The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Arata si Penjaga


__ADS_3

“Astagfirullah! apa yang barusan aku katakan, menjadi bosnya! yang benar saja! mudah sekali aku berucap seperti itu!” teriak Chio malah malu sendiri dengan ucapan penuh percaya dirinya tadi.


Chio berjongkok dan merangkul belakang kepalanya. “Malunya!”


Penjaga yang bersama Chio tadi datang menghampiri, dia tersenyum bangga. “Tidak kusangka kau satu-satunya orang yang berhasil membuat Akiyama marah dan kesal seperti itu ha ha ...”


Dia memandang heran Chio yang masih berjongkok. “Apa yang sedang kau lakukan?”


“Diamlah jangan meledekku, sekarang kau membuatku bertambah buruk!” balas Chio.


“Meledek? Tidak aku menyukai cara pikirmu." ucapnya meyakinkan.


"Oh ya perkenalkan, aku Arata pengawal yang ditugaskan menjaga dirimu agar tidak kabur.”


"Chio Alfahrezi," balasnya.


“Akiyama itu menganggapmu sebagai ancaman, dia sangat takut kalau kau akan kabur, makanya dia mengutus orang sepertiku untuk menjadi penjaga, sama sepertimu aku juga sangat membencinya, jadi jika kau serius dengan ucapanmu tadi aku akan sangat mendukungnya,” Sambung Arata.


Chio berdiri menghadapnya. “Jika demikian aku akan tanyakan satu hal lebih dulu.”


Chio menatap serius. “Apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini?”


Arata berpaling menghadap semua pekerja bangunan itu. “Jawabannya sudah ada di depan kita, inilah yang terjadi di negeri ini, semua orang luar akan ditangkap dan dijadikan budak pekerja, bahkan diperjual belikan.”


Arata menggeleng. “Kau ini sungguh sangat tak beruntung, kenapa kau malah datang ke negeri ini, kenapa juga kau tidak tinggal di negerimu saja, bukahkan sudah cukup mencurigakan dengan seorang tahanan yang kabur sampai ke negeri kalian,” sambungnya membuat Chio tersentak mengingat itu.


“Apa mungkin dia budak peker ...”


“Dan kau sekarang adalah bagian dari mereka, maka dari itu cepat bekerja!” potong Arata seraya mencambuk tanah membuat Chio tersentak kaget.


“Etsss ... apa yang kau lakukan! Bagaimana kalau itu mengenaiku!” Chio marah kerna hampir mengenainya.

__ADS_1


“Jika tidak ingin kena, maka cepatlah bekerja!” balas Arata.


“Bukannya kita ini sekutu?”


“Aku memang mendukungmu jadi bos, tapi sekarang darajatmu tidak lebih dari diriku, lakukan pekerjaanmu dulu dan setelah kembali ke penjara kita akan membicarakannya lagi,” balas Arata membuat Chio mengerti bahwa Arata akan mengatakan yang sebenarnya tentang negeri Matahari Ekhad.


“Kau paham maksudku?” sambungnya dan Chio mengangguk membuat mereka sama-sama tersenyum, tersenyum dengan perasaan telah mencapai suatu kesepakatan.


Lagi-lagi Arata mencambuk tanah membuat Chio menghindar dan melarikan diri, arata pun sangat mentertawakannya.


Setelah itu Chio mulai bekerja melakukan banyak hal, dari menyusun bata, mengaduk semen dengan anak-anak yang juga dijadikan budak pekerja, mengangkut material lainnya yang di butuhkan dan lain sebagainya.


Chio mampu melakukan banyak hal dia selalu bisa melakukannya, bahkan sangat mudah dan itu selalu dia lakukan dengan caranya sendiri.


Kerna hal itu, dia malah menjadi pusat perhatian banyak orang, termasuk Arata. Saat siang Chio dan lainnya di berikan makan dan minuman, dan beruntung dia bisa dekat dengan Arata sehingga saat merasa waktu Dzuhur atau Ashar sudah tiba Chio bisa meminta izin untuk istirahat hanya untuk melakukan shalat.


Saat menjelang malam, mereka pun di giring kembali ke penjara mereka masing-masing, mereka semua terlihat sangat lelah dengan pekerjaan itu, saat siang mereka hanya di beri istirahat yang sedikit, bahkan selalu berada dalam paksaan dan ancaman yang membuat mental mereka ikut merasa lelah.


“Eh apa, bukannya kau terus memperhatikanku, jadi mana mungkin aku bisa melakukannya,” bantah Chio.


“Sudah jawab saja.”


Chio tersenyum. “Aku hanya berusaha menjalani ini dengan ikhlas.”


Mendengar itu Arata malah hanya menganggkat pundaknya tanda tak peduli. “Hah ...” Chio menggeleng seraya menghela nafas.


Keduanya pun sampai di penjara Chio, Arata membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. “Tunggu sebentar lagi, kami akan menyediakan Roti dan air minum untukmu.”


Chio mengangguk. “Aku mau sholat Magrib, jadi tolong jangan ajak aku bicara dulu,” balasnya.


“Terserah kau saja, lakukanlah sesukamu, aku akan pergi sebentar.” Arata pun berjalan menjauh sedangkan Chio mengambil kain di tasnya lalu dialaskannya ke lantai sebagai sejadah sholat.

__ADS_1


Saat Chio selesai Arata kembali datang dan membawakannya makanan, bukannya menyerahkan dari luar dia malah masuk ke panjara dan ikut duduk bersama Chio makan bersama.


“Apa kau tidak merasa malu dengan kelakuanmu seperti ini, membawa dua makanan berbeda dan menyentap yang lebih enak di hadapanku,” ucap Chio.


Perkataan itu sangat menusuk hingga membuat Arata tak jadi menyuap makanannya. Dia terdiam lalu keluar dan menukar makanan yang sama dengan Chio.


“Kenapa malah ditukar, seharusnya kita bagi dua!” Chio tak terima.


“Apa kau tidak malu dengan memakan makanan yang lebih enak dari yang lain,” balas Arata membuat Chio merasakan hal yang sama, sedangkan Arata malah tersenyum merasa berhasil membalasnya.


Dengan perasaan kesal Chio menyantap rotinya dengan sangat lahap. “Oh iya, aku sangat mengenal soal Islam, yang kutahu itu adalah agama yang pertama kali di bawa oleh orang yang bernama Alhudari Bik dari negeri ilmu, lalu mulai di sempurnakan lagi oleh Thalib sang Musafir, dan sekarang itu terlihat semakin sempurna oleh dirimu,” ucap Arata.


Chio tersenyum. “Masih sangat banyak yang harus kupelajari,” jawabnya seraya makan perlahan dan Chio terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Apa kau tidak ingin memaksaku untuk masuk agamamu?” tanya Arata.


“Tidak mungkin aku melakukan itu, kau pasti tahu Islam tidak pernah memakasakan orang untuk memeluknya.”


“Oh iya, jika sangat mengatahui soal islam, apa artinya banyak para muslim di negeri ini?” sambung Chio.


“Entahlah, aku tidak tahu soal itu.”


“Begitu ya,” jawab Chio kembali seperti semula.


Arata memandangi Chio yang masih seperti memikirkan sesuatu. “Hah ... baiklah sesuai janji, aku akan memberitahukanmu tentang negeri ini, bagaimana pandangan Akiyama tentang negeri Sabbat, yang mana tidak lain hanyalah sekelompok budak pekerja yang akan membuatnya kaya raya.”


“Delapan puluh orang pertama yang datang ke negeri ini, empat puluh orang kemudian yang dipulangkan ke negeri mereka, dan kenapa kebanyakan mereka adalah seorang perempuan, dan kenapa mereka bisa dengan mudahnya mengatakan sangat bahagia berada di negeri ini dan ingin kembali lagi ke sini ...”


Chio tersentak dan menyambung perkataan Arata. “Padahal kebanyakan mereka malah menjadi kurus kerna faktanya mereka telah menjadi budak pekerja, dan bagaimana bisa mereka dengan mudahnya melupakan itu semua,” ucap Chio menatap heran Arata.


Arata membalas tatapan Chio dengan tatapan serius bahwa dia akan menceritakan itu semua tanpa ada kebohongan yang akan di tutup-tutupi.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2