
“Assalamu’alaikum warahmatullah- Assalamu’alaikum warahmatullah.” Akira telah selasai melaksanakan Shalat Dzhur sekaligus menjadi imam untuk Ayumi, sedangkan Chio duduk bersila berssndar di dinding memperhatikan mereka, dari matanya nampak terperangah heran sekaligus takjub.
“Bagaimana Chio, apa kau paham apa itu Sholat?” tanya Ayumi.
“Yah ... aku sedikit mengerti, apakah di duniamu sana, adalah cara kalian beribadah kepada tuhan?”
“A'ahh ... kau benar sekali, ini adalah salah satu ibadah wajib yang kami laksanakan.”
“Maksudmu seperti upacara setiap 10 hari yang kami juga laksanakan?”
“Aku rasa ini sedikit berbeda tapi mungkin itu sedikit sama, hanya saja yang kutahu kalian di wajibkan oleh tetuakan?, sedangkan kami oleh tuhan kami itu sendiri yaitu Allah, kami juga melaksanakan ini dalam lima waktu, yaitu subuh, siang, petang, dan juga malam.”
“Ohh ... jadi itu maksudmu kelamahan dari jam matahari yang kau buat tidak bisa digunakan waktu malam, akibatnya kau sulit menentukan waktunya."
"A'ahh ... begitulah."
"Yang paling menarik adalah kita bisa mengingat nama dari sholat lima waktu itu dari kata Islam," sahut Ayumi.
"Maksudmu?"
"Jadi I untuk Isya yaitu dimulai berkisar jam 7-8 malam, S untuk Subuh yaitu berkisar dari jam 4-5 pagi, L untuk Luhur atau Dzuhur yaitu pada jam 11-12 siang, emm ... A untuk Ashar yaitu sore antara jam 3-4, dan yang terakhir M untuk Magrib yaitu dimulai dari jam setengah 6 atau jam 6, benar gak Akira," ucap Ayumi seketika mendekat ke arah Akira hingga sontak membuat Akira menghindar agar tidak bersentuhan yang mana akan membuat wudu mereka batal.
"Ehh Maaf, aku lupa," sambungnya menyatukan telapak tangan di depan wajah dan memejamkan mata.
"Apa maksud Ayumi itu ... kisaran jam waktu sholat itu sendiri dan bukan awal sampai akhir waktunya, kupikir jika begitu adanya maka jarak waktunya sangat singkat," ucap Chio menatap Akira yang tengah berdiri kerna menghindari Ayumi.
"A'ahh ... begitulah, sebenarnya aku belum pernah memikirkan ini secara serius, kerna di duniaku ketika waktu Sholat tiba maka Azan dari seluruh penjuru kota akan terdengar, jadi kami segera tau kalau waktunya sudah tiba."
"Azan?"
"Itu yang saat Akira lantunkan sebelum kami mulai Shalat tadi," sahut Ayumi.
"Maksudmu suaranya yang sangat jelek tadi?" balas Chio mengalihkan pandangan kepada Ayumi yang sedang manggut manggut.
"A'ahh ..." Akira tertunduk lesu, mereka pun dibuat tertawa.
“Baiklah kalau begitu aku sudah sedikit mengerti menganai Islam, kalau begitu aku mau pulang dulu kerna ada yang harus kukerjakan.”
“Apa ada yang bisa kubantu, mungkin aku bisa melakukan sesuatu untukmu.”
“Iya Chio aku juga bisa membantu kalau kau mau,” sahut Ayumi.
“Tidak perlu, kalau ada pasti akan kuberi tahu pada kalian” ucap Chio.
“Oh ya, nanti juga ada yang ingin aku ketahui menganai negeri ini, jadi apa kau bisa memberitahuku, kata Ayumi kau sangat tau banyak dan bisa menjelaskan lebih baik dari pada dia.”
“Tentu, datang saja nanti kerumahku kapan pun kau mau. Baiklah aku pergi dulu ya, aku tidak ingin mengganggu kalian yang sudah seperti sepasang suami istri.”
“Ehhh ....” Mereka serentak berteriak dan saling bertatapan.
__ADS_1
...●●●●...
Beberapa hari kembali berlalu dan mereka semua terlihat semakin dekat, sedangkan Shiro sudah beberapa hari ini tidak terlihat, bahkan Chio sering pergi untuk mengunjunginya, namun dia selalu tidak ada dirumah. Ibunya selalu bilang bahwa Shiro sedang keluar bersama ayahnya ikut bekerja.
Hari ini upacara rutin desa kembali di gelar, orang-orang kembali berkumpul bersama untuk berhadir mengikuti, banyak dari mereka ada yang senang dan suka tapi ada juga yang merasa malas dan bertingkah lelah tak bersemangat.
Saat itu Chio juga ikut datang sendirian tidak seperti biasanya yang didampingi sahabat-sahabatnya, yaitu Ken, Ayumi, dan juga Shiro. Dari raut wajahnya dia tidak bersemangat dan merasa malas serta bimbang.
“Hahh ... tidak seperti Shiro yang juga sering tidak mengikuti seperti kami, namun ini adalah untuk pertama kalinya Ayumi tidak mengikuti upacara ini, padahal dia selalu memarahi kami bertiga jika tidak datang, atau pun beralasan untuk pergi,” ucap Chio lelah kemudian mendongak ke atas melihat cerahnya awan.
“Apa yang membuatmu langsung jatuh cinta dengan Islam Ayumi, tetapi, itu seolah tidak ada di hatiku, padahal saat ini hatiku sedang merasa hampa dan bimbang,” Sambungnya berkaca-kaca.
...●●●●...
*Tok tok tok ...
“Chio!” pangil Akira bersama Ayumi.
“Tunggu sebentar!” teriaknya dari dalam rumah dan berjalan membuka pintu.
“Wah Akira kau nampak berbeda,” ucapnya melihat Akira memakai baju hitam ke abu-abuan dan berlengan panjang, Akira juga memakai celana hitam panjang sampai mata kaki.
“A'ahh ...” balas akira sumringah.
“Tuh kan aku bilang juga apa, kau sangat cocok pakai itu,” sahut Ayumi.
Ayumi sedikit heran melihat rumah Chio sedikit berantakan. “Apa kau sedang mengerjakan sesuatu?”
“Oh tidak, aku sudah hampir selesai, jadi tenang saja.” Chio segera mengamasi barang-barang yang berserakan dilantai.
Tanpa sengaja Akira melihat sebuah piringan besi seukuran telapak tangan dan terlihat samar bertuliskan angka. “Kau sedang membuat apa Chio, itu terlihat seperti ...”
Mendengar itu Chio segera menutup wadah yang dia gunakan untuk menampung barang-barangnya dengan kain.
“Ah tidak-tidak bukan apa-apa. Oh ya kau bilang kemarin ingin menanyakan soal negeri inikan?” jawabnya mengalihkan pembicaraan.
“Akira bilang dia ingin mencari informasi yang bisa membantunya mencari bulan Ramadan,” sahut Ayumi.
Chio melihat kearah Ayumi. “Oh soal itu, tentu apa yang ingin kau tahu Akira,” ucap Chio kembali melihat Akira.
“A'ahh ... sebenarnya aku sudah lama memikirkan ini, tentang nama dari negeri kalian yaitu negeri seribu patung.” Jawab Akira sangat penasaran.
“Emm baiklah jika kau memang ingin tahu itu, kalau begitu mari kita duduk dulu,” pinta Chio menyuruh mereka duduk dilantai yang memiliki alas yang cukup tebal, setelah itu mereka pun duduk bersama melingkar.
"Mulai dari mana yah, emm baiklah kita mulai dari nama negeri kita, jadi dengarkan baik-baik," ucap chio sambil memegang dagunya kemudian raut wajahnya berubah serius ketika dia menjelaskannya.
"Negeri seribu patung, itulah nama tempat tinggal kita sekarang, nama seribu patung tidak lain diambil dari banyaknya jumlah patung yang mereka buat, kamu melihatnya sendiri kan saat kita memasuki gerbang tampat upacara itu, di mana saat ingatanmu masih menjadi Ken?"
"A'ahh ... tentu, itu sangat banyak aku tidak habis pikir berapa banyak jumlah patung tersebut," jawab Akira sambil keheranan.
__ADS_1
"Banyak kabar yang mengatakan bahwa jumlah patung tersebut berjumlah 250 patung, namun ada yang menyebutkan juga sekitar 255, tetapi setelah beberapa hari berlalu ada lagi yang menyebutkan jumlahnya menjadi 260, lalu beberapa hari berikutnya lagi menjadi 265. Hal itu membuatku penasaran akan berapa jarak hari yang diperlukan untuk membuat patung itu bertambah, aku menanyai beberapa orang yang menyebarkan kabar itu, dan akhirnya aku menemukan jawaban" ucap chio melanjutkan penjelasannya.
"Apa itu?" sahut Ayumi
"Setiap sepuluh hari sekali patung itu akan bertambah banyak."
"Jadi apa yang membuatmu berkesimpulan seperti itu?" jawab Akira penasaran.
"Tidak lain adalah orang-orang yang menyebutkan angka hitungan itu, aku menyadari bahwa tempat upacara itu akan ditutup ketika kita telah selasai melaksanakannya. Disana ada enam gerbang untuk masuk ketampat itu, dari setiap gerbang yang ada disegala penjuru akan ditutup rapat, bahkan itu setiap hari, tampat itu pun selalu dijaga oleh utusan tetua, aku sengaja datang setiap hari untuk menyelidikinya ketika aku mendakati gerbang itu para penjaga itu langsung mengusirku," jawab Chio melanjutkan penjalasannya.
"Itu artinya angka tersebut terus bertambah lima setiap sepuluh hari sekali, kerna hanya saat upacara itu saja semua gerbang akan dibuka, jadi bisa kita katakan bahwa mereka yang berhasil menghitungnya tepat saat dimana semua orang diperbolehkan masuk untuk melaksanakan upacara itu," sahut Ayumi lagi.
"Yah benar sekali, disetiap satu buah rumah juga terdapat satu buah patung atau mungkin bisa lebih. patung-patung itu ada yang terbuat dari tanah liat, kayu, besi bahkan perak dan juga emas, perbedaan jenis patung tersebut menunjukkan perbedaan derajat dan kekayaan yang dimiliki penduduk."
"Pantas saja aku lihat disetiap rumah penduduk ada satu patung emas dan juga ada yang besi di halamannya," potong Akira.
"Bahkan tidak hanya ada di halaman rumah mereka, didalam rumah pun harus ada paling tidak satu buah, yang kau lihat dihalaman itu untuk kalangan orang-orang yang memiliki derajat lebih tinggi dari pada orang seperti kita ini."
"Tunggu dulu, kenapa harus ada bagaimana jika tidak?" tanya Ayumi lagi yang tidak tahu menahu soal ini.
"Itu sudah jadi peraturan desakan, apa kau sudah lupa? padahal itu terpampang jelas dipapan pengumuman depan gerbang tempat upacara."
"Emm ... jika kita melanggar aturan itu maka tetua desa akan menghukum dengan memasukkannya ke penjara desa selama sepeluh hari atau harus membeli patung besi, yang itu ya?" jawab Ayumi.
"Yah begitulah Ayumi, maka dari itu Akira, dirumah Ken yang kau tinggali sudah hancurkan, sedangkan pemeriksaan akan dilangsungkan 1-2 kali upacara kedepan, satu-satunya cara agar kau bisa selamat adalah kita harus membuat ulang patung itu. Aku tau ini sulit bagimu tapi ini hanya untuk agar kalian selamat dan tidak dicurigai, kerna kalian sudah melanggar pantangan pertama yaitu tidak menyembah selain patung," ucapnya serius memandang mereka berdua.
Ayumi kaget. "Astagfirullah aku lupa soal itu, Chio benar, untuk sementara kita harus meletakkan itu lagi dirumah Ken, kalau tidak kau bisa ditahan oleh mereka dan rahasia ini akan terbungkar."
"A'ahh ... baiklah jika itu demi kebaikan bersama apa boleh buat, walaupun hatiku geram, namun ini keadaan darurat. Hanya saja ada satu hal yang tidak aku mengerti, kenapa kau menceritakan soal patung di tempat upacara itu?"
Chio kembali menatap Ayumi serius. "Apa kau ingat Ayumi, cerita legenda desa kita tentang Thalib sang musafir? dimana seseorang dari negeri Sabbat mangatakan padanya, bahwa dia pernah dengar orang dari negeri nanjauh dari tempatnya menyembah tuhan mereka lima kali sehari dari siang sampai malam," ucapnya beralih menatap Akira yang diam terperangah.
"Ohh ... aku ingat jadi apa hubungannya?" tanya Ayumi masih bingung.
"Kupikir Akira sudah mengerti apa maksudku," jawab Chio terus memandang Akira yang mana bibirnya tengah bergetar sulit mengungkapkan kata-kata.
"Itu artinya jumlah patung yang terus bertambah lima punya alasan tertentu, mereka sengaja menambah lima kerna ingin mengikuti perkataan orang dari dalam legenda itu, walau sama sekali tidak sama persis, akan tetapi mereka seolah mempercayai bahwa legenda itu memang benar adanya. Dan Chio juga ingin bilang bahwa ada orang yang sama seperti kita yang beribadah lima kali sehari di dunia ini," jawab Akira.
Akira kemudian mangarahkan pandangannya Kepada Chio. "Kau pasti juga ingin bilang bahwa bulan Ramadan yang kucari kemungkinan besar ada di tempat nang jauh itu."
"Benar Akira, dan aku juga ingin bilang bahwa kita harus mulai dengan menyelidiki cerita legenda ini, atau lebih tepatnya mengumpulkan informasi menganai cerita-cerita legenda yang ada di negeri kita."
*Brakkk!
Tiba-tiba Shiro datang dan membuka pintu rumah Chio dengan keras.
Dari wajahnya sangat jelas dia sangat marah dan kesal. “Cih ... Apa yang kalian lakukan bersamanya.” ucapnya sedikit pelan, namun menatap tajam.
-Bersambung-
__ADS_1