The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib Sang Musafir Bagian 2


__ADS_3

Suara riuh anak-anak bermain dan juga orang tua yang berbicara terdengar bergema dalam sebuah ruangan, para anak-anak itu berlarian keluar masuk dan berlalu lalang didekat pelayan wanita dan juga orang tua yang duduk dikursi-kursi yang tersedia.


Saat itu sungguh terlihat lemas tak bersemangat bagi Akira yang sedang memegang tiga mangkok berisi bubur, dihadapannya ada dua orang kakek dan satu nenek yang sedang mengunyah makanannya.


“Kenapa kau ini! apa aku harus menyuruhmu lagi untuk menyuapiku!” teriak kakek berbaju putih ditengah.


“A’ahh ...” jawab Akira seraya menyuapinya, sedangkan kakek disebelah manggut-manggut.


“Maaf-Maaf,” ucap Akira dengan wajah tak bersemangat.


“Sudah-sudah jangan terus meneriakinya begitu, lihatlah dia jadi takut,” ucap nenek di kirinya.


“Hahh ...?!” ucap Kakek ditengah.


“Aku bilang jangan meneriakinya terus!” teriak sang nenek membela, namun justru membuat Akira mengubah raut wajahnya kerna kaget dan sunging.


“Anak laki-laki seperti dia ini memang harus diperlakukan seperti itu agar dia cepat dewasa!” jawab kakek ditengah dengan nyaring sedang kakek disebelah manggut-manggut.


“Kalian ini, tidak bisa kah kalian melihat wajahnya, dia masih anak yang lugu, jangan memerahinya begitu!” balas sang nenek terus membela.


Berawal dari itu ketiga orang tua ini terus berdebat dihadapan Akira. “Ya ampun, kukira ini akan mudah, ternyata berada di tempat ini tidak seperti yang aku bayangkan, kalau tau jadi begini aku akan memaksa untuk bersama Ayumi ketimbang dengan Shiro,” ucapnya dalam hati mengingat rencana mereka di awal.


Flashback on


“Yosh ... berkat Akira kita tau harus kemana, yaitu ketempat penampungan orang tua di desa kita,” ucap Chio setelah selesai menggambar bangunan dan melingkarinya di peta yang Akira gambar di papan tulis.


“Di desa kita ini ada dua bangunan yang sengaja di buat untuk menampung para orang tua yang sudah tidak memiliki keluarga, mereka dirawat sangat baik oleh para penduduk yang bekerja atas suruhan tetua desa. Tempat ini juga sekarang digunakan untuk menitipkan anak-anak yang sedang ditinggal orang tuanya bekerja, tapi juga kadang para anak-anak desa suka bermain kesana hanya untuk meminta makanan yang disediakan,” ucap Chio menjelaskan seraya menunjuk gambar bangunan yang dia lingkari saling bersebrangan.


“Oh ... itu seperti Panti Jompo,” seru Akira.


“Yah ... mungkin seperti itu namanya di duniamu. Nah berhubung upacara kemarin kalian tidak datang mengikuti dan hukuman yang telah ditetapkan oleh tetua desa sekarang adalah berbakti pada semua orang tua desa, yaitu dengan bekerja selama 5 hari di tempat itu. Maka dari itu kita akan membagi dua kelompok. Sesuai yang dipinta Shiro maka aku dan Ayumi akan mendatangi bangunan daerah kita dan kalian berdua akan ke daerah sana. Tidak ada masalahkan Shiro? yang kutahu kau sudah sering berkeliling di daerah sana bersama Ayahmu saat bekerja,” sambung Chio.


“Cih ... baiklah aku akan menyetujuinya,” jawab Shiro masih terlihat malas.


“Kau yakin bro membiarkan Ayumi bersama dengan Chio berduaan?”


“Cih ... dia itu bukanlah seorang yang tertarik dengan wanita, jadi aku tidak perlu mencemaskan hal itu,” jawab Shiro seraya tersenyum licik.


“Harus berapa kali kubilang bahwa aku tidak seperti itu! aku hanya malas bermain-main dengan wanita seperti yang sering kau lakukan!” teriak Chio marah dan kesal kerna Shiro selalu mengejeknya begitu.


Shiro tidak mendengarkan justru malah berbisik dengan Akira. “Sebaiknya kau segera mencari kekasih di desa ini, kalau tidak, kau bisa didekatinya,” ucapnya berbisik.


“Shiro!”


“Chio, emm ... kukira pertemanan kita sampai disini saja, aku harap kau bisa menemukan teman laki-laki yang bisa mengerti perasaanmu,” sahut Akira berkaca-kaca dan tersenyum padanya.


“Akira ...!”


“Aha ha ... sudahlah, jangan mengerjainya begitu, lebih baik kita segera berangkat sekarang. Kerna ini akan jadi waktu yang panjang dan melelahkan,” sahut Ayumi seketika membuat mereka semua tertunduk lesu dan malas.


Berbeda dengan Akira, dia justru heran dengan kelakuan mereka yang tidak bersemangat. “Loh ini cuma lima harikan, sebagai seorang pemuda seperti kita tentu itu adalah suatu kewajiban bagi kita untuk berbakti pada orang tua, dan lagi sebagai seorang pemuda seperti kita tentu ini akan sangat mudahkan?” ucap Akira yang terlihat bersemangat, akan tetapi justru membuat mereka semakin tertunduk lesu seolah mengatakan pada Akira bahwa dia masih belum tahu apa-apa.


Flashback of

__ADS_1


“Huhh ... ya ampun,” ucap Akira disertai dengan suara ketiga orang tua itu yang masih berdebat.


“Bro ... kau beneran yakin membiarkan Chio bersama Ayumi?!” ucap Akira bertanya pada Shiro yang sedang diganggu anak-anak.


“Cih ... cepat laksanakan saja tugas kita!” jawab Shiro seraya bersiap menghadapi kumpulan anak-anak yang ingin menangkapnya.


“Teman-teman ayo geledah dia, kita ambil semua uang miliknya!” teriak Zen memberi perintah kepada yang lain, seketika itu juga mereka berlari cepat dan melompat ke kaki, tangan, badan, dan kepala Shiro membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


“Hemmh ... baiklah," jawabnya masih tak bersemangat, "ano ... Kakek, Nenek.” Ucap Akira memanggil mereka yang masih berdebat.


“Haahhh ...!” teriak mereka serentak.


Akira terkejut. “Eh ano maksudku ...”


“Bicaralah yang benar anak muda!” ucap Kakek yang ditengah.


“A’ahh ... sebenarnya alasan kami bekerja disini bukan hanya kerna mendapat hukuman, melainkan ingin bertanya soal legenda Thalib sang musafir yang ceritanya terkenal didesa ini,” jawab Akira.


“Apa?!” teriak kakek yang ditengah.


“Dia bilang ingin mendengar cerita legenda Thalib itu,” sahut nenek disebelah memberi tahu sedangkan kakek disebelahnya manggut-manggut.


“Iyah aku dengar, hanya saja aku kaget kerna sudah lama sekali tidak pernah ada orang yang menanyakan cerita itu,” jawab kakek di tengah.


“orang-orang sekarang sudah tidak peduli lagi dengan cerita itu, padahal itu bisa jadi warisan legenda desa kita, sungguh disayangkan,” sambungnya seraya menggeleng dan membuat nenek dan kakek disebelahnya tertunduk sedih.


Mendengar itu Akira hanya diam. “Jadi sejauh mana yang kau ingat?” tanya Kakek itu.


“A’ahh ... aku hanya tahu saat dia berada di desa Sabbat, maksudku saat dia berbicara dengan pandai besi.”


“A’ahh ...”


“Tenang saja, dia ahlinya dalam bercerita, apalagi mengenai cerita itu,” sahut sang nenek dan kakek disebelah kiri manggut-manggut.


“Hey cepat ceritakan padanya! bukankah kau suka jika ada orang yang ingin mendengarkan cerita itu,” ucap nenek sambil memandang kakek di tengah yang masih terdiam


.


“Baiklah ...” jawabnya malas.


“Saat itu Thalib telah sampai di negeri Sabbat, sebuah negeri yang makmur.” ucapnya masih tidak bersemangat.


“Hey kenapa denganmu, mana kehebatanmu dalam bercerita itu, tunjukan padanya biar dia juga semangat mendengarnya,” potong sang nenek membuat kakek itu berusaha mengeluarkan kemampuannya.


“Saat itu dia datang dengan menggunakan kudanya, seorang penjaga gerbang desa itu langsung menyambutnya dan bertanya. ‘Siapakah kau ini dan datang dari mana kau?.’


Thalib pun mengambil sepucuk surat yang dia letakkan di tas yang mengantung di kuda lalu menyerahkannya kepanjaga itu. Sang penjaga ini sedikit heran dan kemudian secara cepat membuka surat itu dan membacanya. Ketika selesai membaca dia tiba-tiba memberi hormat dengan satu lutut menempel ketanah dan menunduk.” Sang kakek bercerita sangat bersemangat hingga suara lantangnya bergema di tempat itu.


Para orang tua dan dewasanya disana seketika menoleh keasal suara, para anak-anak pun seketika hening ketika sedang bermain dan juga yang sedang mengerjai Shiro. Zen yang saat itu berdiri dihadapan anak-anak yang dia suruh menggeledah Shiro segera berlari kearah Akira dan duduk disebelahnya, lalu Naoto dan Haruka ikut menyusul disertai anak-anak yang lain.


Melihat hal itu sang kakek semakin bersemangat. “Penjaga itu kembali bertanya. ‘Apakah orang itu masih hidup?’


Thalib menggeleng. ‘Dia sudah lama meninggal, tapi syukurlah dia sudah sampai di negeri kami dengan selamat.’ Mendengar itu Sang penjaga  berdiri dan memeluknya seraya menangis.”

__ADS_1


“Kakek, siapa yang dibicarakan sang penjaga dan Thalib?” tanya Zen memotong seraya mengangkat tangannya meminta izin.


“Aku juga tidak tau siapa, kerna ceritanya tidak menyebutkan dengan jelas siapa yang mereka maksud,” jawab Kakek.


Sang kakek melanjutkan bercerita. “Thalib sangat diterima di desa itu, para orang-orang berdatangan menuju tempat raja desa dangan membawa berbagai sayuran dan buah-buahan, ada juga yang membawa kue-kue dan makanan lainnya hanya untuk bertemu dan mendengar kisah Thalib saat dia melakukan perjalanan menuju negeri mereka. Itulah yang sangat luar biasa dari negeri ini para penduduknya sangat dermawan dan senang berbagi.


Thalib berkata pada mereka. ‘Aku sengat senang pada kalian semua, kerna semua penduduk disini sangat dermawan, tidak heran jika negeri kalian ini bisa sangat makmur dan sejahtera.’


Raja yang berada disebelahnya menjawab. ‘Ini semua tidak lain kerna ajaran dari orang itu dan juga bantuan dari negeri tetangga kita.’


‘Aku bahkan sangat salut dengan anak-anak di sini, mereka dengan ikhlasnya memberikan hasil pancingannya padaku, dia bilang danau ini penuh dengan ikan-ikan, setiap kali aku memancing disini, wadah ikanku selalu penuh,” kata Thalib bercerita didepan para penduduk itu hingga semua tertawa bahagia.”


Haruka memotong pembecaraan Kakek, saat itu dia berada disebelah Akira. “Wah ... di negeri itu benar-benar makmur, sangat berbeda dengan negeri kita, contohnya saja saat aku mancing wadah ikanku selalu kosong kerna tidak dapat apa-apa!”


“Ha ha ... itu kerna kau tidak bisa mancing!” sahut Zen membuat Haruka cemberut, sedangkan yang lain mentertawakannya.


Tidak disangka para orang-orang yang berada ditempat itu semuanya berkumpul mendengarkan ceritanya, yang sebelumnya cuma asik duduk-duduk ngobrol biasa, dan para pekerja disana yang cuma asik beristirahat kini juga ikut berkumpul bersama mendengarkan sang kakek yang dulu dikenal sang ahli bercerita.


“Lalu bagaimana kelanjutannya Kek?” tanya Naoto.


“Tidak terasa senja telah tiba, seorang penjaga gerbang berlari menuju Thalib yang masih berdiam dirumah raja, hampir semua orang sudah kembali kerumahnya. Akhirnya penjaga pun sampai di rumah raja dan langsung duduk dihadapan mereka seraya meminta izin untuk Thalib bermalam dirumahnya, kerna dia ingin mendengar kisah Thalib dan orang yang telah mengajarkan mereka untuk dermawan, saat itu raja tidak ikut campur dan Thalib disuruh untuk memutuskan sendiri. Tidak disangka Thalib dengan senang menerimanya seolah ada tali pengikat yang telah menghubungkan mereka berdua. Setelah itu setiap harinya Thalib sang musafir tinggal dirumah sang penjaga. Thalib pun saring berjalan-jalan didesa itu, hingga pada suatu hari saat musim dingin tiba para pandai besi disana mulai bekerja seperti pada musim dingin biasanya.”


“Loh kenapa hanya saat musim dingin mereka baru bekerja?” potong Naoto.


“Yang seperti itu tidak perlu kujelaskan pasti kalian tahu!” jawab kakek sedikit nyaring, akan tetapi mereka yang mendengar sama sekali tidak mengerti.


“Mungkin mereka sengaja melakukan itu untuk menghangatkan tubuh mereka dari rasa dingin yang menusuk tubuh, ditambah lagi dari sifat dermawan mereka mungkin untuk memberi kahangatan pada warga desa lainnya dengan begitu mereka bisa melhat sekaligus belajar caranya,” sahut Akira.


“Oh ... begitu ya Kak Ken,” jawab Naoto yang masih tidak tahu, jelas kerna mereka tidak pernah membicarakan soal Akira.


“A’ahh ...” ucap Akira Kaget dan canggung, akan tetapi semua orang percaya dengan apa yang Akira katakan sedangkan kakek hanya menggeleng, begitu juga dengan Shiro yang bersandar didinding memperhatikan mereka.


Sang kakek pun melanjutkan ceritanya yang kini telah tersambung dengan begian cerita Ayumi hingga selesai, cerita itu sama persis dengan apa yang diceritakan Ayumi hingga Kini Akira sudah mulai memahami cerita Thalib sang musafir.


“Wahh ... negeri Sabbat memang sangat hebat, rasanya aku ingin kesana untuk melihatnya sendiri!” ucap Zen dan Haruka mengangguk setuju.


“Mana mungkin kita kesana, soalnya kita tidak tau letaknya dimana, berbeda jika kita punya petanya,” sahut Naoto.


Saat itu sang kakek ingin berucap, namun keburu dipotong oleh orang yang bekerja disana. “Mana mungkin ada petanya, ditambah lagi negeri itu tidak pernah ada kerna ini cuma cerita legenda biasa, jadi sangat mustahil itu ada didunia ini, iyakan,” ucap salah satu orang dewasa disana menjadikan para anak-anak tertunduk lesu, begitu juga dengan orang tuanya.


“Walaupun ini cuma legenda, tetapi kita harus tetap bersyukur kerna kita semua bisa mendengar dan mengambil pelajaran dari cerita ini, itulah gunanya sebuah cerita banyak ilmu pengetahuan yang bisa kita ambil, sudah seharusnya cerita ini diwariskan kepada anak dan cucu kita nanti,” sahut Akira memberikan semangat lagi pada mereka.


Para anak-anak itu kembali bersemangat dan membenarkan apa yang Akira katakan begitu juga para orang tua dan dewasanya di sana.


“Kakak Ken benar. Ayo Kek ceritakan yang lain, misalnya kisah Kakek saat masih muda,” kata Zen penuh semangat.


“A’ahh ...” Akira kembali canggung dan Shiro sedikit tersenyum melihat Akira yang tiba-tiba bersifat begitu.


Kakek itu tersenyum. “Datang lagi besok, ini sudah petang, tidak baik bagi anak-anak jika pulang malam-malam, apalagi kau ini dari wilayah sebelah kan?” jawab sang kakek.


Dari nada bicara kali ini dia tidak seperti tadi yang suka teriak-teriak, sekarang dia terlihat senang dan bahagia kerna ternyata banyak para anak-anak yang mau mendengar cerita Thalib sang musafir.


Setelah itu orang-orang dewasa di sana mulai bubar dan dan hanya ada para pekerja yang masih mengurus para orang tua. Anak-anak yang dititipkan disini pun sudah kembali diajak ibu dan bapaknya pulang, mereka juga terlihat sangat senang, itu terlihat dari mereka yang menceritakan kisah Thalib pada orang tuannya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2