
"Kakek!" teriaknya langsung keluar melewati pintu belakang tersebut.
Ken terus berteriak memanggil-manggil kakeknya hingga itu terdengar ke sang bibi, melihat Ken yang berlari cepat melewati rumahnya segara dia hampiri.
"Ada apa Ken, apa kakek hilang lagi?"
"Iya Bi, Kekek hilang lagi, aku harus apa Bi, aku tidak tau mau kemana mancarinya."
Seperti biasa Ken orang yang panikan dan gegabah, dia tidak bisa berpikir jernih ketika menghadapi suatu masalah.
"Tenang dulu Ken, kenapa kakek bisa pergi apa kau lupa mengunci pintu?" tanya sang bibi sekaligus menenangkan.
Mendadak Ken sadar dan ingat bahwa semua itu terjadi kerna salahnya yang seolah sengaja tidak ingat mengunci pintu ketika mau pergi berangkat.
Itu terjadi saat dia terdiam merasa ada yang dia lupakan, namun rasa kesal kemarin terhadap kakeknya muncul dan malah dia biarkan begitu saja, sehingga seolah sengaja merasa yakin bahwa tidak ada yang dia lupakan, walaupun rasa tak nyaman menyelimuti.
"Ini salahku Bi, aku malah tidak mengunci pintu belakang, padahal saat aku mau pergi tadi merasa lupa, akan tetapi aku malah sengaja melupakan itu, akibatnya kakek keluar rumah lagi."
Mendengar jawaban Ken membuatnya syok dan menutup mulutnya yang menganga kerna kaget. "Apa yang kau lakukan Ken! kenapa kau begitu?"
"Maafkan aku Bi, aku kesal kerna aku dituduh merusak semua patung itu, dan saat aku pulang, rumah berantakan gara-gara ayam yang masuk dari jendela yang dibuka kakek," jawab Ken sambil menangis menyesal.
"Maafkan bibi, itu salah bibi yang membuka jendela kerna kesian melihat kakek yang merasa gelap."
Mendengar pengakuan bibi membuatnya tambah histeris. "Sudah Ken bukan saatnya untuk menyesal, kita harus mencari kakek."
"Baik Bi, tapi harus ke mana," jawabnya masih merasa bingung.
"Kamu kesana dan Bibi cari kesana," ucapnya menunjuk berlawanan, kemudian Ken dan bibi berpisah.
Disepanjang jalan Ken selalu berteriak memanggil sang kakek, namun tak kunjung ketemu, hingga dia pun mengingat pesan Osama untuk jangan sungkan meminta bantuan kepada para penduduk, dengan segera Ken bertanya dan meminta mereka untuk membantu.
"Paman aku mohon tolong aku mencari kakekku, dia hilang lagi," pinta Ken pada seseorang yang tengah duduk bersama.
"Akhh ... pergi sana kami sedang sibuk, jangan mengganggu kami," jawab salah satunya dengan kasar, Ken pun pergi meminta yang lain.
"Paman aku mohon tolong aku mencari kakekku, dia hilang lagi," pintanya lagi pada orang yang sedang mengerjakan sesuatu.
"Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk, hush pergi sana," jawabnya mengusir dengan kasar.
"Paman aku mohon tolong aku mencari kakekku, dia hilang lagi, orang-orang yang kumintai tidak ada yang mau," pinta Ken lagi pada seorang pria yang hanya santai duduk sendiri.
"Apa kau bilang hilang lagi, bagaimana caramu menjaga kakekmu sediri, kau ini keterlaluan sana pergi." Bukannya membantu dia malah menyalahkan dan mengusir.
Ken tidak pernah menyerah untuk meminta bantuan, dia bertanya-tanya tentang apakah mereka melihat kakeknya dan meminta bantuan untuk mencari, akan tetapi semua orang yang dia tanya dan pintai acuh dan menjawabnya dengan berbagai alasan tak masuk akal, ada yang menyalahkan dan mengusir dengan kasar.
Kini rasa putus asa dan marah telah menyelimuti dirinya, rasa benci terhadap semua penduduk telah tumbuh di hatinya.
Kakeknya yang tidak tahu lagi ada di mana dan tidak tahu lagi mau ke mana membuat Ken merasa sangat putus asa, disepanjang jalan yang dia telusuri nampak diwajahnya rasa sedih, sesal dan benci bercampur aduk di hatinya, bahkan dikedua pipinya basah dengan air mata.
Beruntung saat itu Chio melihat Ken yang tengah seperti itu. "Ken!" teriaknya dari kejauhan.
__ADS_1
Ken mendengar dan berpaling memandang, tetapi, matanya yang berlinang dan menatap tajam, membuat Chio merasa sedikit takut.
"Tunggu aku Ken!" teriak Chio dan berlari menghampiri, sedangkan Ken dia malah berpaling dan berjalan cepat.
"Ken, ada apa kenapa kau bersikap seperti itu, apa terjadi sesuatu?" tanya Chio berusaha mencari tahu.
"Percuma kau pasti tidak akan membantu juga seperti para penduduk yang bodoh ini!" jawabnya dengan keras.
"Kenapa kau bicara seperti itu Ken, bagaimana bisa aku membantu kalau aku sama sekali tidak tau apa-apa."
"Meskipun kuberi tahu kau pasti tidak akan ikut membantu, maka dari itu pergilah dari hadapanku!" jawabnya dan mempercepat langkahnya.
"Ken! aku temanmu mana mungkin aku berpaling ketika melihat temannya kesusahan, percayalah padaku aku pasti akan membantumu!" balas Chio meyakinkan dan menahan tangan Ken untuk pergi.
Ken pun tersadar emosinya sudah membutakan hatinya, sehingga dengan sahabatnya pun tak percaya. "Kakekku ... dia hilang lagi ..." ucapnya pelan dan tertunduk.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak awal, ayo cepat ikut aku, kita harus ke rumah Shiro dan Ayumi terlebih dulu, kita akan membagi tugas untuk mencari," jawabnya tanpa ragu, membuat Ken terperangah dan terdiam.
"Apa lagi yang kau tunggu bodoh! ini sudah petang kita harus bergegas." Chio berteriak dan kali ini dia memanggil Ken bodoh hingga membuatnya memandang Chio sedikit tersenyum.
"Kau yang bodoh Chio," balasnya pelan dan sedikit tertawa.
"Kau yang bodoh dasar! ayo kita segera pergi menemui Shiro," teriaknya lebih kasar dan berlari lebih dulu, ucapan itu membuat Ken tersenyum memandangnya dan segera menyusul dengan semangat yang membara kembali.
...●●●●...
"Kakek! Kakek!" panggil semuanya mencari kakek Ken, dari Ayumi, Shiro, Chio, Osama, bibi, bahkan Zen, Haruka dan juga Naoto ikut membantu.
Chio membagi tugas kelompok mereka berpasang-pasangan dan sesuai pengatahuan yang mereka miliki. Chio dan Ayumi menyusuri ke daerah barat, Shiro dengan Ken mereka ke timur, sedangkan yang lainnya ke arah selatan, yaitu ketiga anak-anak, Osama dan Bibi.
Sebelumnya Chio telah menjelaskan rencananya. "Baiklah pembagian kelompoknya seperti itu, itu sesuai dengan pengatahuan wilayah yang kalian pahami, untuk selanjutnya kita akan menggunakan cara yang kusebut arah buntu."
"Arah buntu!" teriak mereka serentak.
"Yah ... desa kita dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dan ada beberapa gerbang yang dijaga oleh utusan tetua sebagai keluar masuk para penduduk, kita semua akan mencari kakek mengarah ke tembok itu," balas Chio.
"Apa maksudmu ketika kita bertemu tembok, maka kita kembali ke tempat awal dan kembali mencari ke arah lain," sahut Ayumi.
Chio menganngguk tersenyum. "Seperti yang dikatakan Ayumi kita akan kembali lagi bertemu di tempat ini untuk bertukar kabar, jika diantara kalian lebih dulu sampai maka tinggalkan pesan ditanah yang bertulis tempat dan arah tujuan kalian, itu apabila kalian tidak menemukan apa-apa, namun jika kalian sudah berhasil menemukan Kakek, maka kalian harus menunggu yang lain datang," sambungnya menjelaskan.
Zen mengangkat tangan. "Kenapa Kakak menamainya arah buntu, kenapa tidak arah tembok?"
"Kerna aku cuma asal saja Zen, kalau kau suka arah tembok maka sebut saja begitu, ada lagi?" jawab Chio singkat.
Shiro mengangkat tangan. "Cih ... Aku keberatan jika Ken bersama Ayumi, biar aku saja yang bersama Ken dan kau bersama Ayumi, ini untuk jaga-jaga supaya dia tidak emosi lagi."
"Bagaimana Ken apa kau setuju?" tanya Chio.
"Baiklah terserah saja, aku tidak peduli yang penting kakekku ketemu, lagi pula itu jauh lebih baik, kerna nanti Shiro cemburu." Perkataan Ken membuat mereka semua tertawa.
"Cih!" balas Shiro singkat dan berpaling.
__ADS_1
"Baiklah Ayo kita segera berangkat ini sudah mulai petang," seru Chio dan mereka pun berpisah.
Semuanya telah bergerak mencari ke tampat yang mereka tuju, hingga sampai ke tembok, tetapi tidak ada yang berhasil menemukan sang kakek, sesuai perjanjian mereka semua kembali ke tampat awal.
Saat itu Ken dan Shiro terlambat dari yang lainnya dia melihat Ayumi, Osama dan yang lain berdiam diri di tempat perjanjian mereka, dia segera berlari menyusul dan sedikit merasa senang.
"Ada apa? apa kalian telah menemukan kakek?" tanya Ken, namun mereka semua diam.
"Mana Chio kenapa dia tidak terlihat," sahut Shiro, namun mareka masih diam.
"Iya, di mana dia?" tanya Ken lagi.
Ayumi memandang Osama dan Bibi dengan tatapan sedih, seolah menyuruh mereka saja yang memberi tahu.
"Ken, aku dan Chio berhasil menemukan sedikit jejak tongkat milik kakek, tongkat itu mengarah ketebing ujung desa, disana ... kami menemukan tongkat kakekmu tergelitak di unjung tebing," ucap Ayumi menjelaskan dengan tatapan sedih.
"Tidak mungkin, itu pasti salah, mana mungkinkan kakek bisa berjalan ke sana sendirian, tempat itukan jalannya menanjak, iyakan Paman, Bibi, Shiro." Ken tak percaya dan meyakinkan mereka, akan tetapi semuanya menundukkan kepala.
"Yah ini belum pasti maka dari itu Chio berada di sana untuk mencari tahu kebenarannya."
"Yah kau benar, Ayo semuanya kita harus kesana bersama-sama, kerna itu pasti salah," jawab Ken bersemangat dan berlari lebih dulu, sedangkan mereka terdiam dan tertunduk lesu, bahkan Ketiga anak-anak itu juga sama.
"Ada apa dengan kalian kita harus cepat ke sana, matahari sudah hampir tenggelam," panggil Ken mengajak mereka, hingga mereka semua pun beranjak pergi menyusul.
Sesampainya disana Ken lebih dulu tiba dan melihat Chio tengah berdiri menghadap matahari yang tenggelam perlahan. "Bagaimana Chio apakah itu salah dan kakek baik-baik saja?" tanya Ken menghadap belakang Chio.
"Ken Aku akan mengatakannya sebijaksana mungkin dan sejujurnya. Kakek kita ... telah tiada," jawabnya dengan jelas, membuat Ken terperangah dan terdiam membisu menatap ujung tebing itu.
"Aku melihat ada retakan tanah diujung tebing itu dan beberapa tanah yang ambruk ke bawah, itu terlihat dari tanah-tanah yang ada di atas batu di bawah tebing ini," sambungnya lagi memberitahu dengan nada sedikit gugup dan panik.
Ken hanya terdiam tak bersuara, dia kemudian berjalan perlahan mendekati ujung tebing, dia terlihat lemas dan terduduk di dekat unjung tebing itu.
"Lihatlah Ken, ini adalah lobang bekas tusukan tongkat kakek, tanah yang dia pijak ambruk kerna tidak bisa menahan beban, kakek berusaha untuk bertahan dengan menusukkan tongkatnya disaat-saat terakhir, namun itu tidaklah cukup hingga dia terjatuh ke sungai di bawah tebing ini," sambungnya terus menjelaskan agar Ken bisa memahami dan menerima semuanya.
Air mata dikedua mata Ken mulai berlinang dan bercucuran di kedua pipinya sambil memandang Chio yang terus menjelaskan. "Kita tidak bisa menemukan jasad kakek kerna terbawa arus sungai, ditambah lagi air disi ...".
"Chio ..." potong Shiro sambil mengangguk memberi tanda bahwa mereka sudah paham, saat itu juga Chio berhenti berbicara menjelaskan.
Matahari tenggelam dengan sangat indah, suara burung disenja hari membuat jantung sedikit berdebar. Tidak ada yang memandangnya kerna semua tertunduk sedang bersedih hati, bagi mereka metahari yang tenggelam adalah sebuah perpisahan.
Zen, Haruka dan juga Naoto datang menghampiri Ken membawa bunga masing-masing satu dan menyerahkannya kepada Ken, melihat Ketiga anak-anak itu yang peduli terhadapnya membuatnya tersenyum dan segera menerimanya.
"Ken, ini adalah tongkat milik kakek, kau bisa menyimpannya sebagai kenang-kanangan," ucap Chio seraya menyerahkan tongkat itu.
Ken pun mengambilnya dan seketika itu menancapkannya di dekat ujung tebing itu lalu meletakkan tiga tangkai bunga tersebut. "Ini adalah tempat peristirahatan kakek, kita bisa mengunjunginya kapan-kapan ketampat ini, dan ini akan jadi kenang-kenangan kita semua," ucap Ken dengan senang, walaupun air mata masih basah dipipinya semuanya menatap Ken dengan bangga kerna Ken bisa menerima semua itu dengan lapang dada.
"Cih!" Shiro berpaling ketika Ken memandangnya sambil tersenyum, tiba-tiba Ken malah memukul telapak tangannya seolah menantang Shiro berkelahi, melihat tingkah Ken seketika itu dia sedikit tertawa, dan yang lainnya pun di buat tertawa.
Senja itu menjadi hari perpisahan dengan Kakek Ken dan sekaligus menjadi kenang-kenangan mereka semua. Sejak saat itu mereka semua bertambah akrab dan selalu siap sedia membantu ketika di antara mereka ada yang kesusahan.
-Bersambung-
__ADS_1