The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Melarikan Diri


__ADS_3

“Baiklah sudah kuputuskan kita akan melarikan diri malam ini!” ucap Harley bersemangat.


“Malam ini! Tapi bagaimana caranya?” tanya Akira sedangkan Rin mengangguk.


“Saat malam orang yang bertugas jaga hanyalah satu orang saja, dan mereka selalu membawa kunci dari setiap penjara, maka dari itu ini sangat mudah, kita hanya perlu menghajarnya sampai pingsan,” jawab Harley.


Akira dan Rin saling bertatap heran. “Lalu bagaimana kita bisa menghajarnya?” tanya Rin.


Harley tersenyum aneh membuat Akira sedikit curiga. “Kalian berdua harus bertukar pakaian!”


“Ehh ...!” teriak Akira dan Rin serempak.


Kini malam pun telah tiba dan mereka benar-benar melakukan rencana Harley. Saat itu mereka semua duduk diam menunggu penjaga.


“Penjaga! Penjaga!” panggil Akira menirukan suara perampuan dan menggunakan selimut sebegai penutup kepalanya.


“Penjaga! Cepatlah kemari aku sudah tidak tahan mau pipis!” panggil Akira dan penjaga itu segera berlari menghampiri.


Penjaga itu memandangi penjara sebelah. “Rasanya ada yang beda, bukannya penjara di sebelah itu di huni perempuan dan di sini dua laki-laki,” ucapnya heran.


“Penjaga cepat bukakan pintunya aku sudah tidak tahan, aku pipis di sini saja ya!” panggil Akira lagi agar pikiran penjaga itu kembali teralihkan.


“Tahan sebentar lagi, kalau kau pipis di sini bagaimana kau bisa tidur nanti,” jawab penjaga itu sambil membukakan pintu penjara.


Saat penjaga itu masuk ke dalam untuk menggiringnya dan mengambil kunci yang masih tersangkut di pintu, Akira langsung memukul bagian belakang lehernya, lalu membantingnya ke tanah hingga penjaga itu benar-benar pingsan.


“Yatta!” teriak Harley di penjara sebelah bersama Rin yang menggunakan baju milik Akira.


Akira pun segera mengambil kunci penjara itu dan melepaskan rantai di kakinya, lalu berlari menuju pintu penjara sebelah menemui mereka.


Setelah itu dia pun melepaskan rantai yang ada di kaki mereka, namun saat dia hendak melepaskan rantai milik Harley dia menyadari sesuatu.


“Emm ... bukannya kita berdua bisa melakukan ini tanpa perlu bertukar pakaian?” tanya Akira hendak menatap Harley.


“Hmm ... entahlah, mungkin aku hanya ingin mengerjai kalian saja,” jawabnya tersenyum meledek mereka.


“Eh apa!” teriak Akira dan Rin lagi-lagi serempak.


“Sudah! Cepat segera keluar! Kita harus bergegas sebelum ada yang datang!” balas Harley berlari lebih dulu.


Mereka pun segera keluar sambil membawa barang-barangnya. Saat hendak berlari menyusul, Akira malah terjatuh kerna tersandung bajunya sendiri.


“Duluan saja! Aku akan menyusul setelah berganti pakaian,” ucap Akira.


“Hah ... kau ini mana sempat, gunakan itu saja untuk sementara, setelah ini kalian bisa kembali bertukar pakaian,” jawab Harley, sedangkan Rin membantunya berdiri.

__ADS_1


“Apa kita tidak bisa membebaskan yang lainya?” tanya Rin.


“Mustahil mereka semua bisa kabur dengan selamat, ini lebih baik ketimbang mereka akan mendapat hukuman lebih berat jika tertangkap,” jawab Harley menatap tajam.


Mendengar jawaban Harley Rin pun hanya bisa terdiam meskipun wajahnya nampak murung.


Mereka bertiga pun terus melarikan diri menjauhi perkotaan. “Maaf harus bertanya sekarang, aku sangat penasaran hingga merasa tidak tenang, bagaimana caranya kau berpindah ke penjara sebelah Harley?” tanya Rin.


“A’ahh ... benar juga kau tadi disuruh tutup mata ya,” sahut Akira.


“Apa kau pernah melihat pertunjukan sulap di pasar-pasar kota ini, jika pernah maka kurang lebihnya begitu,” jawab Harley sangat tenang.


“Ohh ... jadi berpindah seperti itu yang namanya sulap portal, pantas saja setelah melakukannya kau terkapar kelelahan kerna itu menguras banyak energi ya,” jawab Rin seraya menempelkan jari telunjuk di dagunya.


“Yah yah itu,” jawab Harley sambil menunjuk-nunjuk Rin setelah itu dia berpaling merasa lega.


“Jadi ada hal semacam itu di negeri ini?” tanya Akira menatap keduanya.


“Yah itu sangat mengagumkan, saat mereka membawaku ke penjara para penjaga itu sempat singgah untuk melihat, jadi aku juga ikut melihat mereka melakukan pertunjukan sulap, apa kau mau melihatnya bersamaku?” ajak Rin.


“A’ahh tentu,” jawab Akira membuat Rin tersenyum.


“Yosh sudah sampai,” sahut Harley segera berhenti bersama mereka.


“Kita akan bersembunyi di rumah terbengkalai ini, tenang saja kita akan aman, kerna sebelum tertangkap aku sudah mempelajari semua tempat di negeri ini,” sambung Harley sambil menunjukkan rumah terbengkalai yang gelap gulita itu.


“Baguslah, sekarang cepat kalian masuk dan bersihkan tempat itu, aku ingin berkeliling sebentar untuk melihat-lihat,” balas Harley.


“Tapi awas kau bila berbuat macam-macam pada Rin saat tidak aku tidak ada,” sambungnya memperingatkan.


“Eh apa, yang benar saja mana mungkin aku berani melakukannya!” teriak Akira marah sedangkan Harley mentertawakan.


Rin yang sudah berjalan lebih dulu menuju rumah itu sempat tersenyum mendengarnya, dia merasa dilindungi.


“Syukurlah aku membawa barang-barang lengkap,” ucap Akira setelah menyalakan lampu duduk sebagai penerangan mereka.


“Apa ini cukup?” sambungnya bertanya pada Rin yang sedang menggelar kain untuk alas mereka.


“Yah itu sudah cukup terang,” jawabnya.


“Kalau begitu aku mau keluar dulu cari air untuk berwudu,” balas Akira.


Rin terlihat tidak mengerti. “Oh iya, aku akan membersihkan tempat lainnya,” jawabnya, Akira mengangguk dan segera keluar.


Saat Akira kembali tempat itu sudah terlihat lebih bersih. “Kau sudah kembali, tolong letakkan sandalmu di sana agar tidak mengotori tempat ini,” ucap Rin sambil menunjuk pojok rumah.

__ADS_1


“Maaf merepotkanmu kerna membersihkan ini sendirian,” jawab Akira sambil meletakkan sandal kayunya.


Setelah itu Akira menggelar kain jauh dari Rin yang masih asik berberes-beres. “Allahu Akbar,” ucap Akira memulai Shalat.


Mendengar itu Rin memandanginya dan merasa penasaran apa yang sedang Akira lakukan. “Apa yang sedang Akira lakukan, kenapa dia berbicara sendirian, dan bahasa apa yang dia gunakan. hemm ... aku sama sekali tidak mengerti,” ucap Rin terus memandangi Akira.


Padahal sebenarnya Akira membaca bacaan Shalat seperti pada umumnya, namun Rin sama sekali tidak mengetahui hal itu.


Saat itu Rin duduk memandangi Akira terus menerus. “Assalamu’alaikum warahmatullah, Assalamu’alaikum warahmatullah.”


Akira selesai melakasanakan Shalatnya dan Rin melihat Akira berdiri seperti di awal. “Akira ...”


“Allahu Akbar,” ucap Akira mengangkat takbir kembali membuat Rin tak jadi memanggil.


Dia terus memperhatikan Akira yang tak selesai-selasai, ketika Akira mengucap salam, Akira kembali berdiri mengucap takbir hingga berulang-ulang membuat Rin mulai mengangtuk dan akhirnya tertidur.


Saat itu Harley datang sedangkan Akira sudah selesai berdo’a. “Cepat kau beralih ke belakang dan jadi makmumku,” pinta Harley.


“Aku sudah selesai,” jawab Akira.


“Loh emangnya sudah berapa kali kau Shalat?” tanya Harley.


“Aku sudah mengqhoda Shalatku dari siang tadi sampai malam ini.”


“Hoo kau yakin cuma segitu, bukannya kau bilang saat kalian pingsan itu adalah hari pertama di perjalanan, jadi berapa hari yang kau butuhkan untuk pergi ke negeri Matahari Ekhad?”


Akira tersentak menyadarinya. “Kurang lebih seminggu,” jawabnya.


“Hah ... terlalu banyak yang kau tinggalkan kalau begini aku tak mau lah jadi Imammu,” jawab Harley menjauh.


“Ehh apa, kan itu kerna tertidur jadi Insya Allah di maafkan.”


“Iya aku tau, maka dari itu sebaiknya segera Qhoda Shalatmu, tapi jangan terlalu dipaksakan kau juga harus beristirahat,” balas Harley sambil merebahkan tubuhnya dan menjadikan tas Akira sebagai bantalnya.


“A’ahh ... tentu, tapi, kenapa kau malah tidur," balas Akira memandang aneh.


“Khuhhh ...” Harley mendengkur.


Melihat itu Akira sedikit kesal. “Hah ... mungkin dia sudah mengerjakannya,” ucapnya seraya menghela nafas lalu berpaling.


Harley mengintipnya lalu tersenyum dan kemudian memejamkan mata kembali, sedangkan Akira kembali Mengqhoda shalatnya hingga larut malam.


Saat Akira hendak tidur dia melihat Rin tertidur tanpa selimut, dia pun segera menghampiri dan menyelimutinya dengan alas Shalatnya, sedangkan Harley sudah terlihat sangat nyenyak hingga mendengkur.


“Semoga Chio, Ayumi, dan Shiro baik-baik saja,” ucapnya sambil mendongak menatap ke atas.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2