
Setelah kedatangan kakek semua orang dibuat tegang dan bertanya-tanya apakah itu benar, tidak hanya itu para tetuanya pun dibuat tak percaya kalau sang kakek akan datang mengikuti persidangan ini, padahal mereka semua sudah dilararang untuk keluar dari tempat itu.
“Ada apa ini? kenapa mereka bisa kesini, mana para penjaga itu, Osama apa ini ulahmu?!” ucap tetua pertama marah.
“Maaf tetua aku juga tidak tahu itu, dari tadi aku selalu berada disisimu,” jawab Osama juga heran.
“Benar tetua pertama, Osama dari tadi bersama kita,” sahut tetua kedua.
“Wah … tetua pertama persidangan ini akan tambah rumit,” ucap tetua ketiga.
Osama menatap ayahnya dari jauh. “Yaampun Ayah! apa lagi yang kau lakukan, apa harapanmu ada pada mereka sepenuhnya,” ucap Osama sedikit sedih dan senang campur aduk.
“Mereka yang kalian sidang ini telah berkata jujur, larangan itu tidak lain untuk menjadikan para orang yang percaya tentang cerita nyata itu harus bungkam, tetua terdahulu tidak ingin kalau cerita Thalib itu tersebar. Kalian mau tahu bagaimana kenyataan sebenarnya tentang Thalib sang musafir? dia pernah tinggal didesa kita sampai akhir hayatnya!” ucap kakek.
Orang-orang pun kebingungan dan juga tak percaya. “Itu tidak mungkin, kami tahu betul bahwa itu adalah cerita legenda biasa, cerita yang tidak nyata!” teriak salah satu warga.
“Kau pikir kau dan aku lebih tua siapa, kami lebih lama hidup dari pada kalian, sudah jelas kalian semua ini berhasil dihasut olehnya, kalian semua ini benar-benar tak bersyukur,” jawab kakek.
“Hey kau pikir umur jadi peran lebih untuk tahu segalanya,” teriak yang lain.
“Dasar orang-orang tak tahu adab, sudah jelas orang yang lebih tua darimu banyak pengalamannya.” Kakek menggeleng.
“Aku tanya pada kalian semua, aku yakin pasti ada diantara kalian yang tahu bahwa itu adalah cerita nyata. Apa kalian tidak kasian dengan ayah kalian yang dihukum sepertiku ini, kami semua yang berada di tempat itu adalah orang-orang yang tahu betul bahwa kisah Thalib sang musafir itu adalah kisah nyata, bahkan kedua orang tuaku pernah hidup berdampingan dengannya. Kalian yang tahu dari ayah kalian apa ingin terus diam dan bungkam kerna takut akan mengalami seperti ayahmu dan kami. Saat ini kalian tidak perlu takut lagi inilah saatnya untuk membongkar semua kebenarannya,” sambung kakek lantang.
“Gawat tetua pertama, jika kita teruskan semua orang akan tahu kisah yang selama ini kita sembunyikan,” ucap tetua ketiga.
Tetua pertama seketika berdiri dari duduknya. “Hentikan semuanya, sudah tak ada lagi yang dibicarakan hukum penganiaya dan pemberontak itu!” teriak tetua pertama.
Tiba-tiba satu orang dari mereka berani mengangkat tangan. “Selama ini aku selalu diam dan berusaha untuk tetap bersembunyi, tapi kali ini aku yakin inilah waktu yang tepat yang selama ini diinginkan ayahku.”
Seseorang dari mereka berucap dan kemudian menarik nafas dalam, “Aku adalah anak dari salah satu orang yang hampir dihukum mati kerna melanggar suatu peraturan, tapi mereka tidak pernah bilang melanggar peraturan apa, hingga salah satu utusan tetua datang memberi tahuku dan ibuku kalau ayahku sudah selamat dan akan ditempatkan disuatu penampungan, dengan begitu kami akan selalu bisa bertemu dengannya …”
“Hentikan orang itu!” potong tetua pertama, namun orang yang berbicara tadi segera menyambung ucapannya dengan berteriak.
__ADS_1
“Ayahku bilang dia hampir dihukum mati kerna menceritakan kisah Thalib itu! Ayahku juga bilang untuk saat ini diam dan jangan membicarakan kisah itu pada siapapun jika tidak ingin mengalami sepertinya, tapi dia bilang katakan yang sebenarnya jika itu adalah waktu yang tepat, bongkar semua kebusukan para tetua. Aku berani berbicara sekarang kerna ingin agar ayahku bisa bahagia disana!” teriaknya seraya menangis.
Semua orang disana terdiam dan bertanya-tanya, hingga bebarapa dari mereka juga ikut berdiri dan mengangkat tangan, lalu kemudian menceritakan soal ayahnya yang juga ditangkap seperti itu, semua kisah mereka sangat mirip dan berhubungan.
Pengakuan salah satu orang itu membuat yang lain juga membaranikan diri menceritakan yang sebenarnya.
Saat itu Akira dan lainnya pun dibuat terperangah dan tak percaya kalau rencana mereka akan berhasil dan itu tidak lepas dari bantuan kakek yang telah menggerakkan hati mereka, sedangkan tetua pertama dibuat tak berdaya ketika mereka yang selama ini bungkam mulai berani berbicara dan mengatakan yang sebenarnya. Bahkan kakek pun mulai menceritakan bagaimana kehidupan Thalib yang baru datang ke desa mereka dan juga kehidupannya yang menyakitkan atas kelakuan para mereka terdahulu yang tak pernah bersyukur dan berterima kasih atas jasa-jasanya, nemun yang dilakukan mereka malah terpengaruh oleh omong kosong tetua terdahulu.
Menyedihkan bagi rafu yang kali ini tersadar bahwa apa yang dilakukannya justru berakibat seperti ini, dia bahkan masih terlihat kebingungan.
“Benar-benar kacau tatua pertama, kali ini kita tidak akan bisa membungkam mareka lagi, orang-orang akan melupakan agama leluhur kita dan beralih keagama yang di bawa Thalib dahulu,” ucap tetua ketiga.
“Menurutku tidak begitu tetua ketiga, beberapa dari mereka mungkin saja akan mengikuti agama yang di bawa Thalib itu melalui para anak-anak itu, tapi dari yang lain bisa saja tetap pada pendirian mereka, ini bukanlah hal yang salah, tapi ini adalah perubahan yang akan kita alami di desa, apa yang dilakukan tetua terdahulu memang sangat salah dan mengakang mereka, kalau terus begitu pastinya mereka lama-lama akan berontak dan inilah yang terjadi pada masa kita, kau harus putuskan yang terbaik agar tidak ada permasalahan yang ditimbulkan oleh ini,” sahut tetua kedua.
“Entahlah aku masih tidak bisa berfikir jernih,” jawabnya terlihat masih syok, sedangkan kakek terus menceritakan kebenarannya.
“Itulah yang selama ini para tetua sembunyikan dari masa kemasa, kita sebagai keturunan dari mereka apakah mau terus hidup dengan kebodohan yang dilakukan orang-orang terdahulu terhadap Thalib yang sudah membantu perkembangan di desa kita, apa kalian mau terus menanggung dosa mereka yang terdahulu, sudah saatnya kita berubah dan mempercayainya, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, biarkan kisah ini terus kita ceritakan kapada keturunan kita semua, dan menjadi legenda nyata didesa kita,” ucap Kakek.
“Lalu bagaimana dangan pemberontakan mereka, yang telah melanggar peraturan pertama,” ucap salah satu warga menunjuk Akira dan lainnya.
“Jika mereka dihukum kerna itu, maka aku juga akan dihukum!” potong Osama tiba-tiba datang menghadap mereka membuat para tetua kaget dan heran.
Kakek tersenyum. “Dasar anak itu, beraninya dia mendehuluiku,” ucapnya menggeleng.
“Utusan pertama juga bersama mereka, kalau begitu mereka adalah orang-orang yang benar!” ucap yang lain sedang berbincang dengan orang disebalahnya.
“Ada apa ini, apa mereka memaksanya?” Beberapa diantara mereka saling bertanya-tanya.
“Tidak ada pemaksaan sama sekali, aku lah yang meminta pada mereka sendiri. Kenapa desa kita harus ada larangan seperti itu, padahal sahrusnya setiap agama tidak pernah memaksa setiap orang untuk ikut, coba kalian pikirkan jika seandainya larangan itu tidak ada kita pasti akan punya hak untuk memilih yang kita mau, kita bahkan bisa hidup saling berdampingan dan tetap bisa saling membantu,” ucap Osama meyakinkan.
“Paman Osama benar, dalam Islam pun tidak pernah ada paksaan untuk ikut bersama, di dunaiku bahkan banyak agama yang berbeda, tapi kami masih bisa hidup tenang dan damai, kerna kami bisa berdampingan dangan saling menghargai dan tolong menolong. Aku sangat yakin kalian juga pasti bisa melakukannya” sahut Akira.
“Aku yakin di antara kalian pasti ingin segera bebas dari kekangan ini, dan bebarapa dari kalian juga pasti ada yang percaya dengan agama dibawa Thalib dahulu,” ucap Osama lagi.
__ADS_1
Mendangar itu beberapa dari mereka terlihat senang dan berbincang bersama seraya tersenyum seolah membayangkan kejadian itu. “Lalu bagaimana dengan hukuman penganiayaan?!” teriak yang lain lagi.
“Dia benar! penganiayaan adalah salah satu pelanggaran berat,” sahut Rafu kembali merasa akan menang.
“Apa yang dilakukan anak itu sama sekali bukan penganiayaan, melainkan adalah penyelamatan. Mereka bertiga itu adalah tukang palak, aku saksinya orang itu telah menyelamatkanku!” sahut salah satu orang tua yang pernah Akira selamatkan.
“Lalu bagaiamana dengan orang itu,” ucapnya lagi menunjuk Guni.
“Itu bukan salah Akira melainkan Ken, kejadian itu sudah lama saat Ken masih hidup,” jawab Chio.
“Cih … benar! itu pun bukan kesalahan Ken semata, tapi kerna Gunilah yang lebih dulu membuatnya marah.” Sahut Shiro.
“Mereka benar, aku adalah tuan yang pernah mempekerjakan dia dan Ken, Guni ini bukanlah orang baik.” Tuduhan kini berbalik semua kebohongan pun terbungkar, Rafu dan mereka pun dibuat tak berdaya dengan pengakuan para warga.
“Tetua pertama sudah saatnya kau berbicara sebelum mereka akan berbalik menyerang kita, katakan yang sebenarnya bahwa kita telah salah,” ucap tetua kedua.
“Apa boleh buat, untuk sementara kita harus mengalah,” sahut tetua ketiga.
“Baiklah untuk saat ini kita akan mengalah,” jawabnya.
Tetua pertama maju kedapan, dia sedikit ragu. “Tetua …” ucap Tetua kedua.
“Wahai para Rakyatku sekalian, semua yang mereka katakan sudah jelas kebenarannya, kami para tetua mengaku salah dan akan mencabut larangan pertama itu, kali ini kita tidak perlu lagi mengikuti tetua terdahu, sudah saatnya kita juga berubah, dan kalian semua harus siap melihat perubahan yang akan terjadi!” ucapnya lantang dan para orang tua serta semua orang yang mengikuti Thalib pun bersorak gembira.
“Kita berhasil Akira, kini semua warga tidak akan mempermasalahkan itu, kita akan bebas memperlihatkan seperti apa agama kita,” ucap Ayumi.
“Benar Akira! Selanjutnya pencarian petunjuk kita tentang bulan Ramadan akan berjalan mudah,” sahut Chio.
“Cih … sudah berhasilkan sekarang cepat pergi dari desa,” ucap Shiro.
“Ha ha … belum lagi Shiro, masih ada yang harus kita lakukan,” jawab Akira seraya tertawa bersama.
Akira dan lainnya pun berpaling menghadap semua warga yang bersorak gembira itu, walaupun bebarapa dari mereka tidak ikut, namun tetap saja Akira dan lainnya menatap bangga dan bahagia melihat semuanya, bahkan Osama merangkul Akira seraya tersenyum dan menangis kerna melihat kakek yang juga menatap mereka berdua penuh haru dari jauh.
__ADS_1
-Bersambung-