The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib di Negeri Matahari Ekhad Bagian 2


__ADS_3

“Lepaskan dia dan kembalikan miliknya!” ucap laki-laki itu pada Nashif.


Nashif sang raja itu menatap tajam pada orang yang menegurnya. “Hah ... dasar kau ini serius sekali, aku cuma bercanda,” jawabnya kemudian melempar kantung kecil berisi koin emas itu pada pengawal yang telah melepaskan Thalib.


Laki-laki itu menghampiri Thalib dan mengembalikan tas miliknya, lalu merebut kantung koin itu dari tangan pengawal. “Saya minta maaf atas kelancangan adik saya tuan ...” ucapnya terhenti berusaha mengingat.


“Thalib,” jawab Thalib.


“Tidak apa-apa, saya yakin tuan raja hanya ingin memastikan apa saya memang seorang yang dekat dengan Alhudari,” sambungnya.


“Hey Kak Sayyid apa yang membuatmu datang kesini,” sahut Nashif yang dari tadi menatap kesal.


Sayyid memalingkan wajahnya kesamping untuk menatap Nashif yang tengah santai di singgasananya. “Aku hanya ingin menjemput tamu istemewa Ayah,” jawabnya terlihat tak suka dengan kelakuan adiknya.


Dengan perasaan yang masih kesal Nashif pun pergi bersama pengawalnya. “Mari Tuan,” ucap Sayyid mengajaknya berjalan menuju suatu tempat.


“Bagaimana kabar raja yang dahulu?” tanya Thalib.


“Raja mengalami sakit parah dan kedudukannya harus digantikan dengan adik saya,” jawab Sayyid.


Thalib heran. “Tapi bukankah pangeran yang lebih tua, jadi kenapa tidak pangeran yang menjadi penerusnya.”


Dia tersenyum. “Kami punya aturan sendiri soal ini.” senyumnya seolah ingin merahasiakan itu.


Setelah berjalan bersama di istana itu Sayyid pun membukakan pintu yang mana itu adalah kamar ayahnya yang sedang terbaring sakit. “Ayah, tamumu sudah datang,” ucapnya dengan lemah lembut.


“Aku dengar kau adalah murid Alhudari ya, apa benar begitu?” tanya mantan raja itu.


“Benar tuan, Beliau pernah menceritakan pada saya kalau tuan adalah orang yang sangat baik dan perhatian,” jawab Thalib.


Mantan raja itu sedikit tertawa. “Aku belajar darinya! Lalu bagaimana kabarnya sekarang?”


“Beliau sudah lama meninggal dunia,” ucap Thalib hampir tak kuasa.


Mantan Raja itu terdiam menatap langit-langit kamarnya. “Dulu dia pernah bilang kalau kematian bisa datang kapan saja, namun dengan sebuah jasa, kematian orang tersebut akan dikenang selamanya.”


Dia menoleh menetap Thalib berkaca-kaca. “Pasti dia selalu dikenang orang-orang yang pernah mengenalnyakan?”

__ADS_1


Thalib mengangguk haru mendengarnya, begitu juga dengan Sayyid yang berada disebalahnya. “Sayyid anakku tolong bantu siapkan keperluanya untuk tinggal di istana kita,” sambungnya.


“Baik Ayah, saya pasti akan menyiapkan semuanya.”


“Maaf aku keberatan soal ini!” teriak Nashif masuk ke kamar.


“Apa maksudmu,” jawab Sayyid pelan menatap tajam.


“Aku hanya tidak ingin ada orang luar tinggal di istanaku, apa lagi orang miskin seperti dia,” ucapnya berubah pelan tak terdengar oleh mereka.


Sayyid menatap heran begitu juga ayahnya dan Thalib. “Maksudku, tidak mungkin aku membiarkan orang yang tak dikenal dan ngaku-ngaku sebagai murid Alhudari tinggal di istana! Bisa sajakan itu kebohongan.  Semua orang bisa melakukan itu, jadi sebaiknya kita harus berhati-hati dengan orang seperti itu, apa lagi yang aku takutkan ini akan berakibat fatal pada Ayah,” sambungnya berjalan mendakti ayahnya.


“Tenang saja Nashif dia benar-benar seorang murid Alhudari,” jawabnya.


“Ayah ... ini demi kebaikanmu, sebaiknya dia tidak kita biarkan tinggal di Istana, ayah paham maksudku kan ...” jawabnya di dekat telinga sang ayah, seolah ingin mengatakan sesuatu secara tersirat.


“Nashif!” teriak Sayyid sangat marah.


“Sayyid! meskipun dia adikmu, dia tetap seorang raja, apa pun keputusannya kita harus mengakuinya,” ucap ayahnya membuatnya tak berkutik.


“Baik Ayah,” jawabnya pelan.


“Jangan Khawatirkan saya, saya sangat paham soal itu, lagi pula saya tidak berniat untuk tinggal di istana,” potong Thalib berusaha untuk tidak ikut campur.


“Kami sangat minta maaf, saya akan mengantarkan tuan dan meminta kepada para penduduk agar tuan bisa menginap dirumah mereka,” jawab Sayyid.


Kemudian Thalib dan Sayyid pun berpamitan pada raja terdahulu itu dan pergi ke rumah-rumah para penduduk dekat istana untuk meminta mereka agar Thalib bisa tinggal semantara.


Namun sangat tidak terduga semua rumah yang di datangi selalu menolak Thalib tinggal dirumah mereka, mereka beralasan hampir sama dengan Nashif tidak mau dan takut orang asing tinggal di kediaman mereka yang aman, meskipun Sayyid seorang pangeran yang memintanya, tetap saja mereka menolak dengan alasan tersebut.


Hingga sampailah mereka disalah satu rumah yang sedikit terpisah dari rumah-rumah penduduk yang berdekatan, rumah itu tampak kecil dan bangunannya pun tak begitu terawat, banyak rumput tinggi di halamannya.


Kayu-kayu yang menjadi dinding rumah itu pun nampak lapuk dan berlubang begitu juga dengan atapnya yang terbuat dari anyaman daun telah usang.


“Sepertinya rumah itu sudah tidak ada penghuninya, lebih baik kita ke sebelah sana,” ucap Sayyid.


“Tunggu dulu, alangkah baiknya kita mengeceknya lebih dulu, sapa tau ada orang yang menempatinya kerna dalamnya masih bagus,” jawab Thalib.

__ADS_1


Sayyid hanya mengangguk setuju dan mengikuti Thalib yang lebih dulu. “Apa ada orang didalam,” ucap Sayyid sambil mengetuk.


Tiba-tiba terdengar suara orang batuk dan membukakan pintu. “Cih ... apa yang kalian mau datang ke sini,” ucap seorang kakek terlihat kesal pada mereka berdua.


“Apa! Bagaimana bisa ada seorang yang tinggal dirumah tak layak seperti ini!” ucap Sayyid kaget tak percaya.


“Ha ... seharusnya kau tanyakan itu pada raja yang memimpinmu sekarang!”


Sayyid tersentak sadar dan seketika membungkuk. “Ma-maaf ini kesalahan kami, kami akan segera mengirim bantuan kepada anda tuan.”


“Kenapa kau yang minta maaf anak muda, ini bukan salahmu! Salahkan semuanya pada raja yang memimipin!” jawabnya kesal.


“Kalau begitu saya sebagai anak dari raja terdahulu mewakili untuk meminta maaf atas kesalahan kami yang tidak memperhatikan rakyatnya, kami benar-benar mohon maaf.” Mendengar jawaban itu kakek tadi justru kaget saat mengetahui kalau yang di hadapannya adalah seorang pangeran.


“Ada satu hal lagi yang saya minta, bersediakah tuan membiarkan dia untuk menginap beberapa hari di rumah tuan,” pinta Sayyid.


Kakek itu memandangi Thalib. “Hmmh ... ternyata begitu, jadi raja dan penduduk lainnya tidak mau menerimanya,” ucapnya seraya menghela nafas.


“Izinkan saya untuk menginap disini, saya berjanji akan melakukan apa saja yang anda inginkan,” ucap Thalib.


“Baiklah, jika kau ingin tinggal di tempatku kau harus merawatku sampai aku mati,” jawab kakek itu.


Sayyid dan Thalib terkejut. “Tenang saja aku tau kau itu seorang musafir, pastinya kau ingin melanjutkan perjalanan.”


“Hah ... aku ini sudah tua dan sakit-sakitan jadi tidak akan lama lagi juga aku akan meninggal,” sambungnya berpaling masuk kedalam rumah.


“Tidak, saya akan merawat tuan sampai kembali sehat dan saat tuan benar-benar sehat maka saya akan kembali melanjutkan perjalanan!” jawab Thalib menatap serius padanya.


Dia tersentak dengan jawaban Thalib. “Dasar kalian para muda-mudi mana paham, terserah kau saja yang penting kau harus merawatku.” Jawab kakek itu menuju kamarnya.


Thalib menoleh pada Sayyid. “Terima kasih banyak sudah membantu saya pangeran Sayyid, saya akan tinggal disini untuk sementara waktu.”


“Syukurlah jika tuan tak keberatan untuk tinggal di sini, saya sungguh minta maaf atas kelancangan para penduduk di sini, besok saya akan bawakan makanan pokok untuk kalian berdua,” jawabnya.


“Saya benar-benar malu ketika melihat ada rakyat kami yang mengalami kemiskinan seperti ini,” sambungnya menundukkan kepala.


Thalib tersenyum. “Segeralah ambil tindakan yang tepat dan pikirkan matang-matang apa yang harus dilakukan selanjutnya, kalian para pemimpin harus selalu peka terhadap rakyatnya,” jawab Thalib menepuk pundaknya.

__ADS_1


“Baiklah saya pergi dulu untuk memastikan kaadaan penduduk lainnya, semoga cuma ini satu-satunya orang yang mengalaminya.” Mendengar jawabannya Thalib pun mengangguk lalu dia pun pamit pergi.


-Bersambung-


__ADS_2