The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Pangeran Sayyid


__ADS_3

Flashback On


“Aminn …” ucap Thalib dan Sayyid yang saat itu duduk di depan kuburan yang masih baru.


Kemudian mereka berdiri lalu berjalan pergi bersama. “Apa kakek ini seoarang muslim, sehingga tuan mendoakannya, padahal di dalam agama kita ada larangan mendoakan keselamatan pada orang bukan muslim?” tanya Sayyid.


Thalib tersenyum. “Dia sudah menjadi muslim sejak Alhudari datang ke negeri ini sama seperti Pangeran.”


“Lo saya kira tuan Alhudari cuma mengajarkan saya dan anggota kerajaan lainnya yang ingin belajar.”


“Tidak, banyak juga para warga di kawasan istana ingin belajar darinya.”


“Oh ya emangnya ada berapa banyak dari anggota kerajaan yang ikut berislam?” sambung Thalib bertanya.


“Tidak begitu banyak tuan, setau saya hanya ada beberapa menteri dan pengawal yang ikut belajar.”


“lalu bagaimana tanggapan ayah Pangeran ketika Pangeran ingin belajar Islam dari Tuan Alhudari?”


“Alhamdulillah saat itu saya sendiri yang meminta kepada ayahanda untuk menjadi muslim, saat itu saya masih remaja, saya sering mengintip dan mendengarkan percakapan mereka berdua, kerna saya penasaran dengan dirinya yang berasal dari jauh, kadang saya juga suka mengikuti Tuan Alhudari saat berkeliling di kota-kota ini, saat itu beliau berjalan menuju sungai, saya tidak tau apa yang beliau lakukan waktu itu, sakarang saya tahu kalau itu adalah berwudu,” ucapnya bercerita.


“Terus apa yang terjadi?”


“Beliau melakasanakan Shalat di bawah pohon ketapi, saya terus memperhatikannya meskipun saya heran dan bingung apa yang dia lakukan, itu bukanlah cara menyembah matahari, saya merasa geram dan ingin sekali menegurnya, namun saya urungkan kerna melihatnya sangat tenang dan damai. Jadi ketika beliau ingin beranjak dari tempat itu saya katakan apa yang dia lakukan salah.”


“Bukan seperti itu cara menyembah matahari, lagi pula ini bukan waktunya!” Sambungnya.


Thalib kembali tersenyum mendengar kisahnya. “Apa yang dikatakan beliau saat itu?”


“Dia tertawa dan mengatakan 'kalau dia bukan sedang menyembah matahari, tapi dia sedang menyambah orang yang menciptakan matahari itu'. Saya langsung melihat ke arah langit dan matahari, mencari-cari orang yang dia katakan."


"Saya tanyakan, 'di mana dia, seperti apa wujudnya, dan kenapa dia tidak terlihat?'”


“Dia menjawab, 'Dia tidak di mana-mana, dia tidak berwujud seperti kita maupun makhluk lainnya, dia bukanlah seorang makhluk, dia memang tidak terlihat, tapi dia ada sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat lehermu'. Saat itu saya tidak mengerti."


"Hoo … jadi siapa dia' kata saya sambil mau mengambil buah ketapi yang ada di dekat kami,” ucap Sayyid terus bercerita.


“Dia kembali tersenyum dan bilang. 'Dialah Tuhan yang Maha Esa, Allah Subahanahu Wataala, tuhan yang selalu mengawasi kita semua, bahkan menampatkan dua malaikat di kiri dan di kananmu untuk mencatat setiap amal perbuatan, dan menampat dua malaikat di depan dan belakangmu sebagai penjaga'."


"Dia juga bilang, 'saat ini malaikat yang mencatat amal buruk sedang menulis, pangeran sedang berniat ingin mencuri buah ketapi'.”


“Mendengar itu saya terkejut dan tidak jadi melakukannya, saat itu dia pun mentertawakan saya yang merasa malu. Mulai saat itulah saya sering bersamanya dan kadang saya suka mendebatnya, namun nyatanya sayalah yang selalu kalah, hingga suatu hari saya benar-benar terkesima dengan tuhannya dan dirinya, dengan akhlaknya seorang muslim, dan mulai mengenal apa itu Islam, dari situlah saya meminta pada ayahanda, dan ternyata ayah sangat mendukung itu dan meminta agar saya di jadikan murid tuan Alhudari.”


“Alhamdulilah saya sangat senang mendengar cerita pengeran,” jawab Thalib.


Raut Sayyid berubah sedih.“Tetapi saya juga sangat sedih, kerna Nashif tidak ikut seperti saya, padahal dia suka mengintip kami dan ketika ketahuan dia selalu lari, saya sering mengajaknya dan dia selalu menolak dan bertahan pada agama leluhur itu. Sikapnya yang sekarang juga sangat tidak mencerminkan seorang raja, dia suka berbuat semena-mena sesuai keinginannya.”


“Kita doakan saja agar dia segera mendapat hidayah, yang bisa kita lakukan adalah menegur dan menjelaskan yang mana yang benar dan harus dilakukan serta selalu bersabar menghadapinya, pengeran sebagai seoarang kakaknya, hendaknya menjadi pelangkap dalam kepemimpinannya, jika dia melewati satu hal saja maka pangeranlah yang menuntaskannya agar kerajaan sekarang berjalan dengan baik,” ucap Thalib seraya menepuk pundaknya.

__ADS_1


“Terima kasih atas nasehatnya tuan, kalau begitu saya izin pergi dulu untuk berkeliling, saya juga akan menjalankan nasehat tuan,” ucap Sayyid kemudian menyalami dan mencium tangan lalu pergi berkeliling melihat kaadaan penduduknya.


...●●●●...


Pagi itu Sayyid keluar dari salah satu rumah penduduk. “Terima kasih banyak kerna sudah membolehkan saya bermalam di sini, saya tidak mengira kalau saat saya berkeliling sudah semalam itu,” ucapnya pada sepasang suami istri.


“Justru kamilah yang sangat berterima kasih, tuan pengeran sudah memberikan kami beras dan gandum hingga mengantarkannya salarut itu, kami sangat bersyukur tuan ada bersama kami para orang miskin,” jawab laki-laki itu dan Sayyid tersenyum mengangguk.


“Pangeran! Pangeran!” teriak seorang pengawal berlari menghampiri.


“Gawat pangeran! Para petani sedang pergi menuju istana, mereka semua menuntut hak atas pembelian hasil panen yang tidak sesuai!”


“Apa! Jadi Nashif membeli hasil panen mereka dengan harga murah lagi! Lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang itu?!” jawab Sayyid marah.


“Maaf Pangeran, kami semua tidak ada yang berani mengadukannya, kami takut ketahuan dan mendapat hukuman darinya,” jawabnya ketakutan.


“Saya harap tuan mau meluruskan kembali permasalahan ini, saya takut nanti kami diperintah Raja Nashif melawan, itu akan terjadi kerusuhan antara pengawal dan petani,” sambungnya.


“Ya sudah! Sekarang kau ikut aku ke istana menemui mereka!” Sayyid nampak sangat marah atas kelakuan adiknya.


Setelah itu keduanya pun sampai dan melihat para Petani itu sudah hampir rusuh dengan para pengawal yang berjaga. “Kalian semua hentikan!” teriak sayyid lantang hingga mereka semua terdiam.


Saat melihat mereka telah diam, Sayyid pun berjalan maju mengahadap para petani. “Sekarang kalian jelaskan bagaimana masalah sebenarnya, apa benar Nashif adikku telah membeli hasil perkebunan dengan harga murah?” ucapnya tegas.


“Benar pangeran, raja telah membohongi kami, dia bilang akan membeli dengan harga mahal, namun nyatanya saat panen tiba dia membeli dari kami dengan sangat murah jauh dari harga pasarannya, kami semua mendapat kerugian, kami datang ke sini tidak terima dan meminta hak yang sesuai,” ucap salah satu mereka.


“Nashif keluarlah! Atau aku harus menyeretmu sendiri ke depan mereka!” teriaknya penuh amarah.


Setelah itu seseorang pun keluar perlahan dari balik pintu dengan wajah nampak kesal menuju Sayyid dan petani. “Apa benar yang di katakan mereka?” tanya Sayyid menatap tajam.


“Cih iya,” jawabnya pelan kerna takut.


“Minta maaf,” balas Sayyid nampak menahan diri.


“Apa!”


“Minta maaf!” teriak Sayyid.


“Kau ingin aku minta maaf dengan mereka, yang banar saja, merekalah yang seharusnya minta maaf kerna telah membuat keributan di istana!”


*Plakk!


Sebuah pukulan tangan kiri tepat dipipi Nashif membuat semua orang di sana memandang kaget. “Aku sudah mencoba untuk sabar menghadapi kelakuanmu, tapi kali ini kau talah melampau, ini sudah kedua kalinya kau berbuat semena-mena seperti ini, namun beruntung dulu kau mau berubah ketika dinasehati, aku pikir itu tidak akan terulang, makanya aku membiarkanmu mengurusnya.”


“Saharusnya aku tidak perlu mengurus hal seperti ini, biarkan anggota kerajaan lainnya!” jawabnya berkaca-kaca.


“Kau tidak mengerti Nashif, ini adalah tugas yang mudah ketimbang kau berkeliling keluruh penjuru negeri ini melihat keadaan rakyatmu, tugas ini adalah untuk membangun kepercayaan antara kau dan mereka, mereka akan senang jika raja mereka sekarang sangat memperhatikan para petani yang menjadi otak dari kesejahteraan rakyat, tapi apa yang kau lakukan, kau menghianati mereka, maka dari itu aku menyuruhmu minta maaf dan memperbaiki hubungan kembali.”

__ADS_1


Nashif hanya bisa terdiam memegang pipinya dengan mata berkaca-kaca sambil terus menahan malu di hadapan orang-orang. “Sekarang minta maaflah,” pinta Sayyid.


Nashif pun menundukkan kepala. “Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi,” ucapnya dengan mengapalkan kedua tangan.


Setelah itu dia berpaling dan berjalan cepat dengan raut wajah marah dan sangat kesal, Sayyid hendak menegur lagi. “Tidak apa-apa pangeran, itu sudah sedikit berlebihan, kami hanya ingin penjualan hasil panen kembali seperti dulu,” ucap petani itu.


“Saya sangat minta maaf dengan kejadian ini, saya berjanji akan membeli hasil pertanian kalian sesuai dengan pasarannya, hasil panen itu pun juga nantinya akan di bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, jadi saya sangat memohon dapat bantuan dari kalian agar negeri kita ini menjadi sejehtera dan aman.” Mendengar itu para petani itu pun sangat senang dan merasa puas hingga mereka pun akhirnya membubarkan diri.


Dengan raut amarah Nashif berjalan sambil mengepalkan tangannya menuju ruangan lalu mendorong keras pintunya, hal itu mengangetkan seorang perempuan dan laki-laki yang sedang berbincang.


“Ibunda! Anakmu telah dipermalukan oleh Sayyid di depan orang-orang, lihatlah pipiku yang memerah ini dia telah menamparku sangat keras dan menyuruhku menundukkan kepala kepada para petani!” ucapnya mengadu.


“Beraninya dia memperlakukan rajaku seperti itu! Apa dia iri kerna tak bisa menjadi raja, lalu dia ingin menjatuhkanmu dengan cara seperti ini! hah! Dasar tidak tahu malu!” jawab laki-laki tadi.


“Dari dulu Sayyid selalu memperlakukanku seperti ini Paman!”


“Biar kuadukan ini pada ayahmu dan ibunya, dia sudah keterlaluan!” sahut ibunya berlenggak pergi.


“Kau juga sebagai pamannya harus ikut membantu!” pintanya dan mereka berdua pergi dengan raut kesal, sedangkan Nashif dia tersenyum senang.


Saat itu keduanya pun masuk kekamar Ayahanda Sayyid dan juga Nashif tanpa permisi. Di kamar itu terbaring raja terdahulu dan ada seorang perempuan duduk merawatnya.


“Hey kau ibunda Sayyid, tidak pernah kah kau mengajarkannya cara mendidik adiknya dengan lemah lembut, dia telah mempermalukan anakku di depan rakyatnya, kau tahu, dia telah menamparnya sangat keras!”


“Dia itu seorang raja, apakah pantas bawahan seperti dia menampar seorang pemimpinnya, sekarang, kehormatannya bisa hancur!” sahut paman Nashif.


“Anakku adalah orang yang cerdas, dia tahu apa yang dia lakukan, kau pikir aku tidak tahu apa yang telah dilakukan Nashif anakmu, seorang pengawal telah memberi tahuku, Nashif kembali membeli hasil tanen dengan harga murah, para petani yang mendapat perlakuan itu datang bersama-sama meminta haknya!” balasnya tak terima.


“Suamiku, berkat ketegasan Sayyid menyelasaikan masalah itu, para petani pun menerima usulannya dan membubarkan diri, jika tidak kerusuhan antar mereka bisa saja terjadi,” sambungnya.


“Tapi suamiku, apa yang dilakukan Sayyid sudah melebihi batas, jika dia ingin menegur tidak saharusnya dia mempermalukan anakmu Nashif dihapan petani itu,” adunya juga.


“Benar tuan, jika Sayyid terus begitu, di mana letak kehormatan seorang raja!” ucap paman Nashif ikut-ikutan.


“Sudah tidak perlu diperpanjang, yang penting masalah antara petani sudah sele uhuk uhuk …” jawab mantan raja itu hingga terbatuk-batuk.


Ibu Nashif nampak tak puas. “Ceh … ini pasti salah satu cara Sayyid ingin merebut kerajaan.”


“Cukup Syairah! Aku muak mendengar omong kosong itu, apa aku harus merobek dadamu dan merebut hatimu agar aku bisa mencucinya supaya bersih, hingga prasangka tak berdasar itu bisa kau hentikan. Anakku Sayyid tidak pernah punya pikiran seperti itu, justru dialah yang mendukung kelancaran kerajaan ini dari balik tirai!”


Syairah terdiam tak bisa menjawab, paman Nashif yang berada di belakang ingin berucap namun di tahan oleh Syairah. “Kita pergi saja dari sini,” ucapnya beranjak pergi meninggalkan kamar itu.


“Apa yang terjadi ini kutakutkan akan berdampak buruk pada Raja Nashif, bisa saja hati para penduduk beralih pada Sayyid, dan anakmu bisa saja tergelingsir dari kerajaannya, ini juga akan barakibat buruk pada kita,” ucap paman Nashif.


“Sudahlah! Biar nanti kita urus ini, jika ada kesempatan maka kita gunakan sebaik mungkin untuk membuat Sayyid tidak bisa ikut campur lagi,” jawab Syairah raut kesal.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2