
Suasana siang kini berganti petang semua orang telah datang untuk menyaksikan jalannya persidangan, banyak dari mereka penasaran dan juga saling berbincang. Banyak dari warga juga baru datang berjalan beriringan, sedangkan persiapan juga sudah sangat matang.
Akira dan yang lainnya pun di keluarkan dari penjara dan diikat dengan satu tali panjang saling berhubungan, mereka semua diarahkan ketengah kerumunan yang sedang duduk ditempat yang sudah disediakan. Para tetua juga ikut menyaksikan ditempat yang mereka agungkan sebagai penguasa, semuanya sudah siap untuk melihat apa sebenarnya yang mereka permalahkan.
Saat itu Akira dan lainnya berdiri berbaris ditengah sedang dibacakan mengenai masalah yang mereka lakukan bersama.
“Kepada semua hadirin sekalian, inilah mereka yang telah melakukan pemberontakan didesa kita,” ucap Rafu membuat semua orang yang mendengar dibuat kaget dan bertanya-tanya.
“Tidak hanya itu orang ini,” ucapnya menunjuk Akira, “telah melakukan penganiayaan terhadap empat orang didesa kita sampai mereka bebak belur, ditambah lagi kata orang ini yang bernama Shiro, mengakui bahwa orang inilah yang membuat mereka jadi pemberontak desa,” sambungnya lantang.
Disisi lain ketiga tetua juga nampak heran apa yang dirancanakan Rafu. “Apa yang dilakukan anakmu tetua pertama, kenapa dia menyebut soal pemberontakan dan penganiayaan?” tanya tetua kedua.
“Entahlah aku juga bingung dengan anak itu, katanya ingin memperlihatkan hal yang luar bisa, tapi ketika aku tanya dia bilang untuk melihatnya saja,” jawab tetua pertama sedikit kesal dengan anaknya.
“Tenang saja anak itu orangnya cerdas, dia pasti akan memperlihatkan kita sesuatu yang menarik, secara dia akan jadi penerus tetua selanjutnya,” sahut tetua ketiga.
“Namun yang pertama-tama kita akan membahas tentang orang ini yang bernama Akira,” ucap Rafu dan lagi-lagi membuat tetua dan para warga kaget bukan main.
“Bukannya orang itu Ken anak pungut dari si kakek pelupa,” teriak salah satu warga dan yang lain mengiakan.
“Benar, jika kalian tidak tahu apa-apa maka kalian pasti akan tertipu dengan tampangnya,” jawab Rafu seraya tersenyum.
“Apa lagi ini, aku tau anak itu dia orang yang dekat dengan Osama, dia memanglah Ken,” ucap tetua kedua.
“Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang ingin dia rencanakan,” jawab tetua pertama.
“Jika itu memang bukan Ken lalu dia orang dari mana,” jawab orang desa.
“Hoo ... tahan dulu, mari kita bahas masalah penganiayaan yang dia lakukan.
Cepat panggil keempat orang itu!” teriak Rafu.
Tak berselang lama ketiga preman dan Guni pun di arahkan ketempat Akira dan yang lainnya. “Katakan semuanya dihadapan orang-orang tentang apa yang telah dia lakukan terhadap kalian,” pinta Rafu.
Guni menatap Akira dengan tersenyum, sedangkan Akira justru tak tahu apa-apa. “Dia bersama dengan Chio dan Shiro mengeroyokku yang mana saat itu aku berkelahi dengannya, orang ini," Guni menunjuk, "dia memukulku tanpa alasan, padahal saat itu aku hanya sedang berjalan biasa, kerna dipukul tentu saja aku membalasnya,” ucap Guni.
“Mengeroyok! bukannya kalian yang mengeroyok Ken waktu itu,” jawab Chio.
Mendengar itu tentu saja semuanya bingung ingin berpihak dengan siapa. “Lihatlah mereka! belum apa-apa sudah membantah pengakuan orang ini. Ini tentu saja sudah menunjukkan sifat kebohongan,” sahut Rafu mengalihkan, “tidak hanya itu ketiga orang ini bahkan sampai dibuat pingsan olehnya,” sambungnya.
“Benar kami semua dihajar olehnya sampai pingsan, aku tidak tahu kenapa, tapi dia tiba-tiba datang menghadap kami, lalu malah mengahajar kami bertiga sampai tak bisa melawan balik, orang ini berbahaya jika dibiarkan hidup, bisa-bisa dia akan membunuh orang.” ucap salah satunya lantang.
“Apa benar begitu kejadiannya?” ucap tetua pertama heran.
“Tentu saja banar begitu, apa lagi ini adalah hasil dari penyelidikan yang Rafu lakukan. Yang aku dengar anak itu memang suka buat masalah dan berani melawan,” jawab tetua ketiga.
Tetua kedua terlihat tidak suka dengan pemandangan ini. “Bukannya dia bilang tadi itu bukan Ken,” sahutnya membuat tetua ketiga terdiam.
“Aku benar-benar tidak mengerti ulah anakku ini, apa kita harus mengahentikannya saja dan menyelesaikan ini secara kekeluargaan,” ucap tetua pertama sedikit jengkel.
“Yang kau katakan sangat be ...”
__ADS_1
“Jangan tetua pertama, lebih baik kita liat sampai selasai, apalagi tentang Akira itu,” potong tetua ketiga membuat tetua pertama menghela nafas.
“Itu tidak benar, aku difitnah mereka, kejadiannya tidak seperti itu, yang sebenarnya terjadi mereka adalah tukang palak!” teriak Akira membantah.
“Diam kau!” teriak Rafu.
“Dia benar aku melihat sendiri, orang-orang inilah yang mengeroyoknya!’ sahut Chio membela.
“Aku bilang diam! Kalian tidak punya hak untuk bicara!” teriak Rafu lagi.
“Kalian lanjutkan,” suruh Rafu pada mereka dan mereka pun melontarkan semua kebohongan yang mana ini semua sudah rafu rencanakan, ditambah lagi mereka memang berniat belas dendam.
Disaat mereka terus berbicara, Rafu justru mendakati Akira dan Chio lalu membisikinya. “Sudah kubilangkan untuk mengakui semua, apa kau tidak mengerti situasinya. Kalau kau terus membantah wanita temanmu itu tidak akan selamat,” ucapnya membuat Chio tersentak.
Akira justru marah. “Aku pasti akan mengakuinya jika yang mereka katakan adalah benar, sedangkan yang mereka katakan adalah kebohongan apanya yang harus diakui,” ucap Akira menatap kesal dan marah.
Rafu tersenyum. “Hoo ... bagaimana jika kupinta kau untuk mengakui siapa kau sebenarnya dan apa rencanamu didesa ini.”
“Cih ... aku sudah muak dan lelah melihatnya cepat lakukan saja Akira, biar ini cepat selesai!” teriak Shiro.
Akira menatap Rafu marah. “Yah ... akan aku katakan semuanya.”
Rafu tersenyum. “Bagus ... ayo kita lanjutkan kebabak berikutnya.”
Rafu pun berjalan maju dan menyuruh ke empat orang itu berhenti bicara, para warga yang menyaksikan tentu saja mulai sedikit mempercayainya walaupun beberapa dari mereka kebanyakan ragu.
“Baiklah sekarang kita lanjutkan kepermasalahan berikutnya mengenai pemberontakan yang mereka lakukan, yang mana ini akan sangat berhubungan langsung dengan larangan pertama jangan menyembah selain patung yang kita selama ini sembah,” ucap Rafu membuat semua orang tak percaya begitu juga dengan para tetua.
“Akira, cepat katakan siapa dirimu dihadapan mereka,” sambung Rafu menyeringai.
Saat itu Akira menatap mereka semua yang sedang bingung dan bertanya-tanya pemberontakan seperti apa, sebelum berbicara dia menunduk dan menghela nafas serta berdoa dengan mengucap bismillah. “Benar apa yang dikatakan dia, aku bukanlah Ken melainkan Muhammad Akira seorang muslim yang sama dengan Thalib sang musafir, dan aku bukanlah orang yang berasal dari dunia ini.” Pengakuan itu membuat mereka tercengang.
“Apa buktinya jika kau memang bukan berasal dari dunia ini, lalu dimana Ken yang sebenarnya?!” Salah satu warga berteriak.
“Aku memang tidak punya bukti tapi, kalian pasti akan percaya denganku jika mengatahui apa yang telah terjadi dengan Ken,” jawab Akira.
Akira kemudian berpaling menghadap Ayumi dan mengangguk seolah menyuruh Ayumi untuk berbicara. Saat itu Ayumi juga maju kedepan dan kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang Ken yang sudah hilang dan juga saat dia menemukan Akira. Para warga yang mendengarnya dibuat kaget tak menyangka atas kejadian Ken, dan yang paling hebatnya mereka percaya dengan Ayumi.
“Jika itu Ayumi yang mengatakannya maka aku mempercayainya,” ucap orang yang bertanya tadi dan anggukan dari beberapa warga.
“Nah bagimana, apa kalian sekarang percaya bahwa dia bukanlah Ken yang kita kenal dia adalah pemberontak desa yang melanggar larangan pertama maka dari itu hukuman apa yang pantas untuk mereka!” teriak Rafu.
“Apa benar dia memang bukanlah Ken,” ucap tetua pertama.
“Yah, ini sama sekali mustahil, tapi Ayumi adalah orang yang selalu dapat dipercaya didesa kita ini, jadi aku juga mempercayainya,” jawab tetua kedua.
“Luar biasa anakmu itu tetua pertama, sekarang hukuman apa yang pantas untuk mereka,” sahut tetua ketiaga.
“Ceritakan lagi siapa sebenarnya kau ini biar kami tambah paham,” teriak salah satu warga lagi tak mendengarkan Rafu.
Akira dan yang lainnya tersenyum seolah ini berjalan sesua rencana. “Aku adalah orang yang dikirim dari dunia lain untuk suatu misi menemukan bulan Ramadhan didunia ini, jika aku ceritakan lebih jauh kalian pasti tidak akan mengerti, namun yang pasti satu-satu cara agar aku bisa menyelasaikan misiku adalah dengan mengikuti jejak Thalib sang musafir, kerna dia adalah orang yang sama denganku menyembah tuhan yang maha Esa Allah SWT,” sambung Akira membuat mereka semua tambah bingung.
__ADS_1
Semua yang mendengar ucapan Akira dibuat heran dan bingung tidak mengerti, bahkan sampai terjadi gemuruh suara dari mereka yang asik berbicara dan menerka-menerka. Sudah jelas mereka tidak akan mengerti soal apa yang Akira ucapkan tentang dirinya, itu terdengar seperti bohongan, namun hanya ada satu hal yang membuat mereka tertarik justru Thalib sang musafir.
“Bicara apa kau ini, itu cuma cerita yang tidak nyata, mana mungkin kau bisa mengikuti jejaknya,” ucap warga desa.
“Yah! Itu cerita palsu hanya dongeng untuk anak-anak,” jawab yang lain juga mengiyakan.
“Loh kok kalian tahu cerita itu, bukannya yang kudengar kalian semua tidak tahu apa-apa soal cerita itu, apa jangan-jangan kalian takut dengan larangan tetua yang melarang penduduknya untuk menceritakan itu,” jawab Akira menyebabkan mereka seketika diam, “kenapa takut, utusan tetua kita ini sudah menyuruhku untuk mengakui semua tentangku dan itu akan berhubungan langsung dengan cerita Thalib, jadi secara tidak langsung dia sudah mengijinkanku menceritakan cerita itu dan kalian sebagai pendengar juga bisa ikut berbicara,” sambung Akira dan mereka semua bertambah bingung.
“Benarkan utusan kedua yang akan jadi tetua,” ucap Akira memancing, akan tetapi dia malah menatap Akira heran. Melihat Rafu yang heran sontak saja membuat Akira tersentak menyadari suatu hal.
“Larangan apanya? cerita itu memang tidak nyata dan tidak pernah ada larangan seperti itu!” teriak salah satu warga menjadikan Akira semakin menyadari hal itu.
Chio dan yang lainnya dibuat kaget. “Apa kalian tidak tahu menganai larangan untuk menceritakan kisah itu, jika ada yang berani menceritakan maka dia akan di tempatkan di tempat para orang tua tinggal,” jawab Akira heran dan gugup.
“Bicara apa kau ini, tempat orang tua itu didirikan utusan pertama semata-mata untuk membantu orang tua yang tidak punya keluarga,” jawab mereka.
“Ada apa ini, kenapa mereka tidak tahu soal itu,” batin Chio bingung.
Akira menoleh kebalakang dan melihat mereka yang juga sedang bingung tidak mengerti, kemudian Akira menoleh ke arah Osama yang berdiri disisi tetua sedang menepuk jidatnya kerna lupa memberi tahu soal ini.
Melihat Osama yang seperti itu, tentu saja Akira mulai paham. ”Ternyata begitu, persidangan yang terjadi dengan ayah paman ternyata disembunyikan dan ada kemungkinan para warga tidak ikut serta, walaupun begitu jumlah orang yang dihukum dikatakan ada puluhan orang, ini berarti bisa saja mereka yang berada disini punya ayah yang di tempatkan di panti jompo itu,” batin Akira.
“Kalau begitu apa ada di antara kalian yang punya ayah, namun malah berada ditempat itu,” ucap Akira, namun diantara mereka tidak ada yang berdiri, yang terjadi malah mereka saling menatap heran.
“Hoo ... jadi ini yang kau mau lakukan membongkar kenyataan tentang cerita Thalib itu ya ...” Rafu tersenyum mengejek dihadapannya, sedangkan Akira menatapnya kesal.
“Ternyata begitu, aku baru ingat tentang dua kubu yang terbagi, satu kubu percaya dan satu kubu lainnya tak percaya. Yang sekarang tersisa adalah kubu yang tak percaya dan menganggap itu cuma cerita legenda. Gawat! Kalau terus seperti ini kami yang akan terdesak,” batin Chio.
“Akira tidak ada gunanya bagi kita membicarakan itu sekarang.” Ucap Chio.
Akira dan yang lainnya menoleh.
“Orang-orang yang ada disini adalah semua kubu yang tak percaya dengan semua itu!.” Ayumi dan Shiro tersentak menyadarinya.
“Kita harus memikirkan yang lain,” sambung Chio.
“Tapi apa? kita sudah terdesak.” Jawab Ayumi.
“Cih ... aku tidak menyadarinya kali ini kita akan kalah,” sahut Shiro, sedangkan Akira justru terdiam berkeringat di pelipisnya, dia kesulitan menemukan jalan keluar.
“Lihatlah tetua pertama siapa orang yang anakmu tangkap, mereka semua berniat untuk membongkar semua yang selama ini kita tutupi,” ucap tetua ketiga.
Tetua pertama tersenyum. “Benar! tidak kusangka anakku bisa juga begitu, beruntung sekali dia menangkap mereka lebih dulu sebelum mereka punya banyak waktu untuk mengetahui semuanya,” jawabnya terlihat bangga.
“Apa mereka semua seolah sengaja ditangkap untuk membongkar cerita itu dihadapan para warga, tetapi, mereka malah melupakan soal orang-orang yang percaya itu sudah ditempatkan ditempat para orang tua, anak-anak itu harus aku selamatkan! terutama orang yang bernama Muhammad Akira, aku yakin si ayah Osama itu ada dibalik ini semua!” batin tetua kedua.
“Mereka semua benar!, kami para orang tua yang ditempatkan di penampungan itu adalah orang-orang yang selamat dari hukuman mati kerna melanggar larangan untuk menceritakan kisah nyata tentang Thalib!” Tiba-tiba seseorang berteriak sambil berjalan mendakati kerumunan, dia adalah kakek yang tidak lain Ayah osama sendiri.
Saat itu semua mata tertuju pada kakek begitu juga dengan para tetua yang dibuat tak percaya dan terperangah melihatnya.
Disaat yang genting kakek dan para orang tua lainnya datang kepersidangan itu dibantu oleh anak-anak desa yang tidak lain juga adalah para teman-teman Zen, Haruka, dan juga Naoto. Mereka datang untuk membantu Akira membongkar semua yang disembunyikan oleh tetua.
__ADS_1
Akira dan lainnya sontak saja dibuat kaget oleh pemandangan itu, dan mereka pun dibuat terharu oleh kakek yang bersedia datang membantu. “Dasar anak-anak itu, mereka malah memilih jalan yang seterjal ini, sudah kuduga mereka semua adalah orang-orang istemewa,” batin kakek seraya tersenyum mentatap Akira dan lainnya.
-Bersambung-