
Flasback On
“Hey cepat bangun dan makanlah!” teriak seorang penjaga membangunkan Chio yang sedang tertidur.
Chio terbangun dan perlahan membuka matanya. “Apa kau mau kupukul agar cepat bangun!” teriaknya lagi seraya menendang-nendang kaki Chio.
Saat itu Chio sedang bersandar di dinding dan ada tas di sebelahnya. “Ada di mana aku?” ucapnya heran saat melihat sekitar yang hanya ada pagar besi dan dinding beton.
“Itte te tehh ... sakitnya,” rintihnya saat ingin membenarkan cara duduk.
“Pakai ini dan segera makan agar tenagamu kembali dan siap bekerja.” Penjaga itu melemparkan pakaian dari celah jeruji besi.
“Tunggu ini di mana?” tanya Chio.
“Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas, kau sekarang berada di selmu, alias di penjara,” jawab penjaga itu.
Chio tersentak kaget saat menyadarinya. “Penjara! Tunggu mana yang lainnya?” teriaknya hendak berdiri.
“Akh …!” Chio seketika terduduk kembali.
“Sudah jangan banyak tanya, jika nanti kau tidak ingin mati kelelahan cepat makanlah, setelah itu kau pasti akan paham dengan apa yang menimpamu,” sambungnya.
Chio nampak kesal dengan dirinya yang kesulitan berdiri. “Begaimana bisa aku berada di sini, dan tubuhku sangat sulit untuk digerakkan!” batinnya.
Dia terdiam memikirkan dan Manahan sakit. “Benar kata dia, aku lebih baik makan dan memulihkan tenagaku, setelahnya aku akan berusaha mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi,” sambungnya.
Chio pun segera menyantap Roti dan minuman yang diberikan penjaga secara perlahan, dia juga mengecek tas yang dia miliki, dia mengelus dada saat mengetahui tidak ada yang kurang satupun dari barang miliknya.
Beberapa penjaga datang dan mengatakan sesuatu pada penjaga yang berada di depan penjara Chio, percakapan mereka sama sekali tidak terdengar oleh Chio.
Dia pun membukakan pintu penjara Chio. “Cepat keluar dan berbaris!”
Chio pun berusaha berdiri dan dia terlihat telah pulih meskipun wajahnya sedikit pucat. “Ada apa ini? kenapa pergelangan kaki mereka dirantai?” tanyanya saat melihat yang lainnya di giring keluar.
“Sudah kubilang jangan banyak tanya dan ikuti aku, atau kau mau juga di rantai seperti mereka!” Ancam penjaga itu.
Chio terdiam dan mengikutinya saja, dia memendangi mereka yang digiring di sebelahnya nampak sakit-sakitan, melihat hal itu membuatnya segera menunduk.
__ADS_1
“Oh ya tunggu sebentar aku ingin mengambil tasku.” Chio berpaling dan langsung di tahan penjaga dengan menepuk pundaknya.
“Lupakan tasmu, tidak ada siapapun yang akan mencurinya.”
Penjaga itu menepuk jidatnya. “Hah ... apa kau ini lebih sayang tasmu, ketimbang nyawamu,” sambungnya menghela nafas.
“Eh apanya?” Chio tak mengerti.
“Sudah cepat kau duluan!”
Penjaga itu menariknya dan mendorong ke depannya. “Apa yang sebanarnya terjadi, aku sama sekali tidak mengingatnya,” batin Chio.
Saat itu Chio hanya bisa tertunduk berusaha mengingat semuanya hingga dia sampai ke tujuan yang di inginkan penjaga. Menyadari hal itu membuatnya Chio seketika terbalalak melihatnya.
“Pembangunan!”
“Apa yang sedang mereka bangun!”
Chio terus melihat kesekitarnya, melihat banyak para pekerja yang nampak sangat letih, bahkan ada di antara mereka perampuan dan anak-anak.
“Pakaian yang mereka gunakan juga sama, dan ini sama seperti yang aku gunakan!”
Namun penjaga itu tak menghiraukan dia berjalan menuju seorang paria yang sedang berdiri memerintah yang lain.
“Tuan aku sudah membawa orang yang kau perintahkan.”
Orang itu berpaling menghadap penjaga. “Akiyama?” ucap Chio heran.
“Oh Chio, syukurlah kau sudah bangun ternyata, bagaimana perjalananmu ke sini apa sangat menyenangkan.” Akiyama berjalan menghampiri.
“Ha ha ... maaf aku memberikan minuman yang salah, jadinya kalian semua tertidur,” sambungnya mentertawakan.
Mendengar itu Chio pun mengingat kejadian sebelumnya saat mereka di beri minuman oleh para pengawal Daichi. “Kau! Di mana mereka semua!” Chio menatap tajam.
“Hoo ... Jadi kau sudah mengerti ya?”
“Aku bilang di mana yang lainnya!’ teriak Chio.
__ADS_1
“Penjaga bawa yang lainnya menjauh,” pintanya.
Salah satu Penjaga mengangguk dan menggiring yang lainnya menjauh. “Cukup hebat kau bisa langsung bertanya seperti itu padaku, jadi kau sudah tahu apa yang terjadi padamu dan mereka?” Akiyama malah tersenyum.
“Inikah wujud aslimu Akiyama!” Chio terus menatap tajam.
“Entahlah ... apa kau mau tahu di mana mereka yang kau sebut teman, mereka sudah aku jual sebagai budak,” ucap Akiyama tak hentinya tersenyum.
“Tapi tenang saja, aku akan kasih tahu satu hal, paling mereka semua jadi budak pekerja seperti kau aha ha ...” sambung Akiyama malah mentertawakan.
Chio seketika terbelalak mendengarnya dan raut wajahnya pun berubah penuh amarah.
Akiyama terus memandang Chio. “Penjaga tahan dia, aku tidak ingin mengotori tanganku kalau tak sangaja memukulnya jika dia melawan.”
Dua penjaga pun segera menahan Chio. “Lepaskan! Kalian tidak perlu menahanku, aku juga tidak ingin mengotori tanganku untuk menghajar orang ini, sungguh najis bagiku!” balas Chio mampu menahan amarahnya.
“Hah ... kalau tingkahmu seperti ini, rasanya aku ingin menjualmu ke tempat lain, namun sangat disayangkan jika kau ini jatuh ke tangan orang lain, meskipun banyak para pembeli yang menginginkanmu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir kalian! bisa-bisanya manusia sebagai makhluk sempurna bisa di perjual belikan seperti itu!”
“Kerna mereka sempurna makanya harga mahal, apa lagi kau ini, sangat banyak orang-orang yang ingin membelimu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka lihat darimu” Akiyama memandang remeh.
“Yah hanya kau saja yang murah,” Balas Chio tersenyum sombong membuat Akiyama bertambah kesal.
“Tutup mulutmu! Jika kau ingin tetap di sini, lakukanlah pekerjaan dengan sangat baik ketimbang yang lainnya, atau kau akan kujual ke tempat lain!” ucap Akiyama.
“Tentu kau bisa anggap ini penawaran bagus untukmu, bisa saja jika kau berada di tempat lain kau tidak akan bertahan dengan siksaan yang mereka berikan,” sambungnya seolah mengancam.
Chio tertawa. “Ha ha ... itu gagasan yang bagus kita akan sama-sama di untungkan.”
Akiyama terdiam tak mengerti. “Pastinya aku akan membuat pekerjaan ini jauh lebih mudah, aku juga akan menguasai tempat ini, dan akan membuatmu menyerahkan semua kepercayaanmu, dengan begitu aku juga akan jadi bosnya,” sambung Chio tersenyum sombong.
Akiyama nampak tak peduli, dia berpaling dan berjalan menjauh. “Kau boleh bermimpi Chio, kau boleh bermimpi, tapi ... aku akan memperingatkanmu sesuatu lebih dulu sebelum kau tidur dengan nyenyak.”
Akiyama berhenti berjalan dan memalingkan wajahnya sedikit kesamping memandang tajam Chio. “Jangan sampai rasa lapar dan cambukan membangunkanmu dari mimpi yang indah itu,” sambungnya membuat Chio terdiam.
Akiyama pun kembali berjalan terus menjauh. “Aku masih tidak percaya kalau Akiyama dalang di balik ini semua. Akira, Ayumi, Shiro, tunggulah aku akan menjemput kalian,” batinnya seraya menatap jauh ke depan.
__ADS_1
-Bersambung-