The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Aku Hanyalah Orang yang Ingin Bersama Tuhan Thalib Sang Musafir Bagian Akhir


__ADS_3

Paginya Kanzo berlari dengan cepat dan berteriak dari jauh memanggil Osama yang sedang memancing ditemani oleh seorang anak kecil, disebrang sungai kecil itu pun nampak seorang pasangan suami istri yang sudah tua sedang bercocok tanam.


“Osama … Osama!” teriak Kanzo seraya melambaikan tangan, Osama menoleh dan ikut melambaikan tangan.


“Huh … hah … tunggu dulu kenapa kau terlihat santai disini, padahal ayahmu mau disidang,” tanya Kanzo menatap heran.


“Bukan begitu, aku kesini untuk memancing agar bisa makan enak dengan ibuku,” jawab Osama.


“Lalu kenapa kau menjaga anak ini?” tanya Kanzo lagi.


“Dia Ken, anak yang dirawat oleh kedua orang tua disana,” tunjuk Osama dan Kanzo melambai pada mereka, lalu mereka pun membalasnya, “Kerna aku memancing tak jauh dari mereka, jadi mereka memintaku untuk menjaganya,” jawab Osama.


“Ehh … kau ini memang selalu baik pada siapa pun terlebih lagi para orang tua,” ucap Kanzo seraya bermain dengan Ken.


“Emangnya kau lari jauh-jauh kesini untuk apa?” tanya Osama.


“A’ahh … aku sampai lupa ha ha … begini, aku sudah dapat cara untuk menyalamatkan ayahmu dan para warga lainnya,” jawab Kanzo mulai serius.


“Bagaimana caranya!?” teriak Osama sangat penasaran dan senang.


“Kau usulkan pada mereka semua untuk membuat tempat khusus bagi mereka , dengan begitu semuanya bisa selamat!”


“Tempat khusus, apa maksudmu Kanzo?”


“Tempat penampungan orang tua. Aku tau ini bukan hal yang tepat, tapi dengan begitu para orang yang dihukum akan selamat, tempat itu nanti juga bisa digunakan untuk merawat para orang tua yang tidak punya keluarga lagi,” jawab Kanzo menjalaskan.


“Baiklah itu patut kita coba, kapan kita melakukannya?”


“Tidak Osama, kaulah yang akan melakukannya.”


Osama terperangah. “Tapi, ini rencanamu, aku yang akan membantumu menyuarakannya.”


“Kau ingat aku pernah berkata padamu bahwa aku akan mengikuti jejak Thalib, jadi Aku akan meninggalkan desa hari ini.”


“Hari ini! bagaimana kau melakukannya, kau tidak punya peta!”


“Kau tidak perlu takut akan hal itu, aku sudah punya salinannya, itu pemberian kakakku. Kau juga tak perlu mengkhawatirkanku, bukankah kau ini temanku jadi lebih tahu apa yang aku inginkan."


“Baiklah Kanzo, aku akan mendukungmu, tapi sebelum itu akan aku perlihatkan dipersidangan nanti bahwa rencanamu ini akan berhasil, maka dari itu kau juga harus berhasil sampai kenegeri sabbat,” ucap Osama seraya menyodorkan gengangnya.


“Ahh … aku akan berhasil!” jawabnya seraya menyatukan gengam mereka, seraya tersenyum bersama.


...●●●●...


Saat itu persidangan pun dimenangkan oleh Osama berkat bantuan dari tetua ketiga yang tidak lain adalah kakak kandung dari Kanzo, para utusan yang berhadir sebagai saksi dan lainnya pun menyetujui usulan tersebut. meskipun tetua pertama dan tetua kedua berat hati.


Kanzo yang dari jauh melihat tempat persidangan tertutup itu dibuat tersenyum sendiri kerna suara riyuh para orang-orang yang disidang bersorak gembira di dalamnya. Ditambah lagi suara Osama yang nyaring tentu saja membuatnya yakin bahwa usulan mereka telah diterima. Dengan rasa tenang dia melangkahkan kaki menuju gerbang desa seraya menggiring kudanya.


Saat sampai digerbang, dua orang penjaga nampak cemas dan takut dengan apa yang akan mereka lakukan, namun kerna permintaan tetua ketiga mereka pun memberanikan diri membuka gerbang itu sedikit saja hanya untuk Kanzo bisa melewatinya.

__ADS_1


“Maaf kami hanya bisa membukanya segini, kami takut ada yang melihat dan melaporkan hal ini pada tetua pertama,” ucapnya menatap Kanzo yang sudah berada diluar gerbang.


“Yah … tidak apa-apa, aku ucapkan terima kasih pada kalian berdua,” jawab kanzo seraya tersenyum meski wajahnya terlihat sedih.


Kedua penjaga itu mengangguk lalu segera menutup gerbangnya, sedangkan Kanzo melihat jauh kedepan, melihat jalan yang akan dia lalui.


“Kanzoo!” teriak seseorang dari dalam.


Kanzo tersentak dan segera berpaling ke arah gerbang yang tertutup. “Osama!”


“Berjuanglah … gepai keinginanmu, kau tenanglah! jangan terlalu memikirkan desa ini, ingatlah saat kau kembali nanti negeri ini sudah berubah seperti yang kau inginkan!” teriak Osama dari dalam seraya menangis.


Kanzo meneteskan air matanya. “Ahh …! tunggulah kepulanganku, dan pastikan saat aku datang ke negeri ini, negeri ini sudah berubah!” balas Kanzo berteriak.


“Hey tenanglah, nanti kedengeran orang-orang," ucap dua penjaga seraya mengahalangi Osama yang ingin membuka gerbang.


Kanzo segera menaiki kudanya. “Aku pergi dulu Osama,” ucapnya seraya melajukan kudanya.


Suara langkah kuda berlari terdengar dari dalam dan ini semakin menjauh, Osama dan dua penjaga terdiam mendengar suara itu. “Sampai jumpa lagi Kanzo,” ucap Osama juga berpaling dan berlari meninggalkan gerbang hingga akhirnya mereka pergi saling berlawanan arah.


...●●●●...


Siang berganti malam, malam berganti pagi, perjalanan Kanzo menuju negeri Sabbat berjalan dengan mudah hingga kini dia telah memasuki hari ke tiga. Malam itu dia tengah duduk bersandar dikudanya yang telah tertidur, sesekali suara kuda itu terdengar, namun dia segera mengelusnya.


Api unggun yang menyala terang menghangatkan mereka, ditambah lagi Kanzo tengah santai menyantap makanan dan minuman hangatnya. Dengan rasa tenang dia menghadapkan wajahnya keatas untuk melihat indahnya malam, namun bukannya bintang dan bulan yang terang yang dia lihat, melainkan awan gelap yang mulai berkumpul di atasnya.


Sebagai seorang yang beragama leluhur tentu saja kanzo meminta perlindungan pada patung yang terkalung dilehernya, merasa belum cukup dia berlari menuju danau dan mengambil beberapa tanah liat lalu membantuknya seperti wajah binatang, hanya saja sungguh tak karuan.


Patung mulai sedikit terbantuk setinggi pinggangnya, merasa cukup, dia pun mulai melakukan ritwal dengan mengelilinya seraya mengangkat bilah kayu berapi, setelah berkeliling sambil menari-nari, dia segera duduk bersila dan mengerahkan talapak tangannya pada patung itu sembil berdoa minta agar hujan tak jadi, lalu dia pun bersujud.


Malang sungguh malang bagi Kanzo, ditengah sujudnya yang belum selesai hujan mulai turun dan malah semakin deras, kerna merasa gagal dengan ritwalnya dia pun berlari menuju kuda dan barang-barangnya yang telah berada dibawah pohon dengan daun-daun besar.


Dengan tubuh yang sudah basah dan berlndung dibawah pohon tentu saja tak terlalu berguna, dia menggigil kedinginan sambil berlindung dengan mengangkat daun besar untuk menambah naungan dari hujan yang terus membasahinya perlahan. Mungkin itu sudah lebih dari cukup dari pada harus berada langsung dibahwa hujan yang deras berangin dan berpetir.


Keesokan harinya langit telah cerah cahaya matahari pun telah menembus dedauanan besar dipohon itu dan menyentuh hangat kanzo. Kudanya yang dia sandari pun telah bangun dan juga ikut membangunkannya dengan bersuara didekatnya. Dia pun terbangun dengan rambut yang masih sedikit basah, dia tiba-tiba terkejut dan langsung berdiri kerna sadar bahwa sepertinya ini sudah sangat pagi.


Kanzo segera berlari menuju danau dan menceburkan diri untuk mandi tanpa melapas pakaian yang dia kenakan. Setelah berenang kesana kemari dia pun kembali kedaratan, sempat berhenti sebentar untuk mengambil rumput yang sangkut di kepalanya lalu melemparkan ketanah tepat di tempat dia membangun patung dari tanah liat itu, dia terdiam memandang patungnya yang talah rata dengan tanah.


Malam mulai kembali menjelang dan kini dia telah berada jauh didalam hutan, bukannya kayu yang dia kumpulkan terlebih dulu, dia malah berusaha membuat patung kembali dengan tanah liat yang ditempelkan pada batang pohon yang telah terbelah dan mati. Dia mulai membantuknya menjadi seperti sapi, tidak seperti kemarin kali ini terlihat bagus dan rapi bahkan setinggi dengan dirinya.


Kanzo tersenyum bangga dengan tubuhnya yang masih berlumur tanah liat seraya memandang patung sapi yang terlihat bagus. Nahas bagi Kanzo ditengah membanggakan patungnya hujan justru turun lagi dan kini semakin deras. Kerna keasikan membuat patung dia sampai lupa untuk melihat awan.


Malang sungguh malang bagi Kanzo, kini tubuhnya mulai demam dan bersin-bersin di saat pagi harinya, bahkan semalaman dia tak makan hingga tubuhnya lemah dan pada akhirnya dia pun pingsan.


Saat terbangun hari sudah siang dan tubuhnya pun mulai sedikit pulih meski wajahnya masih pucat.


Alangkah terkejutnya Kanzo ketika melihat kudanya sudah tidak ada lagi disekitarnya, tali yang mengikat pun terlepas. “Kudaku! Mana kudaku, bukannya aku mengikatnya disini malam tadi, padahal pagi tadi pun masih ada,” ucapnya seraya berjelan lemah menuju tali yang terikat di pohon.


“Apa yang harus kulakukan setalahnya, kalau begini aku hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki,” sambungnya cemas, “tidak! bukan ini yang sekarang harus aku pikirkan, sebaiknya aku mengurus diriku dulu agar kembali merasa baikan, bersyukur perbekalanku masih ada, dan nantinya saat melakukan perjalanan aku akan mengambil buah-buahan liar atau pun yang lainnya untuk di jadikan bekal,” sambungnya seraya melihat beberapa tas di depannya.

__ADS_1


Dua hari setelahnya dan kini telah memasuki hari ke lima. Perjalan Kanzo seolah tak membuahkan hasil dia bahkan merasa berputar-putar di dalam hutan itu, rasa haus dan lapar sama sekali belum terpuaskan kerna dia sengaja menghemat perbekalan yang telah menipis, disepanjang perjalanan itu dia bahkan tak menemukan air dan makanan, yang bisa dia makan hanyalah perbekalan yang telah lama disiapkan.


Beberapa kali meminta pertolongan pada patung delehernya dan juga membuat patung kecil hingga besar sema sekali tak berguna, kini Kanzo sudah merasa tak peduli lagi dengan hal itu. Saat itu dia merasa lelah dengan semua tas yang dia bawa, dia meletakkan semua di dekatnya dan dia pun menyandarkan diri di sebuah pohon besar seraya memejamkan mata dan mengatur nafas.


Setelah merasa tenang dia segera mengambil peta yang tergulung rapi lalu membukanya. “Hah … rasanya lelah sekali, haus dan lapar pun sudah tak bisa dihiraukan,” ucap Kanzo sambil memperhatikan peta itu.


“Huh … aku merasa terus berputar dihutan ini, sampai sekarang pun aku bahkan tak menemukan ujung dari hutan ini,” sambungnya kelelahan.


Saat terus memperhatikan peta dia tak sengaja melihat beberapa hurup yang terlindung oleh lipatan kertas itu, tanpa pikir panjang dia pun membuka lipatannya. “Hah … ini hanya sebuah tulisan, aku pikir kakak meninggal pesan untukku di peta yang dia salin ini, namun nyatanya aku bahkan sama sekali tak mengerti dengan huruf-hurufnya, sepertinya dia hanya menulis apa yang ada di peta itu,” ucap kanzo seraya memperbaiki duduknya.


Tiba-tiba kanzo tersentak ketika melihat tulisan yang ada dibawahnya. “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah, Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Alaa Aalihi Sayyidina Muhammad,” ucapnya sedikit heran membaca tulisan itu.


Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat dedaunan disekitarnya beterbangan dan kertas peta ditangannya terlipat menjadi dua, lalu dikarenakan hal itu membuatnya melihat jauh didepannya sebuah ranting pohon berdaun lebat tertiup  kencang, sehingga memperlihatkan padanya beberapa buah-buahan liar yang teruntai di pohon-pohon dan semak-semak.


Sontak saja Kanzo segera berdiri untuk melihat dengan jelas apa yang barusan dia lihat, setelah itu dia segera mengambil barang-barangnya dan segera berlari menuju buah-buahan liar itu berada. Saat sampai ditempat itu dia merasa takut jika buah-buahan itu beracun, namun diluar dugaannya beberapa burung, serangga dan bekas gigitan binatang lainnya nampak menyantap lezat buah-buahan tersebut.


Lalu dengan lahapnya dia memakan berbagai macam buah-buahan yang dia temui hingga rasa lapar dan haus terpenuhi. Kerna kekenyangan dia pun terbaring di rerumputan dengan senyum bahagia. Namun itu tidak lah lama, kerna rasa penarasan mulai menyerbu pikirannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, rasanya aku sudah melewati sekitar sini, akan tetapi sama sekali tidak melihat bahwa ada buah-buahan liar,” ucap Kanzo berduduk.


Entah apa yang ada dipikirannya, Kanzo kembali membuka peta dan kembali membaca tulisan itu, kini dengan sengat perlahan. “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah, Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Alaa Aalihi Sayyidina Muhammad,” ucapnya sambil melihat kesekitar seolah menunggu sesuatu.


“Tidak ada yang terjadi, begitu pula angin yang datang,” sambungnya heran.


Tiba-tiba suara berisik terdengar di belakangnya, hal itu membuatnya dengan cepat menoleh untuk melihat apa yang ada dibalik suara itu. “Kudaku!” teriak kanzo sambil berlari.


“Tidak salah lagi ini benaran kudaku, Syukurlah dengan adanya kuda ini aku bisa mempercepat perjalanan,” ucap Kanzo tak hentinya bersyukur.


"Tidak salah lagi, aku tahu siapa sebenarnya yang baru saja menolongku, dari tulisan yang tertulis dipeta itu, kemungkinan besar itu sengaja ditulis oleh Thalib untuk mengingat tuhannya, dan sekarang tuhannya telah menolongku hanya kerna aku membaca tulisan tersebut,” ucapnya seraya tersenyum.


“Sungguh Maha Pemurahnya Tuhanmu hai Thalib, dengan mudahnya dia memberikan pertolongan padaku yang justru tak pernah mengenalnya,” sambungnya seraya melihat kalung yang bergantung patung kecil dilehernya.


“Sungguh hai Thalib, Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Benar!” teriaknya seraya melemparkan kalungnya hingga membuat patung kecil itu hancur berserakan.


Kini Kanzo kembali melanjutkan perjalanannya dengan banyak bekal dari buah-buahan liar yang dia temui tadi, dengan itu dia sudah merasa sangat yakin bahwa itu akan sangat cukup baginya, ditambah lagi rasa yakin dan berserah diri pada Allah membuatnya tak takut lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kanzo terus berpegang pada kalimat Syahadat dan Shalawat yang tertulis dalam bentuk Arab dan latin hingga kalimat itu terukir dikepalanya.


Setelah itu lima hari telah berlalu hingga kini perjalanannya telah mencapai sepuluh hari atau satu kali upacara.


Saat itu dua penjaga gerbang yang terlihat seperti berusia kakaknya Kanzo dibuat terkejut ketika melihat dari jauh kedetangan Kanzo dengan sangat cepat melajukan kudanya menuju mereka. Saat itu Kanzo telah sampai didepan mereka, Kanzo turun dari kuda dan berjalan menghampiri mereka dengan hidung serta mulutnya yang tertutup yang hanya menyisakan dahi dan matanya.


“Siapa kau dan dari mana engkau?” tanya salah satu penjaga itu mendekatinya.


Kanzo memperlihatkan wajahnya dan tersenyum. “Aku hanyalah seorang musafir tanpa nama, dan aku datang dari gelapnya hutan dengan cahaya petunjuknya aku bisa sampai kesini. Aku hanyalah orang yang ingin bersama Tuhan Thalib sang Musafir.”


Flashback of


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2