The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib Sang Musafir Bagian 3


__ADS_3

Hari talah berganti pagi, semua orang mulai kembali beraktifitas seperti biasa lagi. Jam matahari buatan Akira seadanya kini telah menunjukkan sekitar jam Sembilan pagi hingga Akira dan yang lainnya kini memulai rapat kembali.


“Maafkan kami Akira, kemarin dipanti jompo di daerah sini kami tidak menemukan apa-apa, para orang tua disini mereka bilang tidak tahu, tapi yang kulihat mereka seperti menyembunyikan semua itu,” ucap Chio.


“Mereka semua benar-benar terlihat tidak ingin menceritakannya, padahal saat itu ada seorang nenek yang ingin mengatakan sesuatu padaku tetapi, dia terlihat marah dan kesal ketika salah satu utusan tetua datang melihat-melihat, ehh ... akhirnya Nenek itu tiba-tiba pergi,” sahut Ayumi.


“A’ahh ... tidak perlu kalian pikirkan, lagi pula ...” jawab Akira.


“Cih ... tidak perlu meminta maaf begitu padanya, kami sudah mendapatkan bagian pertama dari cerita itu,” potong Shiro.


“Benarkah! kok bisa mereka menceritkannya pada kalian padahal orang tua di tempat yang kami datangi semuanya tidak ada yang mau bercerita,” jawab Ayumi.


“Bagaimana awal cerita itu, apakah yang mereka ceritakan itu memang bagian pertama?” sahut Chio.


“Cih ... kau ini! tidak bisakah kau membiarkanku menjawab Ayumi terlebih dahulu!” teriak Shiro kesal.


“Aku rasa tidak benar jika kita menyabutnya bagian pertama,” sahut Akira.


“Aira!,” Shiro berpaling marah padanya.


“Maksudmu?” sahut Ayumi penasaran membuat Shiro tertunduk lesu kerna merasa tidak didengar.


“A’ahh ... maksudku cerita itu sama sekali bukan cerita awalnya, itu seperti cerita yang sudah berada di tengah-tengah, misalnya saja seperti ada seseorang yang tidak disebutkan namanya di sana tapi malah sudah banyak memberi bantuan sedari awal,” jawab Akira menjelaskan.


Saat itu Ayumi nampak tidak mengerti sedangkan Chio terlihat berusaha keras untuk memehaminya.


“Cih ... ada salah satu orang yang ada dicerita itu yang pernah membantu negeri Sabbat, namun tidak disebutkan siapa nama orang tersebut, sedangkan didalam cerita itu dia seolah memiliki hubungan kuat dengan Thalib,” sahut Shiro dan mereka pun mengerti.


“Astagfirullah ... kenapa aku selalu sulit dalam menyampaikan sesuatu, aku benar-benar belum berubah, padahal aku kemarin berhasil membujuk Shiro,” ucap Akira dalam hati merasa galau.


“Ternyata begitu, coba kau ceritakan dari awal Akira, biar kami tambah mengerti,” pinta Chio.


“A’ahh ... tidak bisa, maksudku aku tidak pandai dalam bercerita aku lebih suka mendengarnya. Bro kau saja yang menceritakannya,” jawab Akira seraya meminta.


“Cih ... aku lagi aku lagi,” ucapnya mengeluh, namun tetap setuju.


Shiro pun menceritakan semuanya dan juga menceritakan seorang kakek yang telah memberitahu mereka, tentu Shiro menceritakan dengan gaya malasnya, yaitu dengan melipat kedua tangannya di dada. Walaupun terlihat tidak semangat, akan tetapi dia bisa berbicara dengan baik sampai selesai.


“Apa yang Akira katakan sepertinya memang  benar, cerita ini bukanlah cerita awalnya melainkan bagian tengah atau mungkin justru sudah mendekati akhir,” ucap Chio bertambah yakin.


“Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya?” tanya Ayumi.


“Aku rasa kita harus kembali menemui Kakek itu untuk membicarakan ini,” jawab Chio serius.


“Cih ... ada apa dengan kalian ini, itu cuma legendakan? dan lagi pula ini tidak nyata, maksudku cuma cerita karangan, kau bahkan mendengar sendirikan Aira saat orang itu mengatakannya,” sahut Shiro.


“Yah aku tau ini memang sedikit mustahil hanya saja aku percaya ini adalah cerita nyata,” jawab Akira.


“Cih ... sedikit kau bilang, sudah jelas itu banyak,” balas Shiro kesal.


“Saat aku pertama kali mendengar legenda Thalib sang musafir aku sudah merasa bahwa ini adalah cerita nyata dan berhubungan langsung dengan apa yang aku cari, contohnya saja dari nama Thalib, itu adalah bahasa Arab yang berarti murid atau seorang penuntut ilmu, dan lagi kata musafir yang berarti pengelana, pengembara atau orang dalam perjalanan, semua itu sangat khas dengan Islam. Tidak hanya itu, dicerita itu menyebutkan bahwa para penduduk negeri Sabbat adalah orang yang dermawan dan rajin beribadah, lalu itu diajarkan oleh seseorang. Itu sangat mirip dengan ajaran Islam dirikanlah shalat dan tunaikan zakat, zakat itu sendiri adalah bentuk memberi,” jawab Akira.

__ADS_1


“Jadi komohon pada kalian semua, tolong bantu aku lagi, tidak ada lagi yang bisa kumintai tolong selain kalian,” ucap Akira sangat memohon.


Ayumi berdiri dan memukul kepalanya. “Kenapa kau baru bicara soal itu, bukankah kau sudah janji untuk mengajariku lagi tentang Islam, kalau kau terus diam bagaimana bisa aku tambah pintar!” teriaknya marah-marah, sedangkan Akira memegang kepalanya yang sakit.


“Ayumi benar, jika kau punya sesuatu yang ingin dikatakan, katakan saja agar kami bisa mengerti, aku juga bilangkan ajari aku tentang ilmu pengetahuan yang kau miliki, sekarang kau baru bilang tentang bahasa Arab, dan malah tidak mengajarkannya padaku,” sahut Chio juga sedikit kesal.


“A’ahh ... bukan begitu, hanya saja aku tidak pandai dalam bahasa Arab.”


“Cih ... kau ini, apa boleh buat aku sudah ada janji denganmu. Cih ... menyesal sekali aku membuat kesepakatan denganmu,” sahut Shiro menggeleng.


Akira terharu dan matanya sedikit berlinang air mata. “Terima kasih semuanya, aku ... sangat senang,” ucapnya mereka pun tersenyum.


“Yosh ... ayo kita berangkat ketempat itu dan kembali menemui Kakek dan kita tanyakan semuanya tentang Thalib sang musafir,” seru Chio penuh semangat membuat mereka juga bersemangat lagi.


...●●●●...


Saat itu di panti jompo yang telah Akira datangi bersama Shiro terlihat banyak orang berkumpul di dalam, tidak seperti kemarin, hari ini para orang dewasanya sedikit bertambah. Mereka semua sedang mengerumbungi sikakek untuk mendengarkannya bercerita, hanya saja kali ini bukan tentang kisah Thalib, tapi kisah semasa mudanya didesa ini.


Akira dan lainnya pun masuk ketempat itu dan duduk bersama mereka untuk mendengarkan hingga sikakek selesai bercerita.


“Wahh ... ternyata di sini dahulu masih sangat sedikit bangunan rumah, bahkan hanya terbuat dari batang-batang pohon seadanya, tetapi orang dahulu masih bisa hidup dengan baik,” ucap Zen.


“Tentu saja kami dulu saat anak-anak sangat lihai dalam berburu di hutan, banyak sekali hewan-hewan liar yang bisa kami buru,” jawab kakek sombong.


“Lalu sekarang kemana hutannya?” tanya naoto.


“Yah ... apa boleh buat semanjak desa kita semakin maju, maka pembangunan rumah dan bangunan lainya juga semakin gencar untuk dibangun, akhirnya hutan-hutan yang ada sudah tidak ada lagi,” jawab kakek.


“Tapi diluar desakan masih ada hutan, kita bisa melihatnya dari ujung tebing desa ini, nah bagaimana kalau kita minta izin untuk keluar dan belajar berburu disana,” ucap Haruka.


“Percuma!” teriak Kakek membuat mereka kaget.


“Maksudku disana terlalu berbahaya bagi anak kecil, lebih baik kalian memancing biasa saja,” sambungnya membuat ketiga anak itu menyerah.


“Apa yang dikatakan Kakek benar, kalian masih kecil jadi belum diperbolehkan,” sahut Akira sambil memandangi mereka yang masih tertunduk lesu.


“Emm ... oh ya Kek, apa Kakek bisa ceritakan lagi tentang Thalib sang musafir?” sambungnya bertanya.


“Sudah tidak ada lagi hanya yang kemarin itu saja,” jawabnya.


“Cih ... bukannya masih ada satu lagi, cerita yang dimana dia pergi menuju negeri kita,” sahut Shiro disebalah Akira.


“Hah ... percuma! Itu cuma cerita palsu yang di buat tetua desa kita yang terdahulu, jelas sekali ceritanya sangat berlawanan denga cerita sebelumnya,” jawabnya terlihat kesal.


“Palsu!” teriak Akira, Chio dan juga Ayumi serempak sedangkan Shiro hanya mengkerutkan dahinya kerna sunging.


“Itu cuma pendapat Kakek sendiri! semua orang menganggap itu benar,” ucap Shiro.


“Tunggu dulu, apa benar itu dibuat oleh tetua desa terdahulu?” sahut Chio.


“Cih ... itu cuma berita yang dibicarakan orang tertentu yang terhasut oleh Kakek, belum ada kepastiannya,” sahut Shiro sedangkan kakek justru terlihat geram kerna ucapan Shiro.

__ADS_1


“Loh jadi kau juga tahu ceritanya, kenapa kau tidak bilang dari kemarin,” jawab Chio.


“Cih ... aku baru saja ingat lagi.”


“Dasar kau ini Shiro! sepertinya aku harus menggosok kepalamu agar bisa ingat semuanya,” balas Chio kesal.


“Jika itu benar, lalu kenapa tetua desa harus susah-susah membuat cerita palsunya,” sahut Ayumi.


“Pastinya tidak lain untuk membuat para warga agar tidak lagi mempercayai cerita Thalib sang musafir,” jawab Akira membuat Chio dan Shiro berhenti bertengkar.


“Cih ... sudah kubilang itu cuma akalan Kakek, pada kenyataannya itu memang cerita sebenarnya,” ucap Shiro.


“Tidak, dia benar, itulah rencana tetua desa terdahulu. Dia ingin agar cerita Thalib ini hanya akan menjadi cerita legenda biasa,” ucap kakek itu sedikit marah.


“Lalu bagaimana isi cerita palsu itu?” sahut Akira menatap serius.


“Ini tentang kengerian perjalan Thalib menuju desa kita, tapi aku tidak bisa menceritakannya sekarang, kita tunggu orang dewasanya bubar” jawab kakek itu berbisik membuat mereka semua mengangguk setuju.


Saat itu semua orang dewasanya pun mulai pergi dari tempat itu, kekek sedikit tidak ingin menceritakannya hanya saja Akira dan yang lain ingin sekali mendengar agar mereka bisa menceri tahu sesuatu. Cerita itu mengisahkan tentang Thalib yang ingin pergi melanjutkan perjalannya setelah sampai dari negeri Sabbat bahkan tanpa menggunakan peta sama sekali, dia hanya bermodal nekat dan perlangkapan seadanya.


Para warga disana ada yang melarang dan ada juga yang acuh begitu saja bahkan tidak peduli dengan itu. Hanya saja Thalib tidak terlalu peduli dengan semuanya, yang dia pikirkan adalah begaimana caranya agar bisa menemukan suatu negeri yang mungkin saja masih ada dan belum terjemah oleh orang-orang luar dari negeri mereka.


Diceritakan Thalib saat itu cuma memikirkan kepuasan dirinya saja, seolah-olah dia hanya ingin menambah kekayaan dari negeri lain, walaupun pada akhirnya dia berhasil menemukan desa seribu patung ini, akan tetapi dia harus bertaruh nyawa untuk berhasil sampai.


Saat dia sampai pun sudah dalam keadaan kelaparan dan kelelahan, tubuhnya pun sudah kurus, kerna dia sudah banyak melalui rintangan-rintangan menuju desa ini, dari badai pasir, hujan lebat dimusim dingin, kekeringan dimusim panas dan jalan yang sangat jauh serta dipenuhi dengan jalan terjal dan berbatu, bahkan harus melewati banyak pegunungan hanya untuk sampai.


Diceritakan juga Thalib harus menempuh waktu selama 10 kali upacara atau sekitar 100 hari, itulah yang membuatnya kehabisan bekal makanan dan lagi diperjalanan pasokan makanan di alam sama sekali sedikit. Saat berhasil sampai pun dia sudah jatuh sakit dan bisa bertahan selama tiga kali upacara.


Mereka yang mendengar cerita hanya bisa terdiam memikirkannya, tidak ada yang bisa berucap apa-apa sampai Kakek selesai bercerita.


“Cerita ini seperti nyata, namun sebenarnya jika kita pikirkan lebih jauh maka akan terdengar tidak nyata serta mustahil,” ucap Chio dan Ayumi pun mengangguk, namun berbeda dengan Akira dia terlihat tidak suka dengan cerita itu.


Ayumi melihat sikap Akira yang terlihat marah. “Ada apa Akira?”


“Aku hanya berpikiran sama dengan Kakek, ini memang cerita palsu, atau cerita asli yang dibuat ulang untuk dijadikan palsu,” jawab Akira terlihat marah seperti sang kakek.


“Cih ... jadi maksudmu bagaimana?” tanya Shiro.


“Aku tidak tahu pastinya, hanya saja dalam cerita ini Thalib dikatakan seorang yang hanya mementingkan diri dan keserakahannya, tapi menurutku itu sama sekali tidak benar. Kalian ingatkan dalam cerita sebelumnya, dia jelas sekali bukan orang yang begitu,” jawab Akira.


“Aku setuju dengan Akira, sepertinya itu sengaja dibuat untuk membuat orang yang mendengar cerita ini akan membenci Thalib dan tidak akan peduli lagi dengan cerita legendanya,” sahut Chio.


“Yah itu benar sekali, buktinya sekarang orang-orang sudah tidak ada lagi yang menceritakan kisah ini, bahkan para orang dewasanya banyak yang tidak tahu apa lagi anak-anaknya,” sahut Ayumi.


“Cih ... terserah kalian saja yang penting selanjutnya kita harus bagaimana untuk membantu Akira menemukan bulan Ramadhan yang selama ini dia cari, namun yang pasti kau harus memikirkannya Akira!” sahut Shiro malas berdebat dan menunjuk Akira.


“Shiro!” teriak Ayumi dan Chio, sedangkan Akira dia hanya bisa tersentak diam.


“Cih ... Apa la ...!” teriaknya terhenti ketika menyadari bahwa dia tidak sengaja menyebut nama Akira, bahkan menunjuknya dihadapan yang lain, hal itu malah membuat Zen, Haruka, dan Naoto kebingungan, tidak hanya itu kakek juga terlihat sama.


“Hey ... siapa yang Kaka maksud dengan Akira?” ucap Zen menatap mereka heran begitu juga dengan Haruka dan Naoto.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2