The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Petunjuk di Buku Harian Thalib


__ADS_3

“Baguslah jika kalian sudah memutuskan rencana selanjutnya, sekarang labih baik kalian segera pulang, sebelum penjagaan di sini diperketat lagi,” ucap Daichi.


Chio dan lainnya mengangguk. “Kami izin pulang dulu, jika kami menemukan petunjuk tentang ini kami akan segera mengabari lewat Arata.”


“Cih ... Ayumi cepat ikut bersamaku,” pinta Shiro mengajak pulang.


Ayumi mengangguk setuju dan beranjak hendak menghampiri. “Maaf Ayumi, untuk sementara lebih baik kau tinggal seperti biasa di sini,” sahut Daichi.


“Cih ... apa lagi yang kau inginkan, apa belum cukup dengan semua pelayan wanitamu sekarang,” sahut Shiro kesal.


“Bukan itu maksudku, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Ayumi di luar sana,” balas Daichi.


“Cih ... asal kau tau saja, tidak akan kubiarkan ada orang yang menyakitinya, jadi urus saja dirimu sendiri!” jawab Shiro.


“Tidak Shiro, apa yang dikatakan Daichi ada benarnya, jika dia bersama kita, mungkin dia akan disuruh bekerja oleh Akiyama,” sahut Chio.


“Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, aku bisa jaga diri sendiri, lagi pula di sana juga ada Rinkan?” ucap Ayumi.


Akira heran. “Rin?”


“Maksudku banyak perempuan jugakan di sana, jadi aku bisa bersama mereka,” jawabnya terlihat gugup.


“A’ahh ...”


“Aku terserah pada kalian saja, tapi aku setuju dengan Daichi untuk tetap di istana, di sini orang-orang hanya tahu kalau Ayumi sebagai juru masak saja, kita bisa memanfaatkan itu untuk menyelidiki keterlibatan orang-orang di istana dengan menteri itu dan penyihir,” sahut Harley.


“Cih ... justru itu hanya akan mengundang bahaya padanya, kau ikut kami saja,” balas Shiro.


Ayumi terdiam memikirkan itu. “Jika kehadiranku melakukan itu lebih berguna bagi kalian, maka aku siap melakukannya,” ucap Ayumi sangat yakin.


“Cih ... apa! Kau hanya perlu diam saja, jangan lakukan hal aneh-aneh, biar Daichi saja yang melakukannya,” jawab Shiro.


“Sudah kubilang  saat ini aku terus diawasi mereka, melakukan hal aneh sedikit saja mereka akan mencurigaiku, jika Ayumi benar-benar ingin melakukan itu, maka aku akan melindunginya jika terjadi sesuatu, aku akan meminta pelayan lain untuk membantunya,” jawab Daichi.


“Cih ...” Shiro kehabisan kata-kata, kini dia hanya bisa menahan kekesalannya.


“Apa kau yakin?” tanya Chio.


Ayumi tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, kami serahkan masalah ini padamu dan Daichi,” sambung Chio tersenyum.


“Terus berhati-hati jangan sampai berlebihan, ini masalah kita bersama, kami akan kembali berkunjung nanti,” ucap Akira.


“Yah aku tunggu kedatangan kalian,” jawab Ayumi seraya tersenyum.


“Dan untuk kau,” tunjuk Ayumi pada Harley yang masih duduk santai.


“Sebaiknya kau gunakan seluruh kemampuanmu untuk membantu kami, jika tidak aku akan memukulmu lebih keras,” sambungnya membuat Harley kaget.


“Hah ... ya ampun, apa takdirku selalu begini diperlakukan wanita,” jawabnya tertunduk lesu, sedangkan mereka pun mentertawakannya.


Setelah itu Akira, Chio, Harley dan Shiro kembali ke tempat pengerjaan pembangunan. “Bos! Kita punya dua orang lagi yang ingin bekerja!” teriak paman penjaga saat mereka sampai.


“Bagus, sekarang tunjukkan di mana mereka,” balas Chio.


“Bos tunggu saja di tenda, nanti aku akan mengantar mereka,” jawabnya dan Chio pun setuju.

__ADS_1


Setelah menunggu di tenda paman penjaga itu pun membawa dua laki-laki sepantaran mereka. “Ini mereka bos, sekarang aku mau kembali ke depan” ucapnya dan diangguki Chio.


“Tunggu kaliankan yang kemarin?” ucap Akira pada mereka.


“Hah ... beraninya kau mendehului kami,” teriak yang satunya.


"A'ahh ... maaf-maaf."


“Kami terlambat kerna ada urusan lain,” jawab yang satunya bermata panda dan bicaranya pelan dan lambat.


“Oh jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Chio.


“A’ahh ... mereka yang memberitahuku tempat ini,” jawab Akira.


“Begitu ya, cepat perkenalkan diri kalian,” pinta Chio.


“Hah ... Faruq panggil saja Faruq!” teriaknya terlihat kasar.


“Cih ... berani sekali kau seperti itu,” sahut Shiro.


“Maaf dia memang seperti itu jadi mohon dimaklumi, saya Samih,” balasnya terlihat lemah gemulai dengan bicaranya yang lambat.


“Pffft he he he ...” Harley tertawa pelan sambil membelakangi mereka.


Kerna mendengar Harley seperti itu membuat Akira dan Chio berusaha menahan tawa hingga tersenyum-senyum sendiri. “Anu emmm kalian, emm bisa segara emmh segara bekerja saja,” ucap Akira.


“Aha ha ha ... kenapa malah kau yang bicara begitu, aku yang menjadi bos di sini,” balas Chio mentertawakan Akira.


“A’ahh ... maaf-maaf.”


Faruq dan Samih hanya bisa heran dengan mereka. “Hah ... yasudah, kalian semua cepatlah kembali bekerja, masalah Thalib yang kita bicarakan tadi nanti malam saja,” ucap Chio.


Entah apa yang terjadi Faruq dan Samih tiba-tiba tercengang, Shiro yang hanya melihat sendiri pun heran. “Cih ... ada apa dengan wajah kalian?” tanyanya menatap tajam.


Keduanya terkejut. “Tidak, kami hanya ingin segera bekerja,” jawab Samih lemah lembut.


“Hah ... ayo Samih,” ucap Faruq pergi lebih dulu.


“Ada apa Shiro?” tanya Chio melihat Shiro terus menatap Faruq dan Samih yang berjalan menjauh.


“Cih ... bukan apa-apa, aku hanya ingin libur bekerja hari ini,” jawab Shiro.


“Apa! berani sekali kau seperti itu!’ teriak Chio sambil memukul meja di sisinya.


Harley menepuk pundak Akira dan memberi isyarat untuk segera keluar dari tenda agar tidak ikut dimarahi juga. Chio pun terus mengoceh memerahi Shiro yang hanya bisa diam, sedangkan Harley dan Akira mengejek Shiro yang sudah keluar lewat belakang.


...●●●●...


Malam pun tiba, sesuai kesepakatan, mereka pun kembali berkumpul di tenda itu. “Mengenai masalah harta peninggalan kakek yang diberikan kepada Thalib, sepertinya aku menemukan kabar bagus di buku itu,” ucap Chio tak begitu yakin.


“Apa Thalib menyebutkan soal harta kakek?” tanya Akira.


“Ini mengenai sifat dermawannya, saat kalian bekerja siang tadi, aku sudah mencoba membaca sedikit-sedikit yang bisa aku pahami, jika ini adalah penggambaran dirinya, maka ada kemungkinan Thalib tidak akan mengambil harta itu,” jawab Chio menjelaskan.


“Apa buku itu bisa dipercaya?” tanya Harley.

__ADS_1


Chio mengangguk. “Ini satu-satunya peninggalan Thalib yang kita punya.”


“A’ahh ... bisa dibilang ini adalah buku hariannya,” sahut Akira.


“Cih ... langsung perlihatkan saja pada kami,” ucap Shiro.


Chio pun membuka salah satu halaman di buku itu dan meletakkanya dipaha menghadapkan pada Akira.


...***...



...***...


“Ketika kembang mekar di satu sisi, kumbang-kumbang yang lain pun bermunculan menghiasi. Ketika keikhlasan telah mendaging dihati, cobaan pun datang silih berganti menguji,” baca Akira.


“Maaf Akira bukan kumbang, tapi kembang. ‘Ketika kembang mekar di satu sisi, kembang-kembang yang lain pun bermunculan menghiasi’ begitu,” tegur Chio.


“A’ahh ... begitu ya.”


Akira terlihat tak begitu yakin dengan Chio. “Tidak, itu memang kumbang,” sambungnya.


Chio menggeleng tersenyum. “Salah Akira bukan begitu, dari awal pun sudah jelas kembang yang mekar.”


Akira ikut menggeleng sambil tertawa. “Jika ada kembang yang mekar, sudah pasti para kumbang akan datang, maka itu sangat cocok dengan kumbang-kumbang yang menghiasi.”


“Kau ini tidak mengerti juga ya, coba baca dan pahami lagi, “ jawab Chio.


Akira masih tak terima. “Cih ... kalian ini bisa baca atau tidak sih, sini biar aku lihat,” sahut Shiro mengambil buku itu.


“Cih ... dasar! Sudah jelas seperti ini, ‘Ketika kembang mekar di satu sisi, kambing-kambing yang lain pun bermunculan menghiasi.’ Jelas sekali itu kambing yang datang untuk memakan bunga,” sambung Shiro meyakinkan.


Akira dan Chio terdiam memikirkan. “Tidak-tidak-tidak,” ucap mereka serempak menggeleng.


“Apa kalian tidak pernah melihat, saat kembang mekar, maka kumbang-kumbang pun datang mengambil sari bunga itu, ini sudah sangat jelas yang dimaksud Thalib adalah kumbang,” ucap Akira berusaha meyakinkan.


“Ya ampun Akira, kau ini belum paham bahasa ya, di sini dikatakan ‘yang lain pun’ itu artinya merujuk pada kembang yang mekar, dengan demikian itu adalah kembang-kembang,” balas Chio lebih meyakinkan.


“Cih ... kalian ini membuatku tertawa saja, dulu saat aku kecil aku pernah menjadi pengembala kambing, aku membawa mereka ke bukit untuk memberi makan, dan diantara mereka ada yang memakan bunga, jadi sudah jelas kalau yang dimaksud Thalib adalah kambing.” Shiro pun tak mau kalah.


“Hah ... ya ampun kalian ini membuatku bingung saja, sini biar aku coba membacanya,” sahut Harley mengambil buku itu.


“Inikan Arab Melayu, Masya Allah saat sakolah aku sangat pandai membaca ini,” sambungnya sangat senang.


“Aku yakin Harley juga punya pikiran sama sepertiku, secara kami sangat tahu betul dengan tulisan ini,” ucap Akira sombong, mendengar itu Chio mencemberutinya.


“Ini gampang sekali, ‘Ketika kembung mekar di satu sisi, kembung-kembung yang lain pun bermunculan menghiasi’.” Mendengar itu membuat mereka saling menatap heran.


“Jadi begini, ketika perut kita kembung di satu sisi kerna ada angin, maka akan bermunculan kembung yang lain, angin-angin tadi terpisah kerna perihal sesuatu, nah dengan demikian, perut kita akan menjadi kembung seluruhnya,” sambungnya menjelaskan.


“Berisik!” teriak ketiganya serempak.


“Eh.” Harley pun seketika heran.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2