The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib Sang Musafir Bagian 5


__ADS_3

Sore itu adalah hari keempat hukuman berbakti pada orang tua di panti jompo. Akira dan yang lainnya mendatangi rumah seorang nenek yang ingin membecarakan sesuatu pada Ayumi waktu itu, namun malah tidak jadi ketika ada utusan tetua didekatnya.


“Mengapa kalian kesini?” tanya nenek.


“Maaf Nek, sebenarnya kemarin kami ingin menemui Nenek di tempat para oramg tua, tapi kata orang disana Nenek tidak bekerja ditempat itu jadi kami mencari tahu dimana rumah Nenek, dan beruntung hari ini kami baru bisa kesini,” jawab Chio.


Nenek itu terlihat bingung. “Jadi kalian mau apa sepetang ini datang ke rumahku?”


“Maaf Nek kami sepetang ini datang kerna masih dapat hukuman berbakti, kedatangan kami disini ingin mengetahui tentang kenapa cerita legenda Thalib sang musafir dilarang untuk diceritakan,” Jawab Chio.


Nenek itu terperangah kaget. “Ke-kenapa kalian bisa tahu itu?”


Chio tersenyum. “jadi benar kalau itu dilarang, itu artinya cerita itu nyata.”


Nenek itu malah marah. “Tidak kalian salah, cepat pergi dari sini, jangan ganggu aku!,” balasnya ingin menutup pintu.


Tiba-tiba Ayumi berlari dan menahan pintu dengan tangannya. “Nenek kami mohon ceritakan semua pada kami, kerna ini sangat penting, kami sudah tidak tau lagi harus mancari kemana, hanya Neneklah harapan kami agar semua yang kami tahu jadi semakin jelas!” ucap Ayumi seraya memohon.


Nenek itu kembali terperangah ketika melihat Ayumi yang sedang memakai kerudung merahnya. “Kenapa kau menggunakan ini?” ucapnya sedih seraya mengelus kerudung Ayumi.


Ayumi bingung ingin menjawab apa. “Aku yang mengajarinya,” sahut Akira tegas dari belakang.


Nenek tiba-tiba berjalan cepat kearah Akira dan malah menarik telinga Akira hingga tertunduk setera dengan tinggi nenek. “Dari mana kau tahu ini hahh ...!”


“Aw aw aw ... ampun Nek! tolong lepaskan dulu aku pasti akan memberi tahu asal Nenek juga memberi tahu kami soal itu,” ucapnya seraya menahan sakit.


Nenek itu malah memelintir telinga Akira terlebih dulu kemudian melepasnya hingga Akira berteriak keras.


“Tidak perlu, kalian pergi saja dari sini,” jawabnya sambil berjalan ke arah pintu rumah, sedangkan yang lainnya di buat heran akan pemandangan itu.


“Cih ...” Shiro terlihat kesal, “Nenek tolong beritahu saja pada kami, nanti dia juga akan mengajarinya pada Nenek, supaya Nenek juga bisa terlihat cantik seperti Ayumi,” sambung Shiro mencoba menarik simpati, namun terdengar mengejek.


Nenek itu kembali berjalan capat kearah Shiro dan terjadi lagi seperti yang terjadi pada Akira. “Kau pikir aku tidak bisa hah ...!”


Melihat Akira dan Shiro yang memegang telinganya kesakitan membuat Chio tak berani berucap lagi, dan lebih parahnya lagi nenek itu menatap tajam padanya.


“Cepat kalian semua masuk rumahku akan aku ceritakan yang sebenarnya!” ucap nenek itu seraya masuk kedalam rumah.


Mendengar perkataan itu mereka semua bersorak gembira kerna apa yang mereka duga ternyata benar, yah tentunya Shiro tidak akan melakukannya.


Mereka semua pun telah berada didalam rumah nenek dan duduk menghadapnya. “Kenapa kau ikutan duduk, cepat buatkan minuman sana,” ucapnya kearah Ayumi.


“Loh kok aku Nek?” tanyanya heran.


“Kamu ini gak usah membantah bukannya kau ini perampuan, saharusnya menurut saja kalau orang tua menyuruhmu apa lagi jika itu suamimu,” jawabnya tegas.


“Hemm ... baiklah Nek,” jawabnya terlihat malas sedangkan yang lainnya mentertawakan, tentu beda dengan Shiro dia malah senyum-senyum.


“Kau yang namanya Akirakan, sampai mana kau sudah tahu cerita Thalib ini?” tanya nenek mereka pun sontak kaget.

__ADS_1


“Bagaimana Nenek bisa tahu namaku?” balas Akira.


“Kakek tua bangka yang kalian datangi untuk minta diceritakan cerita Thalib itu sudah menceritakannya padaku.”


“Huh ... Syukurlah,” ucap Akira dan chio serempak, "Ehhh ... Kok bisa!" sambung mereka lagi serempak.


"Jawab dulu pertanyaanku, nanti pasti kukasih tahu," jawab nenek.


“Kami semua cuma tahu sampai cerita rekayasa itu, jadi kami mohon ceritakan kepada kami kenapa cerita itu harus dilarang tersebar kepada penduduk.” jawab Chio.


Nenek itu terlihat marah. “ini tidak lain kerna tetua-tetua kita sekarang adalah orang bodoh yang tidak ingin negeri kita didatangi orang-orang luar yang akan membawa agama-agama baru.”


Mereka semua terperangah mendengar perkataan nenek itu yang menyebutkan tentang agama, termasuk Ayumi yang baru saja datang dan meletakkan minuman yang dia buat.


“Apa maksud Nenek dengan agama baru?” tanya Akira serius.


“Seperti yang kita lakukan sekarang menuhankan patung atau yang Thalib bilang penyembah berhala” Lagi-lagi Akira dibuat terperangah tak berkutik mendengar jawaban nenek.


“Cerita Thalib yang kalian sebut rekayasa itu benar adanya, tetua terdahulu sengaja membuat itu untuk mempengaruhi orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Thalib. Hari demi hari berlalu dan cerita itupun terus menyebar ketelinga para warga sehingga mereka semua pun terpengaruh dan malah membenci cerita itu. Orang-orang mulai tidak tertarik lagi dan cerita itu pun mulai kehilangan citranya, tapi salah satu orang yang masih ingat adalah salah seorang pemuda desa ini dia tidak lain adalah kekek berani yang telah menceritakan pada kalian, dia mendengar itu dari ayahnya sendiri dan menceritakannya pada temannya, lalu temannya kembali menceritakan pada ayahnya, lambat laun cerita itu kembali menyebar dan mendapatkan citranya kembali, tapi tidak cerita itu saja yang menyebar, salah satu orang juga telah menceritakan kembali cerita rekayasa yang dibuat tetua. Lalu yang terjadi selanjutnya orang-orang terbagi menjadi dua kubu, ada yang percaya cerita itu nyata dan ada juga yang tidak percaya sekaligus tidak menyukainya. Maka dari itu satu-satuya cara untuk membuat mereka bungkam adalah dengan melarangnya.” ucap nenek bercerita.


“Itu artinya cerita ini sudah lama ada?” ucap Akira.


“Yah ... cerita ini sudah lama, yaitu sejak orang tuaku baru beranjak dewasa,” jawabnya.


Mendengar itu membuat Chio tersedak saat minum air yang dibuat Ayumi.


“Sudah selama itu, pantas saja orang-orang tidak percaya itu adalah cerita nyata,” ucapnya seraya menyapu mulut.


“Lalu cerita yang kita anggap palsu itu sebenarnya hasil rekayasa dari kejadian nyata,” sambungnya melanjutkan bercerita.


“Maksud Nenek cerita palsu itu adalah cerita Thalib yang ternyata pernah berhasil kedesa kita dengan selamat dan itu tidak sesuai dengan buatan tetua terdahulu?” potong Ayumi.


“Malahan sangat jauh perbedaannya, yang aku tahu Thalib berhasil menuju desa kita tanpa peta hanya selama satu kali upacara,” jawab nenek.


“Kalau begitu negeri Sabbat tidak terlalu jauh dari negeri kita ini yakan Chio?” tanya Akira.


“Negeri?” ucap Chio heran.


“A’ahh ... kakek menyebutnya begitu rasanya sangat pas jika kita sebut negeri kerna jarak yang jauh dan kita bahkan tidak tahu ada dimana mereka,” balas Akira.


“Lagi pula negeri itu belum tentu masih ada, apa lagi selama itu, jika pun ada tak akan bisa kita kesana tanpa petunjuk,” sahut nenek.


“Nenek benar kita tak punya petunjuk sedikit pun menganai negeri itu, yang kita tau cuma kehidupan warganya dahulu,” ucap Ayumi.


“Aku rasa kita akan dapat petunjuk, jika Nenek bisa menceritakan kisahnya secara rinci mengenai perjalanan Thalib kenegeri kita ini,” sahut Chio.


“Cih ... kalian pikir hanya dengan mendengar cerita itu kita akan tahu jalannya, yang benar saja,” sahut Shiro memotong.


“Dia benar meskipun tahu tidak akan mengubah apa pun bahwa kita tidak mungkin bisa pergi kesana apa lagi aku tidak tahu pasti bagaimana kisahnya,” ucap nenek.

__ADS_1


“Lalu apa Nenek tahu siapa yang bisa menceritakannya?” tanya Akira.


Nenek itu terlihat ragu namun tiba-tiba menjadi serius. “Kalian semua temui Osama dan desak dia agar mau menceritakannya pada kalian, terutama kau Akira! katakan dirimu sebenarnya, buat dia percaya dan bisa berharap padamu! hanya itu satu-satunya cara agar dia mau menceritakannya pada kalian, kerna hanya dialah yang bisa memberi tahu siapa sebenarnya Thalib!” ucapnya tegas menatap mereka semua.


Flashback on


Saat itu nenek bertemu di panti jompo tempat kakek itu tinggal tepat setelah pertemuannya dengan Osama, yaitu siang ketiga hukuman Akira dan yang lain.


“Apa lagi yang ingin kau katakan padaku, sampai menyuruh seseorang untuk menyuruhku datang kesini!” ucapnya marah-marah.


“Hemh ... kau ini selalu saja marah-marah, ini soal cerita itu, kemarin aku menceritakannya pada orang-orang lagi,” jawabnya membuat nenek terlhat semakin marah.


“Kenapa kau ini nekat sekali, kau harusnya bersyukur hanya dihukum dengan ditempatkan disini seperti yang lain, apa kau ingin lebih dari ini!”


“Aku tidak tahan untuk tidak menceritakan ini lagi, apa lagi untuk anak itu, dia sudah memberi harapan baru untukku,” jawabnya seraya tersenyum.


“Kau ini! Apa si cucu kakek itu lagi yang memintanya!”


“Bukan,”


“Apa si anak orang kaya itu?”


“Bukan juga, tapi dia yang mirip dengan Ken, namanya Muhammad Akira,” jawabnya membuat Nenek sontak terperangah.


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak tahu pastinya, hanya saja para teman Ken yaitu Shiro,Chio dan juga wanita itu Ayumi, mereka sepertinya merahasiakan siapa sebenarnya orang itu, mereka mengatakan bahwa dia adalah kembaran Ken, padahal kita tahu bahwa Ken adalah anak tunggal dari seorang ibu daerah sini yang sengaja meninggalkannya dirumah teman kita yang tidak lain Kakek Ken untuk dirawat mereka, lalu kau tau kan bagaimana selanjutnya, ibunya sudah menjatuhkan diri di tebing ujung desa kita.”


“Iya-iya aku tahu, jadi sebenarnya yang ingin kau katakan itu apa!?”


“Nama anak itu, kau pasti tahu juga bahwa namanya sama dengan Ayah kita, yaitu Muhammad. Sebuah nama yang diberikan oleh Thalib itu sendiri,”


“Lalu kau mau apa dengan itu?!” jawabnya seolah tidak tertarik.


“Ayolah Adikku, apa kau tidak ingin kembali seperti dulu, dimana saat ayah kita masih remaja, sebuah desa yang sangat terbuka dan tidak seperti ini!"


“Kenapa kau tidak menyerah saja, sudah berpa kali kau hampir dihukum mati oleh tetua bahkan ingin dibunuh. Beruntung tetua sudah berganti dan juga berkat anakmu itu semua orang yang masih percaya dan ingin menceritakan cerita itu tidak dihukum mati malainkan cuma di tampung ditempat seperti ini, dan ini sudah seperti penjara!”


“Tapi kali ini beda, aku yakin dia adalah seorang yang datang dari jauh dan aku juga yakin dia adalah penerus dari Thalib yang akan membawa perubahan desa kita,” jawabnya penuh harapan dan semangat.


Ucapan itu membuat nenek luluh dan mulai mempercayai ucapan kakek. “Jadi apa rencanamu?”


“Buat mereka semua datang ketempat Osama untuk mendesaknya agar menceritakan yang sebenarnya tentang Thalib,” jawabnya.


“Astaga kau ini, kenapa tidak kau saja yang menceritakannya, bukankan kau juga tahu cer ...”


“Tidak bisa! Kita harus buat Osama mempercayainya dan menceritakan semuanya pada mereka, hanya itu satu-satunya cara agar dia memberikan barang berharga yang tersisa dari Thalib sang musafir!” jawabnya seraya berpaling dan berjalan menuju jendela, lalu menatap jauh dunia luar. Dari tatapan mereka berdua terlihat harapan yang terpancar dari mata yang berkaca-kaca.


Flashback Of

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2