
Saat itu masih dirumah Kanzo. “Oh ya Akira malam ini kami akan melakasanakan ibadah yang dilakukan tujuh hari sekali, kalian bisa datang kesana,” ucap Kanzo.
“A’ahh … nanti kami akan datang.”
“Emm … sebenarnya aku sedikit penasaran, emangnya kalian melakukan apa?” tanya Akira.
“Yah seperti biasa Shalat,” ucap Kanzo.
Akira terkejut. “Bukannya kalian belum tahu tentang itu.”
“Bukan tidak tahu, tapi yang mereka lakukan belum sempurna, masih banyak yang kurang,” sahut Chio.
“Hana bilang mereka juga melaksanakan Shalat seperti kita, hanya saja mereka melakukannya dengan dua rokaat setiap waktu dari yang lima. Maka dari itu saat melihat kita Shalat kemarin mereka terkejut bahwa yang kita lakukan lebih bagus dari mereka,” ucap Ayumi memberi tahu.
Kanzo menatap Akira yang tengah diam sambil memegang dagunya. “Sebenarnya ibadah yang kami lakukan setiap minggunya berbeda, seminggu pertama kami akan melakukannya siang hari dengan para laki-laki saja, lalu seminggu kedua dengan para laki-laki dan perempuan saat malam hari.”
“Meskipun begitu aku merasa masih banyak yang kurang,” Sambungnya.
“Siapa yang mengajari mereka tentang itu?” tanya Chio.
Kanzo menoleh pada Chio. “Mereka bilang yang mengajari semua itu adalah Alhudari dan Thalib, kata mereka setelah Alhudari memiliki empat puluh murid lebih mereka pun mulai melaksanakan itu, sayangnya seiring berjalannya waktu setelah Alhudari pulang mereka mulai jarang melakukannya, terlebih lagi ketika orang-orang dari negeri Matahari Ekhad datang terus bertambah.”
Akira tersentak dari lamunannya. “Shalat Jum’at!” teriak Akira membuat yang lain terkejut.
Chio tersenyum. “Ternyata begitu!”
“Paman bilang tadi seminggukan,” sambung Chio menatap Kanzo.
Ayumi dan Shiro pun menyadarinya. “Ah iya, aku sampai lupa hal sepenting ini ha ha ...” ucap Kanzo memegang dahinya sambil menggeleng.
“Adahal yang sangat berbeda dari negeri kita, orang-orang negeri Sabbat menggunakan istilah seminggu untuk menentukan hari, tidak seperti kita yang menggunakan satu kali upacara yang mana itu adalah sepuluh hari. Disini bahkan mempunyai tujuh nama hari yang berbeda,” sambungnya menjelaskan.
“Cih ... Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu,” sahut Shiro terlihat tak tertarik.
“Ho, ternyata kalian sudah tahu,” ucapnya memandang Shiro.
__ADS_1
“A’ahh ... saat kami di sana, kami sudah menggunakan itu untuk memudahkan kami mengatur waktu, hanya saja kami menetukannya secara asal,” jawab Akira sediktit tertawa.
Chio tersenyum. “Kalau mereka sudah menggunakan itu dari dahulu, itu artinya penantuan hari yang mereka gunakan sudah tepat?”
“Aku tidak begitu mengerti apa yang kau ucapkan, namun yang pasti itu sudah ada sejak Alhudari datang ke negeri mereka ha ha ...” jawab Kanzo merasa malu.
“Jadi sekarang hari apa?” tanya Ayumi sangat penasaran.
“Hari Jum’at Ayumi,” jawab Kanzo.
“Ternyata kita salah ha ha ..." ucap Akira.
“Cih ... hanya meleset beberapa hari.” Sahut Shiro.
“Hemm ... lalu Shalat yang akan dilakukan malam ini, itu di ajarkan oleh Thalib,” ucap Chio.
“Yah, mereka melakukannya saat Thalib ingin pergi ke negeri kita.”
“Apa kau tahu sesuatu tentang shalat ini Akira?” tanya Ayumi menatap akira yang kembali termenung.
“Kenapa baru memberitahukannya pada kami!” balas Ayumi kesal.
“A’ahh ... Maaf-maaf, nanti aku ajarkan sekaligus kepada para penduduk lainnya dan juga tentang shalat Jum’at, dengan begitu jum’at depan kita akan bisa melaksnakannya untuk pertama kali setelah sekian lama.” Mendengar itu membuat Chio merasa senang.
“Cih ... aku sedikit heran bagaimana bisa kalian melupakan hal sepenting itu,” sahut Shiro.
“Tidak lain dan tidak bukan itu di sebabkan para penyebar Islam yang sedikit, bayangkan saja setelah kepergian Alhudari dan Thalib tidak ada lagi musafir muslim yang datang,” Jawab Chio merasa sedih.
“A’ahh ... benar kata Chio, aku juga dari tadi memikirkan hal ini,” sahut Akira.
“Emm ... di tambah lagi mereka sulit menerima agama Islam, dengan kalangan yang sedikit itu tentu saja akan sengat sulit untuk berkembang, beda jika para musafir muslim berbondong-bondong datang, baik itu menatap tinggal maupun kembali lagi kekampung halaman, maka bisa saja Islam menjadi agama yang paling di ikuti,” sambungnya.
“Paling tidak kita bisa mengajarkan mereka dengan benar, tentu saja dengan harapan pengetahuan itu bisa di teruskan ke anak cucu nanti,” sahut Ayumi membuat mereka semua tersenyum dan merasa yakin bahwa itu akan terjadi.
Setelah itu Akira dan lainnya meminta untuk memulai acaranya saat sore hari saja agar mereka bisa mengajarkan bagaimana Shalat yang benar sesuai Syariat Islam. Kanzo pun menyetujuinya hingga para utusan dikirim untuk memberitahukan hal itu.
__ADS_1
Para warga yang telah di beri tahu sangat antusias dan senang untuk segera berangkat ke tempat itu, bahkan ada yang sengaja datang sebelum sore hanya untuk duduk di depan. Para anak-anak, ramaja bahkan dewasanya berbondong-bondong datang.
Akira, Chio dan Ayumi saat itu bergantian mengajarkan pada mereka, bahkan Shiro juga ikut membantu jika ada yang tidak memahaminya, padahal dia bukan bagian dari mereka, namun dia terlihat sangat bahagia ketika melihat kebahagian mereka semua.
...●●●●...
Keesokan harinya yaitu hari sabtu, Akira dan lainnya saat itu sedang sarapan bersama. “Kalian sangat luar biasa, hampir semua penduduk datang kesana untuk belajar kembali dari kalian,” ucap Gozali.
“Rencana Chio juga sangat bagus, semua orang bisa tahu apa yang disampaikan kalian, hanya dengan menampatkan seorang pendengar sekligus penyampai pesan dititik tertentu, mereka yang tidak bisa mendengar dari kalian bisa mendengar dari si penyampai pesan,” sahut Hozy.
“A’ahh ... dia itu memang punya strategi handal!” Jawab Akira.
“Cih ... dia itu cuma cari muka di depan penduduk,” sahut Shiro yang baru datang dengan rambutnya yang masih basah.
“Apa!” teriak Chio tak terima.
“Sudah-sudah, baru keluar udah bikin keributan kau ini Shiro,” sahut Hana menghampiri mereka sambil membawa kue-kue bersama Ayumi.
Shiro hanya bisa terdiam dan duduk di sebelah Hozy, kemudian meminum teh milik Hozy. “Gozali! Hozy!” teriak seseorang dari luar.
“Sepertinya dia temanku, kalian tunggu sebentar aku akan menemuinya dulu,” ucap Gozali pada mereka kemudian dia berjalan keluar lalu di susul Hozy.
Tidak berselang lama Hozy pun kembali sendirian dengan raut cemas. “Para penduduk katanya ingin pergi keistana menemui Raja! Utusan itu bilang kami disuruh ikut mengawal para rombongan warga itu agar tidak membuat keributan, Gozali sudah duluan pergi aku disuruh memberitahukan ini pada kalian.”
“Apa ada masalah dengan Raja?” tanya Hana.
“Sepertinya ini tentang para penduduk yang belum kembali dari negeri Matahari Ekhad, mereka ingin menanyakan langsung pada raja tentang kabar keluarganya,” jawabnya.
Mendengar itu Akira dan lainnya terdiam saling menatap satu sama lain seolah mengkhawatirkan itu. “Cih ... Hozy tunggu aku, aku ikut bersamamu,” sahut Shiro langsung menghabiskan minumannya dan segera menyusul Hozy yang sudah berjalan keluar.
Akira Dan Chio saling menatap kemudian mereka mengangguk. “Ayumi kau ikut?” tanya Chio.
“Aku tidak bisa, hari ini aku ingin mengajarkan tentang Islam lagi pada mereka bersama Kak Hana,” jawab Ayumi.
“Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu.” Chio dan Akira pun menyusul mereka.
__ADS_1
-Bersambung-