah saja,” jawab Osama juga merasa kesal dan sedih.


Mereka semua tertunduk memikirkan apa yang dikatakan Osama. “Nak Akira bagaimana dengan rencana kalian selanjutnya setelah ini,” ucap Kakek mengalihkan.


“A’ahh … kami berniat untuk melakukan rapat kembali besok,” jawab Akira.


“Kami akan melakukannya dirumah Shiro, rencananya hanya untuk memperjalas apa yang telah kami dapatkan soal buku itu,” sahut Chio.


“Cih … sudah kubilang tempat lain saja!” Shiro menolak.


“Kenapa? Kau takut ya dengan Ayahmu, kalau-kalau dia tidak mengizinkan,” balas Ayumi.


“Iya bro, kau ini pelit sekali, bukannya ayahmu itu suka berbagi, bahkan kata Chio dia dan Ken sering makan bersama dirumahmu,” sahut Akira.


“Cih … kau ini, kenapa tidak diam saja,” jawab Shiro kesal.


Kakek dan osama tertawa melihatnya. “Lalu mengenai buku itu bagaimana apa aman?” tanya Kakek lagi.


“A’ahh … tenang saja Kakek buku itu tersimpan baik dirumah Shiro,” jawab Akira.


“Kami pikir dirumah Shiro pasti terjaga dengan baik kerna secarakan Shiro adalah orang kaya yang berpengaruh didesa,” sahut Chio nada mengejek.


“Cih … Berisik!,” jawabnya seraya berpaling membuat yang lain tertawa.


“Lalu buku tiruan yang kalian buat bagaimana?” tanya osama.


“Tiruan?” kakek heran.


“Ya Ayah, mereka sengaja membuat tiruannya untuk mengelabui Rafu,” jawab Osama.


“Tenang saja Kakek, itu cuma ditulis oleh Akira secara asal,” sahut Ayumi.


“Benar! dan sekarang pasti tetua pertama dan Rafu si utusan kedua itu sedang tertipu,” sahut Chio seraya mengarahkan jempolnya pada Osama dan Kakek yang terheran-heran.


Ditempat lain yaitu dirumah tetua pertama, dia sedang marah-marahnya kepada Rafu yang telah membuat semuanya terbungkar. “Maaf Ayah! aku tidak tahu kalau mareka sudah punya rencana untuk membongkar semuanya dihadapan para warga. Padahal aku sudah berhasil mengetahui siapa sebenarnya Akira itu, tapi ternyata para warga malah mendukungnya,” ucapnya kesal.


“Itu kerna kau kalah pintar dari mereka! Aku yakin mereka pasti sudah mengetahuimu akan menangkap mereka semua, jadi mereka sudah menyusun rencana untuk ini,” jawab ayahnya lagi kesal.


“Tapi Ayah kau lihatkan mereka saat itu terdesak kerna aku, jika tidak ada kakek itu, sudah pasti aku yang menang, dan para anak-anak itu sudah pasti akan kita hukum.”


“Hahh … sudahlah tidak ada gunanya kita membahas ini, padahal kau cuma kusuruh untuk mencari peninggalan Thalib itu, tapi kau malah gagal juga,” ucapnya seraya pergi meninggalkan Rafu.

__ADS_1


Rafu menyeringai. “Tidak Ayah, aku berhasil,” ucapnya sambil memegang buku kecoklatan itu dan mengangkatnya setinggi wajah.


Tetua pertama berpaling untuk melihat dan dia dibuat kaget serta segera berjalan cepat ke arah Rafu lalu mengambilnya. Dia membuka semua halaman. ”Kau benar-benar anak yang hebat sekarang kau bisa jadi utusan pertama,” ucapnya seraya tersenyum.


“Heh … tidak Ayah aku akan jadi tetua ketiga atau mungkin kedua,” jawabnya sombong.


“Dasar Bodoh,” jawabnya seraya memukulkan buku itu dikepala rafu, “kau sudah melakukan kelasahan fatal dengan apa yang kau buat dipersidangan itu, jadi sekarang yang bisa kau lakukan adalah bekerja keras dan berjuang untuk mendapatan tahta tetua,” jawabnya.


Rafu memegang kepalanya kerna merasa sakit. “Liat saja nanti Ayah, aku pasti akan jadi tetua pertama menggantikan Ayah,” jawabnya tersenyum sombong.


Tetua pertama berpaling dan berjalan menjauh sambil membawa buku itu. “Terserah kau saja, aku tidak peduli yang penting buku ini harus kita hancurkan agar tidak ada lagi masalah yang timbul kerna ini.”


“Hah … tersarah Ayah saja aku juga tidak peduli,” ucapnya juga berpaling membelakangi Ayahnya seraya juga berjalan menjauh.


Tetua pertama tersenyum. “Dasar anak itu, kalau kau selalu tidak peduli bagaimana kau bisa jadi tetua, kau harus mendapatkan pengakuan warga desa, walaupun begitu aku tetap bangga kerna kau telah berhasil mendapatkan ini,” batinnya.


Rafu juga tersenyum seraya terus berjalan menjauh. “Dasar Ayah, aku ini anakmu pedulilah sedikit. Yah walaupun begitu nama Rafu yang kau berikan benar-benar membuatku sangat percaya diri. Sesuai dengan namaku Rafu yang berarti jaring maka apapun yang aku inginkan akan aku jerat semuanya, dengan begitu jadi tetua bukanlah hal sulit,” ucapnya dalam hati seraya menyeringai.


...●●●●...


Keesokan harinya sesuai yang direncanakan Akira dan lainnya mereka akan melakukan rapat kembali dirumah Shiro. Saat itu Shiro sedang duduk didekat jendela rumahnya dan melihat Akira, Ayumi, dan Chio sedang berjalan menuju rumahnya.


“Cih … dasar kedua orang miskin itu main suruh-suruh saja untuk melaksanakannya disini, liatlah wajahnya nampak seperti orang kelaparan.” Pandang Shiro kesal melihat mereka dari jauh.


“Tapi, tentunya beda dengan Ayumi dia terlihat semakin cantik saja,” sambungnya memandang Ayumi.


Tiba-tiba Akira berjalan mundur dan melindungi Ayumi yang sedang dia lihat. “Cih … dasar Aira bodoh itu, beraninya dia menikungku dari belakang, bukannya dia sudah janji untuk membantuku mendekati Ayumi,” sambungnya dalam hati dengan raut wajah kesal, sedangkan sang ayah ternyata berada dibelakangnya sedang menggeleng melihat anaknya yang berkelakuan sendiri.


Ayah Shiro pun pergi menuju pintu untuk menyapa Akira dan lainnya.


“Ehh … ada Chio dan Ayumi, emm lalu siapa yang mirip dengan Ken ini?”


“Akira paman,” jawab Ayumi.


“A’ahh … perkenalkan paman nama saya Muhammad Akira,” ucap Akira seraya membungkuk tanda hormat.


“Wah … teman Shiro ini sopan sekali ya,” sahut ibu shiro yang baru kaluar.


“Tentu saja kabar itu sudah tersabar keseluruh desa kita ini, apa lagi soal persidangan kalian yang malah berhasil membongkar sesuatu yang selama ini ditutup-tutupi,” jawab Ayah Shiro.


“Oh ya aku dengar Shiro juga ikut disidangkan,” ucap Ibu Shiro seraya tersenyum dan berpejam tanda menyindir.


Akira dan lainnya tentu saja dibuat sadar atas apa yang mereka lakukan, sehingga saat itu mereka semua membungkuk dihadapan ayah dan ibu Shiro. “Maafkan kami Paman, Bibi, kerna telah melibatkan Shiro!” ucap mereka serentak.


“Ha ha … tenang saja anak itu paling dewasa di antara kalian jadi dia juga harus bisa menyelasaikan suatu masalah yang dia hadapi,” jawab Ayah Shiro seraya tertawa.


“Ayah … kan itu persidangan yang berat,” ucap Ibu Shiro seraya menatapnya.


“Ahh … apa pun itu dia sudah dewasa dan harus bisa menghadapinya, lagi pula mereka berhasil selamatkan.” Jawab Ayah Shiro sedikit meremehkan walau raut wajahnya sedikit kecemasan.


“A’ahh … jika pun kami tidak selamat, shiro akan tetap selamat kerna dia tidak terkait dengan pemberontakan dan penganiayaan,” ucap Akira.


“Cih … bicara apa kau ini, yang kemarin itu cuma tuduhan palsu, jika pun kalian tidak selamat dan aku saja yang selamat, aku pasti akan melakukan apa saja agar kalian semua bisa bebas,” sahutnya tiba-tiba berada ditengah-tengah ayah dan ibunya dengan senyum sombong.


“A’ahh … terima kasih bro Shiro,” jawab Akira membungkuk tanda hormat.


“Apa yang kau lakukan dia hanya cari muka didepan orang tuanya,” bisik Chio menjadikan Akira terperangah.


“Lihatlah ayah anak kita sudah dewasa!” Ibu Shiro terharu.


“Hmmh … siapa dulu ayahnya!.” Ayah Shiro juga tersenyum sombong, sedangkan Akira dan Chio menahan tawa.


“Baiklah kerna kalian sudah berkumpul silahkan masuk saja, cari saja tepat yang menurut kalian nyaman,” ucap Ayah Shiro mempersilahkan.


“Ayumi, sinih bantu bibi membuat minuman dan camilan buat kalian,” pinta Ibu Shiro.


Akira dan Chio pun masuk kerumah Shiro dan mereka memilih untuk bertempat didekat jendela menghadap halaman shiro yang penuh dengan bunga-bunga indah.


“Rumahmu sangat bagus dan luas bro, bahkan sangat nyaman, apa lagi pemandangannya, ha ha … orang kaya memang beda,” ucap Akira membuat Chio tertawa.

__ADS_1


“Cih … dasar kau ini, segara mulai dan selesaikan dengan cepat agar kalian bisa segera pergi dari sini,” jawabnya kesal.


“Hah … dasar kau ini selalu saja pelit. Mana buku itu biar kita segera mulai,” jawab Chio dan Shiro pun berjalan mengambilkan.


Disaat Shiro mengambilkan buku itu ayumi dan bibi datang membawakan minuman dan banyak makanan untuk mereka, tidak berselang lama Shiro pun datang seraya membawa buku ditangannya dengan wajah Kesal kerna melihat Akira dan Chio asik mencicipi semua makanan itu. Melihat Shiro sudah datang ibunya pun meminta untuk pergi.


Setelah itu mereka pun memulai rapatnya. “Seperti yang sudah kita rencanakan kita akan mencari petunjuk dari buku peninggalan Thalib ini mengenai apa yang tertulis jelas beberapa halaman yang ada dibuku ini, namun ada hal yang tidak bisa kita mengerti bersama,” ucap Chio memulai berbicara.


“Benar! hampir semalaman aku mencoba memahami maksudnya, dan akhirnya aku hanya sedikit mengerti apa yang ingin disampaikan Thalib,” jawab Akira


.


“Cih … kau ini, mana mungkin kau bisa melakukannya sendirian,” sahut Shiro.


“Nyatanya kemarin kita bersama pun kesulitan untuk memahaminya, ditambah lagi siutusan kedua itu membuat kita juga harus melakukan hal lainnya,” jawab Ayumi.


“A’ahh … mumpung kita banyak waktu, sebaiknya kau bacakan lagi untuk kami Ayumi,” balas Akira.


“Tapi, aku cuma bisa baca itu kerna kemarin kau sering mengulang-ngulanginya, emm tapi baiklah,” jawabnya sedikit ragu.


...***...



...***...


“Seorang pelita berjalan tak sengaja menapakkan kaki ditanah subur yang bertuan, hanya saja semua orang hidup penuh kemiskinan kerna tak mengerti akan keindahan. Waktu talah lama berlalu saatnya kembali pulang dengan banyak bekal menuju negeri yang telah lama disinggahi, hanya menunggu beberapa hari para pendatang baru datang silih berganti membawa banyak bekal untuk dipelajari. Itulah  negeri yang jauh dari tempatku berbaring walau kau bisa sampai dengan langkah kaki sejengkang, disana kau bisa hidup tenang dan damai tak ada tembok dan larangan yang mengikat terlalu kencang.” Ayumi membacakan tulisan tangan Thalib dibukunya.


“Hebat Ayumi! Kau sudah mulai bisa membacanya.” Puji Akira.


“Tidak, aku perlu belajar lagi,” jawabnya.


Chio nampak berpikir. “Hey Akira, apa menurutmu Thalib sedang menceritakan suatu negeri?”


“A’ahh … aku rasa juga begitu, hanya saja dibeberapa kalimatnya seperti mengandung arti lain,” jawab Akira.


“Cih … kalau kau tau sesuatu jalaskan saja semuanya,” sahut Shiro.


“Emm … aku pikir seorang pelita disini adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan dikatakan dia tak sengaja menapakkan kakinya ditanah subur yang bertuan, mungkin maksudnya dia adalah seorang musafir yang sampai didesa yang mana orang-orang desanya penuh kemiskinan kerna tak mengerti keindahan alias tak bisa memanfaatkan alam.” Akira menjelaskan dengan cepat sehingga Ayumi dan Chio kebingungan.


“Cih … dasar! Jadi maksudmu dia adalah musafir yang menemukan desa miskin ditanah subur, namun orang-orangnya tidak bisa memanfaatkan alamnya,” jawab Shiro mengerti.


“Ohh iya, aku mulai mengerti itu, artinya ada kemungkinan besar sang musafir ini membantu para penduduknya memanfaatkan alamnya dengan baik sehingga negeri itu kini sejehtera, mungkin itu maksud dari waktu talah lama berlalu saatnya kembali pulang dengan banyak bekal menuju negeri yang telah lama disinggahi, dia kembali pulang dengan banyak bekalkan, bisa jadi itu adalah hasil alam yang melimpah,” jawab Chio penuh semangat dan Akira pun menatapnya juga penuh semangat.


“Ahh … itu menjelaskan kenapa para pendatang baru silih berganti ke negeri itu membawa bekal untuk dipelajari. Bekal yang dibawa musafir bukan berarti hanya hasil alam, bisa saja suatu kabar bahwa ada negeri yang berkembang dan butuh pembenahan dari negeri yang sudah lama disinggahi oleh musafir ini, bekal untuk dipelajari itu bisa menjelaskan bahwa pengetahuan negeri tersebut lebih berkembang ketimbang negeri miskin yang ditemui musafir ini,” sahut Ayumi juga mulai mengerti sehingga mereka bertiga mulai kegirangan.


“Cih … dasar kalian ini, katanya sangat sulit, ternyata sudah bisa mengerti semuanya,” ucap Shiro dan mereka hanya tertawa.


Shiro tersenyum dan menggeleng. “Lalu yang terakhir itu apa?”


Mereka bertiga mencoba berfikir kembali. “Cih … dasar!” ucapnya seraya menggosok rambut, “apa kalian lupa bahwa Thalib pernah sakit di negeri kita ini,” sambungnya kesal.


“A’ahh … Shiro benar! Itu akan menjelaskan kenapa dia berbaring dan dia menuliskan ini dinegeri kita saat dia sakit,” jawab Akira.


“Negeri yang jauh, namun bisa sampai dengan langkah kaki sejengkang,” ucap Chio berusaha memahami.


“Negeri yang di anggap jauh padahal negeri itu sangat dekat dengan negeri kita, bisa kita pahami bahwa orang-orang dinegeri kita tidak berani keluar dari negerinya untuk pergi menuju negeri itu, atau mungkin berhubungan dengan larangan tetua yang melarang warganya untuk keluar dari negeri ini, padahal dinegeri sana kita bisa hidup damai tanpa ada larangan yang terlalu mengikat dan mengekang,” sahut Ayumi.


Tiba-tiba Ayumi tersentak. “Aku ingat, Ken saat itu bilang dia ingin pergi dari negeri kita dan berharap menemukan negeri yang disebutkan oleh Thalib itu, apa jangan-jangan dia sudah tahu semuanya,” sambung Ayumi.


“Emm … aku rasa tidak, dia mungkin berpikiran begitu kerna telah mendengar cerita bagian pertama kisah Thalib sang musafir dari kakek,” jawab Chio.


Akira menyadari sesuatu. “Oh iya! kalian ingat dibagian cerita pertama itu menyebutkan bahwa ada orang yang telah membantu negeri sabbat dan mengajarkan sifat dermawan?” tanya Akira terlihat serius, namun Chio dan Ayumi justru tidak mengerti.


“Cih … dasar kalian ini!” sahut Shiro nampak malas, “hah … apa maksudmu orang yang dimaksud dalam tulisan Thalib ini adalah orang yang sama dengan orang yang diceritakan membantu desa Sabbat?” sambung berusaha bersemangat.


“Oh iya aku paham ternyata begitu. Ada kemungkinan bahwa itu adalah negeri Sabbat,” ucap Chio.


“hemhh … lalu apa untungnya bagi kita mengetahui itu?” tanya Ayumi masih heran.

__ADS_1


“Jika kita pergi menuju negeri sabbat maka kita juga berkemungkinan untuk bisa pergi kenegeri yang jauh lebih berkembang dari negeri Sabbat dan negeri kita ini,” sahut Akira membuat Chio dan Ayumi bertatapan senang, sedangkan Shiro dia terlihat sedih dan cemas.


-Bersambung-


__ADS_2