The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Terbawa Emosi


__ADS_3

Saat sore Arata pun memberitahu soal perbincangannya dengan Shiro pagi tadi di pembangunan yang hampir selesai.


“Apa sih yang ada di otaknya sekarang, dasar kau Shiro!” Chio marah-marah setelah mendengarnya.


“Ya ampun ada-ada saja dia, apa segitunya dia ingin diperjuangkan,” ucap Niky.


“Tapi kanapa dia bilang Chio ini dan Chio itu?” tanya Yogi heran.


“Huaahhh ... mungkin dia salah mengira kalau itu perbuatan Akiyama,” jawab Kafa yang tengah berbaring di tumpukan pasir.


“Begitu ya, pantas saja dia menyebut Chio ini dan Chio itu, sepertinya dia mengira Akiyama menyuruh Arata dengan mengatas namakan Chio,” balas Yogi.


“Astaga apa yang dikatakan Paman benar, apa lagi sepertinya Shiro tahu tentang Arata,” sahut Niky berusaha memuji-muji.


“Sudah kubilang jangan bicara denganku dasar!” bentak Yogi.


“Apa yang kalian katakan memang ada benarnya, tapi yang membuat masalah ini muncul dikarenakan Chio yang malah menulis dengan cerita bohongan begitu!” teriak Arata marah menunjuknya.


“Huaaahhh ... aku setuju dengannya,” sahut Kafa.


“Ha ha ... kali ini kau cuma menambah  masalah saja! Ayo kita cari bos baru!” ucap Niky menepuk-nepuk pundak Chio.


Sedangkan Yogi menggeleng melihatnya. “Ya-yahh ... aku pikir itu akan berhasil he he ...” Chio tertawa-tawa malu.


Niky tersenyum. “Tenang saja, meskipun nanti ada pertarungan, aku sudah siap untuk melawannya, serahkan saja dia padaku!” ucapnya sangat percaya diri.


Arata menghela nafas. “Sebaiknya nanti dia melihatmu secara langsung, dia pasti akan percaya kalau yang mengajaknya bekerja sama memang benar kau,” ucap Arata pada Chio.


Mendengar itu mereka pun tersenyum dan mengangguk begitu juga Chio yang sudah sangat serius bertemu secara langsung dengannya.


Malam pun tiba dan Chio sedang melaksanakan shalat Magrib, saat itu Kafa, Arata dan  Niky melihatnya sambil menunggu Chio selesai.


“Kenapa kalian balum berangkat?" tanya Yogi menghampiri mereka yang sedang menunggu di luar penjara Chio.


“Chio sedang melaksanakan shalat Magrib katanya, lagi pula saimbara itu belum mulai,” jawab Arata.


Yogi heran. “Shalat?”

__ADS_1


“Semanjak kita saling kenal aku sering melihatnya melakukan gerakan-gerakan seperti itu, tapi aku tidak mengerti apa maksudnya,” sahut Niky juga heran.


“Terkadang dia juga bicara sendiri dengan bahasa yang tidak aku pahami Huaaahhh ...” ucap Kafa bersandar di pintu penjara itu.


“Aku lupa memberitahu ini, dia seorang muslim dari negeri Seribu Patung,yang sekarag dia lakukan adalah ibadahnya, kalian tahu tentang Alhudari Bik dari negeri Ilmu, nah muridnya Thalib sang musafir berhasil sampai ke negeri itu dan menjadi akhir dari perjalanannya,” jawab Arata.


“Rasanya aku pernah dengar nama itu di negeri kami,” jawab Niky mengingat-ingat.


“Huaaahhh ... aku tidak tahu soal itu,” sahut Kafa.


“Alhudari Bik sang pembaharu itulah keluargaku menyebutnya, aku sangat mengatahui tentangnya dari ayah dan kakekku, namun kerna terjadi suatu masalah, dia mulai dilupakan hingga sekarang, meski berbagai kabar tidak baik berhembus, kakek dan ayahku selalu mempercayainya, begitu juga dengan muridnya Thalib yang kembali menepakkan kaki di negeri Soma,” ucap Yogi bercerita.


“Saat mereka pertama kali datang pun sudah banyak orang yang tidak menerima kehadiran mereka, sampai akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dan sepertinya mereka berhasil sampai ke negeri kalian,” sambungnya menatap Arata terlihat sedih.


“Saat Thalib datang ke negeri kami pun pengeran Nashif yang menjadi raja baru menolaknya tinggal di istana, sehingga saat itu pangeran Sayyid selaku sang kakak membantunya agar bisa tinggal di rumah salah satu penduduk,” jawab Arata.


“Aku sangat menyayangkan sikap para penduduk kami terdahulu, mereka sangat mudah terpengaruh dan yang terjadi sekarang negeri kami hanyalah tempat para penjahat,” balas Yogi berjalan mendekat ke jeruji besi, sedangkan mereka hanya bisa tertunduk.


Dia sempat terdiam memandang Chio. “Baiklah aku ingin melanjutkan berkeliling lagi,” ucapnya berpaling dan segera pergi.


Saat itu mereka telah sampai di tempat saimbara dan melihat jelas dengan Shiro yang telah siap bertarung di atas panggung pertarungan. “Saimbara pertarungan malam ini akan berjalan sengit, kerna para penantang harus melawan Shiro yang akhir-akhir ini selalu menjadi pemenang berturut-turut!” teriak seorang pembawa acara di panggung itu.


Sang penantang tadi pun naik dan membuat gemuruh riuh sorak penonton. “Heh ... malam sudah mulai larut sinih biar aku buat tidur kau,” ucap pengawal itu sombong.


“Cih ... sudah tua masih saja berkalakuan begini,” balas Shiro.


“Majulah biar kau cepat kalah dan segera pulang,” sambungnya membuat pengawal itu marah.


“Kurang ajar!” teriaknya berlari mengayunkan pukulan.


Shiro pun menunduk dan memukul keras perutnya hingga sang pengawal itu seketika  terduduk lemas menahan sakit, lalu dia menarik kerah belakang baju pengawal tadi dan melemparnya keluar panggung. Melihat kehebatan Shiro para penonton kembali bersorak riuh.


Saat itu Arata membisikan kepada pembawa acara itu yang mana sekaligus wasit, dia mengerti dan segera naik ke panggung.


“Sungguh pertarungan yang sangat singkat, lagi-lagi Shiro menang!”


“Dan selanjutnya penantang baru kita Niky dan pemiliknya Chio!” sambungnya membuat semua orang kembali bersorak.

__ADS_1


“Cih ... datang juga kau akhirnya.” Shiro menyeringai.


Niky pun melompat ke atas panggung memandang Shiro serius. “Shiro aku di sini!” teriak Chio.


Shiro pun tersentak dan segera menoleh lalu menemukan Chio berada di barisan depan penonton. “Maaf aku telah menuliskan surat palsu, semua itu bohong! Ayumi baik-baik saja sekarang dia menjadi tukang masak di istana!” sambungnya.


“Ap-apa! Jadi itu benaran kau!” teriak Shiro masih tak percaya.


“Apa yang dikatakan Arata itu benar, aku sudah bekerja sama dengan Akiyama untuk membuat kita semua bebas, tapi Akiyama meminta kau untuk kembali bekerja dengannya sebagai syarat!”


“Sudah tidak ada waktu! Aku yakin kau sudah paham, sekarang kau pasti tau apa yang harus dilakukan, selanjutnya nanti akan aku jelaskan!” sambungnya terus meyakinkan sedangkan para penonton tak hentinya bersorak.


“Baiklah mulai!” teriak pembawa acara itu.


“Cih ... terserah kau saja!” ucapnya seraya mengangkat sebelah tangan.


Niky tiba-tiba menyerang dengan berlari sangat cepat. “Aku me ...”


*Buaghhh!


Pukulan Niky tepat mendarat diwajah Shiro hingga membuat kedua lobang hidungnya mengeluarkan darah, Kepala Shiro seketika tertongak ke atas hingga akhirnya jatuh tengkurap pingsan.


“Apa yang terjadi! Shiro kalah!” teriak pembawa acara itu diiringi sorakan penonton.


“Niky apa yang kau lakukan! Shiro sudah mengerti dan dia sudah mau menyerah!” teriak Chio memandang Niky kesal.


“Apa! Aku tidak tau itu, aku terlalu memikirkan pertarungan, tapi tenang saja, kita sudah menang!” balas Niky merasa tak enak.


“Wow! Shiro kembali bangun!” teriak pembawa acara itu membuat Chio dan Niky sepontan menoleh dan heran.


Shiro bangun perlahan membuat para penonton ikut tak percaya. “Itu serangan yang sangat fatal, akan tetapi Shiro mampu menahannya!”


“Kenapa kau malah bangun! Jika kau memang dalam keadaan sadar harusnya tetap saja seperti itu!” teriak Chio.


Shiro berhasil berdiri dan menatap tajam. “Gawat apa yang kulakukan.” Niky seketika takut ketika melihat wajah Shiro yang sangat marah terhadapnya.


Chio seketika meremas rambutnya. “Akhh! Dia malah terbawa emosi, dasar Shiro bodoh!”

__ADS_1


-Bersambun


__ADS_2