
Malam harinya mereka pun melaksanakan upacara itu kerna semua persiapan telah sempurna hingga selesai. Osama, Akira dan lainnya juga ikut kembali membantu sebagai penjaga makanan ditenda-tenda yang talah mereka bangun kembali, terlihat para penduduk dengan senang hati mengambil makanan-makanan yang disiapkan oleh Akira dan lainnya.
Mereka pun nampak sama sekali tidak keberatan atas kehadiran Akira ditempat itu, beberapa warga bahkan bercengkerama dengan mereka kerna Akira dan lainnya telah membantu mereka menyiapkan semuanya siang tadi, dari Akira dan Chio yang menyembelih dan membersihkan hewan-hewan hingga Ayumi dan Shiro yang membantu ibu-ibu memasak.
Kerna para warganya telah selesai, mereka pun bersedia menggantikan Osama, Akira dan lainnya untuk menjaga makanan sehingga mereka bisa bergantian makan bersama. Saat itu mereka memilih untuk duduk sebentar dibelakang orang-orang yang menyiapkan makanan menggantikan mereka.
“Melihat kalian yang sangat membantu disini membuatku berfikir bahwa kalian semua akan segera meninggalkan desa,” ucap Osama seraya tersenyum sedih.
Akira dan lainnya pun ikut bersedih. “Benar paman, kami memang akan segera pergi dari desa ini,” jawab Chio membuat Osama tersentak.
Tiba-tiba dia tersenyum. “Sudah kuduga kalian pasti akan segera pergi dari desa, aku yakin kalian pasti sudah mendapatkan petunjuk dibuku peninggalan Thalib itukan?” tanya Osama.
“A’ahh … kami berencana akan pergi ke negeri Sabbat untuk mencari petunjuk lain tentang bulan Ramadhan atau peradaban Islam, dalam buku harian Thalib dikatakan ada negeri yang lebih berkembang yang membantu negeri Sabbat,” jawab Akira.
“Syukurlah kalau begitu, aku turut bahagia,” ucap Osama masih sedih.
“Lalu apa kalian juga ikut?” tanyanya lagi.
“Iya! Kami pasti akan ikut juga,” jawab Ayumi bersemangat.
“Baiklah ... aku pasti akan selalu mendukung kalian yah … walaupun aku akan sedih kerna masih ingin belajar banyak dari Akira,” ucapnya.
“Ya ampun ... pamankan sudah diajarkan cara Shalat dan bacaannya, ditambah lagi hal lainnya,” sahut Chio.
“Yah benar! Yang harus aku lakukan adalah berdakwah agar para pemeluk Islam di negeri kita ini terus bertambah dan akan bisa melaksanakan yang lainnya, tapi Akira, kau juga harus kembali saat kau menemukan kapan bulan Ramadan dimulai agar nantinya kami orang-orang muslim di negeri ini bisa merasakan kemeriahan Ramadan seperti yang kau ceritakan di duniamu,” Jawab Osama berdiri dari duduknya bersemangat.
“A’ahh … itu sudah pasti, jika pun aku terlambat kembali maka orang-orang dari negeri yang kami datangi akan datang membawa kabar gembira pada orang-orang negeri ini!” jawab Akira juga bersemangat.
“Syukurlah jadi kalian kapan akan pergi?” tanya Osama.
“Mungkin besok atau hari Rabu, kata Akira hari Rabu adalah hari yang sangat baik untuk memulai sesuatu,” jawab Ayumi.
__ADS_1
“Baiklah! Kalau begitu aku mau pergi dulu ada yang harus aku siapkan untuk kalian pergi nanti,” ucapnya segera pergi sebelum Akira dan lainnya sempat bertanya.
Setelah Osama pergi mereka pun mengambil makanan berbungkus daun yang telah warga sediakan, lalu mereka pun memilih kursi dan meja yang juga disediakan para warga, banyak dari mereka yang makan bersama disana kerna pemandangan cukup indah dari lampu obor yang tersusun rapi.
Saat itu mereka memilih duduk di meja yang sedikit kepinggir. Disaat makan bersama tiba-tiba Arnius datang dengan melimpar seekor ayam kemeja mereka.
“Sembalihkan!” teriaknya dengan wajah yang khas seperti siang tadi.
Akira dibuat tersedak dan mereka pun kaget kerna Arnius yang datang mengejutkan mereka bahkan sampai melempar ayam hidup kemeja makan mereka. “Arnius! Sinih biar lehermu yang kusembelih!” teriak Chio kesal dan marah ingin memukul Arnius, namun Shiro dan Akira menahannya.
“Ha ha ha ha … aku kesini ingin belajar dengan guru cara menyembelih yang baik seperti siang tadi! Dan aku juga ingin belajar Islam agar apa yang aku sembelih menjadi halal untuk siapapun!” ucapnya pada Akira, mendengar itu Chio seketika terhenti marah, Ayumi dan Akira terperangah melihat kesungguhannya.
Akira sedikit ragu kerna merasa tak percaya hanya kerna hal itu Arnius merasa yakin dan bersunguh-sungguh dengan yang dia inginkan. “Kau yakin? tidak maksudku, Baiklah! Sekerang kau ikuti apa yang aku ucapkan!” jawab Akira lebih bersemangat.
Setelah itu Arnius pun mengikuti Akira untuk membaca dua kaliamat Syahadat sebagai syaratnya masuk Islam hingga selesai. Lalu Akira juga mengajarkannya cara menyembelih yang benar dia terlihat sangat bangga dan kagum ketika melihat Akira mengajarinya banyak hal tentang Islam. “Bagus Arnius kau sudah mengerti, sekarang kau harus belajar Shalat! Nanti pergilah kerumah paman Osama, dia akan mengajarimu banyak hal seperti yang telah aku ajarkan, kau bisa terus berkembang jadi lebih baik!” ucap Akira padanya.
“Ha ha ha ha … baiklah aku akan segera pergi kerumah Osama untuk di ajarkannya!” jawabnya.
“Loh itukan Guni dan preman lainnya, apa dia bersamamu?” tanya Chio menunjuk mereka yang menghadap kearah Akira dan lainnya. Dari tatapan mereka semua terlihat malu sehingga memalingkan wajahnya.
Akira memberikan dua jempol padanya. “Ha ha ha … kalau begitu aku akan pergi menemui Osama untuk diajarkan yang lain!” ucapnya kemudian pergi bersama Guni dan 3 preman itu seraya membawa ayam yang dia lempar tadi.
“Apa menurutmu mereka sudah berubah?” tanya Chio.
“Entahlah aku harap begitu,” jawab Ayumi, “Oh ya ngomong-ngomong dari tadi Shiro diam terus,” sambungnya.
“Iya, emang ada apa?” tanya Chio juga.
“Cih … bukan apa-apa,” jawabnya.
Akira dan lainnya menatap heran.
__ADS_1
“A’ahh … jadi kapan kita akan berangkat besok atau …”
“Cih … kenapa kita harus pergi, kenapa tidak diam di negeri ini saja! Aira! Kau! Kau tidak perlu ikuti kesepakatan kita dulu, tetaplah tinggal di negeri ini, aku yakin kita akan tetap berhasil menemukan yang kau cari, aku yakin negeri kita ini masih memiliki rahasia besar tentang apa yang kau cari itu!” potong Shiro.
“Shiro … apa kau tidak ingin pergi?” tanya Ayumi.
Melihat tatapan Akira dan Chio yang heran membuatnya mengatakan semuanya. “Yah! aku tidak ingin pergi dan aku juga ingin kalian tetap tinggal didesa,” jawabnya.
“Maaf Shiro, tapi aku harus tetap pergi kerna ada kemungkinan petunjuk berikutnya ada di negeri Sabbat,” jawab Akira sedikit sedih.
“Baiklah terserah kau saja! Kalau begitu Ayumi, Chio, kalian berdua jangan pergi biarkan dia sendiri, aku yakin dia tidak akan bisa bertahan dan pasti akan kembali pulang kesini,” balas Shiro.
“Tidak Shiro, aku sudah membulatkan tekadku untuk pergi bersama Akira, ini bukan soal Akira lagi tapi soal kami,” jawab Chio.
“Chio benar Shiro … ini bukan soal Akira lagi, tapi ini tentang Islam, kami harus mencari peradaban Islam di dunia ini untuk menemukan Ramadan dan pengetahuan lainnya agar keislaman kami lebih kuat.” Sahut Ayumi.
“Cih … terserah kalian saja, aku tidak peduli lagi! mau kemana pun kalian pergi aku tidak peduli lagi!” jawabnya marah seraya berdiri dari duduk.
Akira juga berdiri dari duduknya. “Shiro ... kali ini aku akan bertindak sesuka hatiku, aku sudah tahu bahwa kau berpikiran tidak ikut, tapi aku akan bersifat egois kali ini. aku ingin kau ikut dengan kami, apapun alasanmu untuk menolak aku ingin kau ikut untuk membantu kami. Jika kau beralasan kerna kau bukan bagian dari kami, aku tidak peduli dengan itu kau harus tetap ikut menolong kami. Jika kau beralasan kerna kami merepotkanmu, aku akan lebih merepotkanmu dengan harus ikut bersama kami. Jika kau beralasan kerna kau punya keluarga dan mereka akan melarangmu, maka aku sudah memberitahukannya pada keluargamu dan mereka bilang keputusannya ada padamu, maka dari itu jika keputusanmu tidak ikut maka aku memaksamu untuk ikut bersama kami!” ucap Akira menatap serius dihadapannya.
Shiro kesal kerna tak bisa menjawab Akira. “Cih … ap-apaan kau ini mamaksaku begitu, ter-terserah aku ingin seperti apa kalian tidak bisa memaksaku begitu.” Jawabnya.
“Aku tidak peduli seperti Akira, kau harus tetap ikut bersama kami Shiro!” sahut Chio.
Shiro tersentak kerna dia terdesak oleh mereka berdua. “Shiro kami sudah berbicara dengan orang tuamu, mereka bilang itu keputusanmu, mereka juga bilang kalau kau sudah dewasa mereka tidak akan ikut campur lagi jika kau memilih apa pun, tapi ibumu bilang kalau kami harus melindungimu apa pun itu. Akira … dialah yang memohon agar kau ikut pada ibumu dan dia juga berjanji akan melindungimu dari setiap apa pun,” ucap Ayumi.
“Cih … hal sepenting itu justru kalian menyembunyikannya dan malah berbicara dengan kedua orang tuaku tanpa kehadiranku. Kalian sudah keterlaluan dan hanya membuatku malu, ditambah lagi ingin melindungiku, cih ... yang benar saja kau yang lemah ini mana mungkin bisa dasar!” jawabnya seraya pergi meninggalkan mereka.
“Aku tidak peduli dengan itu, besok kami akan menunggumu ditengah desa, siapkan semua keperluanmu, jika kau tidak datang maka kami akan datang kerumahmu untuk memaksa, dan jika kau tetap tidak mau, maka hari rabu kami akan kembali kerumahmu untuk memaksamu sampai mau pergi!” teriak Akira manatap Shiro yang terus berjalan menjauh.
“Cih … dasar kau Akira, itu artinya hari rabu adalah pilihan terakhirku untuk ikut,” ucapnya pelan seraya cemas.
__ADS_1
Akira, Chio dan Ayumi hanya bisa terdiam sedih melihat Shiro yang terus menjauh, dihati mereka bertiga sama-sama merasakan takut kalau Shiro tidak akan ikut mereka, walaupun mereka harus memaksanya seperti itu.
-Bersambung-