
Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken, namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.
"Shiro, Shiro ... Shiro!” panggil Chio disertai gedoran pintu, dia teriak-teriak dengan wajah panik dan cemas, Shiro yang mendengar panggilannya seperti itu membuatnya tidak tahan dan segera membukakan pintu.
“Cih ... apa yang kau inginkan datang ke sini, kami sudah makan siang, kau sudah telat jadi pergilah sekarang juga, saat ini aku sedang sibuk!” jawab Shiro kesal.
“Bukan itu, biarkan aku bicara dulu, ini tentang ....”
“Apanya lagi, cih ... ini semua gara-gara Ken miskin itu dia tiba-tiba datang ke rumahku, katanya ada urusan, dan saat itu kami sedang makan siang. Aku jijik sekali melihatnya senyum-senyum ketika ayahku menyuruh untuk makan bersama, aku sampai tidak bisa tenang menyantap makananku kerna dia terus bicara tentang pertemanan kita."
"Kau tau setelah selesai makan dia malah izin pulang sambil meminjam sesuatu dari ayahku. Kaesokan harinya dia malah datang diwaktu yang sama, dan parahnya lagi dia mengajakmu datang kesini dengan alasan mengembalikan barang yang dia pinjam,” potong Shiro terus berbicara tanpa membiarkan Chio menjelaskan terlebih dahulu.
“Shiro ini tentang ....”
“Cih ... apa kalian tidak bisa membiarkan aku tenang saat makan bersama keluargaku, kau tau kita sudah bertemu hampir setiap hari, jadi bisakah kau biarkan aku ber ...”
“Ini tentang Ken yang kau anggap gadungan!” teriak Chio dengan keras hingga membuat Shiro terdiam.
“Setelah hari dimana kau bilang bahwa Ken bukanlah Ken yang kita kenal selama ini, aku mulai menemukan kejanggalan dengan sikapnya, jadi aku memutuskan untuk mengikutinya hari ini, ke mana pun dia pergi, dan aku menemukan fakta bahwa ...”
“Masuklah kedalam, dan ceritakan semua yang kau lihat padaku,” potong Shiro dengan wajah serius.
Melihat sikapnya yang berubah membuat Chio bertambah yakin bahwa dia sudah tahu semua, tanpa perlu berkata-kata lagi Chio mengangguk dan melangkah masuk ke rumah Shiro.
Shiro nampak tegang sekaligus memancarkan aura kesedihan dari matanya, setelah Chio masuk, dia langsung menutup pintu dengan sangat rapat.
...●●●●...
"Adududuhh ... sakitnya kepalaku, kacau sekali sigendut itu dia membenturkan kepalaku sangat keras ke dinding," ucap Akira yang tengah berada di pinggir sungai sambil membersihkan luka dan bajunya yang kotor akibat perkelahian dengan para preman tadi.
__ADS_1
Dia menyapu kepala dengan air sungai itu sambil membersihkan darah yang ada di dahi secara perlahan sesekali dia merengek kesakitan.
"Arghh ... susah sekali kalau sendirian melakukannya, aku tidak bisa melihat di mana lagi ada darah yang menempel, bercermin lewat air ini pun tidak ada gunanya, kerna airnya mengalir dan bergelombang, mana mungkin terlihat jelas." Dia nampak kesal hingga memukul air sungai dihadapannya.
Merasa penasaran dari mana asal gelombang kecil yang membuat air itu tidak tenang, dia pun mengalihkan pandangan kesekitar dan menemukan seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahun tengah memukul-mukul air dengan tongkat ditangannya, dia nampak berusaha keras untuk mengambil sebuah mainan yang semakin manjauh kerna air yang mengalir.
"Ya ampun ... ternyata kau yang membuat air ini tidak tenang, hey sudah hentikan aku tidak bisa ..." ucap Akira terhenti ketika menyadari bahwa anak kecil itu sedang berusaha meraih mainannya yang jatuh kesungai, dia terus mencondongkan tubuh ke arah sungai itu hingga akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Hey! bahay ... cihh ..." Akira berteriak, namun sudah telat, seketika itu dia berlari dan menceburkan dirinya kesungai untuk menolong anak itu.
"Aaakhhh ...!" teriak anak itu ketakutan, "Tolong! tolong ...!" Anak itu meminta pertolongan, dia terus tenggalam dan berusaha agar kepalanya tetap di permukaan air.
Akira pun nampak kesusahan untuk mengahampiri anak itu, dia sudah berusaha beranang lebih cepat, namun anak itu berada di seberang sungai.
Sungai itu memang tidak begitu luas, tetapi, dengan air yang cukup deras mengalir sangat mudah untuk membuat anak kecil hanyut terbawa arus.
Setelah berhasil mendakati anak itu, lagi-lagi dia sedikit telat hingga anak itu tenggelam tepat dihadapan, dia terpaksa harus menyelam untuk menemukannya, dan beruntung airnya cukup jernih sehingga dia bisa melihat dengan jelas di dalam air tersebut.
"Seperti inikah sulitnya menolong seseorang yang tenggalam disungai, kesalahan sedikit saja bisa membuat kami tenggelam bersama," gumamnya dalam hati sambil berusaha berenang ke atas walau dengan kaki yang tidak bisa di gerakkan.
Akira hampir kehabisan nafas, dia terus berusaha berenang kepermukaan air sehingga berhasil sedikit mencuri nafas.
Dengan cepat dia menyelam kembali dan menangkap kedua tangan anak itu untuk melepaskan pegangannya dari kakinya, tetapi pegangan anak itu sengat kuat membuat Akira kesulitan melapaskannya.
Akira tidak menyerah disitu saja, dia terus meranggangkan pegangan anak itu sambil berlomba dengan waktu nafasnya dan ketahanan nafas anak tersebut.
Pegangan anak itu tiba-tiba melemah membuatnya sadar bahwa dia harus segera membawanya kepermukaan hingga akhirnya berhasil dilepas dan segara mengangkat tubuh anak itu kepermukaan air.
Tetapi, kedua tangan anak itu sudah sangat licin hingga membuat pegangan Akira terlepas, namun dengan sigap Akira menangkap baju anak itu dan langsung memeluknya erat lalu membawanya kedaratan.
__ADS_1
Setalah sampai kedaratan, Akira batuk-batuk kerna banyak terminum air sungai Akibat pegangan anak itu di kakinya, bagitu juga anak kecil itu dia nampak syok dan takut hingga menangis.
"Sudah jangan menangis, kita berdua sudah selamat, kau tidak perlu takut lagi," ucap Akira sambil mengelus kepalanya hingga membuat anak itu sedikit lebih tenang.
"Tidak kusangka kami selamat, aku bersyukur berhasil menyelamatkannya, ini tidak lain kerna ketahanan nafasnya yang jauh lebih panjang dari padaku, mungkin itu karena keinginan untuk bertahan hidupnya sangat kuat, kepanikan yang terjadi membuat kekuatannya meningkat tajam bahkan bisa melebihi orang dewasa, tidak heran banyak orang yang kehilangan nyawa saat menolong orang yang tenggelam, sekalipun dia bisa beranang, tetapi kalau dia tidak berhati-hati dia juga bisa ikut tewas."
"Telat sedikit saja dia bisa meninggal dan hilang terbawa arus, tentu ini juga berlaku denganku. Kami berdua bisa saja hilang entah kemana," gumam Akira dalam hati serta tak henti-hentinya dia bersyukur.
"Keiji!" teriak laki-laki dan perampauan tiba-tiba menghampiri mereka sambil memeluk anak itu, yang tidak lain adalah kadua orang tuanya.
"Mama ... hikss ... hikss ..." teriak anak itu kembali menangis dipelukan ibunya, hal itu membuat Akira sedikit tersenyum.
Melihat mereka yang basah kuyup tentu kedua orang tua anak itu sudah paham apa yang terjadi dengan anaknya.
"Terima kasih anak muda kau telah menyalamatkan anakku, aku sangat bersyukur, kalau saja tidak ada kau mungkin anakku sudah ..." ucap ayahnya.
"Aku juga sangat bersyukur kerna takdirku berada di dekatnya," jawab Akira tersenyum.
Tanpa sengaja ayah anak itu melihat luka di dahi Akira. "Apa luka di dahimu itu gara-gara menyalamatkan anakku, jika begitu maka aku harus bertanggung jawab."
"Tidak, ini bukan kerna itu, jadi paman tidak perlu mengkhawatirkan ini. Emm ... kerna sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan aku izin untuk pergi."
"Tunggu dulu anak muda ini ambilah untukmu, aku yakin kau belum makan sampai saat ini, jadi terimalah ini sebagai ucapan terima kasih kami," jawab paman itu sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan.
"Syukurlah ... terima kasih banyak paman," jawab akira menyambut bungkusan itu.
"Kalau gitu aku pergi dulu paman, bibi, terima kasih banyak." Akira membungkuk tanda hormat begitu juga dengan keluarga itu.
Kemudian dia berjalan pergi menjauh, sedangkan kedua orang tua itu terus memandang Akira dengan tatapan sangat bersyukur.
__ADS_1
-Bersambung-