
Sore itu adalah hari terakhir hukuman Akira dan lainnya. Saat itu sepulang dari melaksanakan hukuman berbakti di panti jompo daerah mereka, kerna masih ada waktu mereka pun melaksanakan rapat kembali dirumah Ken yang Akira tempati.
“Seperti yang dikatakan Nenek selanjutnya rencana kita adalah mendesak Osama untuk menceritakan kejadian sebenarnya tentang Thalib, namun kesulitan yang kita hadapi sekarang adalah Akira yang tidak pandai menyampaikan sesuatu,” ucap Chio tertunduk lesu membuat Akira seperti merasakan panah menancap didada.
“Yah padahal dia ini kadang-kadang paling bersemangat di antara kita, sampai-sampai saking semangatnya ucapannya sering diulang-ulang,” sahut Ayumi membuat Akira merasakan tambah sakit.
“Cih ... kenapa tidak melakukan itu lagi, maksudku seperti yang kau lakukan padaku saat itu,” sahut Shiro.
“Benar juga, saat itu kau berhasil membuat kesepakatan dengan Shiro, kata Shiro kau berbicara seperti orang licik,” ucap Chio membuat Akira lagi-lagi bertambah sakit.
“A’ahh ... itu terlalu sulit, aku harus melakukan latihan berat untuk bisa menyamai Shiro waktu itu, bisa dibilang aku harus melakukan ...”
“Maksudmu bercermin disungai dan melatih raut wajahmu sampai diteriaki anak kecil orang gila ha ha ...”
“Ya ampun jahat sekali kau Ayumi,” jawab Akira seraya tertunduk lesu, sadangkan Chio dan Ayumi tertawa.
Shiro hanya memutar bola matanya malas. “Cih ... jadi sekarang apa?”
Mereka terdiam dan berusaha memikirkan. “Hemh ... apa boleh buat kita semua yang akan mendesaknya,” ucap Chio.
“Tapi kata Nenek, Akira lah yang harus membuat dia percaya,” jawab Ayumi.
“Benar, Nenek menyuruh Akira untuk melakukan itu, dia menyuruh Akira menceritakan siapa dirinya seperti dia menceritakannya pada kita, tapi bagaimana jika kita semua bersama-sama membuat Paman Osama percaya dengan siapa Akira sebenarnya, aku yakin Paman tidak akan bisa membantah dengan apa yang terjadi dengan Akira, hanya itu yang bisa kita lakukan yaitu bersama-sama.” Chio meyakinkan mereka.
“Cih ... aku satuju dengan Chio, ketimbang kita biarkan dia bicara sendiri, pasti akan gagal,” sahut Shiro.
“Benar juga, aku tidak bisa bayangkan bagaimana nanti Paman Osama akan garuk-garuk kepala seperti Nenek ketika Akira yang bercerita,” ucap Ayumi dan mereka manggut-manggut.
“Hemh ... jahat sekali kalian,” ucapnya seraya tertunduk lesu membuat mereka tertawa dan Shiro tersenyum.
Paginya mereka semua pergi kerumah Osama dan hanya bertemu dengan ibunya. Saat itu ibunya bilang Osama sedang bekerja di tempat tetua, dia juga bilang sepertinya sedang mempersiapkan upacara desa yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Saat itu ibunya bilang jika ingin pergi kesini lagi datanglah pada malam hari kerna Osama pasti akan ada dirumah, tanpa pikir panjang mereka pun menyetujuinya.
Setelah menunggu cukup lama malam pun tiba, waktu terasa sangat lama kerna rasa penasaran mengebu-gebu dan mengganggu pikiran mereka. Mereka semua baru berangkat setelah menunggu Akira dan Ayumi melaksanakan Shalat Magrib bersama dirumah Chio.
*tok tok tok ...
“Paman ... Nenek ...!” panggil Chio seraya mengetuk pintu.
Tak perlu waktu lama pintu segera terbuka dan langsung di suruh masuk oleh Osama, saat itu mereka terlihat bingung kerna saat pintu terbuka mereka melihat beberapa hidangan sudah tersedia dan paman itu pun terlihat serius dan berhati-hati ketika ingin menutup pintu, dia melihat kesekitar terlebih dulu sebelum menutup pintu. Dari gelagatnya seolah tahu akan apa yang ingin dibicarakan mereka.
Beberapa saat mereka semua terdiam begitu juga Osama dan ibunya yang ada disisinya, suasana tegang di antara mereka membuat rencana Chio dan lainnya buyar, hingga Shiro memacah ketegangan dengan berdaham memberi kode untuk Chio memulai berbicara.
“Emm ... anu, kedatangan kami disini ingin membicarakan tentang ...”
Saat Chio sedang berbicara tiba-tiba Osama mengangakat tangan dan mengarahkan telapaknya ke arah Chio memberi tanda untuk berhenti.
__ADS_1
“Muhammad Akira, coba katakan siapa kau sebenarnya, jika seandainya kau bilang adalah kembaran Ken atau saudaranya maka aku tak akan memberi tahu kalian siapa Thalib sebenarnya,” ucapnya serius menatap Akira membuat mereka semua tersentak diam menatap Akira dan Osama.
Flashback on
Hari itu tepat setelah Akira dan yang lainnya di usir Osama untuk pergi dari tempat panti jompo daerah kakek, dan meninggalkan Osama dan kakek berduaan.
“Kenapa? Apa kau juga ingin menangkapku, Thalib Osama anakku!” ucap kakek menatap Osama.
Saat itu Osama pun meneteskan air matanya. “Kenapa Ayah menceritakan itu lagi, apa Ayah tidak takut jika hal ini diketahui tetua desa, apa Ayah mau berurusan lagi dengan mereka?”
“Heh ... aku sudah tua, tidak ada yang bisa aku wariskan selain cerita itu, semua orang harus tau lagi akan cerita yang sudah dilupakan itu,” jawabnya terlihat santai dan sombong.
“Tapi aku tidak ingin melihat Ayah mendapat hukuman mati dari tetua!” balasnya berteriak seraya menangis, “mendapat keringanan dangan di tempat disini saja sudah menyakitkan bagiku, yang aku inginkan Ayah bisa bersama kami dirumah bukan dipanjara seperti ini. Padahal saat itu aku sangat berusaha untuk Ayah bisa selamat dengan mengajukan hukuman ditampung ditempat ini ketimbang mati, namun Ayah malah menceritakan itu lagi!”
“Tapi kau seharusnya juga bersyukur tempat ini sekarang digunakan untuk orang-orang tua yang tidak punya keluarga, tempat yang kau buat ini sudah menjadikanmu berbakti setiap hari pada orang tua,” ucap kakek itu seraya tersenyum simpul.
“Tapi bukan untuk Ayah! Kerna Ayah punya keluarga, aku bisa menjaga Ayah dirumah bersama Ibu, jadi komohon Ayah jangan lagi ceritakan itu pada orang, masalah yang ini akan aku katakan pada mereka untuk melupakannya,” jawab Osama membuat kakek merasa bersalah.
“Jangan Osama, tidak untuk mereka, kerna Ken yang kau tegur tadi bukanlah Ken,” jawabnya membuat Osama tersentak kaget.
“Aku juga baru tahu akan hal ini, saat itu Ken pernah datang kesini bersama Shiro, kerna bisa mempercayai mereka aku pun menceritakan tentang Thalib padanya, namun setelah berapa lama dia datang lagi bersama Shiro dan meminta untuk diceritakan lagi, padahal saat itu aku sudah menceritakannya,” sambungnya menjelaskan.
“Astaga Ayah sedang membicarakan apa, mungkin saja dia lupa makanya dia meminta untuk diceritakan lagi.”
“Tidak Osama, kerna dia sendri yang mengakui bahwa dia adalah Muhammad Akira seorang yang mengaku bahwa dia kembaran Ken, dan lebih hebatnya Chio, Ayumi, dan Shiro dari gelagat mereka sudah tahu siapa dia sebenarnya, dan saat ini mereka berusaha merahasiakan tentang Akira.”
“Cuma apa? Apa kau tidak melihat bagaimana Ayumi berpakain,” potongnya membuat Osama terdiam Hening mengingat Ayumi yang tidak dia sadari sedang memakai kerudung menutup kepalanya.
“Lalu bagaimana mereka tau akan nama Muhammad, sebuah nama yang sama dengan nama Kakekmu, apa kau tidak ingat bahwa nama Muhammad dan Thalib itu adalah nama seseorang yang Khas dengan nama seorang penyambah tuhan yang maha Esa” sambungnya membuat Osama lagi-lagi terdiam.
“Aku tau ini akan sulit bagimu untuk mempercayainya, tapi aku percaya dia adalah salah satu penerus Thalib yang akan membawa perubahan didesa ini. Jadi, komohon sekali ini saja kau coba mempercayaiku, buat Akira menceritakan dia sebenarnya, jika memang dia bukan dari tempat kita maka kita bisa mempercayakan barang peninggalan Thalib,” sambung Kakek.
“Tapi Ayah, itu terlalu berbahaya kalau kita menyerahkannya pada mereka, bagaimana jika dia utusan tetua yang ingin mengambil barang itu, Ayah tau kan hanya itu yang tersisa dan tidak diketahui oleh orang, semantara yang lainnya sudah dihancurkan oleh tetua desa.”
“Jika memang dia adalah utusan tetua, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Tanyakan siapa tuhannya,” jawabnya seraya tersenyum menatap Osama.
Flashback of
“Siapa dirimu Muhammad Akira?” tanya Osama.
“Seperti yang Paman ketahui, aku bukanlah kembaran Ken melainkan sesorang yang sengaja dikirim kedunia ini,” jawab Akira sedikit ragu.
“Apa Maksudmu?” tanya paman serius.
“Aku akan katakan yang sebenarnya siapa diriku paman, tapi sebelum itu apa paman bisa merahasiakannya dari yang lain,” jawab Akira masih ragu.
__ADS_1
“Benar, paman harus merahasiakannya seperti kami semua, jika tidak maka bisa saja Akira akan di tangkap oleh tetua,” sahut Chio.
“Cih ... jika seaandainya paman mengatakannya pada orang lain maka tidak hanya Akira yang ditangkap melainkan kami juga,” sahut Shiro sedangkan Ayumi manggut-manggut.
“Tenang saja, aku bukanlah orang seperti itu, lagi pula aku juga ada yang ingin kusampaikan, tapi sebelum itu kau harus ceritakan siapa sebanarnya dirimu Akira,” jawab Osama.
Akira menatap Chio dan lainnya, kemudian mereka semua mengangguk. setelah itu mereka semua membantu Akira bercerita, jika seandainya ada yang tidak dipaham oleh Osama maka Chio dan yang lain akan membantu menjelaskan kembali pada Osama, sampai Akhirnya Akira pun selesai menceritakan semuanya.
Saat itu tidak hanya Osama yang tercengang, ibunya pun tak habis pikir dengan apa yang di alami Akira. “Hey Akira, siapa Tuhanmu?” tanyanya masih terperangah.
“Bismillahirrahmanirrahim. Dia adalah tuhan yang Maha Esa Allah SWT.” Ucap Akira tegas.
“Itu artinya, kau adalah orang yang beragama sama dengang Thalib sang musafir,” sahut ibu Osama yang dari tadi cuma diam mendengarkan, namun kali ini justru terlihat senang.
Akira mengangguk. “A’ahh ... jika Thalib memang seperti yang kami semua duga, yaitu orang yang beragama Islam maka tidak hanya aku, Ayumi juga sama.”
Osama juga tersenyum. “Benar, seperti dugaan kalian Thalib adalah seorang Muslim.”
Chio Heran dan penasaran. “Tunggu dulu, kenapa Paman bisa tahu kalau Thalib adalah muslim.”
“Ayahkulah yang memberi tahunya, dia adalah Kakek yang menceritakan kisah Thalib pada kalian,” jawab Osama seraya tersenyum manatap Chio.
“Ehhh ...!” mereka semua tercengang.
“Jadi kakek yang itu adalah Ayah paman?!” sahut Ayumi.
“Benar, dia adalah suamiku, Ayah dari Osama,” jawab ibu osama seraya sedikit tertawa.
“Tapi kenapa bisa berada disana, bukannya tempat itu hanya untuk Orang tua yang tidak punya keluarga lagi,” ucap Chio heran.
“Rasanya tidak pas jika aku menceritakannya dari saat muncul larangan menceritakan Thalib itu. Kuyakin kalian semua pasti ingin mendengar bagaimana cerita palsu buatan tetua itu bisa tersebar dengan mudah, maka akan aku ceritakan bagaimana kisah sebenarnya saat Thalib berhasil sampai didesa kita,” jawabnya menjalaskan.
Mendengar jawaban itu mereka semua terlihat serius untuk mendengar dan menyimak menjadikan Osama tersenyum dan siap bercerita.
“Saat itu sedang musim hujan didesa kita, namun hari itu sedang panas dan hanya terasa hangat. Seorang laki-laki tua pencari rumput sedang berada jauh dari desa kerna dahulu desa kita tidak dipagar seperti ini. Saat asik mencabut rumput tiba-tiba seorang pria datang berkuda menyapanya, dia adalah Thalib sang musafir. Pencari rumput itu heran melihat Thalib dan ketakutan."
"Thalib menenangkannya dan bilang jangan takut kerna dia tidak akan menyakiti, dia juga meminta pada perumput itu untuk diantarkan kedesanya dan perumput itu satuju. Saat itu Thalib menyuruh untuk naik kekuda satunya kerna dia membawa dua, tapi perumput itu takut, nah hebatnya Thalib justru turun dari kudanya dan jalan bersama dengan perumput itu, hingga siperumput ini terheran-heran. Nah itulah alasan kenapa kita harus berbakti pada orang tua,” ucap Osama menjadikan mereka menyadarinya.
“Oh ... jadi itu awalnya!” ucap Ayumi.
“Begitulah Ayumi, apa kau masih ingat yang aku ajarkan untuk lebih beradab pada orang tua, yang dilakukannya tadi adalah salah satu adabnya,” sahut Akira menbuat Chio manggut-manggut.
“Setelah sampai didesa kita, perumput tadi cuma bisa mengantarkan sampai di awal rumah penduduk kerna ingin melanjutkan bekerja. Saat Thalib berjalan didesa, dia banyak melalui orang-orang yang sedang ngobrol dipinggir jalan atau diteras-teras rumah, meraka yang melihat Thalib semua tercengang dan penasaran dengannya, bagaimana tidak dari segi pakaian pun sudah terlihat jauh dari orang desa kita, bahkan orang kaya saat itu merasa iri kerna kalah bagus, walaupun pakaiannya sedikit kusam kerna perjalanan jauh tetap saja kalah bagus."
"Orang yang melihat mulai berbisik dan terpesona dengan Thalib hingga tersebar ketelinga tetua. Seorang utusan dikirim untuk menemuinya dan menyuruhnya untuk pergi menemui tetua desa. Saat itu Thalib sedang istirahat seraya makan di salah satu kedai roti. Tiba-tiba utusan tetua datang menemui dan meminta untuk pergi menemui tetua desa, mendengar itu tanpa pikir panjang Thalib pun menyetujuinya. Tidak berselang lama mereka sampai dirumah tetua dan disambut hangat, saat itu Thalib diminta untuk mengatakan dari mana dia, dia pun menjawab dia datang dari negeri Sabbat, utusan dan tetua yang mendengar itu tidak menyangka bahwa ternyata ada negeri lain selain mereka. Sang tetua pun terus bertanya menganai negeri itu dan tiba-tiba dia berubah tidak suka ketika mendengar perihal tentang sesembahan lain, tidak ada yang tahu mengenai sesembahan seperti apa, namun ada yang bilang itu adalah menyembah matahari,” ucap Osama bercerita.
__ADS_1
“Menyambah matahari?” teriak mereka serentak.
-Bersambung-