The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib di Negeri Matahari Ekhad Bagian Akhir


__ADS_3

Keesokan harinya saat matahari mulai menampakkan wajahnya, Thalib pun keluar dari rumah itu membawa sebilah golok dan menebas semua rumput di halaman dan belakang rumahnya hingga sang fajar telah meninggi.


Saat tengah duduk beristirahat di bangku depan rumah, sang kakek itu baru saja keluar dengan topi anyaman daun dan cangkul di pundaknya.


“Hey apa yang baru saja kau lakukan, aku menyuruhmu untuk merawatku bukan rumahku,” ucapnya menatap sinis pada Thalib.


“Saya hanya ingin membuat halaman rumah tuan bersih agar tidak ada ular yang membahayakan, tentunya ini juga akan membuat tuan lebih sehat,” jawab Thalib tersenyum padanya.


“Itu hanya akan membuatmu lebih lama tinggal di sini.” Dia terus berjalan melalui Thalib.


Thalib heran melihatnya yang terlihat buru-buru. “Tuan mau kemana?”


“Aku mau ke ladang agar kelalahan dan cepat mati,” ucapnya nampak tak peduli.


Mendepati hal itu Thalib hanya bisa heran dengan kelakuannya sambil menggeleng, lalu dia pun mengikitunya. Setelah menjelang siang mereka berdua kembali ke rumah dan dikejutkan dengan adanya tumpukan karung di depan rumah.


“Sepertinya itu beras dan gandum pemberian pangeran,” ucap Thalib berjalan lebih dulu dan meletakkan tumpukan kayu bakar yang dia bawa.


Kakek itu berjalan menuju rumah. “Bagikan setengahnya pada warga yang berlalu lalang dekat sini, setengahnya lagi sudah sangat cukup untuk kita berdua.” Thalib hanya diam dan menurut saja.


Dua pengawal yang pertama kali dia temui lewat di depan rumah kakek itu dan Thalib pun segera menemuinya sambil membawa dua bungkusan. “Ini dari tuan rumah yang tinggal disini untuk kalian,” ucap Thalib membuat keduanya kaget.


“Apa! emangnya di rumah tua itu ada penghuninya,” ucap salah satunya sedangkan yang satunya lagi nampak terkejut.


“Kalian benar-benar tidak tau bahwa ada orang yang tinggal disana?” tanya Thalib.


“Setau kami rumah itu sudah lama tidak ada yang menempati.”


“Maafkan saya atas sikap saya yang kemarin, saya sangat takut kalau tuan adalah orang asing yang jahat seperti yang sering di ceritakan raja,” ucapnya membungkuk pada Thalib.


“Woy-woy apa yang kau bicarakan,” ucap salah satunya menegur.


“Ah iya tidak apa-apa,” ucap Thalib melangkah mundur merasa tak enak.


“Jadi tuan sekarang tinggal dengan kakek itu?” sambungnya bertanya.


“Iya, aku tinggal bersamanya, aku merasa khawatir dengan keadaanya jadi aku ingin merawatnya agar selalu sehat,” jawab Thalib.

__ADS_1


“Syukurlah ... saya sudah lama tahu tentang keadaan kakek itu, saya bahkan sering datang berkujung untuk melihat keadaannya, namun setiap kali saya datang dia selalu mengusir saya. Syukurlah kalau beliau menerima anda,” ucapnya.


Thalib tersenyum. “Loh kenapa kau tak pernah bilang,” ucap penjaga satunya.


“Aku sudah sering mau menbicarakannya, namun kau saja yang terlalu sibuk,” jawabnya membuat Thalib sedikit tertawa melihat kelakuan mereka.


“Oh ya kalian bilang tadi, raja pernah bercerita tentang orang asing yang jahat, maksudnya seperti apa?” tanya thalib.


“Menurutku itu hanya akal-akalan raja yang sekarang, dia sepertinya tidak mau ada orang luar datang ke negerinya,” jawab yang satunya.


“Kalau gitu kami mau pergi untuk menjaga gerbang lagi,” sambungnya kemudian pergi.


Thalib hanya mengangguk dan merasa heran dengan jawaban itu. Setelah itu dia terus membagikan beras dan gandum tersebut sesuai yang diminta kakek.


Keesokan harinya saat itu Thalib ingin memperbaiki rumah kakek itu, dia tengah mengumpulkan kayu-kayu yang bagus.


“Apa yang ingin kau lakukan dengan kayu-kayu itu?” tanya sang kakek baru keluar rumah.


“Saya ingin memperbaiki rumah tuan supaya terlihat lebih bagus, agar orang-orang nantinya tahu kalau ada orang yang masih menempati rumah ini,” jawab Thalib.


Thalib ingin menghampiri, namun kakek itu menyuruhnya untuk diam saja dengan melambaikan tangannya pada Thalib lalu masuk ke rumah terus batuk-batuk.


Thalib pun mengurungkan niatnya dan menuruti apa saja kemauan kekek itu. Setelah kejadian itu kian hari kesehatan sang kakek semakin memburuk, akan tetapi Thalib terus berusaha melakukan apa pun untuk membuatnya sembuh, dari memasakkan makanan yang sehat, meramukan obat, memijatkan tubuhnya dan memanggilkan Tabib.


Suatu hari saat itu Thalib pergi untuk mencarikan obat dan tak sengaja bertemu Sayyid di pasar. “Bagaimana keadaan kakek itu?” tanya Sayyid.


“Saya sudah melakukan berbagai cara, akan tetapi kesehatannya semakin menurun,” jawab Thalib.


“Ikuti saya tuan, saya punya kenalan dengan seorang tabib yang selalu mengobati ayahanda,” balasnya dan mereka pun pergi.


Setelah itu mereka langsung menuju rumah kakek itu bersama dengan tabib yang mereka temui, dengan pengalaman yang banyak tabib itu pun memeriksa kakek dengan sangat baik.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Thalib.


“Penyakitnya sudah sangat parah, saya sudah pernah mengobatinya sekali jadi saya sangat tahu kalau dia mengidap sesak nafas, sekarang penyakit itu kambuh lagi dan semakin parah,” jawab tabib itu.


“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya Sayyid.

__ADS_1


“Apa tuan tinggal di sini bersamanya?” tanya tabib pada Thalib.


“Yah, sudah beberapa hari ini saya tinggal bersamanya,” jawab Thalib cemas.


“Syukurlah kalau begitu, mulai sekarang temani dia dan jangan pernah tinggalkan sendirian,” balas tabib itu.


“Apa sudah sengat parah?” Sayyid cemas.


Tabib mengangguk. “Dia juga mengalami demam, tubuhnya sangat panas, tuan harus selalu meletakkan kain basah di kepalanya agar suhu tubuhnya turun,” jawabnya.


Thalib dan Sayyid hanya bisa tertunduk diam sedangkan si kakek saat itu tengah tertidur di ranjangnya.


“Baiklah kalau begitu saya izin pamit pulang dulu, masalah obat-obatan sudah saya siapakan,” sambungnya.


“Terima kasih banyak,” ucap Sayyid dan tabib itu pun keluar.


Mulai saat itu Thalib terus menjaga kakek, setiap malam dia tak tidur nyenyak selalu mencemaskan keadaannya, kerna suhu tubuhnya sudah dua hari tak turun-turun. Hingga keesokan harinya bertepatan hari Jum’at kesehatan sang kakek bertambah parah.


“Thalib!” panggilnya lirih pada Thalib yang sedang memasakkan bubur.


Mendengar hal itu Thalib segera berada di sampingnya. “Kau sudah di sampingku,” ucapnya seraya meraba kesamping dan langsung dipegang Thalib.


Kakek itu tersenyum. “Aku sangat berterima kasih kerna kau sudah merawatku dengan sangat baik, bukannya aku tak suka kalau kau mau memperbaiki rumahku, hanya saja itu sudah sangat tidak diperlukan,” ucapnya lirih dan terbatuk-batuk.


“Tetapi ...”


“Dengarkan aku dulu!” tegurnya membuat Thalib terdiam.


“Di bawah rumahku ada harta yang telah kusimpan bersama istriku sekian lama, jika kau perbaiki rumahku akan percuma, kerna jika ingin mengambilnya kau harus merobohkannya dulu, ambillah untukmu semuanya gunakan itu untuk perbekalan, memang tidak banyak tapi itu sudah lebih dari cukup untuk dirimu sendiri,”  sambung kakek itu.


“Maafkan saya tidak bisa merawat tuan dengan baik, padahal saya sudah mengatakan akan merawat tuan supaya bisa sehat, namun saya malah gagal,” jawab Thalib memegang erat tangannya.


Kakek itu menepuk tangan Thalib dan menatapnya penuh senyum kebahagiaan, seolah mengatakan kalau kehadiran Thalib sudah membuatnya senang.


Flashback Of


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2